• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam No: P-003/DJ

35

h) Memilih surat berdasarkan asal surat memilih surat.

berdasarkan jenis surat, menyalinn, membukukan model NB.

B. Penerapan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam No : P-

36

Desember 46 - 46

Tahun Bulan Offline Online Jumlah Pendaftar

2021 Januari 28 - 28

Februari 31 - 31

Maret 24 - 24

April 4 - 4

Mei 32 - 32

Juni 22 - 22

Dari tabel diatas berdasarkan apa yang diungkap oleh penghulu KUA Kecamatan Mataram yang mengatakan bahwa masyarakat yang latar belakang berbeda-beda belum paham pelayanan secara online sehingga butuh proses untuk menyampaikan kepada masyarakat:

“Masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda masih kaku terkait dengan informasi. Dalam artian mereka belum tau bagaimana pelayanan secara online, sekalipun masyarakat yang berpendidikan tinggi mau melaksanakan secara online peraturan tersebut bisa saja berubah-ubah, karena bersifat himbauan sehingga butuh proses untuk menyampaikan kepada masyarakat dan mau tidak mau harus datang langsung ke KUA, karena mereka sudah terbiasa dengan pelayanan offline dan jarak tempuh KUA sangat dekat di jangkau oleh masyarakat”47

Hal serupa di benarkan oleh Kepala KUA Kecamatan Mataram Kota Mataram mengatakan bahwa:

“Pada saat lagi genting-gentingnya covid-19 tahun lalu pelayanan pencatatan nikah harusnya secara online,

47H.Ahmad Baihaqi, (penghulu KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram, 07 Desember 2020.

37

sistem online yang terkadang kamipun butuh pencerahan bagaimana caranya melakukan pendaftaran nikah secara online. Kami selaku yang memberikan pelayanan harus paham terlebih dahulu bagaimana melakukan pendaftaran secara online cara menjelaskan ke masyarakat apalagi yang di wilayah perkampungan masyarakatnya kurang paham. Sehingga pelayanan secara online tidak efektif pada saat itu, dan yang mendaftar nikah hanya sedikit.”48

Kurangnya sosialisasi sehingga pengetahuan masyarakat terkait pelayanan simkah masih minim seperti yang di ungkap oleh Kaling Karang Anyar Pagesangan Timur yang mengatakan bahwa:

“Pendaftaran nikah pada saat itu memang kami diarahkan untuk mendaftar melalui online tapi kami belum paham menggunakan sistemnya mungkin dari pihak KUA sudah memahami tapi bagaimana dengan masyarakat. Waktu itu belum ada penjelasan dari pihak KUA terkait pendaftaran online sehingga kami tetap melakukan secara ofline dengan datang langsung ke KUA”.49

Keterangan dari bapak Baihaqi (selaku penghulu) dan kepala KUA yang membenarkan bahwa pelayanan pencatatan nikah tetap dibuka secara offline di KUA. Karena masyarakat tidak paham sistem pelayanan secara online, peristiwa pencatatan nikah pada saat puncaknya covid-19 di bulan April 2020 terjadi penurunan karena mengingat adanya covid-19 peristiwa nikah hanya sedikit.

b. Pemeriksaan berkas

Adapun untuk mendaftar perrnikahan calon pengantin harus melengkapi beberapa berkas. Dalam konsep pernikahan

48H. Jalaludin, (kepala KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram, 28 Februari 2021.

49Tarmizi (kepala lingkungan), Karang Anyar Pagesangan Timur, Wawancara, Karang Anyar Pagesangan Timur, 1 juli 2021.

38

terdapat beberapa berkas yang harus dipenuhi atau biasa disebut dengan formulir N1,N2,N3,N4,N7.

a) Sur at keterangan untuk nikah (model N1).

b) Surat keterangan asal-usul (model N2).

c) Surat persetujuan mempelai (model N3).

d) Surat keterangan tentang orang tua (model N4).

e) Surat pemberitahuan kehendak nikah (model N7) apabila calon pengantin berhalangan, pemberitahuan nikah dapat dilakukan oleh wali atau wakilnya.

Kekurangan dalam sistem atau layanan online tersebut yang dapat menyebabkan sistem kurang dipakai oleh masyarakat atau catin sistem pelayanan online dinilai kurang efesien untuk digunakan karena pendaftaran nikah sendiri bisa langsung dilakukan di KUA seperti pernyataaan zahra (operator KUA Kecamatan Mataram)

“saat pendaftaran online pada sistem yang diisikan hanya sebatas data yang sesuai E-KTP sedangkan seluruh data persyaratan masih harus diberikan kepada staf KUA, sehingga pelayanan online belum bisa diterapkan ke masyarkat pada saat darurat covid-19”50 Catin yang akan melakukan pendaftaran pernikahan bisa dilakukan dengan dua cara dimana ada cara pertama calon pengantin yang menyerahkan sepenuhnya kepada kaling untuk mengurus berkas pendaftaran dan ada cara kedua dimana pihak keluarga sendiri yang akan mengurus berkas ke KUA.

Hal ini benarkan oleh Staf KUA Kecamatan Mataram yang mengatakan bahwa :

“Biasanya kalau bukan kaling yang datang ada pihak keluarga yang ngurus berkas bisa juga salah satu dari pihak pengantin. jika salah satu berkas tidak dipenuhi oleh pasangan maka semua berkas yang terkumpul kami kembalikan. Kadang ke keluarga yang datang mengurus maupun ke Kalingnya yang datang

50Zahra, (staf Operator KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram 03 Mei 2021.

39

mengurus nanti Kaling yang informasikan ke pihak keluarga yang berhajat.” 51

Hal tersebut di benarkan oleh kaling Karang Genteng:

“Ya benar, saat calon pengantin mau mendaftar nikah saya yang ngurus berkas yang harus di bawa ke KUA karena memang tradisi kami calon pengantin tidak boleh keluar rumah istilahnya mereka di pingit sampai acara pernikahannya. Nanti kalo berkasnya sudah diterima oleh pihak KUA baru saya suruh hadirkan salah satu dari pihak pengantin untuk dimintai keterangan bahwa mereka yang ingin menikah, siapa walinya, berapa maskawinnya, dimana lokasi pernikahannya bentuk fisik itu hanya salah satu pihak saja misalnya hanya calon pengantin laki-laki untuk memenuhi persyaratan bahwa mereka sudah mendaftakan diri”.52

Pernyataan dari kepala lingkungan dibenarkan oleh pihak pengantin Sanusi dan Siskawati mengatakan bahwa mereka hanya diminta untuk membayar ke Bank.

“Untuk berkas pendaftaran nikah seharusnya memang kami yang mengurus tapi karna adat, jadi kaling yang urus semua nanti saya di minta ke bank untuk bayar.

Saya ke KUA dulu cuma disuruh konfirmasi.”53 Hal serupa dibenarkan oleh pasangan lainnya Abdul Aziz yang mengatakan bahwa:

“Ya mbak, waktu itu saya disuruh sama pak kaling cuma pergi bayar ke bank 600 ribu karena saya akadnya dirumah dan berkas saya sudah di urus sama kaling”54

51Nadya, (staf administrasi KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram 03 Mei 2021.

52Muzakallah (kaling Karang Genteng), wawancara, Karang Genteng 04 Mei 2021.

53Sanusi, (pasangan pengantin), wawancara, Karang Anyar, Pagesangan Timur 15 Mei 2021.

54Muhammad Rizal Efendi, (pasangan pengantin), Wawancara, Karang Anyar Pagesangan Timur, 11 Maret 2021.

40

Disamping adanya adat yang melarang pasangan untuk keluar rumah setelah di Pingit ada sebagian pasangan yang memilih mengurus sendiri berkas pendaftaran nikahnya yang diwakili oleh pihak keluarga seperti peryataan dari salah satu Ibu dari pasangan Rizky Iswanto Fajri dan Hannah yang mengatakan bahwa:

“Dulu saudaranya sama kaling yang ngurus ke kelurahan untuk mengambil surat pengantar yang harus dibawa ke KUA. Nah kebetulan anak saya nikahnya di rumah jadi kami harus bayar biaya akad.

Kalau biaya tambahan selanjutnya tidak ada palingan kasi uang orang rokok untuk kaling”55

c. Pelaksanaan akad harus yang mendaftar sebelum tanggal 1 April sedangkan diatas tanggal 1 April ditunda pelaksanaannya.

Ucapan ijab yang dilakukan para pihak setelah pemeriksaan berkas tersebut selesai. Pada masa pandemi ternyata di KUA Kecamatan Mataram tidak ada penundaan karena pegawai KUA tetap melayani masyarakat khususnya pasangan pengantin yang akan menikah dalam waktu dekat sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Seperti keterangan dari penghulu mengatakan bahwa:

“Mengingat adanya covid-19 pasangam pengantin yang mendaftar nikah pada saat itu juga kurang dibawah rata-rata. Hanya sedikit 1, 2 pasangan saja pada saat itu dan sudah menentukan jadwal untuk melangsungkan akad. Kami sudah menjelaskan bahwa ada aturan untuk menunda sampai ada aturan baru tetapi masyarakat tetap ingin melangsungkan akad yang telah mereka tentukan tanggalnya. Terkadang dilema kami dalam menerapkan aturan tersebut diuji kami khawatir banyak mudarat yang akan terjadi jika menunda karena keadaan masyarakat yang sulit diatur” 56

55Isripaini, (pasangan pengantin), wawancara, Pagutan 20 Mei 2021.

56H.Ahmad Baihaqi, (penghulu KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram, 07 Desember 2020.

41

Hal serupa di benarkan oleh kepala KUA mengatakan bahwa : “Berhubung dulu lagi meluasnya penyebaran covid-19

kami meminta pengantin jika ingin melangsungkan akad nikah dalam waktu dekat mohon pelaksanaannya di KUA saja, meskipun ada aturan agar menunda pelaksanaannya tetapi pihak pengantin sudah menentukan jadwal mereka ingin melangsungkan pernikahan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan pada saat itu”.57

Seperti yang di benarkan oleh salah satu pengantin yang mendaftar di bulan April pasangan Endra Arifudin dan Nining yang memilih pelaksanaan akadnya di KUA:

“Nggih mbak saya dulu nikahnya di KUA karena saya daftarnya bulan April jadi pihak KUA bilang ada aturan pencegahan covid-19. Setelah ada musyawarah dengan pihak keluarga jadi pelaksanaan akadnya di KUA saja. Dengan mengikuti protokol kesehatan yang ada dalam ruangan hanya 8 orang”58

d. Pelaksanaan akad nikah diluar KUA ditiadakan serta meminta masyarakat menggantintya di KUA.

Berdasarakan data dan hasil wawancara yang diperoleh peneliti kebanyakan pasangan pengantin menginginkan pelaksanaan akad nikah di luar KUA walaupun adanya aturan untuk melaksanakan di KUA pada masa pandemi tetapi masyarakat tetap memilih di luar KUA dan yang melaksanakan di KUA hanya beberapa pasangan hal ini berkaitan dengan keinginan masyarakat yang tidak dapat dihilangkan yang merupakan kebutuhan setiap orang berbeda- beda, termasuk juga tempat pelaksanaan akad nikah dengan berbagai pertimbangan dan negosiasi antara pihak KUA, dan Kaling maupun pasangan yang akan melaksanakan akad hal ini sesuai dengan tabel jumlah pelaksanaan akad di KUA dan

57H. Jalaludin, (kepala KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram, 09 juni 2021.

58Endra Arifudin, (pasangan pengantin), Wawancara, Pagesangan Timur 14 juni 2021.

42

luar KUA tahun 2020-2021. Peraturan Dirjen Bimas Islam tentang protokol penanganan covid-19 bidang pernikahan yang mengatakan untuk pencegahan penyebaran covid-19 pada pelayanan akad nikah di KUA tidak boleh lebih dari 10 orang dalam satu ruangan berikut ini tabel pelaksanaan akad nikah di KUA diantaranya:

Peraturan Dirjen Bimas Islam tentang protokol penanganan covid-19 bidang pernikahan yang mengatakan untuk pencegahan penyebaran covid-19 pada pelayanan akad nikah di KUA tidak boleh lebih dari 10 orang dalam satu ruangan berikut ini tabel pelaksanaan akad nikah di KUA tahun 2020-2021 diantaranya:

Tabel.2.2

Data Keluarga Pasangan yang Menghadiri Pernikahan di KUA Kecamatan Mataram Periode Maret 2020 s.d Juni

2021.

Tahun Bulan Maret

Jumlah yang hadir 10 orang

Jumlah yang hadir kurang dari 10 orang

Jumlah yang hadir lebih dari 10

orang

Jumlah Pasang an yang

melaks akan akad

2020 April 5 4 8 17

Mei - - 1 1

Juni 13 4 42 59

Juli 5 2 19 26

Agustus 12 7 26 45

September 4 - 20 24

Oktober 6 5 19 30

November 4 - 19 23

Desember 7 4 23 34

2021 Bulan Jumlah yang hadir 10 orang

Jumlah yang hadir kurang dari 10 orang

Jumlah yang hadir lebih dari 10

orang

Jumlah Pasang an yang

melaks anan akad

Januari 5 2 28 35

43

Februari 4 - 34 38

Maret 6 4 10 20

April - - 10 10

Mei 2 - 9 11

Juni 7 - 19 26

Dari peraturan Dirjen Bimas Islam mengatakan bahwa jumlah kapasitas yang boleh masuk dalam 1 ruangan harus 10 orang ternyata yang peneliti temukan di bulan Maret 2020 sampai dengan juni 2021 di masa pandemi masih ada masyarakat yang tetap membawa rombongan keluarga lebih dari 10 orang dan ada juga yang sudah sesuai dengan kapasitas peraturan Dirjen Bimas Islam dan ada juga yang kurang dari kapasitas. Seperti pernyataan pasangan yang menikah di bulan juni 2020 mengata bahwa.

“Rombongan yang hadir dulu nggak banyak mbk cuma 12 orang itupun termasuk dari keluarga istri saya jadi gk telalu banyak kami juga sudah koordinasi dengan pihak KUA yang penting taat prokes”59

Berbeda dengan yang melaksanakan akad nikah di KUA bulan April tahun 2020 pasangan pengantin tetap taat prokes dengan membawa rombongan 10 orang bahkan ada yang kurang dari 10 orang dengan menaati aturan dirjen bimas islam pihak KUA akan lebih mudah untuk mengatur masyarakat sesuai dengan pernyataan dari penghulu KUA yang mengatakan pihak KUA akan lebih mudah mengatur masyarakat jika melaksanakan akad nikah di KUA mulai dari mengatur jarak masyarakat menggunakan masker sarung tangan bagi calon pangantin dan penghulu. Namun memang ada beberapa pasangan yang membawa rombongan lebih dari kapasitas yang sudah di atur dalam surat Edaran Dirjen di tahun 2020 tetapi kembali dengan keinginan masyarakat yang memang tidak bisa di hilanngkan yang penting masyarakat taat protokol kesehatan.

59Samsudin, (pasangan pengantin), wawancara, Pagutan, 20 mei 2021.

44

Tabel.2.3

Data Jumlah Pengantin yang Melaksanakan Akad di KUA dan di Luar KUA Periode Maret 2020 s.d Juni 2021.

Tahun Bulan Pelaksanaan nikah Jumlah KUA Luar KUA

2020 Maret 6 18 24

April 6 11 17

Mei - 1 1

Juni 20 39 59

Juli 6 20 26

Agustus 4 41 45

September 2 22 24

Oktober 3 27 30

November 3 20 23

Desember - 34 34

Tahun Bulan Pelaksanaan Nikah Jumlah

2021 KUA Luar KUA

Januari - 35 35

Februari 4 34 38

Maret 2 18 20

April 3 7 10

Mei 1 10 11

Juni 3 23 26

Hal tersebut sesuai yang diungkap oleh bapak Kepala KUA yang mengatakan bahwa karna adanya faktor adat dan ruangan yang di KUA kurang memadai sehingga pelaksanaan akad yang seharusnya hanya dilakukan di KUA pada masa darurat covid-19 sepenuhnya belum bisa diterapkan.

“Kami sudah berupaya untuk melaksanakan akad nikah di KUA pada masa pandemi covid-19 khususnya di bulan April hanya saja ada beberapa yang bisa di arahkan. Dan karena adanya faktor adat budaya di Lombok kemudian untuk memenuhi sarana dan prasa na di Kantor yang tempatnya kecil kurang memadai, sehingga banyak yang meminta pelaksanaan di luar KUA. Sebelum melaksanakan akad nikah kami sudah

45

berkoordinasi dengan satuan gugus covid-19, disitu ada Kapolsek, ada Babimaspol, Babinsa untuk mengecek lokasi akad nikah yang pada saat itu sudah steril tidak dengan aturan yang ada.60

Berbeda dengan pernyataan pak penghulu KUA Kecamatan Mataram yang mengatakan bahwa pelaksanaan akad di KUA dan luar KUA sama saja masyarakat yang tetap berkumpul dan sulit diatur untuk melaksanakan akad di KUA pada masa pandemi.

”Karena ada aturan yang membolehkan melakukan akad nikah di kantor kenapa tidak di luar kantor toh sama saja mereka tetap berkumpul, pada saat genting- gentingnya covid-19 tahun lalu. Pelaksanaan akad nikah yang mengharuskan di dalam kantor sudah kami arahkan untuk melaksanakan di KUA. Ada beberapa yang mau diarahkan, tergantung dari tingkat kekhawatiran masyarakat dan calon pengantin yang akan melangsungkan akad pada saat itu, dan pelaksanaan akad yang tidak bisa di tunda lagi terpaksa mau tidak mau kami melangsungkan akad di luar KUA.”61

Dari keterangan penghulu maupun kepala KUA Kecamatan Mataram bisa kita lihat bahwa tidak ada penundaan maupun pembatasan ketika melaksanakan akad karena pengaruh adat dan keadaan masyarakat yang sulit diatur, sehingga pasangan pengantin tetap melaksanakan akad diluar KUA seperti di Masjid yang mengundang banyak orang seperti yang di jelaskan oleh Kaling Pesinggahan Pagesangan Barat.

“Dulu memang kami diarahkan untuk melaksanakan akad di KUA tapi bagaimana dengan pasangan pengantin yang tetap ingin melaksanakan akad di luar KUA banyak dari pihak keluarga, teman maupun

60H. Jalaludin, (kepala KUA Keacamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram 04 Juni 2021.

61H. Ahmad Baihaqi, (penghulu KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram, 07 Desember 2020.

46

tetanggannya pihak laki-laki maupun perempuan yang ingin menyaksikan ketika pasangan melaksanakan akad nikah di Masjid mereka luar biasa sangat senang karna dihadiri banyak orang.”62

Dengan berbagai alasan pasangan pengantin yang akan melaksanakan akad pada saat pandemi seperti pernyataan pasangan Hamdi dan Insani mengatakan bahwa undangan yang sudah terlanjur disebarkan :

“Saya memang akad nikahnya di Masjid mbk, dulu aturan itu muncul setelah saya sudah menentukan jadwal akad. Sedangkan undangan sudah kami sebarkan dan juga pelaksanaan akad kami diluar jam kerja Kantor, kami sudah konfirmasi sama pihak KUA dan tetap melangsungkan akad di Masjid kami tetap mengikuti protokol kesehatan dengan menyiapkan masker, tempat cuci tangan dan hinzinitizer kami diminta batasi yang ada di ruangan tapi karna sudah adatnya disini kalo nikah antusias masyarakatnya yang mau menyaksikan jadi tetap banyak yang masuk apalagi teman-teman saya dan istri saya banyak karena memang Masjid disini juga cukup luas.”63

Berbeda dengan pernyataan pasangan Abdul Aziz dan Yuliana yang mengatakan jika banyak keluarganya yang ingin menyaksikan meskipun sudah berupa untuk meminta masyarakat untuk menggunakan masker masih saja ada yang tidak mau menggunakan masker.

“Karna banyak keluarga yang mau menyaksikan, saya akadnya dirumah dengan syarat mengikuti prokes yang ada dalam ruangan hanya beberapa orang seperti pegawai KUA, pimpinan pondok pesantren dari keluarga istri saya ya sekitar 6 oranglah yang ada dalam ruangan waktu itu. Sedangkan yang lain seperti kerabat,

62Lalu Azmi (kaling pesinggahan), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram 20 Mei 2021.

63Handi, (pasangan pengantin), wawancara, Karang Anyar Pagesangan Timur, 05 Mei 2021

47

teman, keluarga dan tetangga ikut menyaksikan diluar dengan menjaga jarak, menggunakan masker. Walaupun ada sebagian masyarakat juga ada yang enggak pake masker tapi kami tetap aman-aman aja kok”.64

Pasangan Ahmad Farih dan Siti Fatimah juga mengatakan ingin pelaksanaan lebih berkesan dihadiri keluarga dan kerabatnya:

“Saya pelaksanaan akadnya dirumah mbak. Waktu itu dilarang untuk melakukan resepsi oleh pihak KUA setidaknya akad saya bisa disaksikan oleh keluarga besar saya, jadi lebih berkesan dengan mengikuti protokol kesehatan menyiapkan tempat cuci tangan, menjaga jarak menyiapkan masker. Acara akad pada saat itu berjalan dengan baik. Tamu yang hadir waktu sekitar 30 orang dalam ruangan yang cukup luas jadi bisa diatur masyarakatnya. Dan sebagian juga ada diluar”65

Ternyata menikah itu tidak hanya berhubungan dengan hukum negara dan agama, melainkan dengan kebudayaan masyarakat setempat. Sehingga dalam kondisi apapun masyarakat sangat sulit jika diminta pelaksanaan akadnya harus di KUA pada masa pandemi.

C. Faktor Penghambat dan Tindakan dari Penerapan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam No. P-003/

DJ.III/Hk.00.7/04/2020 Tentang Protokol Penanganan covid-19 Bidang Pernikahan di KUA Kecamatan Mataram Kota Mataram

Peneliti akan memaparkan faktor penghambat dan tindakan dari dinamika penerapan surat Edaran Dirjen Bimas Islam No. P-003/ DJ.III/Hk.00.7/04/2020 tentang protokol penanganan covid-19 bidang pernikahan di KUA Kecamatan Mataram Kota Mataram.

64Abdul Aziz, (pasangan pengantin), Wawancara, Karang Genteng , 07 Mei 2021.

65Ahmad Farih, (pasangan pengantin), Wawancara, Pagutan, 20 Mei 2021.

48

1. Faktor-faktor penghambat penerapan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam di KUA Kecamatan Mataram Kota Mataram antara lain :

a. Masyarakat belum paham sistem pelayanan online.

Sosialisasi SIMKAH yang masih minim membuat masyarakat ketika ditanya tentang simkah banyak yang tidak tau. Sehingga masyarakat yang mengurus berkas pendaftaran nikah pada masa pandemi tetap datang langsung ke KUA seperti yang di ungkapkan oleh staf KUA Kecamatan Mataram mengatakan bahwa:

“Masyarakat menganggap daftar nikah lewat Simkah ini berbelit belit, apalagi disini yang urus berkas calon pengantin adalah kaling dari masing-masing kelurahan. Mereka lebih suka langsung datang ke Kantor. Padahal lebih mudah di operasikan kapan saja mereka mau selama masih ada hp dan jaringan internet.”66

Hal serupa di benarkan oleh staf yang lain mengatakan bahwa password setiap KUA itu berbeda- beda.

“Karna password setiap KUA itu berbeda-beda sehingga masyarkat perlu datang ke KUA. Mereka hanya perlu datang membawa berkas syarat pendaftaran nikah nanti kami yang membantu daftar melalui online lewat aplikasi

67

Alasan tersebut yang diberikan oleh masyarakat ketika diarahkan untuk melakukan daftar melalui simkah pada masa pandemi.

b. Masyarakat yang tidak percaya dengan adanya covid-19.

Ketika ada aturan untuk melangsungkan akad nikah di KUA saja selama masa pandemi covid-19 kebanyakaan masyarakat menolak dan tetap ingin pelaksanaan akadnya

66 Nadya, (staf administarasi KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram 28 Mei 2021.

67Zahra, (staf operator KUA Kecamatan Mataram), Wawancara, KUA Kecamatan Mataram 28 Mei 2021.

49

dirumah maupun di Masjid karena ingin pernikahannya berkesan keadaan masyarakat yang sulit diatur dan sebagian masyarakat tidak percaya dengan adanya covid- 19 mereka mengabaikan protokol kesehatan dan ada juga yang merasa dirinya kebal dan tidak mungkin tertular oleh penyakit tersebut seperti yang di ungkap oleh Kaling Pesinggahan yang mengatakan bahwa

“Jadi menurut saya pribadi sebenarnya tidak ada istilah covid-19 dari awal adanya covid-19 sampai sekarang saya gk pernah mau pakai masker nyatanya saya tetap sehat kok, malah kekhawatiran itulah yang membuat warga kita sakit karena penyakit yang awalnya tidak timbul menjadi timbul”

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh pasangan Kusumayadi dan Riska Rahayu:

“Kalau saya nikahnya di KUA pasti gk bisa disaksikan orang banyak, dirumahkan enak gk capek bolak-balik KUA bisa langsung akad dan resepsi dihadiri keluarga, tetangga waktu menerima tamu juga dulu gk harus salaman tapi tetap banyak yang nggak jaga jarak apalagi pakai masker”68

Pernyataan diatas diperkuat oleh ibu Susanti Restu orang tua dari pasangan Dwi Riska Rahayu dan Kusumayadi yang mengatakan bahwa ada sebagian masyarakat yang tidak mengikuti protokol kesehatan:

“Pelaksanaan akad nikah anak saya di Masjid karena dikeluarga saya gk pernah ada pelaksanaan akad di KUA alasan kami memilih di luar KUA agar terhindar dari omongan orang, kami tetap menyiapkan tempat cuci tangan, menyiapkan masker, hinzinitizer.

Walaupun kami sudah menyiapkan masker ada sebagian masyarakat yang nggak pake masker mbak,

68Kusmayadi, (pasangan pengantin), Wawancara, Petemon 23 Mei 2021.

Dokumen terkait