• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4 Pengalaman Kerja

Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan penambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa juga diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Pengalaman merupakan atribut yang penting yang harus dimiliki oleh auditor, hal ini terbukti dengan tingkat kesalahan yang dibuat oleh auditor yang tidak berpengalaman lebih banyak daripada auditor yang berpengalaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama masa kerja dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor maka akan menghasilkan kualitas audit yang baik (Nur, 2016)

Masrizal (2013) dalam Andi (2017) menyatakan bahwa

“pengalaman audit adalah pengalaman auditor dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan baik dari lamanya masa kerja maupun banyaknya penugasan dan pengkajian masalah yang sama yang pernah dilakukan”.

Pengalaman seringkali digunakan oleh peneliti sebagai alternatif dalam mengukur keahlian seseorang. Karena pengalaman diasumsikan dengan mengerjakan sesuatu tugas berulangkali, maka akan memberikan kesempatan mengerjakannya dengan lebih baik. Pengalaman bagi auditor merupakan elemen penting dalam menjalankan profesinya selain pendidikan. Mengingat fungsinya sebagai pemeriksa yang harus mampu memberikan pendapatnya. Pengalaman yang tinggi menjadi salah satu indikator untuk menilai kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan maupun kekeliruan dalam melakukan audit (Agustina, 2016).

Pengalaman dalam pemeriksaan laporan keuangan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Pengalaman bagi auditor dalam bidang audit berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan keahlian diperoleh auditor dari pendidikan formalnya sehingga kualitas audit akan semakin baik seiring bertambahnya pengalaman (William dan Ketut, 2015).

Berdasarkan penjelasan diatas, pengalaman kerja merupakan hal yang menunjukkan kelihaian seorang auditor dalam melaksanakan audit.

Pengalaman kerja auditor akan semakin meningkat seiring dengan

bertambahnya pengalaman audit. Banyaknya pengalaman auditor dalam tamengaudit yang salahsatunya ditandai dengan lamanya auditor tersebut telah bekerja dalam bidang auditing atau seberapa lama auditor tersebut telah melakukan pemeriksaan atau audit yang dihitung berdasarkan waktu atau tahun kerjanya membuat auditor dapat lebih hati-hati dan teliti sehingga lebih mudah mendeteksi kesalahan yang terdapat dalam laporan keuangan klien yang di audit.

Menurut Handoko (2003: 241) dalam Susmiyanti (2016) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman kerja, yaitu:

1. Latar belakang pribadi, hal ini mencakup pendidikan yang telah ditempuh, pelatihan-pelatihan kerja, kursus, dll yang menunjukkan apa yang telah ditempuh seseorang dimasa lalu.

2. Bakat dan minat, untuk menentukan minat, kapasitas dan kemampuan seseorang.

3. Sikap dan kebutuhan, untuk menentukan apa saja tanggung jawab dan wewenang seseorang dalam bekerja.

4. Kemampuan-kemampuan analitis dan manipulatif, untuk mempelajari kemampuan penilaian dan penganalisaan seseorang.

5. Keterampilan dan kemampuan teknik, untuk menilai kemampuan seseorang dalam pelaksanaan aspek-aspek pekerjaan.

6. Kesehatan, tenaga dan stamina, untuk melihat kemampuan fisik seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

Dalam Susmiyanti (2016) mengemukakan indikator pengalaman auditor berdasarkan MenKeu tentang Perizinan menjadi Akuntan Publik, SPAP, Sukrisno (2012: 54), dan Ika (2009) sebagai berikut:

1. Lamanya masa kerja

Lamanya masa kerja auditor akan berpengaruh terhadap pengalaman kerjanya. Semakin lama auditor bekerja tentunya pengalaman kerja semakin banyak, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

2. Pengalaman mengikuti pelatihan

Semakin banyak pelatihan-pelatihan kerja yang diikuti oleh auditor, akan semakin banyak pengalaman yang didapatkan. Pelatihan- pelatihan memberikan tambahan wawasan dan dapat meningkatkan kemampuan auditor.

3. Kemampuan dalam mendeteksi kekeliruan

Semakin banyak pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor, maka kemampuan dalam mendeteksi kekeliruan dalam laporan keuangan kliennya semakin bagus.

4. Banyaknya klien yang diaudit

Semakin auditor banyak melakukan audit pada perusahaan- perusahaan klien, maka pengalaman yang diperoleh juga akan lebih banyak. Dikarenakan, tentu saja masalah yang dihadapi akan berbeda- beda antara klien perusahaan satu dengan yang lainnya.

2.1.5 Fee Audit

1. Pengertian Fee Audit

Fee audit merupakan keseluruhan biaya yang dibayarkan oleh perusahaan klien kepada auditor eksternal terhadap jasa audit dan non- audit, yaitu konsultan dan penasehat manajemen (Susmiyanti, 2016).

Menurut Gammal (2012) dalam Margi (2014) bahwa “fee audit dapat didefinisikan sebagai jumlah biaya (upah) yang dibebankan oleh auditor untuk proses audit kepada perusahaan (auditee)”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fee audit merupakan biaya yang diberikan oleh pihak klien (auditee) kepada pemeriksa auditor atas jasa yang diberikan baik jasa audit maupun non- audit.

2. Dasar Penentuan Fee Audit

Menurut Abdul (2015: 108), terdapat beberapa cara penentuan fee audit, yaitu:

a. Per diem basis

Pada cara ini fee audit ditentukan dengan dasar waktu yang digunakan oleh tim auditor. Pertama kali fee per jam ditentukan, kemudian dikalikan dengan jumlah waktu / jam yang dihabiskan oleh tim. Tarif fee per jam untuk tiap tingkatan staf tertentu dapat berbeda- beda.

b. Flat atau Kontrak basis

Pada cara ini fee audit dihitung sekaligus secara borongan tanpa memperhatikan waktu audit yang dihabiskan. Yang penting pekerjaan terselesaikan sesuai dengan aturan atau perjanjian.

c. Maksimum fee basis

Cara ini merupakan gabungan kedua cara di atas. Pertama kali tentukan tarif per jam kemudian dikalikan dengan jumlah waktu tertentu tetapi dengan batasan maksimum. Hal ini dilakukan agar auditor tidak mengulur-ulur waktu sehingga menambah jam / waktu kerja.

3. Faktor-faktor Penentu Fee Audit

Menurut Abdul (2015: 108), terdapat banyak faktor yang mempengaruhi besarnya fee audit, namun terdapat 4 faktor yang dominan, yaitu:

a. Karakteristik Keuangan, seperti tingkat penghasilan, laba, aktiva, modal, dan lain-lain.

b. Lingkungan, seperti persaingan, pasar tenaga profesional, dan lain-lain.

c. Karakteristik Operasi, seperti jenis industri, jumlah lokasi perusahaan, jumlah lini produk, dan lain-lain.

d. Kegiatan Eksternal Auditor, seperti pengalaman, tingkat koordinasi dengan internal auditor, dan lain-lain.

4. Indikator Fee Audit

Berikut ini merupakan indikator fee audit, Sukrisno (2012: 46) dalam Susmiyanti (2016):

a. Risiko audit

Besar kecilnya fee audit yang diterima oleh auditor dipengaruhi oleh risiko audit dari kliennya.

b. Kompleksitas jasa yang diberikan

Fee audit yang akan diterima auditor, disesuaikan dengan tinggi rendahnya kompleksitas tugas yang akan dikerjakannya. Semakin tinggi tingkat kmpleksitasnya maka akan semakin tinggi fee audit yang akan diterima oleh auditor.

c. Tingkat keahlian auditor dalam industri klien

Auditor yang memiliki tingkat keahlian yang semakin tinggi akan lebih mudah untuk mendeteksi kecurangan-kecurangan pada laporan keuangan kliennya.

d. Struktur biaya KAP

Auditor mendapatkan fee-nya disesuaikan dengan struktur biaya pada masing-masing KAP. Hal ini dikarenakan untuk menjaga auditor agar tidak terjadi perang tarif.

Dokumen terkait