• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Karakteristik Peserta Didik

BELAJARNYA

A. Pengertian Karakteristik Peserta Didik

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa dalam proses pendidikan, salah satu komponen yang berperan di dalamnya adalah peserta didik. Peserta didik dikategorikan sebagai objek dan subjek pendidikan. Dikatakan demikian karena sebagai subjek, peserta didik menentukan hasil belajar sedangkan sebagai objek, karena peserta didiklah yang menerima materi pelajaran dari pendidik.

Setiap peserta didik memiliki bawaan (heredity) dan karakteristik bermacam-macam yang dipengaruhi beberapa faktor seperti lingkungan. Hal yang mutlak bagi seorang pendidikan adalah mengetahui dan memahami karakteristik peserta didik. Penguasaan guru terhadap karakteristik peserta didik merupakan pemenuhan dari salah satu kompetensi yang mesti dimiliki yaitu kompetensi pedagogik.

Sebagai sebuah kompetensi, karakteristik peserta didik tidak hanya dijadikan sebagai sebuah variabel kognitif, tetapi karakteristik peserta didik mutlak dipahami, dikuasai, dan diimplementasikan dalam proses pembelajaran, baik bagi tenaga pendidik di tingkat pendidikan dasar, menengah, maupun perguruan tinggi. Oleh karena itu penguasaan guru terhadap karakteristik peserta didik tidak dapat dikesampingkan karena akan berpengaruh ke proses pembelajaran yang salah satunya akan berefek pada sulitnya

pembentukan karakter. Sebagaimana dikemukakan oleh Mulyasa menjelaskan bahwa di antara permasalahan- permasalahan pokok dunia pendidikan adalah kurangnya creativy quoetient pada anak (E. Mulyasa, 2007). Oleh karena itu karakteristik peserta didik perlu dielaborasi dan disinkronisasi dengan pelaksanaan tugas pendidik di kelas maupun di luar kelas agar tujuan pendidikan dapat tercapai.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran adalah karakteristik peserta didik. Karakteristik peserta didik mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembelajaran peserta didik sehingga perlu penguasaan dari guru untuk memahami karakteristik peserta didik. Pemahaman guru terhadap karakteristik peserta didik akan membuat guru mengetahui kebutuhan peserta didik sehingga mudah dalam mengarahkan dan menuntun peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh Janawi mengemukakan bahwa pendidik atau guru perlu menyelami dunia anak, potensi, minat, bakat, motivasibelajar dan permasalahan lain yang berhubungan dengan anak (Janawi, 2019)

Sebelum menguraikan tentang karakteristik peserta didik maka terlebih dahulu diuraikan tentang definisi peserta didik agar memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang karakteristik peserta didik. Rujukan dasar dalam memberikan definisi peserta didik adalah berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), diterangkan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. (UU SISDIKNAS No 30 Tahun 2003).

Definisi lainnya tentang peserta didik dikemukakan oleh para pakar secara beragam. Salah satunya menurut Desmita bahwa ditinjau dari perspektif psikologi, peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun psikis menurut fitrahnya masing-masing. (Desmita, 2012).

Pengertian lainnya dikemukakan oleh Sardiman bahwa peserta didik adalah salah satu manusia yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar. (Sardiman, 2012). Ditambahkan oleh Badruddin, menurutnya peserta didik adalah sesorang yang terdaftar dalam suatu jalur, jenjang, dan jenis lembaga pendidikan tertentu, yang selalu ingin mengembangkan potensi dirinya baik pada aspek akademis maupun non akademis melalui proses pembelajaran yang diselenggarakan. (Badruddin, 2014).

Berdasarkan uraian definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik sebagai salah satu komponen utama dalam proses pendidikan yang membutuhkan bimbingan, arahan dan tuntunan dalam menumbuhkembangkan baik jasmani maupun rohaninya ke arah yang lebih baik yaitu menjadi manusia yang berkualitas baik kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Sebagai sumber daya utama dalam proses pendidikan, peserta didik membutuhkan interaksi dan komunikasi dengan guru karena selain transformasi pengetahuan diharapkan penanaman nilai kepada peserta didik dapat terlaksana dalam proses pendidikan.

Analisis kemampuan awal peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi peserta didik dari segi kebutuhan dan karakteristik untuk menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku atau tujuan dan materi.

Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai ciri dari

kualitas perorangan peserta didik yang ada pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik, kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial (Atwi Suparman, 2001). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat dipahami bahwa karakteristik peserta didik merupakan gambaran dari kemampuan peserta didik baik terkait kemampuan fisik maupun psikis yang berpengaruh terhadap proses belajar peserta didik.

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa peserta didik memiliki karakteristik tersendiri, bahkan kembar identik pun pasti memiliki perbedaan. Pemahaman guru akan karakteristik peserta didik perlu ditopang dengan pemahaman dan penguasaan guru terkait psikolgi seperti psikologi Pendidikan, psikologi kepribadian, psikologi perkembangan dan berbagai pendekatan lainnya.

Penguasaan teori-teori ini perlu dikarenakan karakteristik peserta didik terkait dengan aspek psikologi peserta didik.

Selain itu hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik (Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 6, No. 2, 2019), yaitu:

1. Membangun komunikasi verbal

Komunikasi verbal perlu dilakukan pada setiap kesempatan dalam proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Komunikasi verbal diakukan dengan melibatkan peserta didik secara langsung. Pelibatan peserta didik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan interaktif yang beragam, namun pertanyaan-pertanyaan tersebut masih dalam lingkup partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagai catatan penting, komunikasi verbal dapat efektif apabila peserta didik dipandang sebagai subyek, bukan obyek pembelajaran.

Secara fungsional, komunikasi verbal dapat mengkonstruksi elemen hubungan psikologis, di samping mengembangkan harmonisasi batin anatara pendidik dengan peserta didik. Hubungan psikologis dan harmonisasi batin pendidik dengan anak didik tidak akan mungkin diperoleh pada komunikasi nonverbal. Atas dasar hubungan tersebut, komunikasi verbal juga dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran, khususnya ketika pendidik berhadapan dengan peserta didik yang termasuk dalam kategori “agak nakal”

Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab anak didik menjadi “agak nakal” seperti; [1] mental anak belum stabil; [2] dominasi faktor lingkungan; [3] keadaan lingkungan keluarga tidak kondusif; [4] pengaruh teman sebaya; dan [5] faktor bawaan.

2. Menjadi figur yang baik

Figur yang baik akan menjadi teladan bagi peserta didik. Menjadi figure yang baik bagi peserta didik merupakan salah satu gambaran penguasaan guru pada kompetesni kepribadian, seperti memiliki rasa optimis, komunikatif, memiliki charisma, dan perduli dengan lingkungan sekitar, termasuk dunia anak-anak. Beberapa kriteria tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam memahami karakter peserta didik. Keteladanan dalam bersikap, berkata, dan berkomunikasi yang baik dapat dilakukan dengan menjadi pendengar yang setia atau siap mendengar keluh kesah anak didik. Seorang figur yang baik umumnya memahami karakteristik peserta didik dengan beberapa cara. Di samping itu guru perlu mengedepan teknik mengajar seperti; [1] formal tetapi tidak kaku; [2] bercanda tapi tidak berlebihan; [3] belajar di luar kelas (outdoor); [4]

makan minum dibolehkan tetapi harus tertib; dan [5]

proporsional dalam tanya jawab. Bila teknik-teknik ini dilakukan dengan serius, maka guru dapat memotivasi dan sekaligus meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar, dan bahkan rasa betah (tidak mudah bosan) dalam proses pembelajaran akan semakin timbu.

3. Berhati-hati dalam menyimpulkan karakter peserta didik Pendidik perlu bersikap hati-hati dalam mengambilkan sebuah kesimpulan, apalagi kesimpulan tersebut mengarah pada upaya memahami karakter peserta didik. Tenaga pendidik menghadirkan semua potensi dan memberikan respon secara bijak untuk mengoptimalisasi pemahaman terhadap karakter secara komprehensif.

4. Mengenal tanda-tanda keanehan peserta didik

Tanda-tanda yang dimaksud disini adalah tanda fisik maupun non fisik. Pada dasarnya tidak ada sesuatu yang dianggap aneh, tetapi yang ada adalah keunikan karakteristik. Fenomena sikap peserta didik perlu disikapi dengan memperhatkan karakter personal dan kelompok anak dalam proses pembelajaran.

5. Bersifat terbuka

Bersikap terbuka menjadi sikap penting dimiliki oleh pendidik. Bersikap terbuka pada peserta didik berarti memberikan peluang secara luas untuk memahami karakter anak. Dengan sikap terbuka, pada umumnya anak didik akan bersikap terbuka pada pendidik. Anak didik memerlukan perhatian dari pendidik baik dalam kelas maupun di luar kelas. Karakter yang dimiliki anak beragam. Keragaman itu tentu menentukan cara, dan pendekatan tenaga pendidik dalam proses memahami sifat dan karakter anak.