• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Penelitian

Dalam dokumen Similarity Report (Halaman 67-72)

Bab 3 Objek Kajian Dan Pendekatan Dalam Penelitian Hukum

A. Penelitian Hukum Normatif

2. Pendekatan Penelitian

Pengantar Metodologi Penelitian Hukum | 58

dalam perkara hukum yang tengah dihadapi (sebagai bahan premis minor). Kedua, proses searching for the relevant abstract legal prescription yang terdapat dan terkandung dalam gugus hukum positif yang berlaku (sebagai bahan premis mayor)”.

Memahami kandungan filosofi tersebut, peneliti akan dapat menyimpulkan mengenai ada tidaknya benturan filosofis antara undang-undang dengan isu yang dihadapi”.

Hal yang perlu diperhatikan peneliti ketika menggunakan pendekatan ini adalah “struktur norma dalam wujud tata urutan atau hierarki peraturan perundang-undangan, dan juga keberadaan norma apakah norma itu berada pada sebuah peraturan perundang- undangan yang bersifat khusus atau umum, atau apakah norma itu berada dalam peraturan perundang-undangan yang lama atau yang baru”. Jadi fokus perhatiannya ada pada pemahaman peneliti terhadap asas-asas peraturan perundang-undangan dan teori hierarki norma hukum yang diajarkan Han Kelsen maupun Hans Nawiasky.

b. Pendekatan kasus (case approach)

Pendekatan kasus dilakukan dengan cara “melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Kasus itu dapat berupa kasus yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri”. Objek kajian pokok dalam pendekatan kasus adalah “ratio decidendi atau reasoning, yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai pada suatu putusan. Baik untuk keperluan praktik maupun untuk kajian akademis, ratio decidendi atau rasoning tersebut merupakan referensi bagi penyusunan argumentasi dalam pemecahan isu hukum”.

20

58

180

Pengantar Metodologi Penelitian Hukum | 60

Oleh karena itu, Marzuki mengingatkan bahwa “dalam menggunakan pendekatan kasus, yang perlu dipahami oleh peneliti adalah ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya. Pendekatan kasus bukanlah merujuk pada diktum putusan pengadilan, melainkan merujuk kepada ratio decidendi hakim”. Ketika peneliti menggunakan pendekatan kasus, “ratio decidendi itu sebaiknya harus dijelaskan dengan fakta yang muncul pada perkara itu sendiri”, sebab “ratio decidendi hanya dapat diketemukan dengan memperhatikan fakta meteriel”.

Hal yang perlu diperhatikan peneliti bahwa “pendekatan kasus (case approach) tidak sama dengan studi kasus (case study). Di dalam pendekatan kasus, beberapa kasus dikaji untuk referensi bagi suatu isu hukum, sedangkan studi kasus merupakan suatu studi terhadap kasus tertentu dari berbagai aspek hukum. Misalnya, kasus Akbar Tanjung yang telah diputus oleh MA pada 12 Februari 2004 dilihat dari sudut hukum pidana, hukum administrasi, dan HTN”.

c. Pendekatan konseptual (conceptual appriach)

Mengenai pendekatan konseptual (conceptual approach) ini, Marzuki menjelaskan bahwa, “pendekatan konseptual dilakukan manakala peneliti tidak beranjak dari aturan hukum yang ada. Hal itu dilakukan karena memang belum atau tidak ada aturan hukum untuk masalah yang dihadapi”. Misalnya, seorang peneliti hendak meneliti penerapan tuchrecht dalam pemidanaan terhadap guru ketika menjalankan profesi keguruan. Apabila peneliti mengacu kepada

1

40

73

peraturan perundangundangan yang ada, maka ia tidak akan menemukan konsep tersebut. Oleh karena itulah ia harus membangun suatu konsep yang dijadikan acuan di dalam penelitiannya. Konsep yang akan dikonstruksikan peneliti tersebut diperoleh melalui kegiatan penelusuran sumber hukum sekunder yang memberi berbagai informasi tentang konsep tuchrecht yang terdapat dalam buku-buku hukum, artikel-artikel hukum dan ensiklopedi hukum.

Marzuki juga menyatakan “Dalam membangun konsep, peneliti bukan hanya melamun dan mencari-cari dalam khayalan, melainkan pertama kali ia harus beranjak dari pandangan- pandangan dan doktrindoktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum”. Dengan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin- doktrin di dalam ilmu hukum, “peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi.

Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi”.

d. Pendekatan Sejarah (historical approach)

Pendekatan sejarah dilakukan dalam rangka “pelacakan sejarah lembaga hukum dari waktu ke waktu”, atau “menelusuri aturan hukum yang dibuat pada masa lampau, baik berupa aturan hukum tertulis maupun tidak tertulis, yang masih ada relevansinya

1 21

154

156 177

Pengantar Metodologi Penelitian Hukum | 62

dipelajari, dan perkembangan pengaturan mengenai masalah yang dihadapi”. Menurut Marzuki, pendekatan ini sangat membantu peneliti untuk memahami filosofi dari aturan hukum dari waktu ke waktu, juga dapat memahami perubahan dan perkembangan filosofi yang melandasi aturan hukum tersebut”. Contoh penelitian dengan pendekatan sejarah misalnya, penelitian tentang politik hukum pemilu di Indonesia, di mana peneliti mengklasifikasikan periodesasi pengaturan hukum pemilu atas masa orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Dari contoh tersebut di atas, peneliti bisa saja “ingin menemukan norma baru untuk mengisi kekosongan hukum dengan bercermin kepada aturan yang pernah berlaku di masa lalu, yang sudah tidak cocok lagi diberlakukan pada masa kini, atau sebaliknya untuk mengatur hal baru diperlukan norma baru yang dimodifikasi dari norma lama yang asas hukumnya sesungguhnya masih cocok untuk diberlakukan pada situasi masa kini”.

e. Pendekatan perbandingan (comparative approach)

Pendekatan ini dilakukan dengan mengadakan studi perbandingan hukum. Studi perbandingan hukum itu sendiri merupakan “kegiatan untuk membandingkan hukum suatu negara dengan hukum negara lain atau hukum dari suatu waktu tertentu dengan hukum dari waktu yang lain”. Tujuan dari perbandingan tersebut adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan hukumnya. Menurut Diantha, “pendekatan perbandingan juga dapat digunakan oleh peneliti dalam hal permasalahan penelitiannya mempermasalahkan adanya kekosongan norma. Artinya, tidak ada

1

37

94 104

norma yang dapat diterapkan pada peristiwa hukum tertentu, atau diperlukan norma yang sama sekali baru untuk mengaturnya”.

Misalnya, perubahan konstitusi menghendaki agar dibentuk undang- undang tentang lembaga negara baru yang berwenang melakukan uji materiil (judicial review) atas konstitusional suatu undang-undang.

Akan lebih komprehensif kajiannya jika peneliti melakukan pendekatan studi perbandingan dengan konstitusi negara lain yang juga mengatur lembaga judicial review, sehingga hasil kajiannya dapat memperkaya wawasan peneliti dalam penyusunan laporan hasil penelitian.

B. Penelitian Hukum Empiris

Dalam dokumen Similarity Report (Halaman 67-72)