Bab 5
Rentetan Peritiwa Tawuran
dan tidak pro-rakyat. Gerakan mahasiswa tersebut seringkali membuat pemerintah merasa terganggu dan menimbulkan suasana ‘tidak nyaman’ dalam menjalankan roda pemerintahan. Dari situ kemudian pemerintah kerap mencetuskan kebijakan untuk membungkam gerakan mahasiswa. Pemerintah melakukan intervensi langsung ke kampus-kampus untuk menjinakkan mahasiswa. Di era Orde Baru, pemerintahan mengeluarkan kebijakan seperti NKK/BKK, SMPT dan sebagainya, untuk menetralisir kampus dari sikap kritis mahasiswa.
Upaya pemuda, pelajar dan mahasiswa dalam melakukan gerakan menentang kebijakan pemerintah yang sewenang- wenang, merupakan suatu bentuk perjuangan nilai.
Mahasiswa senantiasa peka dengan kondisi yang dialami masyarakat. Mahasiswa terus menggelorakan keadilan dan kesejahteraan rakyat, pemerintahan yang bersih, dan tegaknya kebebasan dan demokrasi. Gerakan mahasiswa umumnya ditunjukkan melalui aksi-aksi demonstrasi.
Aksi demonstrasi mahasiswa selalu berjalan dinamis, dan nampak pula berlangsung secara pasang surut. Meminjam pendapat Arief Budiman,1 demonstrasi yang gagal efeknya akan berbalik kepada diri mahasiswa itu sendiri. Kalau ia berhasil dalam tuntutan yang menguntungkan rakyat, maka mahasiswa akan menjadi pahlawan, tapi kalau gagal maka mereka dicap sebagai pengacau.
Salah satu perjuangan mahasiswa yang monumental adalah peristiwa tumbangnya rezim Orde Baru pada Mei 1998. Mahasiswa berhasil mendesakkan dilakukannya reformasi politik, yang membuat Soeharto terpaksa harus turun dari jabatannya sebagai presiden yang ia jabat selama 32 tahun. Era pasca-Orde Baru kemudian dikenal sebagai era Reformasi. Beberapa waktu setelah reformasi berlangsung, terjadi gejolak di sejumlah daerah, yang bentuknya berupa
1 Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan; Kumpulan Tulisan 1965-2005 (Jakarta: Pustaka Alvabet dan Freedom Institute, 2006), halaman 7.
konflik horizontal antar warga masyarakat. Isu-isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) menjadi sebab- musabab konflik-konflik tersebut. Butuh waktu lama bagi pemerintahan yang baru pasca-Soeharto untuk mengatasi hal ini.
Hugh Miall, dalam Bambang W. Soeharto, menjelaskan bahwa konflik kontemporer telah mengalami pergeseran.
Pada era perang dingin, konflik yang terjadi adalah konflik antar negara, namun dewasa ini yang terjadi adalah konflik internal di sebuah negara.2 Belum adanya kesiapan dan mental yang kuat dalam mengelola konflik di masyarakat juga membuat masa transisi politik dari Orba ke Reformasi menjadi kacau-balau. Selain itu, jumlah konflik dan kekerasan juga mengalami peningkatan. Menurut data yang dirilis United Nation Development Program (UNDP), tahun 1998 merupakan periode awal terjadinya peningkatan berbagai bentuk kekerasan yang bersifat komunal di Indonesia. Identifikasi dari hasil studi tindakan kekerasan komunal tersebut menggambarkan bahwa 76,9 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh kekerasan komunal, dan 22,1 persen akibat kekerasan separatis.3
Konflik horizontal antar masyarakat seringkali memang sangat sulit diatasi. Penyebabnya adalah kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang kompleks dan saling berkelindan. Di Indonesia, konflik horizontal itu seringkali justru melibatkan mahasiswa, seperti yang sering berlangsung di kota/daerah seperti Medan, Jakarta, Makassar, Kendari, Mataram, Ambon, dan sebagainya. Memang sangat miris dan ironis, kampus yang semestinya mendidik mahasiswa menjadi manusia yang rasional, berakal sehat, bermoral/beretika, justru malah mempertunjukkan perilaku kekerasan semacam tawuran.
Lihat saja perkelahian antara ratusan mahasiswa Universitas Bung Karno dan Universitas Kristen Indonesia di Jakarta
2 Bambang W. Soeharto, Op. Cit, 2013, halaman 10.
3 Jumadi, Op. Cit, 2009, halaman 2.
pada bulan september tahun 2000. Begitu pula tawuran di kawasan Babarsari, Yogyakarta pada bulan agustus 2003.
Kemudian, mahasiswa Politeknik dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, Sumatra Barat. Juga di Pontianak, Kalimantan Barat, tawuran antara mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjung Pura.
Dari sekian kota/daerah yang para mahasiswanya kerap terlibat tawuran, maka tawuran yang paling panas dan mengerikan adalah yang terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Mahasiswa Makassar bahkan sudah sangat tersohor dan identik dengan tawuran, selain demonstrasi-anarkistik.
Sebuah penelitian yang dilakukan Jumadi menunjukkan bahwa tawuran di Makassar setidaknya telah berlangsung sejak tahun 1992. Penelitian itu menunjukkan bahwa sebagian besar kampus di Makassar, baik kampus negeri maupun swasta, mahasiswanya pernah terlibat dalam aksi tawuran mahasiswa. Dalam dua dekade terakhir ketika buku ini ditulis, konflik/tawuran di kalangan mahasiswa Makassar ternyata mengalami peningkatan.
Sejak zaman dahulu, mahasiswa memang kerap terlibat konflik, utamanya dengan pihak eksternal, terutama pemerintahan yang otoriter dan korup. Tapi pasca-Orba, konflik yang melibatkan mahasiswa berlangsung secara internal, yakni di antara sesama mahasiswa, baik antar jurusan, antar fakultas, antar kampus, antar organisasi, maupun antar asal daerah. Secara umum, konflik di Tanah Air memang bergeser dari konflik vertikal ke konflik horizontal.
Konflik horizontal itu misalnya terlihat pada pertikaian skala besar di Ambon, Poso, Sampit, dan beberapa daerah yang lain. Menurut Bambang W. Soeharto, hal tersebut terjadi akibat hancurnya mekanisme tradisional yang harusnya menjadi pemersatu dan menjembatani perbedaan kelas dan komunitas yang telah mengalami degradasi fungsional.
Bambang membagi konflik sosial di Indonesia pasca-
Reformasi ke dalam empat bagian, yaitu:4 (a) Konflik sosial laten berdimensi politik dan etnisitas. Contohnya, konflik yang terjadi di Aceh, Papua, Maluku, Kalimantan Barat, dan Poso; (b) Konflik pertambangan. Contohnya, konflik- konflik yang terjadi di wilayah pertambangan seperti di Freeport, Papua.; (c) Konflik pertanahan dan sengketa wilayah. Contohnya, konflik yang terjadi di seluruh wilayah pertanahan, yang muatan konfliknya berisi sengketa tanah dan wilayah; dan (d) Konflik sosial minor-rural dan urban.
Contohnya, konflik/tawuran antar pelajar dan mahasiswa, bentrokan antar kampung/warga, perang tradisional antar suku, kekerasan antar geng, dan bentrokan antar aparat TNI dan Polri.
Secara umum, konflik telah melebar hingga pada permasalahan sosial minor atau kecil. Tumbuhnya dikotomi dalam wacana kelompok kecil menjadi sebuah permasalahan baru di tengah pusaran konflik besar yang terjadi pasca-Reformasi. Konflik antar mahasiswa juga merupakan fenomena baru yang sebelumnya tidak cukup bergaung di masa-masa Orde Lama hingga Orde Baru.
Tawuran antar mahasiswa itu memperlihatkan betapa mahasiswa mengkhianati gerakan moral yang ia usung sendiri, sebab pada saat yang sama ia justru melakukan tindak kekerasan dan anarkisme yang tentu saja membawa dampak buruk, alih-alih mendatangkan kebaikan bagi rakyat. Tawuran yang dilakukan mahasiswa itu sama sekali tidak mencerminkan adanya nilai perjuangan kerakyatan di dalamnya, melainkan merupakan suatu criminal action.
Watak dan perilaku mahasiswa, termasuk yang melibatkan kekerasan di dalamnya, sesungguhnya tidak lepas dari betapa berdinamikanya kalangan mahasiswa ini.
Usia mereka yang masih belia, dengan emosi yang belum terkontrol dengan baik, membuat kalangan mahasiswa kadang-kadang liar dan kekanak-kanakan. Dalam gerakan politiknya, kita juga kadang menjumpai mahasiswa yang
4 Bambang W. Soeharto, Op. Cit, 2013, halaman 226-227.
begitu meletup-letup tapi kurang memiliki sistem penjelas yang kuat dan sahih. Dinamika politik-ideologi mahaiswa yang demikian beraneka ragam, misalnya, dapat kita jumpai pada gerakan 1998, di mana terlihat bahwa kelompok mahasiswa terbagi ke dalam tiga poros kekuatan besar, yakni kelompok kiri-revolusioner, kelompok moderat, dan kelompok kanan konservatif. Dinamika kelompok pergerakan di masa lengsernya Presiden Soeharto tersebut sesungguhnya menjadi sebuah warna tersendiri dalam pergerakan mahasiswa. Mereka cenderung berbeda dalam menyikapi masa pemerintahan Presiden Habibie.
Kelompok mahasiswa kiri memandang perlunya sebuah pemerintahan baru revolusioner yang bersifat sosialistik.
Kelompok moderat memandang perlunya suatu jalan tengah yang berlangsung secara damai dan non-radikal (tidak ekstrim). Sementara, kelompok kanan, yang notabene berasal dari kalangan mahasiswa Islam konservatif, mendukung Presiden Habibie secara membabi-buta, sebab Habibie dipandang mewakili kepentingan Islam. Dinamika kelompok mahasiswa di masa-masa awal Reformasi, tidak hanya berlangsung di Jakarta, Bandung, atau Jogja, tetapi juga di kalangan gerakan mahasiswa di Makassar. Di Makassar, gerakan mahasiswa juga menggunakan pola yang beragam, mulai dari yang paling lembut (soft level) sampai pada yang paling keras (hard level).5 Bentuk gerakannya antara lain: dialog terbuka, penyampaian pernyataan sikap, aksi unjuk rasa turun ke jalan, mimbar bebas, aksi pemogokan, sabotase, hingga blokade jalan-jalan protokol.
Pergerakan mahasiswa Makassar yang bersifat sosial politik telah berlangsung sangat lama. Salah satu yang paling fenomenal adalah aksi penolakan naiknya tarif angkutan
5 Kusumandita Gilar Prawista, Gerakan Mahasiswa Makassar; Studi Ka- sus Mengenai Karakteristik Gerakan Mahasiswa dan Perilaku Kekerasan dalam Unjuk Rasa di UNHAS Kota Makassar, Skripsi Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2011, halaman 43.
kota, yang berlangsung pada bulan April 1996. Mahasiswa memberikan deadline 3 x 24 jam kepada pemerintah waktu itu untuk segera menurunkan kembali tarif angkutan, namun keputusan yang dinanti-nanti tak kunjung tiba. Pemerintah justru bertindak represif. Aparat keamanan masuk ke dalam kampus UMI sambil membawa tank. Akibatnya, tiga mahasiswa UMI tewas dalam bentrok antara aparat dengan mahasiswa di kampus UMI. Peristiwa tersebut dikenang sebagai ‘April Makassar Berdarah (AMARAH)’.
Setelah Presiden Soeharto lengser dan digantikan dengan Presiden BJ. Habibie, aksi Mahasiswa Makassar tetap marak, bahkan kian marak. Hal itu berlanjut hingga masa- masa pemerintahan berikutnya. Mahasiswa tetap kukuh menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah.
Sikap radikal mahasiswa Makassar dalam menyikapi kebijakan pemerintah, karap mendapat pengakuan dari kalangan mahasiswa luar Makassar. Dalam sebuah pertemuan mahasiswa, aktivis mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bahkan menyebut mahasiswa Makassar sebagai “saudara tua”, yang sedikit banyak mengilhami gerak dan aksi mahasiswa di pulau Jawa belakangan ini.6 Terlepas dari citra buruk mahasiswa Makassar, namun di kalangan sesama aktivis mahasiswa, apa yang dilakukan mahasiswa Makassar dalam gerakan sosial-politiknya justru menuai pujian. Hal itu semakin menunjukkan eksistensi dan menguatkan identitas kejati-dirian mahasiswa Makassar.
Gerakan mahasiswa Makassar dipandang lebih kritis dibanding mahasiswa di daerah lain. Puncak dari perilaku soft and hard level yang dilakukan mahasiswa Makassar dapat dilihat pada gerakan beras-besaran yang membawa isu ‘Gerakan Sulawesi Merdeka (GSM)’. GSM seyogyanya ingin menunjukkan secara nyata ‘eksistensi’ pergerakan kemahasiswaan yang ada di Makassar, baik dari segi spirit
6 Penyematan istilah “saudara tua” diungkapkan oleh Pejabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI periode kepengurusan di tahun 2004-2005. Jumadi, Op. Cit, 2009, halaman 109-110.
dan kemauan, maupun dari segi ideologi yang mereka pahami.
Bersikap kritis itu tentu saja baik dan perlu, namun patut diwaspadai adanya pihak-pihak jahat yang hendak memanfaatkan sikap kritis mahasiswa Makassar itu untuk justru menciptakan caos, kekerasan, atau anarkisme. Pada kenyataannya kita melihat betapa mudahnya tersulut konflik antar sesama mahasiswa di Makassar. Beberapa pihak mencurigai bahwa konflik antar mahasiswa Makassar itu bersifat by design (direncanakan), sekadar untuk membuat “Makassar rusuh”.7 Beberapa Rektor di Makassar pun berasumsi demikian dalam melihat fenomena tawuran/
konflik mahasiswa beberapa tahun belakangan ini. Rektor UMI, Prof. Dr. Masrurah Mukhtar, misalnya mengatakan, ada yang ingin situasi Makassar tidak kondusif dan citranya negatif di luar. Rektor UNISMUH Makassar, Dr. Irwan Akib, mencurigai adanya pihak-pihak yang ingin membenturkan mahasiswa di beberapa kampus terutama di Makassar untuk sekadar menimbulkan rasa tidak aman.
Makassar sendiri sudah tersohor dengan predikat sebagai kota yang rusuh. Tengoklah, di mana-mana meletus konflik yang melibatkan mahasiswa, aparat keamanan, pelajar, dan kelompok-kelompok warga. Berita tawuran antar kelompok di Makassar nyaris kita saksikan tiap pekan di layar kaca. Rangkaian berita dan peristiwa itu membuat Makassar seperti kota yang sangat tidak nyaman untuk dihuni, sebab warganya setiap saat dihantui oleh tindak kekerasan. Khusus untuk konflik sesama kelompok mahasiswa, saya telah membuat rangkuman dalam satu dekade terakhir (2003-2013). Rangkuman penelitian tersebut melanjutkan penelitian yang telah dilakukan oleh Jumadi (dalam kurun tahun 1990-2008). Menurut Jumadi, konflik mahasiswa yang berujung pada tindakan kekerasan di Makassar mengalami peningkatan, terutama
7 Koran Seputar Indonesia (Sindo), Forum Rektor: Ada yang Ingin Kampus di Makassar Rusuh, Edisi Minggu, 1 Desember 2013.
memasuki tahun 1997 hingga tahun 2008.8 Di lapangan juga saya menemukan kian parahkan konflik antar mahasiswa, contohnya, tawuran di UNM pada tahun 2012 yang berakhir dengan kasus penikaman dua orang mahasiswa FT UNM.
Pada tahun 2013 terjadi pula kasus penikaman terhadap salah seorang mahasiswa dari FH UMI karena rangkaian tawuran.
Kompleksitas konflik merupakan suatu masalah tersendiri di Makassar. Untuk melakukan penanggulangan, dibutuhkan sebuah upaya luar biasa dari berbagai elemen.
Sebelum itu, ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui kelompok mana saja yang sering terlibat tawuran. Intensitas konflik/tawuran mahasiswa tahun 2003-2013, tertinggi ada di kampus UNM dengan 22 kasus. Konflik di UNM kerap melibatkan dua kubu yang tidak pernah akur, yakni mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra plus Fakultas Seni dan Desain (FBS + FSD). Kedua kubu ini hampir tiap tahunnya terlibat tawuran, seperti sebuah cerita bersambung dalam sinetron-sinetron yang terus berulang. Di UNHAS, angkanya mencapai 14 kasus, yang menjadikan kampus ini sebagai kampus dengan tawuran terbanyak kedua setelah UNM. Konflik di UNHAS berupa tawuran yang kerap melibatkan mahasiswa FT dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Konflik di UNHAS merupakan konflik lama (sejak tahun 1992) yang telah mengakar di kalangan kedua kubu. Di UMI, intensitas konflik/tawuran agak lebih rendah dibandingkan UNM dan UNHAS. Konflik di UMI tercatat sebanyak 8 kasus. Meski demikian, yang harus menjadi perhatian adalah bahwa konflik/tawuran mahasiswa di UMI kerap kali menelan korban jiwa. Tawuran di UMI biasanya melibatkan mahasiswa FT dan kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UMI. Sementara di Universitas 45, tawuran biasanya melibatkan mahasiswa FT, MAPALA 45, dan Fakultas Hukum (FH). Adapun di UNISMUH, tawuran
8 Jumadi, Op. Cit, 2009, halaman 57.
kerap berlangsung antara mahasiswa FT dan mahasiswa fakultas lain. Seringkali pula konflik di UNISMUH berlatar belakang konflik antar etnis/daerah tertentu.
Nama Perguruan Tinggi di Makassar Kasus Tawuran (Tahun 2003-2013) 1. Universitas Negeri Makassar (UNM)
2. Universitas Hasanuddin (UNHAS) 3. Universitas Muslim Indonesia (UMI) 4. Universitas 45 Makassar (Univ. 45) 5. Universitas Muhammadiyah Makassar
(UNISMUH)
22 14 8 5 5
Jumlah Kasus 54
Tabel 4. Jumlah Kasus Tawuran Mahasiswa di 5 Kampus Makassar (Tahun 2003-2013)
Berikut ini saya akan mencoba menguraikan secara detail dan menjelaskan kasus tersebut satu per satu dalam bentuk rangkuman tabel. Hal ini berguna untuk mengamati dan mengetahui intensitas konflik yang terjadi di Makassar selama sepuluh tahun (2003-2013). Isi tabel ini merupakan kumpulan dari berbagai referensi yang tersebar, baik dari buku cetak, sumber dari internet, surat kabar, hingga hasil wawancara dengan beberapa narasumber yang mengetahui langsung kejadian tawuran di lapangan.9
9 Sumber Rujukan:
a. Buku cetak hasil penelitian Jumadi, namun yang dikutip hanya dari tahun 2003-2008. Ibid, 2009, halaman 167-170. Ditambah hasil disertasi Mustafa yang belum diterbitkan, terkhusus masalah aktor dan sistem di UNM. Mustafa, Loc. Cit, 2013, halaman 107-109.
b. Pencarian berita di media sosial berupa artikel-artikel on-line dan liputan video tawuran. Ditelusuri sejak bulan Mei-Juli 2014.
c. Data lapangan berupa wawancara dengan beberapa narasum- ber seperti mahasiswa dan dosen di lima kampus Kota Makassar (UNHAS, UMI, 45, UNM dan UNISMUH).
No Waktu Tawu-
ran
Lokasi Tawuran
Kelom- Tawuranpok
Faktor Pemicu
Tawuran Dampak Tawuran 1. 26 Feb
2003
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD a)
Pemalakan yang dilaku- kan oleh pria bertopeng (mengaku mahasiswa FT) terhadap beberapa mahasiswa FBS-FSD
- 7 orang maha- siswa terluka parah akibat ter- kena busurb) dan lemparan batu - 1 ruang kuliah
dan ruang kantor Senat FT dirusak
2. 26 Mar 2003
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Balasan atas aksi tawuran sebelumnya, di mana kelompok mahasiswa FT menyerang mahasiswa FBS-FSD
- 1 mobil dan 2 motor dibakar - Kaca kantor
FBS-FSD dihan- curkan - Sekretariat
Mapala Maestro ikut dibakar - Puluhan maha-
siswa terluka akibat lemparan - batu13 orang maha-
siswa diamank- an oleh pihak keamanan 3. 4 Apr
2003
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Balasan atas aksi tawuran sebelumnya, namun dalam hal ini ada oknum/aktor (tidak diketa- hui siapa pelakunya) yang meman- tik konflik di antara ke dua kelompok
1 orang mahasiswa terkena sabetan senjata tajam
4. 13 Mei 2003
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Serangan tiba-tiba dari FBS-FSD
Beberapa ruang perkuliahan maha- siswa dirusak
5. 19 Jun 2003
UNM (Gunung
Sari)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa Fakultas Ilmu Keolah- rag-aan (FIK)
Masalah perebutan area parkiran pada saat pendaftaran calon maba
2 orang mahasiswa mengalami luka akibat lemparan batu
6. 12 Des 2003
UNHAS Maha- siswa FT versus Maha- siswa FISIP
Dendam lama yang kembali mencuat dan menimbulkan gesekan di antara dua kelompok
Beberapa fasilitas perkuliahan dirusak dan dibakar
7. 14 Des 2003
UNHAS Maha- siswa FT versus Maha- siswa FISIP
Balasan atas aksi tawuran sebelumnya
- 8 orang maha- siswa terluka akibat terkena lemparan batu - 1 orang petugas
keamanan kampus terluka terkena lem- paran batu 8. 13 Apr
2004
UNHAS Maha- siswa FT versus Maha- siswa FISIP
Beberapa ma- hasiswa FT dalam kondisi mabuk minu- man keras, lalu men- datangi dan menantang mahasiswa FISIP
- Beberapa fasilitas kampus dirusak - 1 orang maha-
siswa terkena tikaman badikc)
9. 12 Mei 2004
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Aksi berbalas lemparan batu antara mahasiswa FT dengan mahasiswa FBS-FSD
- 1 ruangan di lantai 2 dibakar - 1 orang maha-
siswa terluka - 4 kendaraan
dirusak
10. 13 Mei 2004
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Balasan atas aksi tawuran sebelumnya
- Kaca Sekretariat MAPALA pecah akibat lemparan - batuSekretariat HMJ
Bahasa Inggris dibakar - Kantin kampus
dibakar
- Gedung Teknologi dibakar
- 1 orang maha- siswa lengannya hampir putus akibat tebasan senjata tajam 11. 30 Agu
2004
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Terjadi pemuku- lan yang dilakukan oleh oknum Mahasiswa FT terhadap salah seorang Mahasiswa FBS-FSD
3 orang mahasiswa terluka
12. 30 Jun 2005
UNHAS Maha- siswa FT versus Fakultas MIPA
Sebab dicabutnya spanduk FT di kawasan FMIPA
- 1 orang maha- siswa FMIPA luka akibat terkena sabetan senjata tajam - Ruang Senat Mahasiswa, Sekretariat BEM, dan beber- apa himpunan FMIPA dirusak
13. 1 Sep 2005
UNHAS Maha- siswa FT Versus maha- siswa FISIP dibantu dengan Fakultas Non-ek- sak
Dibakarnya spanduk FISIP oleh mahasiswa FT, lalu di- balas dengan membakar replika pa- tung FT oleh mahasiswa FISIP
- 2 orang maha- siswa terluka akibat lemparan - batuSekretariat BEM
dan beberapa himpunan ma- hasiswa FISIP dibakar
14. Awal Sep 2005
UMI Maha-
siswa FT versus Kelom- pok MAPA- LA
Dendam lama yang kembali mencuat dan menimbulkan gesekan di antara 2 kelompok
- 2 orang maha- siswa meninggal - 10 orang ma-
hasiswa terluka akibat benda tajam - 3 orang dia-
mankan oleh aparat keamanan (polisi)
15. 30 Sep 2005
UNM (Gunung
Sari)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FIK
Sebab dirusak- nya gedung perkuliahan FT yang dilakukan oleh oknum Mahasiswa FIK
Tidak ada korban jiwa, namun 10 orang mahasiswa ditahan oleh aparat kemanan
16. Bulan Okt 2005
UMI Maha-
siswa FT versus MAPA- LA
Balasan atas peristiwa sebelumnya
9 orang mahasiswa ditahan oleh aparat kemanan
17. 20 Nop 2005
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Pemuku- lan yang dilakukan oleh oknum Mahasiswa FT terhadap salah seorang Mahasiswa FBS-FSD
- 3 orang maha- siswa terluka - 2 gedung perkuli-
ahan dirusak
18. 4 Jan 2006
Univ. 45 Maha- siswa FT versus Kelom- pok MAPA- LA
Buntut penyerangan sekelompok anggota MAPALA terhadap ma- hasiswa FT yang sedang menggelar pertandingan sepak bola
- Kaca-kaca jendela di ruang perkuliahan pecah akibat lemparan batu - Sekretariat
MAPALA dirusak - 4 orang ma-
hasiswa dari MAPALA di- amankan polisi 19. 16 Mei
2006
Univ. 45 Maha- siswa FT versus Gabun- gan Kelom- pok Maha- siswa
Disebabkan terjadinya kesalahpaha- man di antara 2 kelompok
Gedung perkulia- han dirusak dan aktifitas perkuliah- an diliburkan untuk sementara waktu
20. 6 Mar 2007
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Salah seorang mahasiswa FBS-FSD dibacok oleh pengendara motor di seki- taran kampus, lalu dugaan mengarah pada maha- siswa FT yang melakukan pembacokan, hingga menimbulkan tawuran di antara dua kelompok
- 1 orang maha- siswa FBS-FSD luka akibat terkena senjata tajam - 2 orang maha-
siswa FT luka akibat terkena senjata tajam dan busur - Kaca gedung
perkuliahan kedua fakultas pecah akibat lemparan batu
21. 14 Mei 2007
Univ. 45 Maha- siswa FT Planolo- gi versus Maha- siswa FT Sipil dan Ar- sitektur
Buntut penikaman 2 orang mahasiswa FT jurusan Planologi yang dilaku- kan oleh mahasiswa FT jurusan Sipil
- Beberapa orang mengalami luka - Beberapa
fasilitas gedung perkuliahan FT dirusak - 3 orang maha-
siswa diamankan oleh polisi
22. 22 Sep 2007
UNM (Parang
Tam- bung)
Maha- siswa FT versus Maha- siswa FBS- FSD
Dendam lama yang kembali mencuat dan menimbulkan gesekan di an- tara 2 kelom- pok, namun dalam hal ini ada oknum/
aktor (tidak diketahui sia- pa pelakunya) yang meman- tik konflik diantara ke dua kelompok
- 1 orang maha- siswa luka akibat terkena senjata tajam - Tembok Berlind)
dirobohkan
23. 26 Feb 2008
UNHAS Maha- siswa FT versus Maha- siswa FE, FI- SIP, dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB)
Bermula dari pemukulan mahasiswa FE terhadap mahasiswa FT di malam kegiatan inau- gurasi FE di Balai Prajurit M. Jusuf
9 orang mahasiswa terluka akibat lemparan batu
24. 20 Jun
2008 UMI Antar
Kelom- pok Maha- siswa
Terjadi kesalahpa- haman antar kelompok mahasiswa
- 2 orang maha- siswa terluka - Kaca gedung perkuliahan pecah akibat lemparan batu