• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.5.1 Pengertian Umum Arsitektur Perilaku

Arsitektur berwawasan perilaku adalah arsitektur yang manusia, yang mampu memahami dan mewadahi perilaku-perilaku manusia yang ditangkap

dari berbagai macam perilaku, baik itu perilaku pencipta, pengamat, dan juga perilaku alam sekitarnya (Mangunwijaya, Y. B., 1988).

Menurut Haryadi B. Setiawan dalam bukunya Arsitektur dan Lingkungan dan perilaku 2014 menyatakan bahwa perilaku sebagai sebuah pendekatan dalam arsitektur menekankan keterkaitan dialetik antara ruang dengan manusia dan masyarakat yang memanfaatkan atau menghuni ruang tersebut

Tentunya arsitektur dan perilaku membahas mengenai hubungan tingkah laku manusia dengan lingkungan binaan yang dipakai manusia. Penyesuaian antara tingkah laku dengan lingkungannya terbagi atas dua yaitu :

1. Perubahan tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan

Sifat manusia yang mampu belajar dari pengalaman, perubahan tingkah lauk agar sesuai dengan lingkungan akan bisa dilakukan secara bertahap. Dengan kata lain, manusia bisa dididik, dilatih dan belajar sendiri untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya yang masih asing.

2. Perubahan lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku

Manusia selalu berusaha untuk memanipulasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi dirinya (keadaan yang diinginkan). Proses manipulasi lingkungan tersebut melibatkan tingkah laku mendesain (merancang).

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa arsitektur perilaku merupakan pendekatan yang menyelidiki hubungan perilaku manusia dengan lingkungan arsitektur sebagai pertimbangan penerapan desain.

2.5.2 Arsitektur Membentuk Perilaku Manusia

a. Arsitektur membetuk perilaku manusia

Demi memenuhi kebutuhan pengguna maka manusia membangun bangunan. Bangunan tersebut secara perlahan membentuk perilaku dan

pola piker pengguna serta membatasi manusia untuk bergerak sesuai ruang yang telah dibangun. Hal ini juga mempengaruhi cara manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Hal ini terjadi secara alami menyangkut kestabilan antara sosial dan arsitektur, dimana keduanya hidup selaras dan berdampingan

Gambar 2. 20 Arsitek Membentuk Perilaku

Skema di atas menjelaskan bagaimana “Arsitektur membentuk perilaku manusia”, skema ini hanya terjadi hubungan satu arah akibat situasi dan kondisi yang telah tercipta sehingga desai arsitektur dan bentuk yang telah ada secara perlahan membentuk perilaku manusia b. Perilaku manusia membentuk arsitektur

Setelah manusia mulai terbiasa dengan desain arsitektur yang telah dibangun dan secara alami membentuk perilaku serta cara sosilisasi antar manusia, arsitek membentuk kembali arsitektur yang telah dibangun berdasarkan perilaku yang telah dibentuk.

Gambar 2. 21 Perilaku Manusia Membentu Arsitek

Pada skema diatas menjelaskan bagaimana “Perilaku manusia membentuk arsitektur”. Setelah perilaku pengguna dipengaruhi dan terbentuk dari ruang dan desain arsitektur kemudian arsitek mengkaji kembali desain arsitektur tersebut sehingga desain arsitektur

terbentuk kembali menjadi arsitektur yang baru berdasarkan perilaku manusia.

perilaku manusia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (Notoatmodjo, 2003) :

1. Perilaku Tertutup

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belum bisa diamati secara jelas oleh orang lain.

2. Perilaku terbuka

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek

Pada penjelasan arsitektur perilaku di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penerapan arsitektu perilaku yaitu dengan mempehatikan tingkah laku manusia pada lingkungannya dengan mempertimbangkan perilaku dalam perancangan. Dengan menerapkan pendekatan arsitektur perilaku pada sekolah penyandang disabilitas ini bertujuan agar merancang sekolah yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.

2.5.3 Teori-Teori Tema Arsitektur Perilaku

Menurut Donna P. Duerk dalam bukunya yang berjudul Architectural Programming dijelaskan bahwa manusia dan perilakunya adalah bagian dari sistem yang menempati tempat dan lingkungan tidak dapat dipisahkan secara empiris. Karena itu perilaku manusia selalu terjadi pada suatu tempat dan dapat dievaluasi secara keseluruhan tanpa pertimbangan faktor-faktor lingkungan

1. Lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia

Orang cenderung menduduki suatu tempat yang biasanya diduduki meskipun tempat tersebut bukan tempat duduk. Misalnya: susunan anak tangga didepan rumah, bagasi mobil yang besar, pagar yang rendah.

2. Perilaku manusia yang mempengaruhi lingkungan

Pada saat orang cenderung memilih jalan pintas yang dianggapnya terdekat daripada melewati pedestrian yang memutar. Sehingga orang tersebut tanpa sadar telah membuat jalur sendiri meski telah disediakan pedestrian.

2.5.4 Prinsip-Prinsip Arsitektur Perilaku

Prinsip-prinsip tema arsitektur perilaku yang harus di perhatikan dalam penerapan tema arsitektur perilaku menurut Carol Simon Weisten dan Thomas G David (dalam Qaddafi : 2011), antara lain:

1. Mampu berkomunikasi dengan manusia dan lingkungan Rancangan yang harus dapat dipahami oleh pemakainya melalui penginderaan ataupun pengimajinasian pengguna bangunan. Bentuk yang disajikan dapat dimengerti sepenuhnya oleh pengguna bangunan. Dari bangunan yang diamati oleh manusia syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah:

a. Pencerminan fungsi bangunan.

Simbol-simbol yang menggunakan tentang rupa banguna yang nantinya akan dibandingkan dengan pengalaman yang sudah ada, dan disimpan kembali sebagai pengalaman baru

b. Skala dan Proporsi

Menunjukan skala dan proporsi yang tepat serta dapat dinikmati c. Bahan dan Struktur

Menunjukan bahan dan struktur yang akan digunakan dalam bangunan sehingga dapat dinikmati oleh pengguna.

2. Mewadahi aktivitas penghuninya dengan nyaman dan menyenangkan.

a. Nyaman berarti nyaman secara fisik dan psikis. Nyaman secara fisik berarti kenyamanan yang berpengaruh pada keadaan tubuh manusia secara langsung seperti kenyamanan termal. Nyaman secara psikis pada dasarnya sulit dicapai karena masing-masing individu memiliki standart yang berbeda-beda untuk menyatakan kenyamanan secara psikis. Dengan tercapainya kenyamanan secara psikis akan tercipta rasa senang dan tenang untuk berperilkau.

b. Menyenangkan secara fisik bisa timbul dengan adanya pengolahan- pengolahan pada bentuk atau ruangan yang ada disekitar.

3. Memenuhi nilai estetika, komposisi dan estetika bentuk. Keindahan dalam Arsitektur dikenal memiliki unsur-unsur didalamnya, unsur- unsur tersebut antara lain adalah :

a. Keterpaduan (unity), berarti tersusunnya beberapa unsur menjadi satu kesatuan yang utuh dan serasi.

b. Keseimbangan, suatu nilai yang ada pada setiap objek yang daya tarik visualnya haruslah seimbang.

c. Proporsi, merupakan hubungan tertentu ukuran

d. Skala, biasanya diperoleh dengan besar bangunan dibandingkan dengan unsur-unsur penggunanya

e. Irama, pengulangan unsur-unsur dalam perancangan bangunan.

Seperti pengulangan garis-garis, lengkung, bentuk massif

4. Memperhatikan kondisi dan perilaku pemakai. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemakai yaitu seperti usia, jenis kelamin, kondisi fisik dan lain-lain

Dari penjelasan di atas dapat membantu perancangan sekolah penyandang disabilitas dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku

dengan memperhatikan prinsip-prinsip untuk menerapkan pendekatan arsitektur perilaku pada perancangan sekolah. Dengan menerapkan prinsip- prinsip arsitektur perilaku pada perancangan sekolah penyandang disabilitas guna mempermudah dalam menerapkan pendekatan arsitektur perilaku.

2.5.5 Proses Pendekatan Arsitektur

Pendekatan Arsitektur Terdapat 4 poin yang harus diperhatikan dalam proses pendekatan perilaku, yaitu :

1. Interaksi antara Manusia dan Lingkungan

Lingkungan merupakan tempat manusia melakukan kegiatan, bukan hanya sekedar lingkungan fisik, tetapi juga aspek non-fisik seperti lingkup psikologis penggunanya.

2. Sirkuit Perilaku

Pada umumnya tujuan perancangan suatu lingkungan adalah guna memenuhi aktivitas penggunannya, salah satu cara bagi para perancang lingkungan untuk memenuhi tuntutan aktivitas tersebut adalah dengan mengacu pada sistem aktivitas yang terdiri atas suatu sirkuit perilaku.

3. Perilaku Spasial

Perilaku spasial adalah tindakan manusia dalam melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan lingkungan yang ada. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh persepsi terhadap lingkungannya, yang meliputi motivasi dalam memanfaatkan lingkungan sebagai komponen dasar.

4. Hubungan Perilaku Manusia dengan Lingkungan

Terjadinya interaksi antara manusia dengan lingkungan disebut dengan persepsi. Kesesuaian karakteristik dalam interaksi manusia dengan

lingkungan sekitarnya sangatlah penting dalam pengembangan suatu lingkungan binaan.

Pada penjelasan di atas harus memperhatikan 4 poin proses pendekatan perilaku. Bertujuan untuk membantu menganalisis perilaku dengan lingkungan sekitarnya dalam melakukan kegiatan atau melakukan aktivitas pada bangunan.

2.5.6 Konsep dalam Kajian Arsitektur Perilaku dan Lingkungan

Menurut Haryadi dan B. setiawan 2014 dalam bukunya Arsitektur Lingkungan dan Perilaku ada beberapa konsep penting dalam kajian arsitektur lingkungan dan perilaku yaitu :

1. Behavior Setting (Setting Perilaku)

Yang menjadi pendekatan dalam kajian behavior setting adalah bagaimana kita dapat mengidentifikasi perilaku-perilaku yang secara konstan atau berkala muncul pada situasi tempat atau setting tertentu.

2. Environment Perception (Persepsi Tentang Lingkungan)

Persepsi lingkungan adalah interpretasi tentang suatu setting oleh individu yang didasarkan oleh latar belakang budaya, nalar dan pengalaman individu tersebut.

3. Perceived Environment (Lingkungan yang terpersepsikan)

Lingkungan yang terpersepsikan merupakan produk atau bentuk dari persepsi lingkungan yaitu proses kognisi, afeksi, serta kognasi seseorang atau sekelompok orang terhadap lingkungan.

4. Environment Cognition, Image, And Schemata (Kognisi, Lingkungan, Citra, dan Skamata)

Kognisi lingkungan adalah suatu proses memahami dan memberi arti terhadap lingkungan. Proses ini menjelaskan mekanisme hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

5. Environmental Learning (Pemahaman Lingkungan)

Merupakan keseluruhan proses yang berputar dari pembentukan kognisi, schemata dan peta mental. Proses environmental learning meliputi proses pemahaman yang menyeluruh dan menerus tentang suatu lingkungan oleh seseorang.

6. Environmental Quality (Kualitas Lingkungan)

Kualitas lingkungan didefinisikan sebagai suatu lingkungan yang memahami preferensi imajinasi ideal seseorang atau sekelompok orang.

Kualitas lingkungan dipahami secara objektif yaitu berkaitan dengan aspek-aspek psikologi dan rasio kuntural masyarakat yang memenuhi lingkungan.

7. Territory (Teritori)

Teritori diartikan sebagai batas dimana organisme hidup menentukan tuntutannya, menandai, serta mempertahankannya dari kemungkinan intervensi pihak lain. Konsep teritori untuk manusia lebih dari sekedar tuntutan atau suatu area untuk memenuhi kebutuhan emosional dan kultural.

8. Personal Space and Crowding (Ruang Personal dan Kesesakan)

Merupakan batas yang tidak tampak disekitar seseorang, dimana orang lain tidak boleh atau merasa enggan untuk memasukinya akan tetapi apabila personal space ini tidak dapat dipertahankan maka akan timbul kesesakan.

9. Environmental Pressures, Stress and Coping Strategy (Tekanan Lingkungan, Tress dan Strategi Penanggulangannya)

Tekanan lingkungan didefenisikan sebagai faktor-faktor fisik, social, serta ekonomi yang dapat menimbulkan perasaan tidak enak, tidak nyaman, kehilangan orientasi atau kehilangan keterkaitan dengan suatu tempat

tertentu. Apabila hal ini terjadi terus menerus dapat menyebabkan stress. Tekanan lingkungan yang terlalu besar menyebabkan interaksi antara manusia dan lingkungan tidak terjadi dengan baik dan optimal.Yang kemudian menimbulkan perilaku yang tidak wajar.

Dokumen terkait