Bab VII Pengelolaan Emosi dalam Kepemimpinan Pendi- dikan (Getting to the Heart of a Leadership)
4. Pengelolaan Hubungan
7.4 Pengaruh Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan Pendidikan
Kecerdasan emosional sangat penting bagi pemimpin di sekolah. Pemimpin di sekolah harus bisa memberi contoh bagi bawahannya untuk mengatur perilakunya dengan mengatur suasana hatinya. Seorang pemimpin harus bisa menjadi model bagi bawahannya, begitu juga dengan guru harus bisa menjadi model bagi siswa-siswanya. Sebagai guru kita harus sabar dalam menghadapi siswa. Dengan banyaknya jumlah siswa di sekolah dan dengan karakter yang berbeda pula, guru harus bisa mengontrol emosi dalam menghadapi tingkah laku siswa.
Dalam buku Getting to the Heart of a Leadership, ada cara untuk merefleksikan cara kepemimpinan seseorang, yaitu dengan metode narrative; story telling. Kita tidak akan bisa mengetahui bagaimana gaya memimpin kita. Karena hanya orang yang dapat menilai cara kepemimpinan seorang pemimpin. Dengan mendeskripsikan masalah-masalah yang dihadapi dan menginterpretasikannya dalam sebuah tulisan teks naratif, maka kita akan mengetahui gaya kepemimpinan kita. Dengan mendeskripsikan suatu masalah, kita akan mengetahui bagaimana tekstur emosi kita terhadap suatu masalah, mulai dari emosi yang muncul saat merespon masalah, sampai keputusan yang diambil dalam memecahkan masalah.
Gaya kepemimpinan berbasis kecerdasan emosional sangatlah baik jika diterapkan oleh pemimpin pendidikan, karena seorang pemimpin pendidikan dalam tugasnya sebagai manajer,
pemimpin pengajaran, fasilitator hubungan masyarakat, agen perubahan, mediator konflik, dan penegak disiplin harus memiliki kecerdasan yang baik sehingga dapat tercapai tujuan pendidikan.
Gaya kepemimpinan seseorang dipengaruhi oleh bagaimana masa kecilnya dan pendidikannya, bagaimana gaya kepemimpin- an pemimpinnya pada masa pra jabatan. Pengalaman- pengalaman tersebutlah yang diadopsi oleh seorang pemimpin pada saat memimpin suatu organisasi. Gaya kepemimpinan kita juga dipengaruhi oleh siapa yang menjadi inspirasi kita dalam memimpin dan siapa yang menjadi model bagi kita. Karena setiap dari kita adalah pemimpin dan kita berhak menentukan gaya kepemimpinan kita.
Terdapat tiga hal pokok yang menjadi sorotan utama dalam kepemimpinan dan liberal arts, yaitu:
1. Hubungan antara kepemimpinan dan Liberal Arts 2. Integrasi Kepemimpinan dalam Liberal Arts dan Sains 3. Implementasi Studi Kepemimpinan dalam Liberal Arts
Manusia selaku penggerak era modern saat ini, makin dalam menggali pengetahuan untuk mengembangkan teknologi demi kemajuan. Tentunya perkembangan tersebut memberikan dampak besar dalam berbagai bidang dan ilmu, seperti pendidikan, seni, politik, ekonomi, organisasi, pekerjaan, dan lain-lain. Era Masyarakat Ekonomi Asean yang sudah berjalan sejak tahun 2015 di Indonesia memberikan tantangan tersendiri untuk masyarakat Indonesia agar bisa bersaing dalam ruang lingkup yang lebih luas.
Banyak perusahaan yang menuntut kualitas sumber daya manusia yang lebih tinggi atau dengan kata lain multifungsi. Pendekatan spesialisasi memang merupakan hal yang penting dalam dunia kerja namun pendekatan umumpun tidak kalah penting.
Pendekatan umum yang dimaksud disini adalah apa yang disebut dengan liberal arts, yang dapat menambah wawasan secara umum dan membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.
Berikut adalah penjelasan lengkap tentang Kepemimpinan dan Liberal Arts merujuk kepada buku acuan dengan judul "Leadership and the Liberal Arts: Achieving the Promise of a Liberal Arts".
8.1 Hubungan Antara Kepemimpinan dan Liberal Arts 8.1.1 Definisi Liberal Arts
Liberal arts berasal dari kata artes liberales dari bahasa Yunani kuno yang berarti seni dan liberales atau kebebasan.
BAB VIII
KEPEMIMPINAN DAN LIBERAL ARTS
Arts dalam hal ini bukan berarti seni, akan tetapi ilmu. Liberal arts mementingkan kemampuan berpikir kritis. Kata liberal sendiri mempunyai makna yang cukup ekstrim dan cukup mendapatkan penentangan bagi sebagian orang. Puluhan tahun Indonesia merdeka akan tetapi masih banyak masyarakat yang belum dapat menikmati kemerdekaan tersebut. Ke-liberal-an mereka masih dipertanyakan. Pemerintah dengan niatnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa demi menghindari kebodohan dan kemiskinan. Semua itu dilakukan untuk liberalisme.
Liberal arts didesain untuk mempersiapkan individu menyadari dan menggali potensi dirinya dan bersiap untuk menjadi pemimpin masa depan yang mampu berkontribusi.
Berikut adalah tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam liberal arts, yaitu:
Ÿ Mengembangkan kemampuan intelektual dasar Ÿ Mengembangkan pemahaman dan apresiasi dalam
hal pengetahuan
Ÿ Memperoleh pemahaman dan apresiasi dalam hal estetika dan kreativitas
Ÿ Mengembangkan pemahaman tentang suatu hal dan konsekuensinya
Ÿ Mengembangkan pemahaman dan apresiasi dalam bidang budaya
Ÿ Mengembangkan kemampuan untuk mengaitkan pengetahuan spekulasi yang bersifat abstrak.
Dengan kata lain, individu dapat menjadi pemimpin yang efektif sekaligus masyarakat yang produktif dengan mempelajari liberal arts.
8.1.2 Integrasi Kepemimpinan dalam Liberal Arts dan Sains
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mewujudkan kepemimpinan dalam liberal arts adalah pendekatan humanistik, dengan tiga elemen pentingnya, yaitu:
Ÿ Pencarian makna dan tujuan dalam peng- alaman seseorang
Ÿ Fokus pada pengetahuan sebagai dasar untuk bertindak
Ÿ Tindakan yang berdasar pada etos moral.
Pada praktiknya, studi liberal terfokus kepada studi kepemimpinan yang kemudian mengatas- namakan nilai manusia. Kemudian kepemim- pinan ini memfokuskan diri pada pertanyaan- pertanyaan seperti, bagaimana kepemimpinan humanis itu? Bagaimana metodenya? Apa tujuannya? Bagaimana akhirnya nanti?
Kepemimpinan humanis dipandang sebagai cara untuk melihat (seeing) dan menjadi (being). Melihat dan menjadi adalah cara untuk dapat menjalin hidup dengan segala kemung- kinan yang akan terjadi dan tak terduga.
Kepemimpinan humanis hanya bisa didapatkan dari pendidikan humanis yang menekankan pada bagaimana cara untuk memahami manusia secara esensial dan eksistensial.
Dengan kata lain, kepemimpinan humanis tidak pernah memaksakan sesuatu kepada orang lain, namun selalu mencoba memahami keberadaan orang lain.
8.2 Implementasi Studi Kepemimpinan dalam Liberal Arts