F. Sistematika penulisan
3. Pendidikan Agama Islam
dan parameternya masing-masing yang secara kualitatif bersifat kompetitif.
Tujuan pendidikan Islam menurut Prof. Dr. H. Baharuddin.
M.Pd.I di dalam bukunya yang berjudul Pendidikan dan psikologi perkembangan menyebutkan bahwa tujuan pendidikan agama Islam dipecah menjadi tujuan-tujuan berikut ini
1) Membentuk manusia muslim yang dapat melaksanakan ibadah mahdah.
2) Membentuk manusia muslim yang di samping dapat melaksanakan ibadah mahdah, juga dapat melaksanakan ibadah muamalah dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan tertentu.
3) Membentuk warga negara yang bertanggung jawab kepada masyarakat dan bangsanya yang tanggung jawab kepada Allah, penciptanya.
4) Membentuk dan mengembangkan tenaga profesional yang siap dan terampil atau tenaga setengah terampil untuk memungkinkan memasuki teknostruktur masyarakat
5) Mengembangkan tenaga ahli di bidang ilmu (agama dan ilmu- ilmu Islami lainnya).44
Tujuan Pendidikan Agama Islam Tujuan Pendidikan Agama Islam secara umum, yaitu:
44 Baharuddin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2009, hlm 196-197.
1) Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia 2) Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat
3) Menumbuhkan semangat ilmiah pada peserta didik untuk mengetahui dan mengkaji ilmu tersebut.
4) Menyiapkan peserta didik dengan potensi, agar dapat menguasai potensi tertentu,dan keterampilan sehingga mengamalkanya dalam hidup.45
Tujuan pendidikan merupakan hal yang dominan dalam pendidikan, baik makna maupun tujuan harus mengacu pada penamaman nilai-nilai islam dan tidak melupakan etika sosial atau moralitas sosial.
c. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam untuk sekolah atau madrasah berfungsi sebagai berikut:
1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT. Yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan
45 Zuhairimi, dkk, Metode Pendidikan Agama, (Solo: Ramadhani, 1993), hlm.17
ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2) Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
3) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
4) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nirnyata) sistem dan fungsionalnya.
7) Penyalurannya yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.
d. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Adapun macam-macam metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam yakni:
1) Metode ceramah
Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ceramah merupakan salah satu yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori, metode ini sering kali digunakan oleh setiap guru dan instruktur.
Ceramah merupakan metode yang mudah dan murah, dalam artian murah yakni tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, mudah karena ceramah hanya mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit.
Syaiful Bahri Djamarah mengatakan bahwa metode ceramah ini merupakan metode tradisional karena sejak dahulu metode ini telah digunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pengajaran. Cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau
informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.46
2) Metode demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu baik sederhana atau hanya tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru.
Walaupun dalam proses demonstrasi peran peserta didik hanya sekedar memperhatikan akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret.
Syaiful Bahri Djamarah mengatakan bahwa metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen- komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu. Adapun kelebihan metode ini adalah siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari, proses pengajaran lebih menarik
46 Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), 97.
dan siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan mencoba melakukannya sendiri.47 3) Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah metode dimana guru menggunakan atau memberi pertanyaan kepada murid dan murid menjawab atau sebaliknya murid bertanya kepada guru dan guru menjawab pertanyaan murid.
4) Metode diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami pengetahuan siswa serta untuk membuat suatu keputusan, diskusi lebih kepada bertukar pengalaman untuk menentukan suatu keputusan tertentu yang bersifat bersama-sama.
5) Metode pemberian tugas
Metode ini adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit.
47 Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, 90.
6) Metode eksperimen
Metode eksperimen menurut Syaifuk Bahri Djamarah adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari.
7) Metode simulasi, bermain peran dan sosiodrama/psikodrama Metode ini menampilkan syimbol-syimbol atau peralatan yang menggantikan proses kejadian atau benda yang sebenarnya.
Metode ini adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Metode yang melibatkan interaksi antara dua siswa atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Siswa melakukan peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang dilakoni, mereka berinteraksi sesama mereka.
Syaiful Bahri Djamarah mengatakan sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Adapun kelebihannya yakni siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami dan mengingat isi bahan yang didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lam.48
48 Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, 88-89.
8) Metode karyawisata/widyawisata
Metode dengan menunjukkan langsung kepada siswa secara langsung beberapa hal yang dipelajari di sekolah. Seperti kunjungan musium, laboratorium dan lain-lain.
9) Metode pengajaran unit
Suatu cara belajar antara siswa dan guru yang mengarahkan kegiatan pada pemecahan masalah yang dapat dirumuskan secara bersama-sama.
10) Metode penemuan
Dapat diartikan sebagai format KBM dimana siswa menemukan sendiri informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
11) Metode panel
Sebuah bentuk diskusi yang membahas masalah umum yang bersifat lengkap, yang terdiri dari beberapa orang yang dianggap ahli dalam bidangnya.
12) Metode simposium
Metode yang memaparkan suatu seri pembicara dalam berbagai kelompok topik dalam bidang materi tertentu. Materi tersebut disampaikan oleh ahli dalam bidangnya, setelh itu peserta dapat menyampaikan pertanyaan dan sebagainya kepada pembicara.
13) Metode seminar
Merupakan kegiatan belajar sekelompok siswa untuk membahas topik, masalah tertentu. Setiap anggota kelompok seminar dituntut agar berperan aktif dan kepada mereka dibebankan tanggungjawab untuk mendapatkan solusi dari topik masalah yang dipecahkannya. Guru sebagai narasumber.
14) Metode forum
Suatu tempat yang terbuka yang membicarakan suatu persoalan oleh semua orang ikut di dalamnya, kegiatan ini bersifatinformal dan singkat, sehingga sulit mengatur pembicaraan-pembicaraan apalagi masalah yang dibahas adalah masalah yang hangat dan peka secara emosional.49
e. Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium yang artinya perantara atau pengantar. Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya dalam belajar. Kriteria pemilihan media haruslah dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan.50
49 Nia Muhibatul Lubaba, Profesionalisme Guru Dalam Dunia Pendidikan (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 76-89.
50 Lailatul Usriyah, Perencanaan Pembelajaran (Jawa Barat: CV ADANU ABIMATA, 2021), hlm 149
Gagne dan Briggs dalam Azhar Arsyad mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, kaset, video kamera, video recorder, film slide, foto, gambar, grafik, televisi dan komputer.51
Adapun macam-macam media sebagai berikut:
1) Media grafis
Media grafis termasuk media visual. Yakni berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indra penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam bentuk simbol-simbol komunikasi visual. Maka simbol-simbol itu dapat dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien.52 Contoh dari media grafis adalah Gambar/ foto, sketsa, diagram, bagan, grafik, poster, peta, papan flanel, papan buletin.
Menurut Arif S Sadiman bagan atau chart termasuk media visual, fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi.53
51 Azhar Arsyad dan, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009),4.
52 Nia Muhibatul Lubaba, Profesionalisme Guru..., 98.
5353
Arif S Sadiman dkk, Media Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009),35.
2) Media audio
Berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (ke dalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Yang termasuk media audio adalah radio, alat perekam pita magnetik, laboratorium bahasa. Arif S. Sadiman mengenai alat perekam pita magnetik atau lazimnya orang menyebut tape recorder adalah salah satu media pendidikan yang tak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya. Ada dua macam rekaman dalam alat perekam pita magnetik yaitu sistem full track recording dan double track recording.54 Adapun salah satu kelebihannya yaitu program kaset bisa menimbulkan berbagai kegiatan ( dramatisasi dan lain-lain) dan program kaset memberikan efisiensi dalam pengajaran bahasa (Laboratorium bahasa).
3) Media proyeksi diam
Media proyeksi diam mempunyai persamaan dengan media grafik dalam arti menyajikan rangsangan-rangsangan visual. Media ini banyak menggunakan bahan-bahan grafis.
Perbedaannya adalah media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media yang bersangkutan pada media
54 Arif S Sadiman dkk, Media Pendidikan, 52
produksi, pesan tersebut harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran terlebih dahulu. Beberapa jenis proyeksi diam antaa lain film bingkai, film rangkai, media transparansi, proyektor tak tembus pandang, mikrofis, film, film gelang, televisi, video, permainan dan simulasi.
Menurut Arif S. Sadiman, video sebagai media audio visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta (kejadian atau peristiwa penting, berita) maupun fiktif (seperti misalnya ceritera), bisa bersifat informatif edukatif maupun instruksional. kelebihan video antara lain: dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat dan rangsangan luar lainnnya, dengan alat perekam pita video sejumlah besar penonton dapat memperoleh informasi dari ahli-ahli atau spesialis, guru bisa mengatur dimana dia akan menghentikan gerakan gambar tersebut yakni kontrol sepenuhnya di tangan guru dan lain sebagainya.55
4) Media tiga dimensi
Media ini sering digunakan dalam pengajaran adalah model dan boneka. Model adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang atau terlalu ruwet untuk dibawa
55 Arif S Sadiman dkk, Media Pendidikan, 74-75.
kemana-mana. Contoh dari media ini adalah model susun, model kerja, mock up dan diorama.56