• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Prinsip Keadilan Dalam Menetapkan Harga

2. Wawancara Kepada Pembeli Daging Ayam Pasar

merugikannya. Namun ada satu pedagang yang menggunakan sistem bahwa persamaan harga antara barang yang kwalitas baik dan yang berkwalitas tidak baik.

2. Wawancara Kepada Pembeli Daging Ayam Pasar Tejo Agung

berjualan kwalitas baik dan kwalitas tidak baik, namun saya tetap membelinya sebab orangnya enak dan timbangannya diangetin, tidak apa- apa sebenarnya membeli ayam yang sudah dikulkas selagi belum membusuk”93

Menurut ibu Retno “ saya pernah membeli daging ayam dipasar Tejo Agung 24, awalnya saya tidak menyadari bahwa ada ayam yang kwalitas tidak baik dimasukkan dalam satu timbangan dengan yang kwalitas baik, namun dengan harga yang sama. Namun karena saya sering membeli dipasar Tejo Agung ini saya lama-lama mengetahuinya akhirnya saya tidak pernah membeli di pedagang yang awalnya saya sering beli meskipun timbangannya diangetin”.94

Menurut ibu Kartinah “ seharusnya saya membeli dengan harga yang standar pasar juga barang yang saya dapat standar pasar yaitu yang kwalitasnya sama dan tidak berbeda, meskipun timbangannya diangetin tapi dari segi rasa namanya saja sudah tidak segar ya berbeda”.95

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan, maka dapat diketahui bahwa pedagang yang melakukan pencampuran daging ayam yang segar dan yang tidak segar karena tidak ingin mengalami kerugian dan berasumsi bahwa daging ayam yang tidak segar tersebut dicampurkan dengan yang segar tidak apa-apa sebab belum membusuk dan hal itu tidak merugikan konsumen. Tetapi menurut konsumen sendiri barang yang kwalitas baik dan kwalitas tidak baik seharusnya dibedakan sebab dari hal

93 Wawancara, Teteh, Metro 27 April 2018.

94 Wawancara, Retno, Metro 28 April 2018.

95 Wawancara, Kartinah, Metro 26 April 2018.

rasa saja sudah berbeda meskipun dilihat sekilas hampir sama sebeb dicampurkan, namun ada juga konsumen yang tetap membelinya sebab pedagang ayam tersebut sanagatlah ramah dalam melaukan jual beli, sehingga meskipun mengetahuinya tetap membeli.

Sedangkan harga adalah jumlah uang tertentu untuk ditukarkan dengan suatu unit barang atau jasa.96 Dalam penetapan harga seperti yang telah peneliti singgung di awal pembahasan bahwasa harga yang adil nilai harga yang dimana orang-orang menjual barangnya dapat diterima secara umum sebagai hal yang sepadan dengan barang yang dijual ataupun barang-barang yang sejenis lainnya.

Ungkapan ibu Ismiyati tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa dalam beliau menetapkan harga atas dasar tidak inginnya merugi karena barang yang sisa. Akan tetapi beliau tidak memperhatikan bahwa konsumen yang membelinya mengalami ketidakpuasa terhadap barang yang dijual tersebut serta mengalami unsur keterpaksaan ketika membeli sebab pedagang yang lainnya sudah pada pulang semua.

Dari beberapa wawancara yang ada dilapangan, Perinsip keadilan dalam menetapkan harga daging ayam pada pasar Tejo Agung 24 Metro Timur, dapat dilihat bahwa realitanya tidak semua pedagang daging ayam menetapkan harga dagangannya dengan mencampurkan barang yang kwalitas baik dengan kwalitas buruk supaya tidak mengalami kerugian.

Hal ini terlihat dari pernyataannya ibu Masrifah bahwasa bagi seorang

96 Ibid; Wien’s Anoraga, Kamus Istilah Ekonomi,(Bandung:M2s,1993),h.321

pedagang sudah resikonya mengalami rugi ataupun untung demi mempertahankan kwalitas barang dagangannya tersebut.

Konsep Islam dalam penentuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi secara rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melalukan transaksi tersebut.97 Adapun pihak penjual yang menyatakan membolehkan untuk mencampur antara barang yang kwalitas baik dengan barang yang kwalitas buruk, antara salah satu yang melakukan transaksi merasa tidak rela sebab nilai (uang) yang diberikan tidaklah sesuai dengan barang yang didapat.

Keadilan adalah keseimbangan antara yang patut diperoleh pihak- pihak, baik berupa keuntungan maupun kerugian, merupakan salah satu sifat hukum di samping kemanfaatan.98 Ini seperti yang sedang terjadi keseimbangan antara harga yang diberikan dengan barang yang didapatkan tidak sesuai oleh sebab itu keadilan yang diperoleh pembeli tidak ada sebab adil haruslah seimbangan antara harga yang dibayarkan dengan barang yang didapat. Adapun terkait dengan kemanfaatannya, barang dengan kwalitas tidak baik bisa menimbulkan penyakit karena banyak racun didalamnya yaitu zat kimia yang jika dimakan setiap hari akan menimbulkan kanker.99

97 Ibid;Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: The International Institute Of Islamic

Thought Indonesia (IIIT),2002) h.132

98 Ibid; Andi Hamzah, Kamus Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), h.317

99 Ekasanti,”Bahaya Dalam Mengkonsumsi Ayam Tiren” dalam Tribun.com, 22 April 2018

Pasal 1320 KUH Perdata menyebutkan bahwa kesepakatan mengenai harga dapat diartikan sebuah perjanjian yang harus disepakati antara pelaku usaha dan konsumen.100

Sementara Pada pasar Tejo Agung 24 Metro meskipun tidak semua pedagang melakukan persamaan harga dengan kwalitas yang berbeda, namun beberapa pedagang ada yang memberikan harga disesuaikan dengan harga pasar yang sedang berlaku tanpa melihat barang dengan berdasarkan kwalitasnya sehingga kesepakatan tersebut tidak ada, hal tersebut menjadikan konsumen merasa dirugikan karena harga yang telah dibayarkan tidak sesuai dengan barang yang didapat.

Menurut tinjauan etika bisnis Islam, bahwasanya dari fator yang menyebabkan jual beli antara persamaan harga barang kwalitas baik dan barang yang kwalitas buruk sama saja dengan belum sesuai dengan syariat Islam yaitu dengan tahuhid, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan dan prinsip kebebasan.

Dalam pelaksanaanya belum sesuai dengan prinsip tauhid yang benar, karena dilihat dari barang yang diperjual belikan tidak sesuai dengan syariat Islam dan tidak terlepas dari norma-norma hukum Islam dengan memegang teguh rukun dan syarat yakni adanya ijab dan qobul.

Sedangkan prinsip tauhid mengajarkan bahwa yang ada dibumi ini milik Allah dan diperintahkan kepada manusia untuk menjaga dan

100 Ibid;Iffaty Nasyi’ah, prinsip Keadilan dan Keseimbangan Dalam Penentuan Nilai Tukar

Barang (Harga) Perespektif Islam dan Hukum Perlindungan Konsumen,( Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ), Volume 6 Nomor 2, Desember 2014, h.117-127

memakmurkan dengan mengolah dan memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa merugikan antara satu dengan yang lain.

Prinsip keadilan, menuntut agar setiap orang agar diperlakukan secara sama sesuai denga aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional objektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.101 merupakan keseimbangan antara harga yang dibayarkan dengan kwalitas barang yang akan didapat, yang mana pada kenyataannya harga yang dibayarkan tidak sesuai dengan barang yang didapat.

Prinsip saling menguntungkan, menuntut agar bisnis dijilankan sedemikian rupa, sehingga menguntungkan semua pihak.102 Pada pasar Tejo Agung realitanya para konsumen masih ada yang merasa dirugikan sebab persamaan harga dengan kwalitas yang berbeda.

Prinsip kebebasan, dalam etika bisnis Islam memberikan penjelasan bahwa transaksi bisnis tidak bisa dikatakan telah mencapai kebebasan tidak jika ada kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Yang terjadi pada prateknya jual beli dalam menetapkan harga daging ayam pada Pasar Tejo Agung 24 harga yang diberikan oleh pedagang tanpa meminta persetujuan pembeli dengan perbedaan harga barang yang kwalitas baik dan barang yang kwalitas buruk. Dalam hal ini pedagang mensamaratakan sehingga prinsip kebebasan dalam etika bisnis Islam dikesampingkan.

101 Agus Arijanto, Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis,h. 17

102 Ibid;h.18

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan maka dapat diketahui bahwa prinisp keadilan dalam menetapkan harga daging ayam pada pasar Tejo Agung 24 Metro masih ditemukan ketidakadilan dalam harga bagi konsumen yang sesuai dengan etika bisnis Islam dalam prinsip tahuid, prinsip Keadilan, prinsip saling menguntungkan, dan prinsip kebebasan yaitu dengan tidak membedakan harga antara yang kwalitas baik dengan harga yang kwalitas buruk sebab mereka tidak mau rugi. Hal tersebut yang menjadikan konsumen merasa dirugikan, yangmana seharusnya harga yang diberikan sesuai dengan kwalitas barang yang didapatkan.

B. Saran

Sehubungan dengan kesimpulan diatas, maka dalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Hendaknya para pedagang lebih memahami dan mempraktekan aturan dalam Islam terkait dengan perdagangan.

2. Pedagang seharusnya menetapkan harga sesuai kwalitas barang sehingga akan tercermin keadilan dalam harga.

DAFTAR PUSTAKA

A.A. Islahi, Konsep Ekonomi Ibnu Taimiyah, alih bahasa: Ashari Thayib Surabaya: Bima Ilmu, 1997.

Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah: dalam Prespektif Kewenangan Peradilan Agama,Jakarta: Kencana,2012,jilid 1.

Abdul Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa,1997.

Adiwarman A.Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2010.

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: The International Institute Of Islamic Thought Indonesia (IIIT),2002.

Agus Arijanto, Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, Jakarta: Rajawali Press, 2012.

Amin Suma, Menggali Akar Mengurai Serat Ekonomi Dan Keuangan Islam, Ciputat: Kholam Publishing,2008.

Andi Hamzah, Kamus Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986.

Budi Arianto, Penetapan Harga Beli Lada dari Tengkulak Kepada Petani, Metro:Jurusan syariah dan Ekonomi Islam,2015.

Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Edisi Revisi, STAIN Jurai Siwo Metro, 2010.

Burhan Ashaf, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta,2004.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Terjemah, Jakarta:Gema Risalah Press,1967.

Ekasanti,”Bahaya Dalam Mengkonsumsi Ayam Tiren” dalam Tribun.com, 22 April 2018.

Heri Sudarso, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar,Yogyakarta:

Ekonisia,2002.

Husaini Usman, Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Iffaty Nasyi’ah, prinsip Keadilan dan Keseimbangan Dalam Penentuan Nilai Tukar Barang (Harga) Perespektif Islam dan Hukum Perlindungan Konsumen,( Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ), Volume 6 Nomor 2, Desember 2014.

Irham Fahmi, Etika Bisnis, Bandung: Alfabeta, 2013.

Jeff Macera, Pengantar Bisnis Baku 2, Jakarta:Salemba Empat, 2001.

Kartini Kartono, Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2004.

KBBI, Jakarta: Balai Pustaka,2002.

Kbbi.Web.id di unduh pada 09 Februari 2018

Lexy J Melong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.

Liasetianingsih, “etika bisnis keadilan dalam bisnis”, dalam https://listianingsih.Wordpress.com/2011/11//23/etika-bisnis-vii-

keadilan-dalam-bisnis, di unduh pada tanggal 09 Febuari 2018.

M. Yacob Ibrahi, Studi Kelayakan Bisnis Edisi Revisi, Jakarta: Rineka Cipta:

2003.

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Moh.Kasiran,Metodologi Penelitian Kualitatif Kuantitatif, Malang: UIN Maliki Press,2010.

Muhammad Amir Suma,Ekonomi dan Keuangan Islam, Tanggerang:

Kholam, 2008.

Muhammad Birusman Nuryadin,”Harga Dalam Presfektif Islam”, Vol. IV, No. 1, Juni 2007

Muhammad Djakfar, Etika Dalam Prespektif Islam, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf,1997.

Muhammad Sharif Chaundhry,Sistem Ekonomi Islam,Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2012.

Muhammad, Metodologi Penelitian,Jakarta: Rajawali Press,2008.

Mustad Ahmad, Etika Bisnis Dalam Islam,Jakarta: Al-Kautsar, 2005.

Nur Chamid, Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Yogyakarta:Pustaka Belajar,2010.

Nurbaiti Janati, Konsep Harga Adil dalam Prespektif Ekonomi Islam,Metro:Jurusan syariah dan Ekonomi Islam,2013.

Observasi, Pasar Tradisional Modern Tejo Agung 24 Metro Timur, 20 April 2018

Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, Marketing management, Alih Bahasa Benyamin Molan, Manajemen Pemasaran Edisi Keduabelas, Jakarta:Gramedia,2006, jilid 2.

Rafik Issa Beekum, Etika Bisnis Islam,Yogyakarta: Pustaka Belajar,2004.

Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2008.

Suherman Rosyid, Pengantar Teori Ekonomi, Jakarta: Grafindo,2003.

SujanaIsmaya, KamusAkuntansi,Bandung:CVPustakaGrafika, 2014.

Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian,Jakarta: Raja Grafindo,2011.

Suraya Murcitaningrum, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, Lampung:

Ta’lim Pers, 2012.

Sutrisno , Metodologi Research, Yogyakarta: Bumi Aksara,2003.

Sutrisno Hadi,Metodologi Research, Jilid 1,Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM,1984,cet ke-XVI.

Syahrul Munir,”Cara Membedakan Daging Tidak Layak Konsumsi” dalam Kompas.com, 29 Juni 2016

Vaithzal Rivai, Andi Buchari, Islamic Economics Ekonomi Syariah, Jakarta:PT Bumi Aksara, 2009.

W.J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,2007.

Wien’s Anoraga, Kamus Istilah Ekonomi,Bandung:M2s,1993.

Zamir Abbas, Pengantar Teori Islam dan Praktek, Jakarta: Kencana, 2008.

Dokumen terkait