• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan

Dalam dokumen NUR HAYATI - Digilib IAIN Palangkaraya (Halaman 35-48)

KAJIAN TEORITIK

A. Deskripsi Teoritik

5. Pendidikan

Pengertian Pendidikan a

Menurut Langevel dan

Yasin

yang

dikutip

Suwamo dalam

bu.ku Pengantar Umum Pendidikan, bahwa pendidikan adalah :

Memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhan menuju kearah kedewasaan dalam

a(i

dapat

berdiri

sendiri dan bertanggung

jawab

sesuai

atas

segala tindakannya

menurut

pilihannya sendiri.2r

Menurut ldris,

pendidikan

adalah :

Serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan antara manusia dewasa dengan

si

anak

didik

secara

tatap muka

atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya dalam

arti

supaya dapat mengembangkan potensi

fisik,

emosi, sikap moral, pengetahuan dan keterampilan-22

Sedangkan menurut

Arifin

dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam yang mengutip pendapat Adler, menyatakan bahwa :

Pendidikan adalah proses dengan mana semua kemampuan

manusia (bakat dan

kemampuan

yang diperoleh) yang

dapat

dipengaruhi oleh

pembiasaan, disempumakan dengan kebiasaan- kebiasaan yang

baik

melalui sarana yang secara astistik dibuat dan

2t Su*amo, Pengantar lJmum Pendidikaz, Jakarta: Rincka Cipta" 1992, hal: 4

2' Idris. Zahra, dan Lisna lunal, Pengantar Pendidikaa, Jakarta: PT. Gramedia Sarana Indonesia Anak. 1992, hal I I

t7

dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkannya yaitu kebiasaan yang baik.23

Dari

beberapa pendapat

diatas, dapat disimpulkan

bahwa pendidikan adalah usaha sadar

orang

dewasa

untuk

memberikan

pertolongan kepada seorang anak untuk menuju kearah kedewasaan

dan

pertumbuhan

jasmani dan rohani untuk

mencapai tingkat

kedewasaan

yang

berpotensi

fisik, emosi, sosial, sikap

moral,

pengetahuan dan keterampilan.

Dalam aktivitas pendidikan ada enam faktor pendidikan yang dapat membentuk

pola

interaksi atau saling mempengaruhi namun

faktor

integratirnya terutama terletak pada pendidik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya.

Faktor Pendidikan

Dalam

proses perkembangan

pendidikan di dunia

Barat' kegiatan pendidikan berkembang

dari

konsep paedagogi, androgogi

dan education. Dalam konsep

paedagogi,

kegiatan

pendidikan ditujukan hanya kepada anak yang belum dewasa (paeda artinya anak).

Tujuannya mendewasakan anak. Namun karena banyak hasil didikan yang justru menggambarkan perilaku yang tidak dewasa, maka sebagai antitesis dari kenyataan itu, muncullah gerakan andragogi (kata dasar andro artinya laki-laki yang rupanya seperti perempuan). Selanjutnya gerakan

modern

memunculkan konsep education

yang

berfungsi b

1t Arifin. I'-ilsdat Pendidikan tsldm, lakarta: Bumi Aksara

r8

gandq yakni "Trawfer of bawledge"

disatu

sisi

dengan "making

scientific

attitude" pada

sisi

yang

lain.

(Dimaksud adalah manusia yang dewasa secara fisik, tetapi belum matang dalam kepribadian dan profesi)

Coser

at all.

Mengungkapkan: " Education

is

lhe deliberate,

formal

transfer of knowledge, skill and values

from

one person lo

another". Semenlara itu dalam Webster disebutkan "Educalion is the process

of training and

development

the

knou,'ledge' skill, mind, character etc especially byformal

schooling"-"

Adapun maksud dari kaidah-kaidah yang diatas

yaitu menunjukkan bahwa

dalam

proses pendidikan

ada pendidik

yang

berfungsi

sebagai

pelatih,

pengembang,

pemberi atau

pewaris.

Kemudian terdapat bahan yang dilatihkan, dikembangkan, diberikan dan diwariskan

yakni

pengetahuan, keterampilan,

berpikir,

karakter

yang

berupa bahan

ajar,

serta ada

murid

yang menerima latihan;

pengembangan, pemberian dan pewarisan pengetahuan, keterampilan, pikiran dan karakter.

Menurut Surati Imam Bamadib, bahwa perbuatan mendidik dan didikan memuat faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi dan menentukan, yaitu:

l)

Adanya tujuan yang hendak dicapai,

2)

Adanya subjek manusia (pendidik dan anak didik) yang melakukan pendidikan,

3)

Yang hidup bersama dalam lingkungan hidup tertentu (milieu),

2! Coser at all, lnrroduclion to S<riologt, Harcourt Brace Jovanovich, inc' florida" 1983, hal.380

l9

4)

Yang menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.

Antara faktor yang satu dengan faktor yang lainnya" tidak bisa dipisahkan, karena kesemuanya saling pengaruh mempengaruhi-

Pendidikan Keluarga

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang

pertamq karena dalam keluarga inilah anak

pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar

dari

kehidupan anak adalah didalam keluarg4 sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga.

Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai

peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan

pandangan hidup

keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.2s

Di dalam pasal I UU

Perkawinan

Nomor I tahun

1974'

dinyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan

lahir

dan batin antara seorang

pria

dan seorang wanita sebagai suami

istri

dengan tujuan

membentuk keluarga yang bahagia dan

sejahtera" berdasarkan Ketuhanan

Yang Maha

Esa.

Anak

yang

lahir dari

perkawinan

ini

adalah anak yang sah dan menjadi hak serta tanggung

jawab

kedua orang tuanya memelihara dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya.

Kewajiban kedua orang tua mendidik anak ini terus berlanjut sampai ia c

" 4.i.

Daien Indrakusuma, Pengantar llmu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1973, hal. 109

20

dikawinkan atau dapat berdiri sendiri, bahkan menurut pasal 45 ayat 2

UU

perkawinan

ini,

kewajiban dan tanggung

jawab

orang tua akan kembali apabila perkawinan antara keduanya putus karena sesuatu hal.

Maka anak ini kembali menjadi tanggungjawab orang tua.

Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang

tua terhadap anak. Bagi seorang anak, keluarga

merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat dimana ia menjadi

diri

pribadi atau

diri

sendiri. Ketuarga juga menrpakan wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk

diri

dalam fungsi sosialnya. Disamping

itu

keluarga merupakan tempat belajar bagi anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai per*ujudan nilai hidup yang tertinggi.

Dengan demikian

jelaslah

bahwa orang

yang

pertama dan

utama

bertanggung

jawab terhadap

kelangsungan

hidup

dan

pendidikan anak adalah orang tua.

I

)

Fungsi dan peranan pendidikan keluarga

a)

Pengalaman pertama masa anak-anak

Didalam

keluargalah

anak didik mulai

mengenal

hidupnya.

Hal ini

harus disadari dan dimengerti oleh tiap+iap keluarga" bahwa anak dilahirkan didalam lingkungan keluarga yang tumbuh dan berkembang sampai anak melepaskan

diri

dari ikatan keluarga.

2t

Lembaga pendidikan keluarga memberikan pengalaman pertama yang menrpakan faktor penting dalam perkembangan

anak.

Suasana

pendidikan keluarga ini sangat

penting

diperhatikan, sebab

dari sinilah

keseimbangan

jiwa

didalam perkembangan individu selanjutnya ditentukan.

Sebagaimana dikemukakan terdahulu,

bahwa

pendidikan keluarga adalah yang pertama dan utama. Pertama, maksudnya bahwa kehadiran anak

di dunia ini

disebabkan

hubungan kedua orang tuanya. Mengingat orang

tua

adalah orang dewasa, maka merekalah yang harus bertanggung jawab terhadap

anak.

Kewaj

iban orang tua tidak

hanya sekedar memelihara eksistensi anak untuk menjadikannya kelak sebagai individu yang tumbuh dan berkembang.

Sedangkan utam3, maksudnya adalah bahwa orang tua bertanggung jawab pada pendidikan anak. Ha[ itu memberikan pengertian bahwa seorang

anak dilahirkan dalam

keadaan penuh ketergantungan dengan orang lain' tidak mampu berbuat apa-apa bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri' Ia Iahir dalam keadaan suci bagaikan meja

lilin

berwarna putih (a sheet

of

white paper avoid

of all

characters) atau yang lebih dikenal dengan istilah Tabularasa' Didalam

Islam

secara

jelas

Nabi Muhammad

SAW.

Mengisyaratkan

lewat

sabdanya yang berbunyi:

22

^)l$-\i ari s-A6fi -''p;:\ 'v U'i-;i'y Y

- C.tc?

.+it.+-e,r- 1l

"setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci,

maka

orangtuanyalah

yang dapat

menjadikannya

Yahudi,

nasrani atau Majusi".

Dengan

demikian

terserah kepada

orang tua

untuk memberikan

corak

wama

yang

dikehcndaki terhadap anak- anaknya- Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan seorang anak pada saat

itu

benar-benar tergantung kepada kedua orang tuanya. Orang tua adalah tempat menggantungkan

diri bagi anak

secara

wajar. Oleh karena itu orang

tua berkewajiban memberikan pendidikan pada anaknya dan yang

paling

utama dimana hubungan orang

tua

dengan anaknya bersifat alami dan kodrati.

b)

Menjamin Kehidupan Emosional Anak

Suasana didalam keluarga mentpakan suasana yang

diliputi

rasa cinta dan simpati yang sewajamya' suasana yang aman dan tenteram, suasana percaya mempercayai.

Untuk itulah

melalui -

)endidikan keluarga ini'

kehidupan emosional atau kebutuhan akan rasa kasih sayang dapat dipenuhi atau dapat berkembang dengan

baik, hal

ini

dikarenakan adanya hubungan darah antara pendidik dengan

23

anak

didilq

sebab orang tua hanya menghadapi sedikit anak didik dan karena hubungan tadi didasarkan atas rasa cinta kasih

sayang mumi.

Kehidupan emosional

ini

merupakan salah satu faktor

yang terp€nting didalam membentuk pribadi

seseorang.

Berdasarkan

penelitian, terbuhi adanya

kelainan-kelainan

didalam

perkembangan

pribadi individu yang

disebabkan

karena kurang berkembangnya kehidupan emosional

ini

secara wajar, antara lain:

o

Bagi anak-anak yang sejak kecil dipelihara

di

rumah yatim

piatrl

panti asuhan atau rumah sakit, banyak mengalami kelainan-kelainan

jiwa

seperti menjadi seorang anak yang

pemalu, agrcsif dan lainJain yang pada

mulanya disebabkan kurang terpenuhinya rasa kasih sayang, yang sebenamya merupakan bagian dari emosional anak.

.

Banyaknya

terjadi tindak

kejahatan

atau kriminal,

dari

penelitian menunjukkan bahwa tumbuhnya

kejahatan tersebut karena kurangnya rasa kasih sayang yang diperoleh anak dari orang tuanya. Penyebabnya, kesibukan orang tua, suasana yang tidak religius, broken home dan sebagainya-

c)

Menanamkan dasar pendidikan moml

Didalam keluarga

juga

merupakan penanaman utama dasardasar moral bagi anak, yang biasanya tercermin dalam

24

sikap dan perilaku orang tua

sebagai teladan

yang

dapat

dicontoh anak. Dalam

hubungan

ini Ki Hajar

Dewantara

menyatakan bahwa:

"Rasa

cinta,

rasa bersatu

dan lainJain

perasaan dan

keadaan

jiwa

yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti, terdapatlah didalam

hidup

keluarga dalam sifat

yang kuat dan mumi,

sehingga

lak

dapat pusat-pusat pendidikan lainnya menyamainya"'"

Memang

biasanya

tingkah lakq cara

berbuat dan berbicara akan ditiru oleh anak. Dengan teladan ini, melahirkan gejala identifikasi

positil

yakni penyamaan

diri

dengan orang

yang ditiru, dan hal ini penting sekali dalam

rangka

pembentukan kepribadian.

Segala

nilai yang dikenal anak akan

melekat pada orang-orang

yang

disenang

dan

dikaguminya"

dan

dengan

melalui inilah

salah satu proses yang ditempuh anak dalam mengenal nilai.

d)

Memberikan dasar pendidikan sosial

Didalam kehidupan

keluargq

merupakan basis yang sangat penting dalam peletakan dasar{asar pendidikan sosial anak. Sebab pada dasamya keluarga merupakan lembaga sosial resmi yang minimal terdiri dari ayah, ibu dan anak.

tu Malcli. Luhur Persatuan Taman Siswa, Korya

Ki ltaiot

Dewantara Bogian I'

Yogyakarta, 1962, hal. 7l dikutip Socwamo, Penganlar LJnnn Pendidikan, Aksara Baru, Jakarta, 1985, hal. 69

25

Perkembangan benih-benih kesadaran sosial pada anak- anak dapat dipupuk sedini mungkin, terutama lewat kehidupan keluarga yang penuh rasa

tolong

menolong' gotong royong secara kekeluargaan, menolong saudara atau tetangga yang

sakit, bersama-sama menjaga ketertiban,

kedamaian,

kebersihan dan keserasian dalam segala hal.

e)

Peletakan dasardasar keagamaan

Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan

utam4

disamping sangat menentukan

dalam

menanamkan dasar{asar

moral

yang tak kalah pentingnya adalah berperan besar dalam proses intemalisasi dan transpormasi nilai-nilai keagamaan ke dalam Pribadi anak.

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk meresapkan dasar{asar hidup beragam4 dalam

hal ini

tentu saja terjadi dalam keluarga. Anak-anak seharusnya dibiasakan

ikut

serta ke masjid bersama-sama untuk menjalankan ibadah, mendengarkan khutbah

atau

ceramah keagamaan, kegiatan seperti

ini

besar sekali pengaruhnya terhadap kepribadian anak' Kenyataan membuktikan, bahwa anak yang semasa kecilnya tidak tahu menahu dengan hal-hal yang berhubungan dengan hidup keagamaan,

tidak

pemah

pergi

bersama orang

tua

ke

mesjid atau tempat ibadah untuk

melaksanakan ibadah, mendegarkan khutbah atau ceramah-ceramah dan sebagainya'

26

maka

setelah dewasa mercka

itu pun tidak ada

perhatian terhadap hiduP keagamaan.

Kehidupan

dalam keluarga

hendaknya memberikan

kondisi kepada anak untuk mengalami

suasana hidup

keagamaan.

2)

Tanggung jawab keluarga

Dasar{asar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi:

a)

Adanya motivasi atau dorongan

cinta

kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan anak. Kasih sayang orang tua yang

ikhlas

dan

mumi

akan mendorong sikap dan tindakan rela menerima tanggung

jawab untuk

mengorbankan hidupnya dalam memberikan pertolongan kepada anaknya.

b)

Pemberian

motivasi kewajiban moral

sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya. Adanya tanggung

jawab moral ini meliputi nilai-nilai

agama atau nilai-nilai spiritual. Menurut para ahli, bahwa penanaman sikap beragama sangat baik pada masa anak-anak. Pada masa anak-anak (usia 3 sampai

6

tahun) seorang anak

memiliki

pengalaman agama yang asti dan mendalam, serta mudah berakar dalam

diri

dan kepribadiannya.

Hal

tersebut merupakan faktor saat

itu

anak mempunyai sifat wordering atau heran sebagai salah satu faktor untuk memperdalam pemahaman spiritual reality'

27

Pada periode

ini

peranan orang tua dirasakan sangat penting melalui pembiasaan, misalnya orang tua sering mengajak anak- anaknya

ke

tempat-tempat ibadah, sebagai penanaman dasar

yang akan

mengarahkan

anak pada pengaMian

yang

selanjutny4 dan mampu menghargai kehadiran agama dalam bentuk pengalaman dan pengalaman dengan penuh ketaatan.

Dengan demikian penanaman agama yang

dimiliki

anak sejak

kecil ini betul-betul tertanam dan berkesan pada dirinya.

c)

Tanggung jawab sosial adalah bagian dari keluarga yang pada gilirannya akan menjadi tanggung

jawab

masyarakat, bangsa dan negara.

Tanggung jawab sosial

itu

merupakan perwujudan kesadaran tanggung

jawab

kekeluargaan

yang dibina oleh

darah'

keturunan dan kesatuan keyakinan.

Terjalinnya hubungan antara orang tua dengan

anak

berdasarkan rasa

kasih

sayang

yang ikhlas, dan

kesediaan

mengorbankan segala-galanya, adalah hanya untuk melindungi dan memberikan pertolongan kepada analq dalam membimbing mereka

agar

pe(umbuhan

dan

perkembangannya menjadi

sempuma,

sebagaimana

yang diharapkan. Begitu

juga

diharapkan untuk melatih sikap mandiri dan

mampu

mengambil

keputusan

sendiri serta

kehidupannya dalam keadaan stabil.

28

d)

Memelihara dan membesarkan anaknya

Tanggung

jawab ini

merupakan

dorongan alami

untuk

dilaksanakan, karena anak memerlukan makan,

minum

dan

perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan. Disamping

itu

ia bertanggung jawab dalam hal melindungi dan menjamin kesehatan anaknyq

baik

secara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan diri anak terscbut.

e)

Memberikan pendidikan dengan berbagai

ilmu

pengetahuan dan kaerampilan yang berguna bagi kehidupan anak kelak,

sehingga bila ia telah dewasa akan mampu mandiri.

Demikian beberapa

hal

yang

perlu

diperhatikan sebagai tanggung

jawab orang tua

terhadap anaknya' terutama dalam konteks pendidikan. Kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina anak secara terus-menerus perlu dikembangkan kepada setiap orang

tu4

sehingga pendidikan yang dilakukan

tidak

lagi berdasarkan kebiasaan

yang dilihat dari orang tua' tapi

telah

didasari oleh teori-teori pendidikan modem, sesuai

dengan perkembangan zaman.

Dapat

disimpulkan pendidikan

dalam

keluarga adalah fungsi, peranan dan tanggung jawab keluarga.

29

Dalam dokumen NUR HAYATI - Digilib IAIN Palangkaraya (Halaman 35-48)

Dokumen terkait