• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Pendidikan Karakter Terhadap Pembentukan

Dalam dokumen penerapan pendidikan karakter terhadap (Halaman 41-45)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Penerapan Pendidikan Karakter Terhadap Pembentukan

Pendidikan karakter mulai digalakkan di berbagai institusi pendidikan dewasa ini, pendidikan karakter mulai diterapkan dari sekolah dasar hingga

30

perguruan tinggi. Diharapkan dengan menerapkan pendidikan karakter maka akan terbentuk Sumber Daya Manusia yang unggul dari segi intelektual dan juga segi kepribadian. Manfaat Pendidikan Karakter sendiri ada banyak jenisnya baik yang dirasakan secara langsung maupun tidak langsung.

Pendidikan karakter membentuk kepribadian generasi muda Indonesia menjadi pribadi yang berjiwa kompetitif, tangguh, bermental juara, selain itu pendidikan karakter juga mengedepankan sisi etika dalam bermasyarakat, membantu seseorang yang kurang memiliki akhlakul karimah menjadi seseorang berakhlakul karimah.

Sedangkan, Akhlak merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertititk tolak dari aqidah yang diwahyukan Allah kepada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya. Akhlak Islam, karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepada kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari pada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok daripada akhlak adalah Alquran dan Hadits (as-Sunnah) yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri. Kedudukan Alquran dan Hadits sebagai sumber akhlak ditegaskan oleh Allah dalam Alquran, diantaranya QS. Al-Ahzab (33) : 21 berikut:





































Terjemahnya:

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

(Kementrian Agama RI: 2005:420).

Dan demikian pula terdapat pada QS. Shaad ( 38) ayat 46 yakni :













Terjemahnya:

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat”. (Kementrian Agama RI 2005 :456).

Dari kedua Ayat tersebut di jelaskan bahwa Akhlak yang baik adalah Akhlak Rasulullah SAW dan merupakan teladan yang baik agar senantiasa selalu patuh dan tunduk kepada Allah SWT dan selalu mengingat Allah SWT dalam segala perbuatan agar memiliki akhlak yang mulia. Dalam pelaksanaan pendidikan akhlak, ada beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian sehingga hasilnya optimal, yakni: aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.

Sesungguhnya pendidikan budi pekerti atau akhlak dalam konteks Indonesia selama ini telah diterapkan lewat pendidikan karakter di sekolah- sekolah serta telah diterapkan dalam beberapa aspek yakni, keimanan, ibadah, syari’ah, akhlak, Alquran, mu’amalah, dan tarikh. Pembentukan manusia yang berakhlak mulia adalah melewati proses pembentukan

32

kepribadian, yang tidak bisa tumbuh dengan tiba-tiba dan serta-merta. Di dalam proses pembentukan kepribadian itulah diperlukan strategi, wacana, metode yang tepat.

Pada tahap pelaksanaan (implementasi) dikembangkan pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri peserta didik. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penerapan pendidikan karakter diawali dalam proses pendidikan dalam keluarga.

Pendidikan karakter berbasis akhlak di lingkungan sekolah merupakan suatu urgensi tersendiri bagi perkembangan pendidikan ke depan.(Muhammad Takdir Ilahi, 2012:190). Penerapan pendidikan karakter dalam pembentukan akhlakul karimah menjadi sangat penting dalam perkembangan kepribadian dan keimanan anak didik di lingkungan sekolah agar anak didik dapat melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

32 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Eksploratif yang akan menemukan fenomena-fenomena baru dalam lokasi penelitian dan merupakan bentuk penelitian survei. Data-data yang telah terkumpul akan di analisis secara deskriptif kualitatif.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil Lokasi di SMK Negeri 1 Pallangga dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. SMK Negeri 1 Pallangga merupakan salah satu sekolah unggulan yang berada di kecamatan pallangga

2. SMK Negeri 1 Pallangga adalah sekolah dimana peneliti pernah menimba ilmu, alumni yang memungkinkan peneliti mudah beradaptasi dan mengenal karakter obyek analisis. Sedangkan objek penelitian yaitu guru dan siswa sebagai responden penelitian ini

33

C. Variabel penelitian

Menurut hadi dalam (Arikunto 1998), Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian. Jadi Variabel dalam penelitian ini Penerapan pendidikan berkarakter sebagai variabel bebas dan pembentukan akhlakul karimah sebagai variabel terikat.

D. Defenisi Operasional Variabel

Untuk memudahkan memahami maksud yang terkandung dalam skripsi ini, maka penulis merasa perlu untuk memberikan pengertian pada beberapa kata dan istilah yang di anggap penting, agar tidak terjadi kesalahan.

1. Pendidikan Karakter adalah upaya dalam rangka membangun karakter (character building) peserta didik untuk menjadi lebih baik.

Sebab, karakter dan kepribadian peserta didik sangat mudah untuk dibentuk. Secara etimologis karakter dapat dimaknai sesuatu yang bersifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, ataupun perangai.

2. Akhlakul Karimah adalah budi pekerti atau perangai yang mulia atau terpuji, yang merupakan tanda kesempurnaan imanseseorang kepada Allah SWT.

Dengan demikian dari defenisi di atas maka dapat di simpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan salah satu alat untuk dapat membimbing

seseorang untuk menjadi orang baik terutama pendidikan agama.dengan pendidikan agama yang akan membentuk akhlakul karimah bagi anak sehingga mampu memfilter mana pergaulan yang tidak baik.

E. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. (suharsimi Arikunto,2002 : 130) Ary, et al (2005 : 138). Berpendapat bahwa “population is all members of well defined class of people, events or objects”. Yang berarti bahwa populasi merupakan seluruh bagian yang terdiri dari manusia, peristiwa dan objek atau kelas yang terbagi dengan baik. Sukardi berpendapat bahwa populasi tidaklah lain adalah elemen penelitian yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoritis menjadi target hasil penelitian. (Sukardi,2008 : 53)

Dari beberapa pengertian tersebut, menurut penulis bahwa populasi pada prinsipnya adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Dalam penelitian ini penulis mengambil populasi (manusia) yaitu 2040 peserta didik dan 88 guru SMK negeri 1 Pallangga tahun 2012/2013.

35

Tabel 1

Populasi siswa dan guru SMK Negeri 1 Pallangga Tahun 2014.

No Siswa dan Guru Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Siswa 1296 744 2040

2. Guru 37 51 88

Jumlah 1333 795 2128

Sumber Data: Dokumentasi SMK N 1 Pallangga 2. Sampel

Sampel adalah sebagian objek atau wakil dari populasi yang akan di teliti. Menurut sutrisno hadi, (2002 : 220) :

Sampel adalah perwakilan atau wakil yang lebih kecil dan keseluruhan.

Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatuyang berlaku bagi populasi.

Sampel adalah sebagian dari populasi. Dengan kata lain, sampel merupakan reduksi dari jumlah objek penelitian. Tujuan lain dari sampel ialah mengemukakan dengan tepat sifat-sifat umum dari populasi dan untuk menarik generalisasi dari hasil-hasil penyelidikan, selanjutnya penentuannya dimaksudkan untuk mempermudah penafsiran, peramalan dan pengujian hipotesis.

Adapun yang ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa dan guru-kepala sekolah. Tehnik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik proposive sampling yakni pengambilan sampel dilakukan secara langsung kepada objek analisis penelitian yakni siswa sebanyak 75 orang, kepala sekolah dan 10 orang guru.

Tabel 2 Keadaan sampel

No Siswa dan guru

Jumlah siswa

Jumlah Laki-laki Perempuan

1.

Kelas ; X XI XII

15 15 15

5 5 5

20 20 20

No Siswa dan Guru

Jumlah Siswa

Jumlah Laki-laki perempuan

2. Guru 1 1 2

Jumlah 46 16 62

37

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang dimaksud adalah alat bantu yang dipakai melaksanakan penelitian yang disesuaikan dengan metode yang digunakan.

Alat bantu yang digunakan antara lain:

1. Pedoman wawancara, yaitu penulis membuat petunjuk wawancara untuk memudahkan penulis dalam berdialog atau mendapatkan data tentang penerapan pendidikan karakter terhadap pembentukan akhlakul karimah siswa SMK Negeri1 Pallangga

2. Daftar angket, merupakan instrumen yang berbentuk pertanyaan- pertanyaan tertulis yang dijawab dengan jawaban tertulis pula.

G. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dilapangan, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data berikut :

1. Observasi, yaitu pengamatan dengan memperhatikan sesuatu meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.

2. Angket, merupakan tehnik pengumpulan data yang di lakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk di jawabnya.

3. Interview (wawancara), yaitu sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (intervewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara.

H. Teknik analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam memecahkan masalah pokok adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif yaitu menjelaskan tentang Penerapan pendidikan karakter terhadap pembentukan akhlakul karimah SMK Negeri 1 Pallangga.

“Analisis kuantitatif, yaitu penulis menggunakan rancangan deskriptif dengan mempersentasekan alternatif jawaban ada setiap pertanyaan”.

(Muhammad Iqbal Hasan 1999:19)

Adapun rumus persentase yang digunakan sebagaimana dikemukakan oleh:

F

P = X 100%

N

Keterangan : P = persentase F = jumlah frekuensi

N = Jumlah Responden,(Anas sudjono,2000 : 7)

39

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

SMK Negeri 1 Pallangga merupakan salah satu pendidikan formal yang ada di Kabupaten Gowa yang bernaung dibawah Departemen Pendidikan Nasional, sekaligus merupakan lokasi penelitian untuk memperoleh data sehubungan dengan penulisan skripsi. Dalam sejarah berdiri dan berkembangnya SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa banyak sekali mengalami pasang surut seiring dengan berjalannya waktu.

Pada awal berdirinya sekolah ini Pada Tahun 1995 merupakan satu- satunya sekolah menengah kejuruan yang ada di Kecamatan Pallangga, sekolah ini terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan kecamatan Pallangga.

SMK Negeri 1 Pallangga ini pun merupakan sekolah tingkat kejuruan pertama yang ada di kecamatan pallangga sehingga pada awal berdirinya masyarakat kecamatan pallangga bahkan dari luar kecamatan lebih memilih melanjutkan sekolahnya di SMK Negeri 1 Pallangga. Tujuan didirikannya sekolah ini adalah untuk menghasilkan generasi bermutu yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki wawasan, kemampuan produktif, adaptif, inovatif daya yang kompetitif sehingga mudah di terima di dunia industri.

1. Profil Sekolah

Nama sekolah : SMK Negeri 1 Pallanga

Alamat Sekolah : Jl. Baso Dg.Ngawing No. 127, Kelurahan Mangalli kecamatan.Pallangga, Kabupaten. Gowa.

Akreditasi : A

DidirikanTahun : 1995 Kompetensi keahlian:

- Persiapan Grafika - ProduksiGrafika - TeknikListrik - TeknikElektronika - TeknikInformatika - ArsitekBangunan - Agribisnis Prod. Tanaman

2. Identitas Kepala Sekolah

NO Nama Kepala Sekolah Periode Jabatan Keteranagan

1. Ir.Marsan Parisseng 1995 Satu semester

2. Ir. Halik Hasan 1995 Pejabat sementara

3. Drs. Abd.Rajab Ramlan 1996 s/d 1999 - 4, Drs. Sukardi Ichsan 2000 s/d 2006 - 5. Drs.M.Idris L 2007 s/d 2008 - 6. Drs. H.Abd.Rahim,SE,M.Pd 2009 s/d 2013 - 7. Drs.H.Karnaedy Bolong,MH 2014-sekarang -

41

3. Kondisi Sekolah

Luas lahan sekolah : 3,4903 Ha Luas bangunan : 6949,25 Jumlah lantai/tingkat : 1

Jumlah rombel : 58 rombel Jumlah kelas : 38 kelas Laboratorium komputer: 2 ruang Ruang praktek : 8 ruang

4. Visi Dan Misi a. Visi

Mengembangkan iklim belajar yang kondusif dan mewujudkan pelayanan prima melalui pendidikan danpelatihan untuk menghasilkan tamatan bermutu yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki wawasan, kemampuan produktif, adaptif, inovatif daya yang kompetitif.

b. Misi

Menyiapkan sumber daya manusia yang handal sesuai tuntutan dunia sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dan tekhnologi menyongsong era globalisasi.

5. Perkembangan SMK Negeri 1 Pallangga

Untuk Mengetahui Perkembangan SMK Negeri 1 Pallangga, tentu dapat dilihat dari keadaan guru dan siswanya serta fasilitas yang dimiliki.

a. Keadaan Guru

Guru merupakan tenaga edukatif di sekolah yang keberadaannya mempunyai kedudukan yang dominan dalam proses. Guru adalah salah satu unsur yang harus diperhatikan guna mencapai peningkatan dalam proses belajar mengajar. Disamping itu sekarang guru harus bertenaga profesional sesuai dengan tuntutan zaman yang semakin berkembang dan hendaknya sekolah juga memenuhi jumlah guru yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga antara guru dan anak didik akan dapat selalu berkembang.

Tabel. 3

Keadaan tenaga pengajar (Guru) SMK Negeri 1 Pallangga

No

Status

kepegawaian Guru

Jenis Kelamin

Jumlah Laki-laki Perempuan

1 Guru Tetap 34 33 67

2 Guru tidak tetap 13 10 23

Jumlah 47 43 90

Sumberdata : Kantor Tata Usaha SMK Negeri 1 Pallangga Tahun 2014

43

Dengan melihat tabel diatas, dapatlah diketahui bahwa jumlah guru di SMK Negeri 1 Pallangga sudah memadai dengan jumlah ruangan kelas sebanyak 38 ruangan yang terdiri dari 1 sampai 3. Setiap guru harus bekerja keras dalam proses belajar mengajar sehingga tercapai apa yang kita harapkan.

Melihat dari segi kualitas para guru umumnya yang sudah S.1 yang telah menempuh pendidikan dan memperoleh pendidikan yang mendapat gelar sarjana untuk mata pelajaran agama, sedangkan untuk mata pelajaran umum, guru dituntut untuk belajar sendiri dalam menguasai mata pelajaran yang akan di ajarkan

b. Keadaan Siswa

Dalam proses belajar mengajar siswa merupakan objek atau sasaran utama untuk dididik, dengan demikian setiap lembaga pendidikan hendaknya terdapat sistem yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Disamping terdapat kepala sekolah yang dapat membimbing guru- guru terdapat pula siswa yang merupakan bagian integral yang terdapat dalam pendidikan formal.

Untuk lebih jelasnya tentang keadaan siswa dapat dilihat dalam tabel berikut ini

Tabel. 4

Keadaan siswa SMK Negeri 1 Pallangga

No Kelas

Jenis kelamin

Jumlah Siswa Laki-Laki Perempuan

1 Kelas X 519 309 828

2 Kelas XI 480 239 719

3 Kelas XII 297 196 493

Jumlah 1296 744 2040

SumberData : Kantor Tata Usaha SMK Negeri 1 Pallangga Tahun 2014 c. Keadaan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana sangat menunjang proses belajar mengajar.

Dengan kata lain bahwa keberhasilan pengajaran bukanlah semata-mata ditentukan oleh tingkat kemampuan siswa menerima pelajaran, guru selaku sutradara dalam proses pengajaran, namun ada faktor lain yang tidak bisa di abaikan, yakni fasilitas atau sarana dan prasarana yang ada pada sekolah tersebut.

Fasilitas yang dimiliki oleh SMK Negeri 1 Pallangga sudah memadai untuk berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif dan kondusif.

Hal ini dapat dilihat dari adanya ruangan belajar, Ruangan Kantor, dan fasilitas pendukung lainnya.

45

Tabel. 5

Sarana dan prasarana SMK Negeri 1 Pallangga

No Sarana dan prasarana

Keterangan

Jumlah

Baik Rusak

1. Ruang kepala Sekolah 1 - 1

2 Ruang Kelas 38 - 52

3 Ruang Guru 1 - 1

4 Ruang tata usaha 1 - 1

5 Ruang tamu 1 - 1

6 Ruang jaga 1 - 1

7 Kamar mandi/WC 5 - 5

8 Pos Keamanan 1 - 1

9 Lapangan Olahraga 1 - 1

10 Lapangan Upacara 1 - 1

11 Ruang perpustakaan 1 - 1

12 Ruang bimbingan dan penyuluhan 1 - 1

13 Mushollah 1 - 1

14 Workshop/Bengkel 8 - 8

15 RuangOsis 1 - 1

16 Gudang 1 - 1

17 Aula 1 - 1

18 Ruang gambar 2 - 2

19 RuangTeori 41 - 1 Set

20 Komputer 10 - 10

21 Laboratorium 2 - 2

22 Telepon 1 - 1

Sumber Data :dokumentasi SMK Negeri 1 Pallangga Tahun 2014

Melihat tabel diatas maka SMK Negeri 1 Pallangga mempunyai sarana yang cukup dimana dengan alat lengkap sehingga siswa dapat kreatif praktek tentang pelajaran pendidikan agama Islam, sedangkan perpustakaan sendiri memiliki buku bacaan yang cukup.

B. Model Penerapan Pendidikan Karakter Siswa SMK Negeri 1 Pallangga Model penerapan pendidikan karakter di SMK Negeri 1 pallangga Kabupaten gowa yakni dengan memberikan keteladanan yang baik terhadap siswa sehingga siswa dapat mengikuti apa yang di lakukan oleh guru serta membimbing siswa agar disiplin dan memiliki rasa tanggung jawab.

Untuk mengetahui secara sistematis bagaimana hasil angket tentang Penerapan pendidikan karakter terhadap pembentukan akhlakul karimah siswa SMK Negeri 1 pallangga kabupaten Gowa, diperoleh hasil penelitian dari 7 item pertanyaan sebagai berikut ini :

47

a. Kesenangan dalam belajar Pendidikan Agama Islam Tabel.6

Pernyataan siswa tentang kesenangan dalam belajar pendidikan Agama Islam

No Jawaban Responden Frekuensi

Persentase (%)

1. Sangat senang 49 82%

2. Kurang Senang 1 2%

3. Kadang-kadang 10 16%

4. Tidak Senang - -

Jumlah 60 100%

Sumber data : Tabulasi angket No.1

Pernyataan tentang siswa menyatakan sangat senang belajar Pendidikan agama Islam terdapat 49 orang atau 82% dan diantaranya menyatakan kurang senang 1 orang atau 2 %. Siswa yang menyatakan kadang-kadang 10 orang atau 16%, dan siswa yang menyatakan tidak senang tidak ada. Siswa yang menyatakan sangat senang atau senang terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam Membuktikan tentang kematangan dalam melihat fakta atau hal yang terjadi dalam dunia sekolah lebih khususnya kepada Guru Pendidikan agama Islam yang tentunya ada hal yang mengganjal dalam proses belajar mengajar sehingga anak tersebut

memiliki jawaban yang berbeda. Diantara siswa yang memiliki jawaban sangat senang belajar karena guru Pendidikan agamanya baik.

b. Pernyataan siswa tentang kesenangan dengan tutur kata teman berkomunikasi.

Tabel. 7

Pernyataan siswa tentang kesenangan tutur kata teman di sekolah

No Pernyataan siswa Frekuensi

Persentase

%

1. Senang 3 5%

2. Kurang Senang 12 20%

3. Kadang-kadang 43 72%

4. Tidak senang 2 3%

Jumlah 60 100%

Sumber data : tabulasi angket No. 2

Pernyataan siswa yang menyatakan kesenangan terhadap kesenangan tutur kata teman dalam berkomunikasi, terdapat 26 atau 87%

orang siswa yang menyatakan senang, 3 orang siswa atau 10% yang menyatakan kurang senang, dan 1 orang siswa atau 3% yang menyatakan kadang-kadang. Ini menyatakan bahwa semua siswa yang menyatakan senang, kurang senang, dan kadang-kadang, karena siswa memiliki pandangan yang berbeda terhadap masing-masing teman berkomunikasi.

49

Diantara siswa yang menyatakan senang karena tutur kata temannya sopan dan baik dalam berkomunikasi, siswa yang menyatakan temannya tidak sopan dalam berkomunikasi karena menganggap temannya itu sebaya dengannya jadi tutur katanya tidak sopan saat berkomunikasi dengannya.

Dari pernyataan siswa tersebut dapat diberikan kesimpulan bahwa senang atau tidaknya siswa kepada teman mereka sendiri tergantung bagaimana kepribadian siswa itu sendiri.

c. Kesenangan tentang tingkahlaku teman sekolah.

Tabel 8

Pernyataan siswa tentang kesenangan dalam menilai tingkah laku temannya

No Pernyataan siswa Frekuensi

Persentase

%

1. Senang 6 10%

2. Kurang Senang 11 19%

3. Kadang-kadang 41 67%

4. Tidak senang 2 4%

Jumlah 60 100%

Sumber data : tabulasi angket 3

Pernyataan siswa yang menyatakan senang terhadap tingkah laku teman mereka sendiri terdapat 6 orang atau 10 % siswa, dan diantara siswa adapula yang menyatakan kurang senang terdapat 11 orang atau 19% siswa,

dan adapula siswa yang menyatakan kadang-kadang terdapat 41 orang atau 67 % siswa.

Diantara siswa yang menyatakan senang dengan tingkah laku temannya karena siswa tersebut memilih teman yang bertingkah sopan dengan siswat ersebut. Namun, ada beberapa siswa yang kadang-kadang senang atau bahkan kurang senang, hal ini disebabkan karena siswa selalu bertingkah laku kurang terpuji di sekolahnya yaitu karena tidak adanya dukungan dari lingkungan keluarga ataupun masyarakat yang baik.

d. Sifat teman kelas sendiri

Tabel. 9

Pernyataan siswa terhadap sifat teman kelas sendiri

No Pernyataan siswa Frekuensi Persentase

%

1. Baik 16 27%

2. Kurang baik 6 10%

3. Kadang baik 38 63%

4. Tidak baik - -

Jumlah 60 100%

Sumber data : tabulasi angket No. 4

Pernyataan siswa terhadap sifat baik temannya sendiri terdapat 16 orang atau 27% siswa yang menyatakan bahwa temannya kurang baik 6

51

orang atau 10%,dan terdapat 38orang atau 63% yang menyatakan bahwa teman kelasnya kadang-kadang baik..

Dari data pernyataan siswa di atas maka telah terlihat secara umum bahwa siswa SMK Negeri 1 Pallangga memiliki sifat yang kurang baik dengan teman mereka sendiri. Adapun siswa yang menyatakan temannya kurang baik, karena siswa tersebut sering berlaku kasar terhadap teman mereka sendiri.

e. Pemberian nasehat dari Guru terhadap siswa Tabel. 10

Pernyataan siswa terhadap kebiasaan guru yang memberikan nasehat

No Pernyataan siswa Frekuensi Persentase

%

1. Sering 51 85%

2. Pernah 6 10%

3. Kadang-kadang 3 5%

4. Tidak pernah - -

Jumlah 60 100%

Sumber data : tabulasi angket No. 5

Pernyataan siswa tentang guru Pendidikan agama Islam yang sering memberikan nasehat, terdapat 51 orang atau 85% yang menyatakan sering,

6 orang atau 10% siswa yang menyatakan pernah, 3 orang atau 5% yang menyatakan kadang-kadang dan tidak ada yang menyatakan tidak pernah.

Dari hasil penelitian tersebut di atas maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan adanya pemberian nasehat yang diberikan oleh seorang guru akan berpengaruh terhadap pembentukan akhlakul karimah siswa itu sendiri, karena ketika seorang guru Pendidikan Agama Islam sering memberikan nasehat, maka dengan sendirinya akhlak siswa akan mengalami perubahan kearah yang lebih baik.

f. Kebiasaan guru Pendidikan Agama Islam Memberi salam Tabel. 11

Pernyataan siswa terhadap kebiasaan

Guru Pendidikan Agama Islam memberi salam jika memasuki kelas

No Pernyataan siswa Frekuensi Persentase

%

1. Sangat Sering 20 34%

2. Sering 23 38%

3. Kadang-kadang 17 28%

4. Tidak pernah - -

Jumlah 60 100%

Sumber data : tabulasi angket No. 6

Pernyataan siswa tentang guru Pendidikanagama Islam memberi salam ketika hendak memasuki kelas, terdapat 20 orang atau 34% yang menyatakan sangat sering, 23 orang atau 38% siswa yang menyatakan sering.dan terdapat 17 atau 28% orang yang menyatakan kadang-kadang

53

Dari data tersebut diatas, maka dapat digambarkan bahwa kebiasaan guru pendidikan agama islam memberikan salam saat memasuki ruangan kelas akan tercermin sikap atau kepribadian guru yang selalu memberikan Contoh yang baik pada anak didik. Sehingga siswapun akan mengaplikasikan.

g. Kemudahan bahasa yang di gunakan oleh Guru Pendidikan Agama Islam Tabel. 12

Pernyataan siswa tentang kemudahan bahasa yang digunakan oleh Guru pendidikan Agama Islam

No Pernyataan siswa Frekuensi

Persentase

%

1. Sangat Sering 32 53%

2. Sering 4 7%

3. Kadang-kadang 24 40%

4. Tidak pernah - -

Jumlah 60 100%

Sumber data : tabulasi angket No. 7

Pernyataan siswa yang menyatakan kemudahan bahasa yang dugunakan oleh guru Pendididkan Agama Islam. Terdapat 32 orang atau 53%siswa yang menyatakan sangat sering, 4 orang atau 7% yang menyatakan sering, dan 24 orang atau 40% siswa yang menyatakan kadang- kadang.

Dari data tersebut diatas, bahwa bahasa yang digunakan oleh guru sangat berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter siswa, dari data di atas, maka peneliti dapat menggambarkan bahwa cerminan pribadi yang baik bagi seorang guru adalah memiliki bahasa yang baik, sopan dan bijak, karena dengan tutur bahasa yang baik,maka karakter siswa akan berpengaruh terhadap pembentukan akhlakulkarimahsiswa

Sekalipun tidak secara keseluruhan, akan tetapi hal itu sangat berpengaruh terhadap proses kematangan anak karena dalam usia masa sekolah Menengah Atas/kejuruan kebanyakan siswa tersebut meniru terhadap apa yang ia lihat dalam dunia pergaulannya baik dalam dunia sekolah, masyarakat, dan keluarga.

C. Gambaran Akhlakul Karimah Siswa SMK Negeri 1 Pallangga

SMK Negeri 1 Pallangga merupakan sekolah kejuruan yang memiliki siswa laki-laki terbanyak di banding siswa perempuan, maka tidak sedikit dan tidak banyak pula yang memiliki akhlakul karimah, Untuk mengetahui sejauh mana bentuk gambaran akhlakul karimah siswa itu sebenarnya susah untuk di ukur karena karena adanya perbedaan sikap yang menonjol bagi tiap pribadi anak, hal ini dengan senada dengan perkataan guru Pendidikan Agama Islam yang mengatakan bahwa:

Akhlakul karimah siswa anak sangat susah untuk di ukur karena adanya perbedaan sikap yang sangat menonjol bagi tiap pribadi anak, Akhlak siswa berbanding antara yang baik dan tidak, oleh sebab itu saya sebagai guru pendidikan Agama Islam disekolah ini hanya dapat

Dalam dokumen penerapan pendidikan karakter terhadap (Halaman 41-45)

Dokumen terkait