K
onflik yang berujung kekerasan bisa jadi merupakan bentuk ekspresi tindakan heterogenitas yang mengarah pada suatu kepentingan, nilai, dan keyakinan tertentu yang dianut oleh pelakunya. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Hugh Miall yang melihat adanya muatan kepentingan, nilai, dan keyakinan dalam melihat suatu perubahan sosial. Coser menyebut suatu konflik bisa bermakna positif dan bisa pula negatif.Stereotip Mahasiswa Makassar
Terkait kasus tawuran mahasiswa, konflik yang terjadi di situ bukanlah suatu bentuk ekspresi penguatan integrasi kelompok—yang mengandung makna positif—, karena
konflik dalam tawuran mahasiswa tersebut menyerang nilai inti dalam masyarakat intelektual yang merupakan lingkungan khas mahasiswa itu sendiri (kampus). Tawuran mahasiswa di Makassar berangkat dari suatu akar masalah yang kompleks, sehingga menimbulkan dampak begitu luas di dalam masyarakat. Beragam stereotipikal yang menyudutkan posisi Mahasiswa Makassar, acapkali ikut menambah prasangka buruk terhadap seluruh aktivitas gerakan sosial-politik mahasiswa—misalnya terkait sikap kritisnya kepada pemerintah. Menjadi sebuah persoalan tersendiri memang, ketika gerakan moral yang selama ini dibangun melalui aksi-aksi demonstrasi di jalan berubah menjadi sebentuk gerakan a-moral dalam aksi-aksi tawuran.
Nama baik mahasiswa sebagai penjaga kepentingan rakyat, segera tertutupi ketika tiba-tiba mahasiswa justru terlibat tawuran di kampus. Kepahlawanan mahasiswa dalam menentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Tarif Dasar Listrik (TDL), tarif pajak, tarif air bersih, kenaikan harga sembako, dan sebagainya, menjadi tidak berarti apa- apa ketika yang diberitakan oleh media adalah aksi-aksi tawuran mahasiswa yang memalukan itu. Tawuran sudah pasti membawa cap buruk terhadap gerakan nilai yang telah dibangun mahasiswa sebelumnya. Stereotipisasi antipati (negatif) terhadap mahasiswa Makassar kerap terjadi pada pemberitaan media massa yang tidak berimbang, di mana pemberitaan lebih mengedepankan konflik yang anarkistik yang terjadi di lapangan ketimbang muatan isu yang diangkat dalam aksi demonstrasi. Terdapat daya tarik bagi media ketika peristiwa demontrasi mahasiswa berlangsung di Makassar. Berita mengenai bentrok dan tawuran mahasiswa memiliki nilai jual yang tinggi.1
Mahasiswa Makassar memang mempunyai karakter dan pola gerakan yang militan dan radikal, yang tidak
1 Hikmah Tahir, Stereotipisasi Etnis Makassar oleh TV One Melalui Tayan- gan Bentrok dan Tawuran di Makassar, Jurnal Pekommas, Vol. 16 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2013, halaman 103.
terlepas dari aspek ideologis, spiritualis, nilai budaya yang dianut, serta sisi historisme yang heroik, dalam diri mahasiswa Makassar. Namun ‘sifat militan dan radikal’
tersebut juga dapat dipicu oleh begitu banyaknya rentetan aksi-aksi dan gerakan mahasiswa Makassar yang bertindak lebih (over action) dan cenderung emosionalistik dalam menyikapi suatu permasalahan. Bentuk militansi dan radikalisme tergambar cukup jelas misalnya dalam melakukan penghadangan dan penyanderaan terhadap mobil pengangkut BBM (atau mobil plat merah), pengrusakan rambu-rambu lalu lintas, papan nama instansi pemerintah, perusakan pos polisi, pembakaran ban di tengah jalan (yang menimbulkan kemacetan parah), hingga bentrokan fisik dengan aparat dan masyarakat sekitar (yang tidak suka pada aksi mahasiswa). Sifat semacam ini juga terlihat dalam konflik horizontal di dalam kampus.
Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengatakan, mahasiswa Makassar itu pa’bambangang, yakni ‘cepat panas atau mudah tersinggung’—sehingga mudah pula dikonflikkan.
Pola Gerakan Mahasiswa Makassar
Sifat militan dan radikal Mahasiswa Makassar tidak terlepas dari pandangan ideologis yang kental, nuansa spiritualis yang kuat, nilai budaya yang dianut, serta sisi historisme yang begitu heroik.
1) Dikotomi Ideologis dan Organisatoris
Kata “ideologi” pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Prancis, Destutt de Tracy, pada tahun 1796. Kata ini berasal dari bahasa Prancis: idéologie, yang merupakan gabungan dua kata, yaitu idéo ‘mengacu kepada gagasan’ dan logie
‘mengacu kepada logika dan rasio’. Ideologi selanjutnya
didefenisikan sebagai ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan.2 Inu Kencana Syafiie dan Andi Azikin menjelaskan bahwa ideologi ialah sistem pedoman hidup yang menjadi cita-cita untuk dicapai oleh sebagian besar individu dalam masyarakat yang bersifat khusus, disusun secara sadar oleh para tokoh pemikir negara, dan kemudian menyebarluaskannya secara resmi sebagai dasar negara.3 Dalam sejarahnya, orang Makassar memiliki sesuatu sistem ide dan gagasan tertentu. Hal ini nampak pada orang Makassar yang teguh pendirian. Karakteristik ini pula yang menjadi watak mahasiswa Makassar di dalam pola lakunya sehari-hari.
Ada begitu banyak bentuk ideologi di dunia ini, terdikotomi dalam konteks maupun teks yang saling berbeda satu sama lain. Setidaknya ada tiga ideologi besar yang saling bertarung di dunia, termasuk pula di Indonesia, yakni: (1) ideologi kiri dengan paham sosialis atau pula komunis, (2) ideologi kanan dengan paham liberalis-kapitalisnya, serta (3) ideologi agama. Ideologi yang dianut mahasiswa Makassar, terutama organ-organ pergerakan mahasiswa, demikian beragam. Ada kelompok kiri, penganut paham sosialis, sebut saja Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), Marjinal Community (MALCOM), dan sejenisnya. Ada pula yang nasionalis atau pancasilais, seperti Satuan Pelajar-Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan sejenisnya.
Ada juga yang bernuansa agamais, sebut saja Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan sejenisnya.
Secara organisatoris, mahasiswa Makassar terdikotomi lagi ke dalam bentuk-bentuk kelompok yang lebih minor.
2 http://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi
3 Inu Kencana Syafiie dan Andi Azikin, Perbandingan Pemerintahan (Bandung: Refika Aditama, 2011), halaman 1.
Ada BEM Universitas, BEM Fakultas, lembaga mahasiswa yang ada di tiap-tiap jurusan/program studi, UKM, dan kelompok-kelompok studi. Organ-organ semacam itu disebut pula sebagai organisasi intra-kampus. Ada pula kelompok mahasiswa yang tergabung dalam organisasi yang berlatar etnik kesukuan, atau yang dikenal sebagai organisasi daerah—biasa diistilahkan sebagai Organda.
Beragamnya jenis kelompok atau organisasi mahasiswa di Makassar, di satu sisi merupakan gejala yang positif, sebab hal itu menunjukkan adanya kebebasan berserikat dan berkumpul di kalangan mahasiswa. Namun di sisi yang lain, beragamnya kelompok mahasiswa itu pada faktanya seringkali menimbulkan gesekan (konflik) yang justru mencederai nilai perjuangan mahasiswa. Konflik yang sering muncul dalam konteks perbedaan latar ideologi ataupun organisasional yang dianut ialah perkelahian antar Organda yang sarat nuansa SARA. Pertikaian ini kerap kali bahkan membawa korban jiwa. Hampir semua Organda di Makassar pernah terlibat tawuran dengan Organda lainnya, baik sesama Organda di wilayah Sulawesi Selatan, maupun Organda non-Sulawesi Selatan. Kasus perkelahian Organda yang paling monumental ialah pertikaian berdarah pada bulan April 2010 antara Organda Luwu dengan Organda Bima (NTB), yang memaksa mahasiswa asal Bima diungsikan ke kantor-kantor polisi atau terpaksa mengungsi (mudik) ke Bima untuk menghindari amukan mahasiswa asal Luwu.
2) Dinamika Kelompok Islam
Masyarakat Makassar didominasi oleh orang-orang yang beragama Islam. Latar belakang budaya dan sistem kemasyarakatan begitu identik dengan nilai-nilai religius Islam. Islam telah membantu Kerajaan Gowa menjadi sebuah kerajaan paling kuat di Sulawesi Selatan, bahkan
di Indonesia timur pada sekitar abad ke-17. Beberapa ahli berpendapat bahwa Islam lebih diterima di Gowa karena pedagang Muslim Melayu dan Raja Gowa menganggap misionaris Portugis sebagai ancaman sosial ekonomi.
Sementara itu, Legge berpendapat bahwa dalam perjuangan Kerajaan Gowa menghadapi musuh-musuhnya, Islam dipakai sebagai senjata ideologis yang ampuh, seperti yang terlihat ketika kerajaan ini menghadapi Belanda.4
Islam adalah agama yang menentang sesuatu yang zalim. “Zalim”, dalam ajaran Islam, merupakan lawan dari
“adil”. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin. Secara etimologi, kata “zalim” bisa juga diartikan sebagai suatu sifat yang kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan, kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidakadilan, dan semacamnya. Sifat ini tentu sangat keji dan hina, dan bertentangan dengan akhlak serta fitrah manusia.5 Sifat religius yang anti-kezaliman itu dipegang teguh masyarakat Makassar, termasuk oleh mahasiswa Makassar itu sendiri. Ketika ada kebijakan yang menurut pandangan mahasiswa Makassar bertentangan dengan doktrin religius yang anti-kezaliman itu, maka mereka merasa berkewajiban untuk melawannya.
Sisi spiritualis mahasiswa Makassar sangat nampak pada berkembang pesatnya organisasi atau kelompok mahasiswa yang menganut ideologi Islam, seperti HMI, IMM, PMII, KAMMI, lembaga dakwah kampus, dan kelompok-kelompok studi Islam. Konflik yang bersifat fisik jarang sekali terjadi antara kelompok-kelompok mahasiswa Islam itu. Tetapi gesekan-gesekan ideologis dan politis yang berdimensi wacana, cukup sering terjadi. Kelompok- kelompok tersebut saling mengklaim kebenaran Islam yang mereka anut, sembari beberapa di antara kelompok itu memojokkan bahkan menyalahkan kelompok yang lain.
4 Ibid.
5 http://id.wikipedia.org/wiki/Zalim
Hal ini tentu merupakan benih-benih konflik yang dapat menjadi besar jika tidak dikelola dengan baik. Karakter orang Makassar yang gampang panas alias naik darah, dapat memicu konflik terbuka yang semula hanya berupa konflik wacana tadi.
3) Konsepsi Budaya
Salah satu sistem nilai dan konsepsi budaya orang Makassar, atau masyarakat di Sulawesi Selatan pada umumnya, adalah budaya siri’. Siri’ merupakan unsur kebudayaan ‘yang lama dan asli’, yang seringkali dipercaya sebagai puncak kebudayaan orang Sulawesi Selatan, termasuk orang Makassar. Siri’ secara histori telah mempengaruhi kepribadian, pola pikir, serta tindakan mayoritas masyarakat Sulawesi Selatan. Menjadi suatu rasa malu ketika membiarkan diri ataupun masyarakat diperlakukan sewenang-wenang oleh orang, kekuasaan, atau sistem, tanpa melakukan perlawanan sama sekali.6 Hal inilah yang dahulu kala menjadikan pelecut semangat para pejuang mengusir penjajah di Sulawesi Selatan di masa silam.
Siri’ telah membangun dedemikian rupa karakter atau kepribadian orang Makassar. Dengan Siri’, mereka akan mempertahankan harkat dan martabat dirinya, orang lain, maupun kelompoknya. Jika siri’-nya dilecehkan oleh orang maupun kelompok lain, maka ia akan merasa hina. Menurut teori biologi-evolusi sendiri, manusia secara alamiah akan melawan setiap ancaman yang menyerang kepentingannya.
Ibn Khaldun mengatakan, sudah menjadi watak psikologis manusia yang di dalam sanubarinya terdapat ‘cinta’, baik itu terhadap diri, keluarga, maupun kelompoknya—yang akan membuatnya melawan jika eksistensi ‘cinta’nya itu diganggu.
Budayawan Sulsel, Prof. Mattulada, berpendapat
6 Jumadi, Op. Cit, 2009, halaman 113.
bahwa mempertahankan siri’ atau keteguhan hati dalam kehidupan merupakan suatu perbuatan terpuji. Terdapat pribahasa Makassar yang mengatakan: “Mate’ ri gollai, mate’
risantangi”. Artinya: “apabila meninggal karena siri’, maka matinya merupakan sesuatu yang berguna, layaknya gula dan santan”. Di Sulawesi Selatan, gula dan santan merupakan dua bahan makanan yang paling bermanfaat, utama, dan pasti ada dalam setiap acara atau ritual adat.
Di Balik Tawuran Mahasiswa
Motif di balik konflik/tawuran mahasiswa sangatlah beragam. Pemicu yang nampak di lapangan tak lebih dari sekadar isu lama yang terus terulang. Bagai sebuah kaset usang yang terus berputar, isu tawuran mahasiswa hanya bergradasi seputar permasalahan dendam lama, egosentrisme kelompok, stereotipikal etnis kedaerahan, eskalasi konflik, tekanan psikologis, dan adanya isu politisasi konflik mahasiswa.
1) Dendam Lama
Teori deskriptif historis atau partikularis (historical- descriptive or particularist theory) melihat konflik dan kekerasan dari sumber awal atau asal-usul kejadian hingga hadirnya konflik dan kekerasan yang terus berlangsung sepanjang waktu. Teori ini dapat digunakan dalam melihat dengan seksama masalah dendam lama yang ada di kampus yang melatari tawuran yang tiada hentinya itu. Dari lima kampus yang telah diteliti di Makassar, motif dendam lama ini ternyata begitu dominan di antara motif-motif lainnya. Mahasiswa di kampus UNM, UNHAS, UMI, Univ.
45, dan UNISMUH, ternyata menyimpan histori dendam tersendiri di dalam diri mereka. UNM misalnya, kelompok
mahasiswa FT dan kelompok mahasiswa FBS-FSD hampir tiap tahunnya terlibat pertikaian, bagai sinetron cerita bersambung yang belum menemukan episode akhir.
UNHAS dengan kelompok mahasiswa FT dan kelompok mahasiswa FISIPnya, juga mengalami hal tersebut. Mereka tak pernah akur, dan menamai dendam di antara mereka dengan istilah ‘Black September’. Di UMI dengan kelompok mahasiwa FT dan kelompok MAPALAnya, juga di Univ. 45 dengan kelompok mahasiswa FT dan kelompok MAPALA dan Mahasiswa FH. Di Unismuh pun demikian.
Sebuah survei pernah dilakukan Divisi Penelitian dan Pengembangan LPPM Tabloid Profesi dengan sampel 102 responden mahasiswa UNM. Dari survei itu diperoleh hasil bahwa pemicu konflik/tawuran yang disebabkan karena dendam sebesar 33,30 %, faktor ikut-ikutan sebesar 27,45 %, dorongan teman sebesar 16,67 %, kesengajaan sebesar 15,60
%, dan tidak menjawab sebesar 9,80 %.7 Dari situ nampak bahwa dendam lama telah mengakar dan tertanam kuat di benak masing-masing kelompok yang sering bertikai.
Dendam itu sudah mendarah daging, dan sangat tidak mudah menghapusnya. Penyebabnya antara lain:
a. Komunikasi yang terputus
Peran komunikasi menjadi begitu penting tatkala konflik telah terjadi, apalagi konflik yang telah berubah menjadi suatu bentuk kekerasan. Tertutupnya atau tersumbatnya kran komunikasi di dalam merundingkan
‘gencatan’ tawuran, membuat hal tersebut seperti dibekukan belaka. Para pemimpin dalam tiap-tiap kelompok tidak mampu mengambil langkah tegas sekaligus bijak untuk membicarakan dendam lama yang telah lama terjadi. Andi Bakhtiar dalam sebuah wawancara8 mengungkapkan bahwa:
7 Tabloid kampus Profesi UNM, terbit di Bulan Juni Tahun 2002.
8 Hasil wawancara tanggal 10 Juni 2014, narasumbernya adalah salah
“Ada hal yang keliru dalam penyelesaian masalah tawuran di Teknik (FT) dan Seni (FSD). Sepertinya tidak ada lagi tokoh yang didengar di kalangan mahasiswa UNM. Tidak ada lagi sosok pemimpin yang mampu menjembatani persoalan ini, seakan ada pembiaran, dan memelihara konflik ini terus terjadi.”
Persoalan tertutupnya kran komunikasi ini seringkali dibantah oleh pihak birokrasi fakultas maupun rektorat, sebab mereka acapkali mempertemukan pemimpin- pemimpin lembaga mahasiswa yang terkait dalam masalah tawuran. Biasanya setelah kasus tawuran terjadi, pihak dekanat masing-masing fakultas memanggil ketua BEM maupun perwakilan kelompok yang bertikai. Tapi nyatanya komunikasi tersebut tetap saja menemui jalan buntu, tanpa solusi yang memadai. Akhirnya tawuran mahasiswa pun berlangsung dari waktu ke waktu.
b. Indoktrinasi dari senior
“Musuh kita siapa? Yang keras! “Siapaaa?”
Teriakan semacam itu biasanya hadir dalam pertemuan antara mahasiswa lama (senior) dengan mahasiswa baru (junior) di masing-masing kelompok. Hal ini merupakan bentuk indoktrinasi senior yang kerap digalakkan ketika penerimaan mahasiswa baru. Saya pun pernah mendapatkan doktrin semacam ini ketika mahasiswa baru dulu. Doktrin ini selalu berantai dari angkatan ke angkatan. Naston, seorang alumni UNM, dalam sebuah film dokumenter9
seorang alumni FT UNM angkatan 2006.
9 Sebuah film pendek berjudul Tawuran Antar Mahasiswa, karya Edi Sumardi dan Rio Ahmad. Produksi Kick Start! 2007, a documentary film workshop & production held by In-Docs. Lihat di http://www.
indonesian- filmcenter.com/pages/filmbox/filmbox.php?bid=2386
mengungkapkan:
“…persoalan yang sebetulnya, yang yang yang buruk sebetulnya situasinya karena ada doktrin, waktu saya masuk juga sudah ada doktrin semacam itu, ada doktrin yang negatif dari senior-senior kita bahwa pihak kita dengan pihak mereka itu tidak pernah baku cocok, dan selalu ditanamkan bahwa fakultas sebelah ini adalah musuh, adalah musuh musuh musuh…”
Indoktrinasi semacam itu dilakukan baik secara samar maupun terang-terangan. Pada beberapa tahun terakhir, pihak birokrasi telah mengambil alih prosesi penyambutan mahasiswa baru (Ospek) untuk memotong mata rantai doktrinasi konflik antar fakultas. Namun, langkah birokrasi ini telah memunculkan konflik baru antara mahasiswa (BEM) dengan birokrasi. Pihak BEM merasa bahwa prosesu penerimaan mahasiswa baru (Ospek) merupakan wilayah perannya yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun, termasuk birokrasi kampus.
c. Tawuran di momentum hari peringatan
Tawuran pada ‘momentum hari peringatan’ kerap kita jumpai di kampus-kampus. Di UNM, ada momen peringatan ‘Dendam 17 Mei’, disingkat ‘Dentum’, yang diperingati mahasiswa FT sebagai hari berduka—sebab pada 17 Mei di masa silam, mereka pernah mengalami kejadian yang buruk pada tanggal itu. Di UNHAS ada peringatan
‘Black September’. Momen peringatan di UNM maupun di UNHAS itu menjadi saat-saat tawuran bagi mahasiswa.
Namun belakangan, tawuran mahasiswa di UNM maupun UNHAS tidak lagi mengenal tanggal atau bulan tertentu.
Salah satu alumni mahasiswa UNHAS mengatakan:10
10 http://amiruddinaliah.blogspot.com/p/kuliah-di-medan-perang.html
“…setiap kali usai penerimaan dan penyambutan mahasiswa baru. Istilah Black September ini muncul menyusul peristiwa pembakaran gedung Teknik 1992 silam. Kala itu, Teknik dikeroyok seluruh fakultas.
Saat masuk bulan September, tawuran biasanya akan terjadi berhari-hari. Seolah menjadi bahan latihan dan pengenalan bagi mahasiswa yang masih gundul. Ini juga yang mendorong rektor sempat mengeluarkan keputusan menskorsing mahasiswa yang terlibat tawuran dan melarang ospek dilaksanakan….”
2) Egosentrisme Kelompok
Paham egosentrisme hanya melihat satu sisi, sangat- sangat subjektif, dan berpandangan bahwa hanya kelompoknyalah yang paling benar, paling baik, paling hebat dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya.
Lahirnya pandangan ini salah satunya disebabkan oleh begitu banyaknya kelompok atau organisasi yang ada di dalam kampus. Kehadiran beragam oragnisasi mahasiswa semestinya merupakan suatu fenomena yang positif.
Hanya saja, beberapa di antara organisasi itu melakukan sistem perkaderan yang menjurus pada perilaku kekerasan, baik dalam pembentukan keanggotanya, maupun dalam doktrin-doktrinnya.
Naston mengatakan:11
“…di sisi lain ada juga doktrin yang mengatakan bahwa kita lebih lebih lebih bisa dibanding mereka atau lebih baik dibanding mereka atau lebih unggul dibanding mereka. Doktrin-doktrin itu masih ada sampai sekarang, masih ada sisa-sianya dan itulah yang merusak. Itu terus 11 http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filmbox/filmbox.
php?bid=2386
yang tertanam menjadi sebuah dogma dalam dunia mahasiswa sini dengan mahasiswa sebelah…”
Sikap egosentrisme memang begitu nyata di lapangan, terutama datang dari kelompok mahasiswa FT. Dari penelitian yang saya lakukan, kelompok mahasiswa FT begitu mendominasi konflik/tawuran di lima kampus yang ada di Makassar, baik itu UNM, UNHAS, UMI, Univ. 45, maupun UNISMUH. Dalam suatu kesempatan, medio 2011, aalah seorang mahasiswa FT UNHAS bernama Imam pernah berbicara kepada saya. Ia mengungkapkan bahwa hanya ada tiga fakultas di UNHAS, yaitu Fakultas Teknik, Pascasarjana, dan Fakultas Lain-lain. Walaupun hal tersebut semula nampak sebagai sebuah candaan, namun pada gilirannya akan menjadi sikap yang menguatkan arogansi kelompok. Hal yang sama juga terjadi di UMI. Kamri Ahmad dalam sebuah wawancara12 mengatakan:
“Egoismesentris antar fakultas juga menjadi sebuah masalah di UMI, contoh misalnya FT yang tidak ingin disaingi oleh fakultas lain, sedikit saja ada persinggungan, walaupun permasalahannya tidak prinsipil, kadang itu dibesar-besarkan dengan membawa nama fakultasnya.”
Ada beberapa penyebab lahirnya sikap arogan dalam diri sebuah kelompok, yakni:
a. Wacana Kekuasaan
Wacana kekuasaan bukan lagi merupakan sebuah hal yang tabu di kampus-kampus di Makassar. Di UNHAS, misalnya. Setelah beberapa angkatan mahasiswa FT
12 Hasil wawancara tanggal 13 Juni 2014, narasumbernya adalah salah seorang Dosen Pengajar Sosiologi Hukum di FH UMI.
UNHAS dipindahkan lokasi kuliahnya di kampus UNHAS Gowa, sebuah pertanyaan langsung mencuat di kalangan pelaku konflik di UNHAS: “Siapakah yang bakal menjadi raja baru di kampus UNHAS Tamalanrea?” ‘Raja baru’ yang dimaksud di sini tentu saja adalah fakultas mana yang akan menggantikan posisi Fakultas Teknik dalam ‘menguasai’
UNHAS.
Di Universitas 45 juga muncul pertanyaan: “Siapa yang akan menguasai kampus Univ. 45 setelah kelmpok MAPALA dibubarkan?” HRD dalam sebuah kesempatan wawancara,13 mengatakan:
“Waktuku dulu masih Maba, seringka dengar MAPALA bede mau kuasai kampus. Tidak ada mentong yang berani. UKM yang ada di kampus nasapurata semua.
Makanya tidak senangki kalau ada kelompok kuat naliat. Pernah juga itu naganggui anak Teknik main bola, napatah-patah itu semua gawang. Kenapa anak MAPALA itu serangki anak Teknik, karena na anggapki anak Teknik itu ancaman di 45 waktu itu. Nah, waktu dibubarkanmi itu MAPALA, anak Teknik mi sede lagi yang mau berkuasa. Naserang itu anak Hukum, karena anak Teknik merasa anak Hukum mengancam kekuasaannya di kampus.”
b. Eksistensi kelompok
Meminjam Ibnu Khaldun, cinta (secara berlebihan terdapat identitas kelompok) yang ada dalam diri manusia dapat memicu sebuah konflik yang besar. Menurutnya, manusia secara fitrah telah dianugerahi rasa cinta terhadap keturunan dan golongannya. Rasa cinta ini menimbulkan perasaan senasib dan sepenanggungan serta harga diri
13 Hasil wawancara tanggal 20 Juli 2014. Narasumbernya adalah salah seorang alumni FH Univ. 45 angkatan 2004, identitasnya disamarkan.
kelompok, kesetiaan, kerja sama, dan saling membantu dalam menghadapi musibah atau ancaman yang pada akhirnya akan membentuk kesatuan dan persatuan kelompok. Kesatuan dan persatuan kelompok dalam menghadapi musibah atau ancaman akan dilakukan dengan membangun kekuatan secara penuh dan utuh. Hal tersebut dilakukan demi menunjukkan eksistensi kelompok dalam menghadapi persaingan dan persinggungan dengan kelompok-kelompok lain.
Kekuatan yang dimaksudkan dalam konteks konflik di kampus adalah berupa kekuatan verbal dan non verbal, seperti mempertunjukkan aksi saling melontarkan umpatan-umpatan sinis maupun tulisan-tulisan yang berbau provokatif. Mahasiswa juga sering membuat replika patung tiga dimensi yang seakan ingin membuktikan ‘kami’
lebih hebat dari ‘mereka’. Patung semacam ini biasanya marak pada saat penerimaan mahasiswa baru. RA dalam sebuah kesempatan wawancara,14 menyebutkan bahwa:
“Pemicu lainnya yang biasanya juga terjadi dikarenakan coretan dinding yang mengundang aksi anarkisme mahasiswa terhadap mahasiswa lain. Dari coretan dinding tersebut yang menyerang satu kelompok hingga mengakibatkan kelompok lain tercederai sehingga pecahlah tawuran di kampus.”
3) Stereotipikal Etnis Kedaerahan
Gaye Tuchman mengungkapkan bahwa “berita adalah jendela dunia”. Untuk menentukan kualitas sebuah berita, maka gunakanlah ‘jendela’ yang tepat. Jendela yang dimaksudkan di sini adalah pandangan dan perenungan
14 Hasil wawancara tanggal 1 Juli 2014, narasumbernya adalah salah seorang Mahasiswa FKIP UNISMUH angkatan 2010, identitasnya disamarkan.