• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Terdahulu

Dalam dokumen pengaruh harga dan kualitas garam terhadap (Halaman 37-41)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian sebelumnya dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian yang berkaitan analisis harga dan kualitas garam terhadap kepuasan konsumen.

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

NO. NAMA JUDUL HASIL PENELITIAN

1. Try

Suherman (2011)

Analisis pemasaran garam rakyat ( studi kasus Desa Kertasada, Kec. Kalianget Kab. Sumenep

Berdasarkan analisis efisiensi pemasaran dengan pendekatan SCP ( Structure, Conduct, Performance ) disimpulkan bahwa

21

pemasaran garam di Desa Kertasada Kec. Kalianget tidak efisien oleh petani kecil, untuk mengatasi hal tersebut.

2. Ragil Andriyani (2013)

Analisis usaha tambak garamdiDesa Gedongmulyo Kec.Lasem Kab. Rembang

Tambak garam yang diusahakan

di Desa Gedongmulyo

merupakan perpaduan antara tambak garam dan usaha budidaya bandeng yang dikelola dalam satu petak tambak garam.

Petakan tambak yang kosong seperti tandon dan caren digunakan untuk budidaya bandeng. Cara ini diharapkan dapat lebih meningkatkan penerimaan serta mengurangi kegaga;an usaha tambak garam.

3. Bestianz Ronaldy (2015)

Analisis efisiensi penggunaan faktor produksi garam Di Kec.

Batangan Kab. Pati

Rata- rata efisiensi teknis

produksi garam dikec. Batangan Kab. Pati adalah sebesar 0,93.

Hal ini mengandung arti bahwa produksi garam tidak efisien secara teknis karena belum mencapai nilai 1. Efisiensi teknis tercapai apabila input berupa

faktor-faktor produksi yang digunakan mampu menghasilkan output yang maksimum.

4. Ahmad Syariful j.

(2013)

Pemasaran garam rakyat (Studi kasus Desa Lembung Kec. Galis Kab. Pamekasan Jawa Timur

Berdasarkan hasil penelitian pada bulan Oktober-November 2013 dapat diperoleh simpulan bahwa penyaluran garam dibagi menjadi 3 saluran utama, struktur pasar yang dihadapi pada masing- masing Lembaga pemasaran berbeda-beda dan indikator analisis efisiensi operasional menunjukkan bahwa sistem pemasaran mengawasi jalannya peraturan pemerintah pusat mengenai penutupan harga jual.

5. Dewa Ayu Sega (2018)

Analisis pemasaran garam Kusamba di Kec. Dawan Kab Klungkug

Bahwa tidak baik karena praktek penentuan harga garam masih didominasi oleh pedagng perantara, dan biaya pemasaran Dalam pemasaran garam Kusamba dari masing-masing kriteria dapat disimpulkan tidak seragam.

23

C. Kerangkap Konsep

Berikut gambar kerangka konsep tentang “ Pengaruh Harga Dan Kualitas Garam Terhadap Kepuasan Konsumen Kec. Arungkeke Kab.

Jeneponto”.

Gambar 2.1 Kerangka pikir

D. Hipotesis

Hipotesis adalah dugaansementara terhadap rumusan masalah penelitian, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta- fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Adapun hipotesis statistiknya yaitu :

H1 : Harga berpengaruh positif signifakan terhadap kepuasan konsumen di Kec. Arungkeke Kab. Jeneponto.

H2 :Kualitas garam berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan

konsumen di Kec. Arungkeke Kab. Jeneponto

Harga (X1)

Kualitas (X2)

Kepuasan Konsumen ( Y)

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif.

Menurut Sugiyono (2018 :11) penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di Kec. Arugkeke Kab. Jeneponto. Dan waktu peneliti kurang lebih 2 ( dua ) bulan.

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel, yaitu variaberl bebas ( independent variable ) dan variabel terikat ( dependent variable ). Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Penelitian yang dilakukan memiliki variabel meliputi :

1. Harga ( Variabel Bebas)

2. Kualitas garam ( Variabel Bebas )

3. Kepuasan Konsumen ( Variabel Terikat )

Adapun pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan skala likert. Adapun penilaiannya antara lain :

a. Sangat Setuju ( 5)

23

25

b. Setuju (4) c. Kurang Setuju (3) d. Tidak Setuju (2) e. Sangat tidak setuju (1) D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan elemen yang akan dijadikan wilayah generalisasi. Elemen populasi adalah konsumen yang membeli garam 2. Sampel

Sampel pada penelitian ini yaitu pedagang sebanyak 25 orang.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka di gunakan dua metode.

1. Metode Angket atau Kuesioner

Kuesioner adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Metode angket digunakan dalam penelitian ini karena jumlah responden banyak dan responden dapat membaca dengan baik serta dapat mengungkapkan hal-hal yang bersifat rahasia.

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup, yakni kuesioner yang sudah disediakan alternatif jawaban sehingga responden hanya memberi tanda pada jawaban yang telah dipilih. Metode angket atau kuesioner dalam penelitian ini digunakan untuk mengambil data mengenai harga dan kualitas, dan kepuasan konsumen. Kuesioner yang berupa pertanyaan disebarkan kepada responden sesuai dengan

pernyataan responden.

2. Penelitian Pustaka

Pengumpulan data teoritis dengan cara menelaah berbagai literature dan bahan pustaka lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

F. Instrumen Penelitian

Penelitian menurut Max Waber, peneliti terus menerus melakukan interprestasi terhadap tindakan sosial yang dilakukan oleh subjek penelitian yang diteliti, dimana kita harus terjun langsung lapangan untuk meneliti.

Adapun yang menjadi instrument dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Kuesioner

Kuesioner adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden.

2. Dokumentasi

Teknik dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan mencari data atau informasi melalui media cetak maupun media elektronik.

Teknik dokumentasi dalam penelitian ini hanya digunakan sebagai teknik pengumpul data pelengkap.

G. Teknik Analisis 1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui dan menganalisis data dengan cara mendeskripsikan masing-masing variabel, yaitu variabel harga, dan kualitas terhadap kepuasan konsumen. Penyajian data pada analisis deskriptif dalam penelitian ini dijabarkan dalam bentuk persentase, yaitu menggambarkan hasil yang diperoleh berdasarkan taksiran persen. Analisis deskriptif yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi perhitungan mean atau

27

rerata (M), median (Me), dan modus (Mo), dan standar deviasi. Selain itu, data juga digambarkan dengan tabel distribusi frekuensi, tabel kecenderungan masing-masing variabel, dan pie chart.

2. Analisis Regresi Linear Berganda

Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Sebelum melakukan analisis regresi linear berganda, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat atau uji asumsi klasik.

a. Uji Prasyarat Analisis

Pengujian prasyarat analisis yang digunakan meliputi: uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas.

1) Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari setiap variabel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov.

Untuk mengetahui normalitas variabel dengan melihat nilai Asymp. Sig.

Apabila nilai Asymp Sig lebih dari atau sama dengan 0,05 (taraf signifikansi 5%) maka data berdistribusi normal, sebaliknya apabila nilai Asymp Sig kurang dari 0,05 maka data berdistribusi tidak normal (Muhson, 2015: 33-35).

2) Uji Linearitas

Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas dengan variabel terikat memiliki hubungan yang linear atau tidak. Untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat bersifat linear atau tidak, maka dapat dilihat pada harga signifikansi. Apabila harga signifikansi kurang dari taraf signifikansi yang ditentukan misalnya 5% maka hubungannya bersifat tidak linear,

maka hubungannya bersifat linear (Muhson, 2015: 38).

3) Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi yang sangat kuat atau sempurna antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas. Untuk mengetahui apakah ada multikolinearitas atau tidak dapat digunakan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Apabila nilai VIF kurang dari 4 maka tidak terjadi multikolinearitas, sedangkan jika nilai VIF lebih dari 4 maka terjadi multikolinearitas (Muhson, 2015: 41).

4) Uji Homoskedastisitas

Uji homoskedastisitas digunakan untuk menguji apakah model regresi terjadi kesamaan varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Apabila varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan apabila berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang memenuhi syarat homoskedastisitas.

Pengujian homoskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Park.

Metode yang digunakan untuk menyatakan terjadi homoskedastisitas menggunakan koefisien signifikansi. Apabila nilai signifikansi dari F lebih besar atau sama dengan 0,05 maka terjadi homoskedastisitas, dan sebaliknya apabila nilai siginifikansi dari F lebih kecil dari 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas atau tidak terjadi homoskedastisitas (Muhson, 2015: 48).

b. Uji Analisis Data

29

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda. Analisis ini digunakan untuk menguji hiptotesis ke-1, ke-2, ke-3, dan ke-4, yaitu pengaruh kualitas produk, harga, dan kualitas pelayanan secara parsial dan secara simultan atau bersama- sama terhadap kepuasan konsumen. Adapun persamaan regresi linear berganda untuk model penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = a + b i X i + b 2X 2 + b 3X 3 Keterangan:

Y = Kepuasan konsumen a = Konstanta

b1 = Koefisien regresi dari harga b2 = Koefisien regresi dari kualitas X1 = Harga

X2 = Kualitas

Pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi linear berganda dilakukan dengan melakukan uji berikut ini:

1) Uji statistik t

Uji statistik t pada dasarnya digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel bebas secara parsial atau individual terhadap variabel terikat (Kuncoro, 2001: 97). Pengujian ini dilakukan dengan uji t pada tingkat signifikansi (a) 0,05% dengan ketentuan sebagai berikut:

a) Apabila nilai sig t > 0,05 maka variabel tersebut tidak berpengaruh secara signifikan.

b) Apabila nilai sig t < 0,05 maka variabel tersebut berpengaruh secara signifikan (Muhson, 2005: 55).

2) Uji statistik F

independen yang dimasukkan dalam model memiliki pengaruh secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel dependen (Kuncoro, 2001: 98). Pengujian ini dilakukan pada tingkat keyakinan 95% dengan ketentuan sebagai berikut:

a) Apabila nilai sig F > 0,05 maka pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat tidak berpengaruh secara signifikan.

b) Apabila nilai sig F < 0,05 maka terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat (Muhson, 2005: 51).

3) Koefisen Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Kuncoro, 2011: 100).

31

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah

Istilah Turatea meliputi Jeneponto dan Takalar sebab Takalar adalah pecahan dari Jeneponto. Di Jeneponto yang kata asalnya berarti air gelang, dimasa lalu ada 4 kerajaan yang ada dijeneponto, yaitu Binamu, Arungkeke, Kelara dan kerajaan Tarowang. Hanya saja yang paling unik dari 4 kerajaan ini ialah kerajaan Tarowang sebab walaupun pada awalnya ikut pada Gowa kemudian ke Bone pada akhirnya dia menjadi otonomi dan menjadi kerajaan kecil yang berdiri sendiri.

Sejarah kerajaan Arungkeke diawali dengan munculnya wanita cantik yang bernama Tamanurung ( manusia yang turun dari khayangan) Toalu’

Daeng Tabai ia turun di kerajaan Arungkeke tepatnya dibawah pohon asam sambil ditemani oleh pengawal dan budaknya sambil ia di ayun dibawah pohon tersebut. Ia konon berasal dari emas termasuk baja, mahkota, lesung dan alu, perhiasan dan benda- benda yang lainnya.

Saat ia muncul ia menggunakan lesung dan alu di bawah pohon asam maka dari itulah dari dulu sampai sekarang pelantikan Raja Arungkeke dilakukan dibawah pohon asam sambil di ayun. Di saat pelantikan itulah suara gendang/ ganrang bulo dan alat music lainnya yang berusia beratus- ratus tahun lamanya di perdengarkan. Suatu alat musik ini dikenal dengan nama Ganrang Talluna Arungkeke.

Sejarah kedua ialah asal nama Arungkeke yang berawal dari lahirnya Arung Mutara Daeng Tabba dari kerajaan Bone, Karena ia tidak jadi dilantik

30

kekayaannya menuju Arungkeke dan setelah pelariannya dari Bone, ia dijadikan raja oleh rakyat. Setelah pelantikannya itu ia terpikat oleh salah satu anak karaeng yang bernama Karaeng Intan. Karaeng Intan melahirkan anak yang kelak meneruskan pemerintahan ayahnya sebagai Karaeng Arungkeke.

Namun, ada juga versi lain mengatakan bahwa Arung palakka dan pamannya Sultan Hasanuddin kata Arungkeke berasal dari Rajanya yang seorang bangsawan tinggi daerah Bugis dengan Kerajaan Bone, lalu rakyat memutuskan kerajaan itu namanya menjadi Arungkeke.

Arung dalam bahasa bugis adalah penguasa/ raja. Di masa lalu, Arungkeke adalah daerah dimana islam pertama kali disebarkan dan terkenal sebagai serambi mekahnya Jeneponto. Arungkeke juga sebuah kerajaan yang besar sama seperti Binamu, Bangkala dan Tarowang. Kerajaan ini diperhitungkan kebesarannya dan disegani didaerah Sulawesi Selatan dan daerah kekuasaannya meliputi palajau, Bulo-Bulo, Arungkeke t Tamanroya, Arungkeke Pallantikang, Pettang dan satu Kerajaan Palili yaitu Kerajaan Bungeng yang kini menjadi Kecamatan Arungkeke.

Saat terjadinya perang Makassar, Arungkeke ikut melawan penjajah Belanda di bawah pimpinan Karaeng Arungkeke ke 12 yaitu Djarigau Karaeng Cambang mengibarkan bendera Kerajaan Arungkeke yang konon seorang wanita cantik yang berasal dari emas menggunakan lesung dan alu yang juga terbuat dari emas, beliau mengibarkannya ketika prajuritnya melihat penjajah dan pasukan Bugis dibukit dekat pantai Arungkeke dan bukit itu masih ada sampai sekarang. Dan di waktu perang sedang berkecamuk, rakyat dan Raja Arungkeke ikut dalam peperangan tersebut untuk membantu Gowa. Dalam perang Makassar itu juga, Arungkeke bersama Bantaeng, Kerajaan bawahan

33

Arungkeke, dan kerajaan-kerajaan Palili Gowa yang setia kepada kerajaan Gowa untuk melawan penjajah Belanda dan para Sekutunya.

a. la keuangan yang efektif, efisien, produktif,transparan dan akuntabel b. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan nilai-nilai budaya c. Menegakkan supremasi hukum, keamanan dan ketertiban.

2. Geografis Daerah

Menurut jaraknya, maka letak masing-masing Desa ke Ibu Kota Kecamatan dan Ibu Kota Kabupaten sangat bervariasi. Jaraknya berkisar 4-14 km, untuk jarak terjauh adalah Desa Arungkeke Pallantikang yaitu sekitar 17 km dari Ibu Kota Kabupaten ( Bontosunggu).

Sedangkan untuk jarak terdekat adalah Desa Kalumpang Loe Kecamatan Arungkeke terdiri dari delapan Desa dengan luas wilayah 29,91 km. Boronglamu memiliki wilayah terluas yaitu 7,23 km2, Sedangkan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Desa Arungkeke Pallantikang yaitu 2,73 km2. Hasil pencatatan hari hujan dan curah hujan di Kecamatan Arungkeke menunjukkan jumlah rata-rata hari hujan selama setahun sebanyak 19 hari sedangkan curah hujan sebanyak 2.980 mm.

3. Sosial Ekonomi

Sebagian penduduk di Kecamatan Arungkeke bekerja atau menggantungkan kehidupannya sebagai penambak garam. Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia.

Dilihat dari sumber mata pencaharian menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja sebagai sektor pertanian dan diluar sector pertanian dapat diliat ditabel sebagai berikut:

Sumber Mata Pencaharian di Kecamatan Arungkeke

NO Pertanian Jumlah Diluar Sektor Peranian Jumlah

1. Petani 3.278 Perdagangan 529

2. Peternak 197 Jasa 268

3. Tambak dan Nelayan 942 PNS dan ABRI 265 Sumber data :Hasil wawancara Tanggal 20 Agustus 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa yang bekerja di sector pertanian yang terdiri petani sebanyak 3.278 orang, peternak sebanyak 197 orang, tambak dan nelayan sebanyak 942 orang. Sedangkan diluar sector pertanian yaitu perdagangan sebanyak 529 orang, jasa sebanyak 268 orang, PNS dan ABRI sebanyak 265 orang.

B. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan jenis data kualitatif, dimana data berdasarkan pada data yang dinyatakan dalam bentuk uraian informasi yang bersifat kualitatif yang didapatkan dari hasil wawancara mengenai “Pengaruh harga dan kualitas garam terhadap kepuasan konsumen di Kec. Arungkeke Kab. Jeneponto.

1. Analisis Deskriptif a. Harga

Data tentang variabel harga diperoleh berdasarkan persepsi konsumen melalui angket dengan jumlah responden 100 konsumen . Hasil analisis deskriptif pada variabel harga diperoleh skor tertinggi sebesar 54, skor terendah sebesar 15, rata-rata (mean) sebesar 36,27, median 38, modus 33, dan standar deviasi sebesar 6,719. Selanjutnya disusun distribusi frekuensi seperti tabel di bawah ini:

35

N o

.

Kelas Interval Frekuensi Persentase 1

.

Mahal 10 40

2 .

Sedang 3 12

3 .

Murah 12 48

Jumlah 25 100

Berdasarkan tabel diatas tersebut diketahui bahwa frekuensi untuk variabel harga dianggap mahal oleh repsonden kisarn Rp.3.500-Rp. 5.000 sebanyak 10 responden (40%), selanjutnya pada kategori harga dianggap cukup murah atau sedang kisaran Rp. 2.500-Rp.3.400 sebanyak 3 respon (12%), dan sisanya sebanyak 12 responden (48%) pada kisaran Rp. 1.000- Rp.2.400.

Variabel harga dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan murah. Skor untuk menentukan kategori diperoleh dari nilai mean ideal dan standar deviasi ideal. Dari skor mean dan standar deviasi ideal tersebut dapat dilakukan klasifikasi mengenai kecenderungan variabel harga berdasarkan persepsi konsumen.

Gambar 4.1 Diagram Lingkaran Kategorisasi Harga Garam 40%

12%

48%

Harga Garam

Mahal Sedang Murah

37

Diagram lingkaran tersebut menunjukkan bahwa konsumen kisaran harga garam yang ditawarkan pedangang memang cukup bervariasi dan berdasarkan pada hasil penyebaran kuesioner yang diberikan terhadap variabel harga termasuk dalam kategori murah yaitu sebanyak 12 orang (48%).

b. Kualitas Garam

Data tentang variabel kualitas diperoleh berdasarkan persepsi konsumen melalui angket dengan jumlah responden 25 responden. Berdasarkan data penelitian yang telah diolah, selanjutnya disusun distribusi frekuensi seperti tabel di bawah ini:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Variabel Kualitas Garam No Kelas Interval Frekuensi Persentase

1 Sangat

Bagus 2 8%

2 Bagus 11 44%

3 Cukup Bagus 5 20%

4 Kurang

Bagus 7 28%

5 Tidak Bagus - -

Jumlah 25 100%

Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi untuk variabel kualitas garam terletak pada tanggapan kualitas garam bagus sebanyak 11 orang (44%), tanggapan kualitas garam kurang bagus dengan jumlah konsumen sebanyak 7 orang (28%), dan tanggapan kualitas garam cukup bagus dengan jumlah konsumen sebanyak 5 orang (20%).

Selanjutnya disusul tanggapan kualitas garam sangat bagus dengan jumlah konsumen sebanyak 2 orang (8%). Kualitas garam agar data lebih mudah dapat dimaknai, selanjutnya variabel kualitas garam dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu sangat bagus, bagus, cukup bagus, kurang bagus, dan

Gambar 4.2 Diagram Lingkaran Kategorisasi Harga Garam

Diagram lingkaran tersebut menunjukkan bahwa kualita garam menurut konsumen dan harga yang di tetapkan pedangang memang cukup bervariasi dan berdasarkan pada hasil penyebaran kuesioner yang diberikan terhadap variabel harga termasuk dalam kategori bagus yaitu sebanyak 11 orang (44%).

c. Kepuasan Konsumen

Data tentang variabel kepuasan konsumen diperoleh berdasarkan persepsi konsumen melalui angket dengan jumlah responden 25 konsumen. Hasil analisis deskriptif pada variabel kepuasan konsumen diperoleh skor tertinggi sebesar 89, skor terendah sebesar 42, rata-rata (mean) sebesar 61,23, median 62, modus 59, dan standar deviasi sebesar 7,301. Selanjutnya disusun distribusi frekuensi seperti tabel di bawah ini:

Tabel 4.4 Frekuensi Kepuasan Konsumen 5 Distribusi

No. Kelas

Interval

Frekuensi Persentase

1 Sangat Puas 0 0%

2 Puas 9 36%

3 Cukup Puas 12 48%

4 Kurang Puas 4 16%

5 Tidak Puas 0 0%

Jumlah 25 100%

8%

20% 44%

28% 0%

Kualitas Garam

Sangat Bagus Bagus Cukup Bagus Kurang Bagus Tidak Bagus

39

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi untuk variabel kepuasan konsumen terletak pada kategori cukup puas antara perbandingan harga dan kualitas harga sebanyak 12 orang (48%).

Selanjutnya disusul kategori puas dengan jumlah konsumen sebanyak 9 orang (38%), dan yang terakhir pada kategori kurang puas antara perbandingan harga dan kualitas harga sebanyak 4 orang (16%)

Gambar 4.3 Diagram Lingkaran Kategorisasi Kepuasan Konsumen Diagram lingkaran tersebut menunjukkan bahwa kepuasan konsumen terkait keseimbangan anatara harga dan kualitas garam yang di tawarkan pedagang ditanggapi cukup puas oleh konsumen sebanyak 12 orang (48%).

2. Pengujian Prasyarat Analisis

Sebelum menguji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji homoskedastisitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari setiap variabel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov. Untuk

Sangat Puas 0% Puas

36%

Cukup Puas 48%

Kurang Puas

16%

Tidak Puas 0%

Kepuasan Konsumen

Sangat Puas Puas Cukup Puas Kurang Puas Tidak Puas

nilai Asymp. Sig lebih dari atau sama dengan 0,05 (taraf signifikansi 5%) maka data berdistribusi normal, sebaliknya apabila nilai Asymp. Sig kurang dari 0,05 maka distribusi data tidak normal. Hasil uji normalitas ditunjukkan tabel berikut:

Tabel 4. 5 Ringkasan Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 25

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 3.13014275 Most Extreme Differences Absolute .101

Positive .101

Negative -.082

Test Statistic .101

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada tabel menunjukkan nilai Asymp. Sig untuk variabel harga dan kualitas adalah 0,200 atau lebih besar dari 0,05, sehingga data variabel tersebut berdistribusi norma, sehingga data variabel kepuasan konsumen berdistribusi normal. Oleh karena itu, persyaratan analisis regresi ganda terpenuhi.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas dengan variabel terikat memiliki hubungan yang linear atau tidak. Apabila

41

harga signifikansi kurang dari 0,05 maka hubungannya bersifat tidak linear, sebaliknya apabila nilai signifikansi lebih dari atau sama dengan 0,05 maka hubungannya bersifat linear. Hasil uji linearitas ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Ringkasan Hasil Uji Linearitas ANOVA Table

Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig.

Kepuasan

Konsumen * Harga

Between Groups

(Combined) 143.003 8 17.875 1.667 .183

Linearity 54.885 1 54.885 5.119 .138

Deviation from Linearity

88.118 7 12.588 1.174 .370

Within Groups 171.557 16 10.722

Total 314.560 24

Berdasarkan tabel dapat diketahui hasil uji linearitas untuk variabel harga, kualitas terhadap kepuasan konsumen diperoleh harga sig lebih dari 0,05 yaitu sebesar 0,370, maka dapat disimpulkan bahwa variabel harga (X1) memiliki hubungan yang linear dengan kepuasan konsumen (Y). Hasil uji linearitas untuk variabel kualitas terhadap kepuasan konsumen diperoleh harga sig 0,183 atau lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel kualitas (X2) terhadap kepuasan konsumen (Y) bersifat linear.

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi yang sangat kuat atau sempurna antar variabel bebas. Untuk mengetahui apakah ada multikolinearitas atau tidak adalah dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Apabila nilai VIF kurang dari 4 maka tidak terjadi multikolinearitas, sedangkan jika nilai VIF lebih dari 4 maka

Dalam dokumen pengaruh harga dan kualitas garam terhadap (Halaman 37-41)

Dokumen terkait