BAB II LANDASAN TEORI
E. Penelitian Terdahulu
30
b. Jika sebuah perusahaan memiliki score yang kurang dari 0 maka perusahaan di prediksi tidak berpotensi mengalami kebangkrutan.28
Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Model Grover merupakan model prediksi yang paling sesuai diterapkan pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena model ini memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dibandingkan dengan model prediksi lainnya yaitu sebesar 100%. Sedangkan model Altman Z-Score memiliki tingkat akurasi sebesar 80%, model Springate 90%
dan model Zmijewski 90%.
Christoforus Adhitya Soandakh (2014) telah melakukan penelitian yang berjudul Analisis Potensi Kebangkrutan Dengan Menggunakan Metode Altman Z-Score, Springate dan Zmijewski Pada Industri Perdagangan Ritel yang terdaftar di BEI Periode 2009- 2013. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Dari Perhitungan standar deviasi rata-rata, analisis Springatelah yang memiliki tingkat keakuratan lebih tinggi. Ini juga didukung dengan metode analisis Springate yang lebih memfokuskan pada nilai hutang lancar suatu perusahaan.
Rizky Teguh Wibisono (2014) telah melakukan penelitian yang berjudul Analisis Tingkat Kebangkrutan Model Altman, Foster, dan Springate pada Perusahaan Property and Real Estate Go Public di Bursa Efek Indonesia. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Perbedaan antara hasil analisis model Altman, model Foster dan model Springate dalam memprediksi tingkat kebangkrutan
32
perusahaan property and real estate go public di BEI pada periode 2008-2011, disebabkan karena adanya perbedaan dalam menggunakan perhitungan yang digunakan pada model Altman, model Foster dan model Springate baik itu berupa rasio keuangan yang dipakai maupun angka dan nilai cut off yang digunakan.
Ditiro Alam Ben (2015) telah melakukan penelitian yang berjudul Analisis Metode Springate (S-Score) Sebagai Alat Untuk Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan (Studi pada Perusahaan Property dan Real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2011-2013). Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Metode Springate yang dikenal untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan di masa-masa mendatang dengan melihat dari sisi laporan keuangan, dapat digunakan sebagai salah suatu sarana bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam menganalisis dan mengevaluasi kondisi dan kinerja satu atau beberapa perusahaan.
Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu tentang kebangkrutan dengan menggunakan rasio keuangan yang disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian
Hasil Penelitian Perbedaan Persamaan 1 Mila
Fatmawati (2010)
Penggunaan The
Zmijewski
Hasil analisis diketahui bahwa ketiga model
Peneliti mengguna kan
Peneliti mengguna kan
Model, The Altman Model, Dan The
Springate Model Sebagai Prediktor Delisting.
prediktor delisting yang digunakan model zmijewski lebih akurat dalam
memprediksi perusahaan delisting, dibandingkan dengan model Altman dan model Springate. Model Altman dan model Springate lebih menekankan pada ukuran
profitabilitas.
Semakin kecil profitabilitas yang dihasilkan maka akan semakin tepat diprediksi sebagai
perusahaan delisting.
Metode Zmijewski dan
Metode Altman
Metode Springate
2 Ni Made Evi Dwi Prihanthin i (2013)
Prediksi Kebangkrut an Dengan Model Grover, Altman Z-
Model Grover merupakan model prediksi yang paling sesuai diterapkan pada perusahaan Food
Peneliti mengguna kan Metode Grover, Altman Z-
Peneliti mengguna kan Metode Springate
34
Score, Springate dan Zmijewski pada Perusahaan Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia.
and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena model ini memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dibandingkan dengan model prediksi lainnya yaitu sebesar 100%. Sedangkan model Altman Z- Score memiliki tingkat akurasi sebesar 80%, model Springate 90% dan model Zmijewski 90%.
Score dan Zmijewski
3 Christofor us Adhitya Soandakh (2014)
Analisis Potensi Kebangkrut an Dengan Menggunak an Metode Altman Z- Score, Springate dan Zmijewski
Dari Perhitungan standar deviasi rata-rata, analisis Springate lah yang memiliki tingkat
keakuratan lebih tinggi. Ini juga didukung dengan metode analisis Springate yang
Peneliti mengguna kan Metode Altman Z- Score dan Zmijewski
Peneliti mengguna kan Metode Springate
Pada Industri Perdaganga n Ritel yang Terdaftar di BEI Periode 2009-2013.
lebih
memfokuskan pada nilai hutang lancar suatu perusahaan.
4 Rizky Teguh Wibisono (2014)
Analisis Tingkat Kebangkrut an Model Altman, Foster, dan Springate pada Perusahaan Property and Real Estate Go Public di Bursa Efek Indonesia.
Perbedaan antara hasil analisis model Altman, model Foster dan model Springate dalam
memprediksi tingkat kebangkrutan perusahaan
property and real estate go public di BEI pada periode 2008-2011, disebabkan
karena adanya perbedaan dalam menggunakan perhitungan yang digunakan pada model Altman, model Foster dan model Springate baik itu berupa
Peneliti mengguna kan Metode Altman dan Foster
Peneliti mengguna kan Metode Springate
36
rasio keuangan yang dipakai maupun angka dan nilai cut off yang digunakan.
5 Ditiro Alam Ben (2015)
Analisis Metode Springate (S-Score) Sebagai Alat Untuk Mempredik si
Kebangkrut an
Perusahaan (Studi pada Perusahaan Property dan Real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2011-2013).
Metode Springate yang dikenal untuk
memprediksi kebangkrutan perusahaan di masa-masa
mendatang
dengan melihat dari sisi laporan keuangan, dapat digunakan
sebagai salah suatu sarana bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam
menganalisis dan mengevaluasi kondisi dan kinerja satu atau beberapa
perusahaan.
Peneliti Mengguna kan Metode Springate
Sumber Data Olahan: 2019
37 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Definisi Operasional Metode Springate
Metode Springate digunakan untuk mengukur dan mengetahui kemungkinan terjadinya kebangkrutan. Springate telah merumuskan model prediksi kebangkrutan pada tahun 1978. Dalam perumusannya Springate menggunakan metode yang sama dengan Altman, yaitu Multi Diskriminant Analysis (MDA). Pada awalnya model S-score terdiri dari 19 rasio keuangan yang popular. Setelah melalui uji yang sama dengan yang dilakukan Altman, Springate memilih menggunakan 4 rasio yang dipercaya bisa membedakan antara perusahaan yang mengalami kebangkrutan.
Rumus :
S= 1.03 + 3.07 + 0.66 + 0.4
Keterangan :
S = Bangkrupy Index = Working Capital
= Earning Before Interest and Tax / Total Asset = Earning Before Tax / Current Liabilities = Sales / Total Asset29
29 Lidia Desiana dan Fernando Africano, “Analisis Laporan Keuangan”, (Palembang:
CV. Amanah, 2018), hlm. 258.
38
Dimana :
1. Net Working Capital to Total Asset
Rasio Modal Kerja Terhadap Total Aset ( ), Rasio ini adalah menunjukkan rasio antara modal kerja (yaitu aktiva lancar dikurangi hutang lancar) terhadap total aktiva. Nilai Working Capital to Total Asset yang semakin tinggi menunjukkan semakin besar modal kerja yang diperoleh perusahaan disbanding total aktivanya.
=
2. Earning Before Interest and Tax to Total Asset
Rasio Laba sebelum bunga dan pajak terhadap total aset ( )
Rasio ini adalah digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk mengahasilkan laba. Tingkat pengembalian dari aktiva yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan total aktiva pada neraca perusahaan.
=
3. Earning Before Tax / Current Liabilities
Rasio Laba sebelum pajak terhadap total liabilitas lancar ( )
Rasio ini adalah digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya. Cara menghitungnya dengan mengukur perbandingan antara laba sebelum pajak dengan
bunga terhadap hutang lancar. Rasio EBT terhadap liabilitas lancar agar manajemen perusahaan dapat mengetahui berapa laba yang telah dipotong dengan beban bunga dapat menutupi hutang lancar yang ada.
=
4. Sales / Total Asset
Rasio Penjualan terhadap total aset ( ), rasio ini merupakan rasio yang membandingkan antara penjualan bersih dengan total aktiva.
Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan. Semakin tinggi Total Assets Turn Over berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan. 30
=
Springate mengklasifikasikan perusahaan bangkrut jika memiliki skor kurang dari 0,862 (S < 0,862). Sebaliknya, Jika hasil perhitungan S-Score melebihi atau sama dengan 0,862 (S > 0,862) maka perusahaan diklasifikasikan perusahaan yang sehat secara keuangan.
30 Ditiro Alam Ben, dkk, “Analisis Metode Springate (S-Score) Sebagai Alat Untuk Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan”, (JAB)|Vol. 21 No. 1 April 2015, hlm. 3.
40