• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan

Dalam dokumen karya tulis ilmiah (Halaman 53-69)

2 = Menengah 3 = Atas

Analisa data dilakukan untuk mendapatkan hasil pengolahan data, dilakukan dengan

a. Analisis Univariat

Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing- masingvariabel yang diteliti, dihitung dengan presentase yan memakai rumus sebagai berikut ;

45 b. Analisis Bivariat

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel-variabel independen (X1-X3) dengan variabel dependen (Y1).

Untuk membuktikan adanya tidaknya hubungan tersebut, dilakukan statistik uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% (α =0,05). Pada penelitian ini pengolahan data menggunakan program software pengolahan data statistik, yang nantinya akan diperoleh nilai p. Nilai p akan dibandingkan dengan nilai α. Dengan ketentuan sebagai berikut:

- Ha diterima jika p < α (0,05) maka terdapat hubungan antara pemberian ASI Eksklusif, pendidikan, pengetahuan ibu, paritas terhadap status gizi bayi usi 7-12 bulan

- Ho ditolak jika p > α (0,05) maka tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI Eksklusif, pendidikan, pengetahuan ibu, paritas terhadap status gizi bayi usi 7-12 bulan.

-

I. Etika Penulisan

Dalam melaksanakkan penelitian khususnya jika yang menjadi subjek penelitian adalah manusia, maka penelitian harus memahami subjek yang diteliti.

a. Lembar persetujuan menjadi responden (informend consent) Informend consent merupakan bentuk persetujuan antara penelitian dengan responden yaitu dengan memberikan lembar persetujuan, informend consent tanpa paksaan apapun.

b. Tanpa nama (anomity)

Peneliti tidak mencantumkan nama respondent pada angket, tetap cukup menuliskan kode masing-masing lembar angket.

46 c. Kerahasiaan (confidentiality)

Informasi yang diberikan oleh responden dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. (Hidayat, 2015).

47

1. Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 5.2.1

Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

Berdasarkan distrbusi frekuaensi diatas dapat disimpulkan dari 50 responden berdasarkan pemberian ASI Eksklusif yaitu mayoritas ibu memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya saat usia 0-6 bulan dengan jumlah persentase 42 orang (84%) dan yang tidak memberikan ASI Eksklusif ialah 8 orang (16%).

No Pemberian ASI Frekuensi %

1 Tidak 8 16

2 Iya 42 84

Total 50 100

49 2. Pendidikan Ibu

Tabel 5.2.2

Distribusi Frekuensi Ibu terhadap ASI Eksklusif Yang Mempengaruhi Status Gizi Bayi Berdasarkan Pengetahuan Terakhir Ibu

Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok No Pendidikan Frekuensi %

1 Rendah 3 6

2 Menengah 30 60

3 Atas 17 34

Total 50 100

Berdasarkan distrbusi frekuaensi diatas dapat disimpulkan dari 50 responden berdasarkan Pendidikan terakhir ibu adalah paling banyak berpendidikan menengah 30 orang (60%), Pendidikan atas 17 orang (34%) dan hanya 3 orang (6 %) yang memiliki Pendidikan rendah.

3. Pengetahuan

Tabel 5.2.3

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

Berdasarkan distrbusi frekuaensi pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif dapat disimpulkan dari 50 responden ialah pengetahuan ibu tentang ASI Ekslusif yang paling banyak ialah ibu dengan tingkat

No Pengetahuan Frekuensi %

1 Kurang 8 16

2 Cukup 30 60

3 Baik 12 24

Total 50 100

50

pengetahuan cukup sebanyak 30 orang (60 %), baik 12 orang (34%) dan kurang 3 oang (6%).

4. Paritas

Tabel 5.2.4

Distribusi Frekuensi Riwayat Paritas Ibu Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

No Paritas Frekuensi %

1 Beresiko 4 8

2 Tidak Beresiko 46 92

Total 50 100

Berdasarkan distrbusi frekuaensi diatas dapat disimpulkan dari 50 responden berdasarkan riwayat paritas ibu adalah mayoritasnya tidak beresiko yang artinya ibu hanya mempunyai 1-3 anak dengan 92%.

5. Jenis Kelamin Bayi

Tabel 5.2.5

Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

Berdasarkan distrbusi frekuaensi di atas dapat disimpulkan dari 50 responden bayi yang berusia 7-12 bulan mayoritas jenis kelamin bayi yaitu laki-laki dengan 35 orang (70%).

No Jenis Kelamin Frekuensi %

1 Laki-laki 35 70

2 Perempuan 15 30

Total 50 100

51

6. Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Tabel 5.2.6

Distribusi Frekuensi Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

Berdasarkan distrbusi frekuaensi di atas dapat disimpulkan dari 50 responden bayi yang berusia 7-12 bulan paling banyak memiliki status gizi yang normal sesuai masa pertumbuhannya diambil menurut BB/PB bayi dengan 40 orang (80%).

52 1. Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 5.3.1

Pengaruh Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

No

Pemberian ASI Eksklusif

Status Gizi Bayi

Jumlah P.Value Tidak

Normal

Normal

1

Tidak 8

(16,0 %)

0 (0,0 %)

8 (16,0 %)

0,005 2

Ya 2

(4,0%)

40 (80,0%)

42 (84,0%)

Jumlah 10

(20,0%)

40 (80,0%)

50 (100,0%)

Dari tabel 5.3.1 menunjukkan bayi yang diberikan ASI Eksklusif dengan status gzi bayi normal sebanyak 40 responden (80,0 %) lebih banyak daripada yang bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif dengan status gizi bayi tidak normal sebayak 8 responden (16,0%).

Hasil penelitian setelah dilakukan uji chi square test mendapatkan nilai p sebesar 0,005 sehingga nilai p < 0,05. Berdasarkan uji statistic ditemukan hubungan yang bermakna antara pemberian ASI Eksklusif terhadap status gizi bayi usia 7-12 bulan.

53 2. Pendidikan

Tabel 5.3.2

Pengaruh Pendidikan Ibu Terhadap Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

No Pendidikan

Status Gizi Bayi

Jumlah P.Value Tidak

Normal

Normal

1

Rendah 1

(2,0 %)

2 (4,0 %)

3 (6,0 %)

0,822 2

Menengah 6

(12,0 %)

24 (48,0 %)

30 (60,0 %) 3

Tinggi 3

(6,0%)

14 (28,0%)

17 (34,0%)

Jumlah 10

(20,0%)

40 (80,0%)

50 (100,0%)

Dari tabel 5.3.2 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menengah ibu dengan status gzi bayi normal sebanyak 24 responden (48,0 %) lebih banyak daripada pendidikan tinggi dengan status gizi bayi normal sebayak 14 responden (28,0%) dan yang berpendidikan rendah dengan status gizi bayi normal sebanyak 2 responden (4,0 %)

Hasil penelitian setelah dilakukan uji chi square test mendapatkan nilai p sebesar 0,822 sehingga nilai p > 0,05. Berdasarkan uji statistic tidak ditemukan hubungan yang bermakna atau signifikan antara pendidikan ibu terhadap status gizi bayi usia 7-12 bulan.

54 3. Pengetahuan

Tabel 5.3.3

Pengaruh Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif Terhadap Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne

Cimanggis Depok

No

Pengetahuan

Status Gizi Bayi

Jumlah P.Value Tidak

Normal

Normal

1

Kurang 7

(14,0 %)

1 (2,0 %)

8 (16,0 %)

0,005 2

Cukup 2

(4,0 %)

28 (56,0 %)

30 (60,0 %) 3

Baik 1

(2,0%)

11 (22,0%)

12 (24,0%) Jumlah 10

(20,0%)

40 (80,0%)

50 (100,0%)

Dari tabel 5.3.3 menunjukkan bahwa ibu yang berpengetahuan cukup tentang ASI Eksklusif memiliki status gzi bayi normal sebanyak 28 responden (56,0 %) lebih banyak dibandingkan ibu dengan pengetahuan baik sebanyak 11 responden (22,0%) dan pengetahuan kurang dengan status gizi bayi normal sebayak 1 responden (2,0%).

Hasil penelitian setelah dilakukan uji chi square test mendapatkan nilai p sebesar 0,005 sehingga nilai p < 0,05. Berdasarkan uji statistic ditemukan hubungan yang bermakna atau signifikan antara pengetahuan terhadap status gizi bayi usia 7-12 bulan.

55 4. Paritas

Tabel 5.3.4

Hubungan Paritas Ibu Terhadap Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

No Paritas

Status Gizi Bayi

Jumlah P.Value Tidak

Normal

Normal

1

Beresiko 0

(0,0 %)

4 (8,0 %)

4 (8,0 %)

0,297 2

Tidak Beresiko

10 (20,0%)

36 (72,0%)

46 (92,0%)

Jumlah 10

(20,0%)

40 (80,0%)

50 (100,0%)

Dari tabel 5.3.4 menunjukkan paritas ibu yang tidak beresiko dengan status gzi bayi normal sebanyak 36 responden (72,0 %) lebih banyak daripada yang paritas beresiko status gizi bayi normal sebayak 4 responden (8,0%).

Hasil penelitian setelah dilakukan uji chi square mendapatkan nilai p sebesar 0,297 sehingga nilai p > 0,05. Berdasarkan uji statistic tidak ditemukan hubungan yang bermakna atau signifikan antara paritas ibu terhadap status gizi bayi usia 7-12 bulan.

56 5. Jenis Kelamin Bayi

Tabel 5.3.5

PengaruhJenis Kelamin Bayi Terhadap Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan Di Wilayah TPMB Jeanne Cimanggis Depok

No Jenis

Kelamin

Status Gizi Bayi

Jumlah P.Value Tidak

Normal

Normal

1

Laki-laki 2

(4,0 %)

33 (66,0 %)

35 (70,0 %)

0,005 2

Perempuan 8

(16,0%)

7 (14,0%)

15 (30,0%)

Jumlah 10

(20,0%)

40 (80,0%)

50 (100,0%)

Dari tabel 5.3.4 menunjukkan jenis kelamin bayi laki-laki dengan status gizi bayi normal ialah 33 responden (66%) lebih banyak dibandingkan dengan perempuan dengan status gizi bayi normal 7 responden (14%)

Hasil penelitian setelah dilakukan uji chi square mendapatkan nilai p sebesar 0,005 sehingga nilai p < 0,05. Berdasarkan uji statistic ditemukan pengaruh antara jenis kelamin bayi terhadap status gizi bayi usia 7-12 bulan.

57 BAB VI

58

ASI mengandung zat gizi yang ideal dan mencukupi untuk menjamin tumbuh kembang secara optimal sampai 6 bulan. Bayi yang mendapatkan karbohirat, sehingga zat gizi masuk tidak seimbang akibatnya akan kegemukan menurut (Haryono R. &., 2014).

Hasil penelitian pun sejalan dengan penelitian dari (Yanti, 2011) hasil penelitian menunjukkan hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 7 bulan di Wilayah Kelurahan Karangwaru Tegalrejo Yogyakarta bahwa diantara responden yang paling banyak adalah responden dengan pemberian ASI Eksklusif dan mempunyai status gizi baik yaitu sebanyak 16 responden (53,3%). Dari data hasil penelitian, didapatkan nilai signifikan perhitungan yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,018, maka Ha menyatakan ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 7 bulan.Karena tingkat kesadaran ibu tinggi terhadap manfaat yang terkandung dalam ASI sehingga ibu dapat memberikan ASI secara eksklusif sampai umur 6 bulan tanpa makanan tambahan dan juga terdapat data yang memberikan ASI Eksklusif tetapi berstatus gizi kurang sebanyak 2 responden (6,7%). Hal ini dikarenakan dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti faktor genetik yaitu karena kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter) yang memiliki status gizi kurang dan juga dapat dipengaruhi oleh faktor psikologi yang dapat menurunkan nafsu menyusu bayi tersebut

B. Pendidikan

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan Chi Square, didapatkan hasil nilai Pvalue 0.122, dimana nilai α 0.05, maka Pvalue >Nilai α. Artinya tidak ada hubungan antara pendidikan dengan status gizi bayi usia 7-12 bulan.

Sementara itu terdapat hasil yang bertolak belakang dengam penelitian dari (Nurhayati, 2017) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendidikan ibu dengan pengetahuan ibu tentang ASI.

59

Menurut (Afifah, 2014) menyatakan bahwa pendidikan formal yang pernah dicapai oleh ibu dari responden tidak atau mendapatkan ijazah.

Semakin tinggi tingkat pendidikan formal akan semakin luas wawasan berpikirnya, sehingga akan lebih banyak informasi yang diserap. Hasil penelitian terhadap ibu-ibu di Singapura juga menyatakan terdapat hubungan yang positif antara tingkat pendidikan ibu dengan durasi pemberian ASI (Foo et al. 2009).

Sementara itu, terdapat hasil penelitian yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pendidikan ibu dengan cara pemberian ASI dengan dugaan tingkat pendidikan yang semakin tinggi tidak disertai dengan pengetahuan tentang cara menyusui yang baik dan benar serta kemampuan dalam penerapannya (Zai 2014).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zai 2014 dapat diketahui bahwa antara pendidikan ibu dengan cara pemberian ASI dengan dugaan tingkat pendidikan yang semakin tinggi tidak disertai dengan pengetahuan tentang cara menyusui yang baik dan benar serta kemampuan dalam penerapannya.

Dari data diperoleh bahwa pendidikan ibu taraf menengah dan atas dan status gizi balita mayoritas normal. Hal ini dikarenakan faktor kesungguhan ibu bayi dalam peningkatan pendidikan baik yang dilakukan dengan keaktifan dalam kegiatan posyandu maupun dari frekuensi kontak dengan media masa. Hal ini bisa dijadikan landasan untuk menambah pengetahuan tentang gizi dan kesehatan.

Dalam dokumen karya tulis ilmiah (Halaman 53-69)

Dokumen terkait