Bab 4
Tawuran Mahasiswa dan Karakter Orang
Sangat disayangkan karena tawuran mahasiswa yang terjadi di berbagai kampus di Makassar tersebut terus saja berlangsung, tanpa upaya penanggulangan yang efektif untuk menghentikannya. Kekerasan antar mahasiswa tersebut menjadikan kampus yang ada di Makassar tidak aman lagi untuk menimba ilmu. Kekerasan kelompok merupakan sebuah dampak atau akibat dari suatu tindakan kelompok terhadap kelompok lain, yang mengakibatkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Jack D. Douglas dan Frances C. Waksler2, menjelaskan secara luas mengenai kekerasan kolektif yang membedakannya dengan konflik personal, di mana yang melakukan kekerasan adalah segerombolan orang (mob) dan kumpulan orang banyak (crowd) dan dalam pengertian sempitnya dilakukan oleh gang (gangster).
Konflik yang berujung pada tindakan kekerasan dapat dibagi atas dua bentuk, yakni konflik individual dan konflik kelompok/kolektif. Konflik individual sifatnya lebih kepada perkelahian tanding orang per orang, sedangkan konflik kelompok adalah gabungan beberapa orang dalam satu grup melawan grup lain, yang biasa diistilahkan sebagai
‘tawur’ atau bahasa kerennya ‘tawuran’ (lebih jelasnya lihat gambar 2 skema pembagian kekerasan).
Tawur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)3 dimaknai sebagai perkelahian beramai-ramai; perkelahian massal. Dalam situs Wikipedia dikatakan, tawuran merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menyebut suatu tindakan kekerasan yang dilakukan secara berkelompok atau suatu rumpun masyarakat.4 Seto Mulyadi menyebut, tawuran merupakan aksi/tindakan yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang sering terjadi pada masyarakat, seakan-akan tawuran itu sudah menjadi tradisi
2 Thomas Santoso, Op.Cit, 2002, halaman 9.
3 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Offline 1.5 Luar Jaringan (Luring).
4 http://id.wikipedia.org/wiki/Tawuran
atau bahkan budaya masyarakat Indonesia itu sendiri.
Meskipun tawuran itu tidak memberikan keuntungan besar bagi para pelakunya, tetap saja masih banyak orang yang melakukan aksi tawuran di mana-mana.5 Selain kepada mahasiswa, istilah tawuran juga biasanya digunakan dalam perkelahian kelompok antara pelajar (SMP/SMU/SMK) dan warga. Kekerasan biasanya diidentikkan dengan tingkat pendidikan yang rendah, tapi entah mengapa mahasiswa yang notabene merupakan kalangan berpendidikan justru melakukan aksi tawuran, di lingkungan kampus pula. Ada sebuah anekdot yang muncul akibat kerapnya tawuran mahasiswa terjadi di Makassar. Ceritanya: apabila Daeng (tukang) Becak lagi berselisih paham dengan sesamanya Daeng Becak, maka mereka akan langsung ditegur oleh rekannya yang lain dengan berkata “Eh, jang tommo’ko sama seperti mahasiswa’iyya yang suka tawurang” (Eh, kalian jangan meniru-niru mahasiswa yang suka tawuran).
Hal ini menandakan bahwa status orang berpendidikan yang disandang mahasiswa tidak serta-merta berpengaruh dalam tingkah lakunya sehari-hari.
Banyaknya kasus tawuran yang terjadi, baik di kalangan pelajar maupun mahasiswa, menambah daftar persoalan pendidikan yang belum juga terselesaikan dengan baik.
Hal ini merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan, mengingat pendidikan di negeri ini sedang terperosok.
Beberapa lembaga internasional, semisal Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peringkat terendah dalam pencapaian mutu pendidikan.6 Pendidikan merupakan sarana awal dalam memajukan pembangunan di segala bidang. Tanpa pendidikan sebuah bangsa tidak akan pernah mengalami kemajuan. Peradaban lahir dan dapat ditegakkan melalui jalan pendidikan.
Tanpa pendidikan, maka peradaban suatu bangsa pasti
5 http://www.majalahtopik.co.id/readnews.php?id=470 6 http://www.tempo.co/read/news/2013/12/06/173535256/
akan musnah. Pendidikan tinggi merupakan penyedia jasa pendidikan bagi calon-calon pemimpin bangsa. Namun kita begitu miris melihat kaum intelektual muda (baca:
mahasiswa) yang cukup sering terlibat dalam tindakan dan aksi-aksi kekerasan di lingkungan kampus. Meniru kredo Deddy Mizwar: ‘Apa kata dunia?!’ jikalau mahasiswa hanya tahunya tawuran (adu jotos) dalam menyelesaikan persoalan di antara mereka.
Nilai-nilai Budaya Orang Makassar
William Shakespeare mengatakan, ‘what is a name’
(apalah arti sebuah nama), namun hal itu tidak berlaku untuk nama kota Makassar. Makassar adalah kota yang sangat fenomenal dan bersejarah di timur republik ini. Bagi sebagian orang yang mendiami Makassar, nama Makassar merupakan ‘mustika’ yang dulu hilang. Dalam budaya Makassar, nama adalah sesuatu yang penting, bahkan mungkin disakralkan. Seorang yang bernama Baco (nama untuk seorang anak laki-laki), tidak akan pernah berubah menjadi Baso. Begitupun nama untuk Becce (nama untuk seorang anak perempuan) yang tidak akan pernah berubah menjadi Besse. Menurut Amiruddin Maula, hal tersebut tidak dapat dijungkirbalikkan atau disamarkan lewat berbagai bungkusan atau bahkan merk modernis sekalipun.
Itulah mengapa nama Makassar dianggap ‘mustika’ yang bernilai tinggi.7 Nama adalah sebuah nilai yang mengandung muatan filosofis. Bagi orang Islam, nama merupakan do’a.
Soekarno mengatakan, ‘everything is a name’, segalanya mesti dengan nama.
Menurut Maula, dalam konteks Makassar sebagai
7 HB. Amiruddin Maula, Demi Makassar (Makassar: Global Publishing, 2001), halaman 17.
nama komunitas, pengertiannya sangatlah luas. Ia bukan saja memiliki makna historis dan kultural, tapi telah menjadi trade mark dari proses sosial yang dibangun oleh masyarakatnya. Bahkan dalam tataran tertentu menjadi simbol fighting spirit yang mengagumkan. Tatkala terjadi perubahan nama ‘Makassar’ menjadi ‘Ujungpandang’ lewat Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 tahun 1971, banyak kalangan yang terkesima. Mereka menganggap kota ini telah kehilangan ‘mustikanya’. Keputusan tersebut dinilai sebagai pengingkaran sejarah dengan mengatasnamakan pembangunan.8 Pada 17 Juli 1976, tiga orang budayawan (Prof. Dr. Andi Zainal Abidin Faried, Prof. Dr. Mattulada, dan Hamzah Dg. Mangemba) mendesak pemerintah melalui sebuah petisi agar nama Ujungpandang diganti kembali menjadi Makassar, namun hal itu barulah terwujud pada 13 Oktober 1999, setelah masa Orde Baru berakhir dengan keluarnya PP No. 86 tahun 1999 yang ditandatangani oleh Presiden B.J. Habibie.
Asal usul dari kata Makassar berasal dari 2 (dua) sumber yang berbeda secara historis. Menurut Abu Hamid (1981) dan Mattulada (1982), kata ‘Makassar’ pertama kali tercatat dalam manuskrip Negarakertagama. Manuskrip tersebut merupakan sebuah karya agung yang di tulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1364, yang konon pada waktu itu merupakan masa kejayaan Majapahit. Prapanca menulis, “Muwah tanah I Bantayan pramuka Bantayan len Luwuk, tentang Udamakatrayadhi nikanang sanusaspulul, Ikangsaka- sanusanusa Makasar Butun Banggawi, Kuni Craliyao mwangi (ng) Selaya Sumba Soto Muar”. Artinya, seluruh Sulawesi menjadi daerah ke VI Kerajaan Majapahit, yaitu Bantayan (Bantaeng), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Talaud), Makasar (Makassar), Butun, Banggawai (Banggai), Kunir (P. Kunyit), Selaya (Selayar), Solot (Solor) dan seterusnya.9 Dalam Negarakertagama disebutkan ada
8 Ibid. halaman 18.
9 Ibid. halaman 20.
tiga makna Makassar, yakni: (a) sebagai kelompok suku yang mempunyai kebudayaan sendiri, yang orang-orangnya tinggal di semenanjung Sulawesi bagian selatan; (b) untuk menunjuk nama Kerajaan Gowa dan Tallo yang cukup kuat di Sulawesi Selatan (Indonesia Timur) sejak abad-14 sampai abad-17, dan (c) Pelabuhan Makassar adalah pusat perdagangan yang ramai, yang bahkan semakin berkembang pesat setelah Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511.10
Andi Zainal Abidin (1983) mengemukakan bahwa kelompok Suku Makassar sudah ada sebelum Kota Makassar berdiri. Kerajaan kembar Gowa dan Tallo sudah berdiri jauh sebelum Negarakertagama menyebutnya.11 Dalam sejarahnya, orang Makassar dikenal sebagai pelaut, hal itu biasanya dikemukakan oleh kalangan suku-suku lainnya yang ada di kepulauan Indonesia. Menurut Jawahir Thontowi, jiwa pelaut orang Makassar memudahkan mereka berkomunikasi dengan berbagai kelompok suku di seluruh Nusantara, dan bahkan dengan negara-negara asing seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, dan Belanda.12 Itulah mengapa dahulu pelabuhan Makassar sempat menjadi pelabuhan tersibuk di timur Nusantara, terutama dalam hal lalu-lintas perekonomian.
Selain suku Makassar yang dikenal sebagai pelaut, secara kultural mereka juga ditengarai memiliki watak kepribadian yang berbeda dengan beberapa suku yang ada di Indonesia.
Stavorinus (1969) yang mengunjungi Makassar pada tahun 1775 mengemukakan bahwa orang Makassar tidak begitu tampan, tetapi lebih jantan, mempunyai penampilan layaknya prajurit perang; mereka juga mempunyai
10 Jawahir Thontowi, Hukum, Kekerasan dan Kearifan Lokal Penyelesaian Sengketa di Sulawesi Selatan (Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2007), halaman 5.
11 Ibid. halaman 6.
12 Ibid. halaman 5-6.
keberanian lebih besar, dan sangat memusuhi pengkhianat.13 Budaya siri’ biasanya menjadi penentu dan pembeda antara suku Makassar dengan beberapa suku lainnya yang ada di Nusantara. Apabila ditinjau lebih mendalam, terutama dari segi pranata sosial, dari nilai siri’ menjadi sangat penting dalam mempengaruhi sikap dan perilaku orang- orang Makassar. siri’ merupakan suatu unsur kebudayaan
‘yang lama dan asli’, di mana dimaknai sebagai puncak kebudayaan orang-orang Makassar dan beberapa suku yang ada di Sulawesi Selatan, seperti Bugis, Mandar, dan Toraja.
Menurut Abu Hamid, siri’ sesungguhnya bukanlah suatu pandangan hidup, melainkan stabilisator pandangan hidup yang senantiasa menginginkan harmonisasi sistem di dalam berbagai macam interaksi.14 Kata Hamid lagi, pola budaya secara umum, seperti: budaya rasa bersalah (guilt-culture), budaya rasa malu (shame-culture), dan budaya takut akhir (fearand-culture), akan mendorong seseorang untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Khusus mengenai budaya rasa malu (shame- culture), budaya ini terbilang amatlah menonjol bagi empat suku bangsa yang mendiami Sulawesi Selatan.15 Menurut Mattulada, ukuran nilai aktual yang dipandang sepadan dengan harga diri adalah kelayakan dalam kehidupan sebagai manusia yang diakui dan diperlakukan sama oleh setiap orang terhadap sesamanya. Orang yang tidak memperoleh perlakuan yang layak dari sesamanya itu akan merasa harga dirinya terlanggar. Dalam tradisi Makassar, orang yang diperlakukan tidak layak itu dapat berkata:
napakasiri’ka’ (saya dipermalukannya). Itulah mengapa siri’
13 Ibid. halaman 7.
14 Lihat lebih lanjut dalam pengantar Abu Hamid, sebuah catatan yang memuat perihal “Siri’ Butuh Revitalisasi”, sebuah kumpulan tulisan para budayawan Sulsel mengenai Siri’ dan Pesse’ sebagai Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja di Sulawesi Selatan.
15 Abu Hamid, Siri’ dan Etos Kerja, Siri’ dan Pesse’; Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja (Makassar: Pustaka Refleksi, 2005), halaman 5.
dipandang sebagai harga diri (dignity).16
Nilai siri’ menjadi sangat penting dalam membangun karakter pribadi orang Makassar. Dengan siri’, mereka akan mempertahankan harkat dan martabat dirinya, orang lain, maupun kelompoknya, yang dirasakan telah direnggut oleh orang lain maupun kelompok yang lain, hingga membuat dirinya maupun kelompoknya malu dan merasa hina. Itulah mengapa Mattulada berkesimpulan bahwa mempertahankan siri’ atau keteguhan hati dalam kehidupan masyarakat adalah termasuk perbuatan terpuji. Seseorang yang melanggar siri’ harus membayarnya dengan nyawa, yang dalam tradisi Makassar disebut “tu mate-nisantangi”17.
Pandangan out-group tidak jarang memberikan stigmatisasi, bahwa orang Makassar adalah orang yang
‘kasar’. Saya pun pernah merasakan hal tersebut—walaupun bukan dari suku Makassar, tapi pernah bermukim di Makassar—selama saya menimba ilmu di Pulau Jawa.
Kerap kali di awal interaksi personal (perkenalan), terlontar pertanyaan: “Apakah orang Makassar itu kasar?” Asumsi tersebut bisa jadi benar, juga bisa salah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan beberapa pakar, sebagaimana dalam Acciaioli (1989)18, tercatat bahwa masyarakat Sulawesi Selatan berperangai keras, mudah tersinggung, dan karenanya cepat marah. Juga didapati bahwa anggota masyarakat ini sangat arogan, dan terlalu percaya pada takhayul, serta sangat sulit untuk memaafkan. Pada saat yang sama mereka pemberani, ambisius, tamak pada uang, suka berkelahi, dan pada umumnya sangat ingin tahu.
Pandangan berbeda diungkapkan Maula yang berpendapat bahwa selain mereka pemberani, mereka
16 Mattulada, Siri’ dalam Masyarakat Makassar; Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja (Makassar: Pustaka Refleksi, 2005), hala- man 69.
17 Dalam pribahasa lengkapnya dikatakan “Mate’ ri gollai, mate’ risantangi”.
18 Jawahir Thontowi, Op. Cit, 2007.
juga senang dengan tantangan. Bahkan bila perlu mereka selalu membuat tantangan (challenge) dalam kehidupannya, dengan kesadaran bahwa melalui tantangan, peluang untuk mempertinggi kualitas kehidupan akan terbuka lebar.
Kata Maula lagi, keberanian itu kemudian mengental dan secara psikologis membentuk karakter yang khas, bahkan terjabarkan pula dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis pada kondisi yang riskan. Keberanian menghadapi tantangan terjewantah dalam keberanian menghadapi resiko atas keputusan yang diambil.19
Terdapat sebuah bait yang telah menjadi prinsip hidup dan spirit budaya bagi orang Makassar, sebagai berikut:
Takunjunga bangun turu’
Nakuginciri’ gulingku Kualleangi tallanga natoalia (Aku akan berlayar bersama angin Aku tidak akan mengubah arahku
Aku tidak akan kembali, lebih baik aku tenggelam) Sepenggal bait tersebut bermakna bahwa ketika kita mempunyai suatu tujuan, maka berusahalah untuk mewujudkan tujuan tersebut! Bagi Maula, ungkapan ini menggambarkan watak dasar masyarakat Makassar. Watak yang selalu mengidamkan kemajuan, kebersamaan, dan keteguhan prinsip dalam mempertahankan harga diri.
Termasuk, sikap tidak rela disepelekan oleh siapapun, kapanpun di manapun dan atas dalih apapun.20 Hal tersebut bisa berkonotasi ganda, ibarat dua sisi mata pisau yang bisa memotong dan juga bisa untuk melukai, maknanya bisa jadi positif namun juga bisa negatif. Positifnya tatkala itu dijadikan sebuah spirit untuk melakukan suatu perubahan,
19 HB. Amiruddin Maula, Op.Cit, 2001, halaman 153-154.
20 Ibid. halaman 37.
dan berkonotasi negatif ketika dalam melakukan perubahan tersebut menghalalkan segala cara yang tidak lagi dilandasi nilai dan moral.
Di balik semua kepribadian yang telah disebutkan, ada satu sikap yang sangat dibenci orang Makassar (juga suku-suku lain di Sulsel), yakni ‘pengkhianatan’. Menurut Maula, sikap tersebut bertentangan secara diametral dengan karakter dasar orang-orang Makassar. Lantaran hal tersebut, orang Makassar sebenarnya sangat mengasyikkan diajak bergaul dan dijadikan teman sejati. Mereka selalu menjunjung tinggi perasaan selapik seketiduran, senasib sepenanggunan. Solidaritasnya kental dan siap menumbalkan apapun yang dimiliki demi loyalitas dan persahabatan.21 Dengan budaya yang telah melekat di dalam sanubarinya, menjadikan orang Makassar begitu kuat, tidak mudah menyerah, jujur, dan sangat tidak mudah untuk tunduk dan patuh dalam berbagai hal.
Orang Makassar pada umumnya menganut agama Islam. Tersebarnya Islam di tanah Makassar tidak terlepas dari upaya islamisasi yang dilakukan Kerajaan Gowa , yang merupakan kerajaan Islam paling kuat di Sulawesi Selatan (juga di Indonesia timur) pada eranya. Zainal Abidin menduga bahwa Islam datang di Sulawesi paling tidak 120 tahun sebelum kerajaan Gowa secara resmi menjadi Islam.22 Menurut Noorduyn (1972), dalam Jawahir Thontowi, orang-orang di Sulawesi telah berhubungan dengan Islam, meskipun beberapa penduduk Sippa dan Siang, yang terletak di utara Makassar, sebelumnya beragama Katholik.
Pada mulanya penyebaran Islam di Sulawesi Selatan berjalan lambat, tetapi kemudian berkembang dengan pesat. Tidak lama kemudian Islam menjadi agama dominan, kecuali suku Toraja, Mamuju, Rongkong, dan Galumpang.23 Menurut
21 HB. Amiruddin Maula, Op.Cit, 2001, halaman 155.
22 Zainal Abidin, Persepsi Orang Bugis, Makassar Tentang Hukum Negara dan Dunia Luar (Bandung: Alumni Press, 1983), halaman 178.
23 Jawahir Thontowi, Op.Cit, 2007, halaman 20.
Noorduyn, raja Gowa dan Tallo menerima Islam secara sukarela. Para pedagang Muslim Melayu dan raja Gowa mungkin juga mempunyai maksud tersembunyi. Mungkin saja raja Gowa melihat bahwa pedagang-pedagang Melayu berguna bagi kerajaan dari segi ekonomi dan politik.
Kenyataannya, mereka pada akhirnya ingin membangun Makassar sebagai zona ekonomi di Indonesia timur untuk melemahkan kekuatan pedagang-pedagang Portugis dan Eropa.24
Makassar sendiri dijuluki sebagai ‘Serambi Madinah’, sementara Aceh yang dijuluki sebagai ‘Serambi Makkah’.
Serambi Madinah menjadikan Makassar dan sebagian daerah Sulawesi Selatan lainnya sebagai pusat peradaban Islam di Indonesia timur. Maka tertanamlah sebuah prinsip yang kuat akan pendirian hidup, juga sikap berani dan teguh, seiring dengan ajaran Islam yang dianut masyarakat Makassar. Ajaran Islam-lah pula yang kemudian berpengaruh besar dalam membentuk watak dan karakter dalam diri orang Makassar. []
24 Ibid. halaman 25.
Bab 5