• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh dan penyebab kenakalan remaja

KENAKALAN REMAJA

B. Pengaruh dan penyebab kenakalan remaja

Jahja (Jahja, 2011) mengemukakan bahwa masa remaja adalah suatu msa perubahan dimana terjadi perubahan baik secara fisik maupun psikis. Beberapa ciri perubahan yang terjadi pada remaja, antara lain adalah : peningkatan emosional yang dinamakan masa “strom dan stress” dimana mereka diharapkan bersikap lebih dewasa dan bertanggung jawab, perubahan lain adalah perubahan fisik yang juga disertai perubahan kematangan secara seksual, perubahan lainnya adalah perubahan dengan hubungannya dengan lawan jenis, disertai dengan perubahan nilai dimana apa yang dulu mereka anggap penting menjadi tidak penting. Dan perubahan terakhir adalah bagaimana seorang remaja

menghadapi perubahan itu sendiri, dimana mereka ingin lebih dewasa namun tidak ingin memikul tanggung jawab.

Berdasarkan ciri dan paparan tesrebut maka seorang remaja tidak lagi bisa dikategorikan sebagai anak-anak, karena sudah mengalami berbagai perubahan ciri dan bentuk baik secara fisik maupun psikologis.

Pengertian kenakalan anak atau juvenile delinquency yang dikemukakan oleh para ilmuwan beragam namun para ahli sepakat bahwa kenakalan anak atau kenakalan remaja adalah suatu bentuk tingkah laku yang bersifat anti sosial dan melanggar norma serta hukum (Soetodjo, 2008). Dan dilihat dari bentuk serta tingkat kenakalannya, terdapat tiga kategori tingkatan tindak kenalakan remaja (Suwarniyati, 1985) yaitu : a. Kenakalan biasa, dengan contohnya : berkelahi, keluyuran, membolos serta pergi dari rumah tanpa pamit

b. Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran kejahatan, dengan contohnya : mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang lain tanpa ijin c. Kenakalan khusus, dengan contohnya : penggunaan

narkoba, hubungan seks di luar pernikahan, pemerkosaan dan lain-lain.

Dalam perilaku tidak normal atau menyimpang, telah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (Soekanto, 2006)Perilaku ini dikatakan menyimpang atau buruk jika dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal. Durkheim dalam bukunya “Rules of sociological method” (Durkheim , 1982) mengatakan bahwa batas-batas tertentu kenakalan remaja tersebut dianggap normal karena tidak mungkin menghapusnya sama sekali, dan kenakalan remaja ini dikategorikan sebagai kenakalan remaja normal selama

masih dalam batas tertentu dan mengandung unsur ketidaksengajaan. Sehingga perilaku yang dinggap tidak normal adalah perilaku jahat, melebihi normal atau dengan sengaja menimbulkan masalah di dalam masyarakat.

Gejala kenakalan remaja bisa terus ada dan berkembang sejajar dengan perkembangan teknologi, industry dan urbanisasi (Kartono, 2017). Dengan semakin berkembangnya penduduk, kemajuan industri, meningkatkanya industrialisasi maka kejahatan dan kenakalan remaja akan semakin berkembang pesat sesuai dengan kemajuan teknologi yang semakin diperkeruh oleh berbagai gejala dan gejolak sosial yang ada di masyarakat. Inti terkecil yang membantu seorang anak menjadi remaja dan membentuk nilai serta kemampuan sosial adalah dibentuk dari keluarga.

Sebelum seorang anak mengenal nilai dan norma yang ada di masyarakat, keluarga lah yang mengenalkannya dan membentuk pola pikirnya. Hal inilah yang membedakan antara keluarga utuh, keluarga tidak utuh, keluarga kelas sosial atas dan keluarga kelas sosial bawah.

Pada masa dulu, keluarga atau famili ini lah yang memberika perlindungan, Pendidikan, mengenalkan norma dan membimbing anak. Namun kini peran orang tua semakin sulit karena banyak turunya kewibawaan orang tua yang diakibatkan oleh faktor ekonomi, sempitnya waktu orang tua bersama anak dan lainnya. Orang tua tidak mempunyai otoritas terhadap perilaku anak, sehingga pengawasan dan kontrol orang tua sebagai kendali bagi perkembangan fisik dan psikis anak harus ekstra hati-hati dan cermat, karena hal tersebut akan menentukan corak perkembangan pribadi anak.

Pola perilaku anak yang menyimpang dan bisa menimbulkan kenakalan, dapat disebabkan oleh pendidikan

keluarga yang tidak bisa memberikan kasih sayang. Sikap hidup orang tua yang penuh kekerasan memberikan pengalaman hidup bagi anak dan sewaktu-waktu dapat direproduksi dan direfleksikan dalam kehidupan anak di luar keluarganya seperti bentuk perilaku jahat atau biasa disebut delinquency. Delinkuensi remaja bukan merupakan peristiwa herediter, bukan merupakan warisan bawaan sejak lahir.

Banyak bukti menyatakan bahwa tingkah laku baik secara asusila dan kriminal dari orang tua serta anggota keluarga lainnya memberikan dampak menular dan infeksius pada jiwa anak-anak.

Kehidupan masyarakat modern juga memiliki dampak pada munculnya kesenjangan sosial ekonomi yang mencolok antara jelas yang berkecukupan, menengah maupun miskin.

Hal ini juga bisa menyebabkan munculnya kenakalan remaja karena masyarakat modern sangat materialistis dan menimbulkan Hasrat ingin memiliki banyak barang mewah ataupun branded agar diakui dan dihargai orang lain. Bagi para remaja yang berasal dari kelas ekonomi rendah terbentuk oleh keadaan ekonomi yang serba kurang, keterampilan yang minim dan pendidikan yang relative rendah, dan umumnya mereka memiliki tempat tinggal yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi, banyak penyakit dan pengangguran, serta dikontraskan dengan kondisi di luar yang menyajikan kemewahan dan kegemerlapan yang dapat dilihatnya melalui pengamatan langsung maupun melalui media elektronik dapat memberikan rangsangan yang kuat kepada anak-anak remaja tersebut untuk berbuat jahat.

Sedangkan bagi anak remaja kelas menengah ke atas yang berdomisili di kota-kota besar yang pada umumnya memiliki banyak waktu luang, dan untuk mengisinya ada kemungkinan digunakan sekedar iseng, seperti

mengkonsumsi alkohol, kebut-kebutan di jalan raya, penggunaan obat terlarang, mengkonsumsi narkoba dan lainnya (Lestari, 2012).

Untuk penyebab kenakalan remaja ada dua faktor yang berpengaruh. Faktor internal adalah faktor dari dalam diri sendiri dikarenakan krisis identitas maupun kontrol diri yang lemah. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar contohnya adalah keluarga yang tidak harmonis, pengaruh dari lingkungan sekitar maupun tempat pendidikan yang tidak kondusif.