BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
B. Penerapan Manajemen Risiko dalam Meminimalisir Risiko Likuiditas
BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek
BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek sebagai lembaga keuangan syariah bukan bank yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan penyaluran dana tentu menemukan yang namanya risiko, ada berbagai risiko yang timbul dalam menjalankan kegiatan di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek salah satunya risiko likuiditas, pada dasarnya risiko likuiditas terjadi diakibatkan oleh beberapa hal salah satunya adalah tidak stabilnya pengeluaran dan pendapatan dari suatu perusahaan, oleh karena itu BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek dalam menjaga ikuiditasnya harus melewati tahapan-tahapan dalam menerapkan manajemen risiko, adapun tahapan-tahapan tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak Hasanuddin selaku direktur BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek, dan berpedoman pada teori yang sudah dipaparkan oleh peneliti pada bab sebelumnya, Bapak Hasanuddin menjelaskan “dalam penerapan manajemen risiko likuiditas di BMT kami ini ada beberapa tahapan- tahapan yang harus kami lewati antara lain sebagai berikut:
1. Identifikasi Risiko
Sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak hasanuddin beliau menjelaskan :
“Tahapan yang pertama dalam manajemen risiko yang kami terapkan di BMT ini adalah identifikasi risiko, dalam identifikasi risiko disini bertujuan untuk mengidentifikasi setiap risiko yang melekat pada setiap aktivitas fungsional yang kemungkinan dapat merugikan BMT, dan dalam hal ini yang melakukan pengidentifikasian adalah manajer cabang dan staf-staf bawahannya jadi dari pihak kantor pusat tidak perlu ikut campur tangan kecuali jika dibutuhkan”.63
Dari hasil wawancara tersebut dapat dikatakan bahwa Identifikasi risiko pada BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek dilakukan oleh manajer cabang dan staf-stafnya. Dalam kegiatan operasional dengan melakukan beberapa program manajemen risiko dalam rangka mengantisipasi permasalahan risiko yang dapat mengganggu operasional BMT. Tujuan dilakukannya identifikasi risiko tersebut adalah untuk mengidentifikasi risiko yang melekat pada setiap aktivitas fungsional yang berkemungkinan dapat merugikan BMT. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan indentifikasi risiko :
a. Menentukan Batas Maksimal Pembiayaan
Dengan menentukan batas maksimal pemberian pembiayaan berdasarkan aset. Prinsip dari penetapan limit maksimum pembiayaan kepada satu anggota/calon anggota pembiayaan adalah untuk mengurangi risiko dengan cara diversifikasi. Dengan memberikan pertimbangan untuk pembiayaan kepada satu anggota/calon anggota,
63 Hasanuddin, (Direktur BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek), Wawancara, Lenek, 1 Agustus 2021
kerugian dari risiko gagal bayar dapat diminimalkan sebab pada saat satu anggota mengalami kolektibilitas macet, kerugian dapat di batasi sesuai dengan batas maksimum pembiayaan yang diberikan. Sebab, risiko gagal bayar ini dapat menjurus kepada risiko likuiditas. Bapak Hasanuddin selaku direktur di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek menjelaskan:
“untuk saat ini kami membatasi pembiayaan dan mengalihkannya pada pembiayaan modal usaha yang dimana pembiayaan modal usaha ini mampu membantu anggota BMT untuk melunasi hutang atau setoran yang belum lunas di BMT, sedangkan untuk pembiayaan di atas Rp.10.000.000 (sepuluh juta) kami tunda dulu sebab ini berisiko pada BMT kami ini, pada masa seperti sekarang ini lebih berpotensi terjadinya gagal bayar atau sering kita dengar dengan sebutan kredit macet, tapi jika dibawah nominal tersebut silahkan saja kami siap memberikan pembiayaan.”64
b. Memilih Calon Nasabah
Pada dasarnya setiap manusia memiliki kepribadian dan karakternya masing-masing, oleh karena itu BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek harus selektif dan teliti dalam memilih terhadap calon nasabah yang datang untuk mengajukan pembiayaan. Dari hasil wawancara dengan bapak Hasanuddin selaku Direktur BMT Al- Hasan Mitra Ummat beliau menjelaskan:
“Dalam menentukan nasabah ini kami memiliki staf yang siap menganalisa kelayakan calon nasabah. Disini biasa kami sebut sebagai staf Marketing pembiayaan, jika dikantor cabang seperti cabang lenek ini cukup manajer yang mem- backup semuanya kecuali jika ada pengajuan yang besar baru kami turunkan staf marketing pembiayaan yang ada
64 Ibid
dipusat bahkan saya sendiri sering turun ke lapangan untuk menganalisa apakah calon nasabah tersebut layak menjadi anggota atau nasabah dari BMT kami ini”65
2. Menempatkan Ukuran-Ukuran Risiko
Dalam tahapan ini pihak BMT sudah menempatkan atau skala ukuran yang dipakai termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan. Berdasarkan data yang masuk dari calon nasabah itu sendiri dan data dari lembaga lain diharapkan pihak BMT telah memiliki fondasi kuat guna melakukan olah data. Sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak Hasanuddin selaku direktur BMT Al-Hasan Mitra Ummat, beliau menjelaskan “dalam tahapan ini kita sudah dapat melihat atau dapat mengukur risiko jika calon nasabah ini berisiko gagal bayar atau sebaliknya”66 jadi dalam tahapan ini pihak BMT mengunpulkan data-data
baik secara langsung dari nasabah atau beberapa lembaga yang pernah calon nasabah ini mengajukan pembiayaan guna mengetahui ukuran atau kemampuan dari calon nasabah tersebut.
3. Menempatkan Alternatif-Alternatif
Dalam tahapan ini BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek dalam penerapan manajemen risiko dalam meminimalisir risiko likuiditasnya menerapkan beberapa alternatif sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak Hasanuddin yang menjelaskan “dalam menjaga likuiditas di BMT ini saya beserta kawan-kawan yang bekerja dikantor ini sepakat untuk
65 Ibid
66 Hasanuddin, (Direktur BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek), Wawancara, Lenek, 3 Agustus 2021
membuat beberapa alternatif demi menjaga likuiditas BMT ini”.67 dari
penjelasan bapak Hasanuddin tersebut ada beberapa alternatif yang diterapkan di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek antara lain:
a. Pemberian Modal Kerja Untuk Anggota Yang Kehilangan Pekerjaan Dari hasil wawancara dengan bapak Hasanuddin selaku direktur dari BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek bahwa beberapa bulan trakhir ini, perekonomian diseluruh dunia belum stabil tidak terkecuali di kalangan masyarakat para pelaku usaha mikro kecil. oleh karena itu, BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek dalam upaya menjaga likuiditasnya dengan cara meminimalkan atau mengurangi pembiayaan yang berbentuk uang tunai dan mengalihkannya kepada pembiayaan modal kerja yang bergerak di sektor real, seperti memberikan modal berupa barang, bahan, dan alat yang bisa dimanfaatkan untuk berjualan seperti membuatkan gerobak bakso beserta isinya untuk anggota BMT yang kehilangan pekerjaan, itu bertujuan supaya anggota BMT tersebut bisa menyicil setoran dari hasil berjualan bakso tersebut.68
Selanjutnya Bapak Hasanuddin selaku direktur di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek mengatakan:
“dari segi pembiayaan jangka panjang kita potong dulu, Karena ini sangat berisiko bagi kami untuk mencairkan dana yang besar untuk pembiayaan jangka panjang, maka dari itu untuk saat ini kita fokuskan untuk membantu masyarakat dengan memberikan modal untuk berjualan, dan mereka hanya
67 Ibid
68 Ibid
menyediakan jasa, ini bertujuan supaya para anggota dapat melunasi pinjaman yang belum diselesaikan, sampai saat ini kami sudah menyalurkan 15 gerobak dan insyaallah secepatnya kami usahakan untuk mencapai target yakni 100 gerobak, hal tersebut merupakan salah satu alternatif BMT kami ini untuk membantu nasabah supaya tetap memiliki usaha dan pekerjaan agar dapat menyetor kembali pinjaman yang diberikan oleh BMT Al-Hasan Mitra Ummat”69
b. Menerapkan Kas Cadangan
BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek dalam upaya menjaga likuiditasnya meng cut atau bisa dikatakan mengurangi pencairan pembiayaannya dan lebih memilih memasukkan pendapatannya menjadi kas cadangan daripada memberikan pembiayaan jangka panjang di masa pandemi seperti sekarang karena hal tersebut bisa berdampak terhadap risiko likuiditas, Dari hasil wawancara dengan Bapak Hasanuddin selaku Direktur di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek menjelaskan:
“dalam pengadaan kas cadangan ini bertujuan untuk berjaga- jaga jika suatu saat atau sewaktu-waktu nasabah melakukan penarikan yang tiba-tiba atau biasanya terjadi penarikan di hari-hari besar seperti pada bulan ramadhan saat mendekati hari raya idul fitri pasti permintaan untuk penarikan tabungan meningkat dan apabila kami mengalami kekurangan kas maka bisa menggunakan kas cadangan, dan perlu diketahui juga kas cadangan ini bersumber dari kelebihan pendapatan atau kelebihan dana yang masuk maka di buatlah alternatif kas cadangan ini, seperti yang kita ketahui di Bank juga menerapkan hal tersebut. Jadi saya belajar dari pengalaman selama bekerja di Bank”70
Dari banyaknya alternatif yang ada, BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek Menetapkan menggunakan dua alternatif tersebut karena hal
69 Ibid
70 Ibid
tersebut jika tidak mampu melawan atau menghilangkan risiko setidaknya mampu mengurangi risiko kerugian yang di hadapi oleh BMT.
4. Pengawasan Oleh Pengurus dan Pengawas
Di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek pengawasan yang dilakukan oleh pengurus dan pengawas dengan mengadakan rapat rutin setiap bulan minimal dua kali. dalam rapat tersebut direktur menjelaskan perkembangan terkini BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek kepada pengurus dan pengawas, selanjutnya pengurus dan pengawas memberikan masukan-masukan kepada direktur tentang apa yang harus dilakukan.
Bapak Hasanuddin selaku direktur di BMT Al-Hasan Mitra Ummat Lenek menjelaskan:
“kami setiap bulan rutin mengadakan rapat evaluasi dengan seluruh pimpinan cabang, dan setiap Rapat terbagi atas rapat mingguan, rapat bulanan, dan rapat insidental. Rapat mingguan dilakukan di tiap kantor, baik kantor cabang dan kantor pusat dan di hadiri oleh seluruh kepala bagian di tiap cabang BMT ini. Tiap dua kali dalam seminggu, rapat mingguan dilakukan di kantor pusat dengan direktur, manajer dan seluruh kepala cabang. Rapat bulanan dihadiri oleh seluruh karyawan BMT, baik karyawan di kantor cabang masing-masing dan juga karyawan di kantor pusat. Rapat insidental merupakan rapat yang dapat dilakukan sewaktu-waktu oleh direktur, manajer, pengurus, dan pengawas. Tujuan dari dilaksanakannya rapat ini, agar dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi secara cepat tanpa berlarut-larut dan saling bertukar pikiran sehingga memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Lalu, dengan diadakannya rapat, maka hubungan antara-karyawan dengan karyawan lain semakin erat sehingga menghindari ketidakjujuran.”71
C. Kendala–Kendala Dalam Penerapan Manajemen Risiko Dalam