BAB II LANDASAN TEORI
C. Harga
2. Penetapan Harga
Adiwarman Akarim mengemukakan bahwa konsep Islam dalam penentuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi secara rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melalukan transaksi tersebut.36
Suka sama suka disini bermakna kedua belah pihak sama-sama merelakan keadaan masing-masing diketahui oleh orang lain, dimana berarti penjual dan pembeli mengetahui secara langsung kelebihan dan
36Adiwarman Karim,Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: The International Institute Of Islamic Thought Indonesia (IIIT),2002),h.132
kekurangan dari barang yang ada dipasar, sehingga semua piahk mendapat kepuasan.
Pihak pembeli dapat secara langsung mengetahui kekurangan dan kelebihan dari barang yang hendak dibeli. Apakah barang tersebut ada kecacatan atau tidak. Disini pihak pembeli dapat melakukan khiyar antara mengendalikan barang dan mengambil kembali pembayaran yang telah dilakukan pada penjual, atau si pembeli minta ganti rugi sesuai dengan adanya cacat sehingga harga barang tersebut dapat lebih rendah dari harga sebelum diketahui harga kecacatnnya. Karena dalam hal ini pembeli merasa dirugikan apabila harga barang tersebut mahal.
Islam menjamin kehidupan tiap individu serta menjamin jamaah untuk memperoleh kekayaan negara karena pada hakekatnya kekayaan itu adalah milik Allah dan negara diberi tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara individu rakyat dalam mengupayakan distribusi baru yang bisa merata dalam memenuhi kebutuhannya. Dan dalam harta orang kaya terdapat hak orang kafir miskin sehingga tidak ada kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin. Kesejahteraan umat itu yang utama.
Sistem kapitalis memperoleh segala cara untuk mendapatkan keuntungan dalam jual beli. Sedangkan dalam Islam ada ketentuan- ketentuan atau aturan-aturannya, seperti pihak penjual dilarang menutup- nutupi dari barang yang dijualnya dan dilarang melakukan penipuan dengan menukarkan ayat-ayat Allah untuk melakukan tindakan-tindakan
yang menimbulkan kerugian yaitu dengan tujuan agar harga barang tersebut menjadi tinggi.
Berbisnis juga diperbolehkan dalam ekonomi Islam. Namun, tidak boleh melakukan khiyar, yaitu mengambil keuntungan diatas keuntungan normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi. Islam menghargai hak penjual dan pembeli untuk menentukan harga sekaligus melindungi hak keduanya. Islam membolehkan, bahkan mewajibkan, pemerintah untuk melakukan intervensi harga, bila kenaikan harga disebabkan adanya distorsi terhadap permintaan dan penawaran.
Kebolehan intervensi harga antara lain karena:37
a. Intervensi harga menyangkut kepentingan masyarakat yaitu melindungi penjual dalam hal tambahan keuntungan (profit margin) sekaligus melindungi pembeli dalam hal purchasing power.
b. Bila tidak dilakukan intervensi harga maka penjual dapat menaikan harga dengan cara ikhtisar atau ghaban faa hisy. Dalam hal ini penjual mendzolimi si pembeli.
c. Pembeli biasanya mewakili masyarakat yang lebih luas, sedangkan penjual mewakili kelompok masyarakat yang lebih kecil, sehingga intervensi harga berarti pula melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
37Heri Sudarso, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar,(Yogyakarta:Ekonisia,2002), h.204
Disalah satu bagian dalam bukunya fatawa, Ibnu Timiyah sebagai dikutip dalam bukunya A.A Islahi mencatat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap permintaan dan konsekuensinya terhadap harga.38
a. Keinginan produk (al-raghbah) atas jenis barang berbeda-beda dan berubah-ubah. Keadaan ini sesuai dengan kelebihan atau kelangkaan barang yang diminta (al matlub) penduduk.
b. Perubahanya juga tergantung pada jumlah para peminta (tullab).
Jika jumlah dari orang-orang yang meminta dari satu jenis barang dagangan banyak, harga akan naik dan terjadi sebaliknya jika jumlah permintaan kecil.
c. Permintaan akan berpengaruh atas menguat atau melemahnya tingkat kebutuhan atas barang karena meluasnya jumlah dan ukuran dari kebutuhan, bagaimanapun besar atau kecilnya. Jika kebutuhan tinggi dan kuat, harga akan naik lebih tinggi ketimbang jika peningkatan kebutuhan itu kecil atau lemah.
d. Harga juga berubah-ubah, sesuai dengan (kualitas pelanggan) siapa saja pertukaran barang itu dilakukan (al-mu’awid). Jika kaya dan dijamin membayar utang, harga yang rendah bisa diterima darinya, ketimbang yang diterima dari orang lain yang diketahui sedang bangkrut, suka mengulur-ulur pembayaran atau diragukan kemampuan membayarnya.
38A.A. Islahi, Konsep Ekonomi Ibnu Taimiyah, alih bahasa: Ashari Thayib (Surabaya:
Bima Ilmu, 1997), h.107
e. Harga itu dipengaruhi juga oleh bentuk alat pembayaran (uang) yang digunakan dalam jual beli. Jika yang digunakan umum dipakai (naqd ra’ji). Harga akan lebih rendah ketimbang jika membayar dengan uang yang jarang ada di peredaran.
f. Disebabkan oleh tujuan dari kontrak adanya (timbal balik) pemilikan oleh kedua pihak (yang melakukan transaksi).
g. Aplikasi yang sama berlaku bagi seseorang yang meminjam atau menyewa.
Menurut Ibnu Timiyah sebagaimana dikutip dalam bukunya Heri Sudarsono, harga naik karena kekuatan-kekuatan pasar dan bukan karena ketidaksempurnaan dari pasar itu. Dalam kasus terjadinya kekurangan. Misalnya menurunya suplai berkaitan dengan menurunya produksi, bukan karena kasus penual menimbun atau menyembunyikan suplai.39
Harga merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam jual beli, yaitu adanya harga yang jelas dari benda yang diperjual belikan.
Bagi penjual, mereka meninginkan harga yang tinggi dengan keuntungan yang besar, hal tersebut bertentangan dengan keinginan pembeli yang menginginkan harga yang murah dengan kualitas yang baik. Disinilah terjadinya tawar menawar antara penjual dan pembali yang mengakibatkan terbentuknya harga yang telah disepakati bersama.
39Heri Sudarso,h.210
Menurut Ibnu Taimiyah sebagaimana dikutip dari dalam bukunya A.A Isahi harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Bahwa naik dan turunya harga tidak selalu disebabkan oleh tindakan tidak adil dari sebagian orang yang terlibat transaksi.
Bisa jadi penyebabnya adalah penawaran yang menurun akibat interfensi produksi, penurunan jumlah impor barang-barang yang diminta atau juga tekanan pasar. Karena itu, jika permintaan meningkat dan sedang penawaran menurun, harga barang tersebut akan naik. Begitu pula sebaliknya. Kelangkaan atas melimpahnya barang mungkin disebabkan oelh tindakan yang adil atau mungkin juga tindakan tidak adil.40
Sedangkan penetapan harga menurut M. Yacob Ibrahim dapat ditentukan dengan cara:
a. Menetapkan Keuntungan
Menetapkan harga jual dari hasil produksi pada hakikatnya dihitung dengan cara menjumlahkan biaya produksi atau harga produk pembelian barang unit serta beban biaya tetap perunit dan menentkan besarnya jumlah keuntungan yang dinginkan.41
Adapun yang dipertimbangkan untuk menetapkan harga antara lain:
1. Bagi pedagang menengah yaitu biaya harga beli dan pemasaran yang terdiri dari: transportasi, penyimpanan,
40A.A. Islahi, h.144
41M. Yacob Ibrahi, Studi Kelayakan Bisnis Edisi Revisi, (Jakarta: Rineka Cipta: 2003), h. 112
penguatan, resiko, biaya lain dan keuntungan yang diinginkan.
2. Bagi pedagang pengecer yaitu harga beli dan penawaran yang terdiri dari: pungutan, pendinginan, resiko dan biaya lain.42
b. Anggaran Biaya Produksi
Penetapan harga melalui perhitungan komponen biaya dihitung melalui seluruh biaya (totap cost) yang dibebankan untuk produk biaya tersebut. Untuk menentukan biaya per unit dari produk yang dihasilkan dapat dihitung dari 3 jenis biaya, yaitu:
1. Biaya bahan baku
2. Biaya tenaga kerja langsung 3. Biaya overhead pabrik.43