Bab VII Pengelolaan Emosi dalam Kepemimpinan Pendi- dikan (Getting to the Heart of a Leadership)
4. Pengelolaan Hubungan
13.3 Kaderisasi Formal
13.3.1 Usaha kaderisasi intern yang bersifat formal, dapat ditempuh dengan beberapa cara
a. Memberi kesempatan menduduki jabatan pemimpin pembantu
Kaderisasi ini dilakukan dengan cara mengangkat atau memberikan kesempatan secara formal pada seorang calon pemimpin yang berusia muda, untuk memangku jabatan pemimpin. Jabatan tersebut jenjangnya lebih rendah daripada jenjang jabatan pemimpin yang mengangkat dan mengkade- rkannya. Selanjutnya pemimpin yang mengkader-kan itu berkewajiban membimbing dan membinanya, agar kader tersebut memperoleh pengalaman kepemimpinan secara langsung dan praktis.
Dengan cara ini, seorang kader akan ikut serta dalam melaksanakan proses kepemimpinan di lingkungan organisasinya.
Seorang kader juga ikut serta dalam musyawarah dan rapat untuk menentukan keputusan, antara lain dalam menyusun peren- canaan dan program-program kerja organisasinya. Demikian juga, ia ikut berperan dalam menerjemahkan dan menjabarkannya menjadi kegiatan-kegiatan, memerintah-kan, membagi, dan mengatur wewenang dan tanggung jawab pelaksanaannya.
Seorang kader berkewajiban pula ikut serta membimbing, mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan dan perintah-perintah. Selanjutnya bersamaan dengan pelaksanaan tugas-tugas, kader juga harus berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah-masalah dan konflik-konflik yang mungkin terjadi.
b. Latihan kepemimpinan di dalam atau di luar organisasi.
Latihan kepemimpinan yang dimaksudkan adalah mem- berikan kesempatan kepada anggota organisasi untuk mengikuti suatu program mempersiapkan calon pemimpin, yang diselenggarakan dalam jangka waktu tertentu. Latihan kepemimpinan dapat ditempuh dengan dua cara:
1. Kegiatan magang di lingkungan organisasi yang lebih besar dalam bidang yang sama. Setelah selesai, kader tersebut kembali untuk memimpin pada suatu jenjang tertentu di lingkungan organisasi semula. Dalam kegiatan magang ini, pucuk pimpinan dan para pimpinan pembantu
2. Kegiatan penataran atau pelatihan (up-grading atau in- service training) kepemimpinan, yang diprogram secara khusus dengan mengikuti suatu kurikulum tertentu.
Penataran yang berarti pendidikan dalam jabatan merupakan usaha memberikan latihan bagi sejumlah orang yang telah bertugas/bekerja (sedang menekuni suatu tugas tertentu), untuk meningkatkan kemampuan- nya dalam melaksanakan tugas/pekerjaan bidang yang ditekuninya itu. Dalam pemakaiannya sehari-hari, perkataan penataran ternyata digunakan juga bagi orang- orang yang belum/tidak sedang menekuni suatu tugas/
pekerjaan tertentu. Perkataan itu diidentikkan dengan 1. Kegiatan magang di lingkungan organisasi yang lebih besar dalam bidang yang sama. Setelah selesai, kader tersebut kembali untuk memimpin pada suatu jenjang tertentu di lingkungan organisasi semula. Dalam kegiatan magang ini, pucuk pimpinan dan para pimpinan pembantu perlu diberitahu, agar selalu memberi kesempatan kepada kader tersebut ikut serta dalam berbagai kegiatan kepemimpinan yang dipandangnya perlu. Kesempatan itu dalam rangka magang harus selalu diberikan, meskipun kader tersebut tidak menduduki jabatan kepemimpinan, pada jenjang yang manapun juga. Sebagai contoh, kaderisasi di lingkungan sebuah organisasi besar yang berpusat di lbu Kota Negara, dimana organisasi tersebut memiliki cabang atau perwakilannya pada semua atau sebagian besar daerah di negara tersebut. Seorang kader dari organisasi cabang atau perwakilannya, dapat ditugaskan untuk melakukan magang dengan bekerja di lingkungan organisasi pusat. Penugasan itu dibatasi waktunya, setahun atau dua tahun (mungkin saja lebih singkat atau lebih lama), agar dapat direncanakan intensitas pengikutsertaannya dalam kegiatan kepemim- pinan, sesuai dengan bidang dan jenjangnya masing- masing.
Sehubungan dengan itu, bilamana dikembalikan pada sumber/asal bahasa, maka perlu dibedakan antara perkataan "in-service training" dengan perkataan "pre- service training (education)." Pre-service education berarti pendidikan persiapan untuk memasuki suatu lapangan kerja/tugas tertentu. "Pre-service education" dalam bentuk sekolah dan perguruan tinggi, tidak pernah diselenggara- kan khusus mengenai bidang kepemimpin-an. Bagi siswa dan mahasiswa, seluruh proses belajar- mengajar yang dialaminya di sekolah dan perguruan tinggi (termasuk kegiatan ekstrakurikuler) merupakan bagian integral dengan usaha mengembangkan kemampuan memimpin.
Dalam bidang kepemimpinan hanya berlaku perkataan "in- service training", dalam rangka latihan kepemimpinan yang bersifat formal. Penggunaan kata tersebut mungkin saja diartikan sama dengan penataran atau "up-grading", karena maksudnya difokuskan pada usaha meningkatkan kemampuan memimpin, agar dilaksanakan secara efektif dan efisien. Kegiatan tersebut biasanya diatur dalam suatu kurikulum atau program berisi teori dan praktik, untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan seorang kader dalam memimpin. Sehubungan dengan itu
"in-service training" dapat diartikan sebagai proses yang berisi usaha-usaha untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan tertentu, agar dapat melak- sanakan tugas-tugasnya secara lebih efektif dan efisien dari sebelumnya.
kursus singkat yang diberikan, baik untuk meningkatkan kemampuan maupun penguasaan awal suatu kemam- puan tertentu. Dari sudut lain, terdapat juga usaha untuk mengganti perkataan tersebut dengan membudayakan perkataan "pelatihan" yang berasal dari Bahasa Inggris training.
c. Memberikan tugas belajar
Dalam kehidupan masyarakat maju dan modern, dimana sebagian besar atau seluruh warganya telah menyelesaikan pendidikan di berbagai jenis dan jenjang sekolah/perguruan tinggi, selalu diperlukan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di bidangnya masing-masing. Untuk mempersiapkan calon pemimpin seperti itu bagi suatu organisasi, dapat dilakukan kegiatan kaderisasi dengan memberikan tugas belajar pada lembaga pendidikan formal yang jenjangnya lebih tinggi, bagi anggotanya yang potensial. Dengan mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi itu diharapkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan memimpin seorang kader akan meningkat, sehingga pada suatu saat dinilai sanggup menduduki suatu jabatan kepemimpinan, sesuai jenjang masing-masing. Oleh karena itu, pemberian tugas belajar bagi anggota organisasi, pada dasarnya merupakan proses kaderisasi formal. Pemberian tugas belajar juga akan meningkatkan kemampuan penalaran dan mematangkan kepribadian, yang dapat meningkatkan kualifikasi seseorang sebagai kader pemimpin.
d. Penugasan sebagai pucuk pimpinan suatu unit
Cara ini hampir sama dengan cara pertama yang telah diuraikan terdahulu. Perbedaannya, kader dengan cara ini dipersiapkan di lingkungan organisasi cabang yang lebih kecil.
Namun, kader tersebut dilatih menjalankan kepemimpinan yang menyentuh seluruh aspek dari bidang yang dikelola organisasinya. Pada cara pertama kader ditugaskan di organisasi pusat, dengan atau tanpa menempati posisi/jabatan kepemimpinan pada jenjang tertentu. Jika kader tersebut diberi kesempatan memimpin, maka penempatannya adalah untuk unit tertentu yang mengelola sebagian bidang dari tugas pokok organisasi.
Berikut ini akan dibahas tentang kaderisasi formal yang bersifat eksternal, dalam mempersiapkan calon pemimpin. Perkataan
eksternal pada dasarnya bermakna bahwa proses kaderisasi dilakukan di luar organisasi calon yang dipersiapkan untuk menjalankan fungsi kepemimpinan di masa depan. Untuk itu, suatu organisasi perlu menyusun perencanaan regenerasi pimpinan secara berkelanjutan, dengan memperhatikan data setiap pimpinan, untuk memperkirakan saat-saat akan terjadi kekosongan pimpinan untuk setiap unit dan pada setiap jenjang di lingkungan suatu organisasi secara menyeluruh.
Regenerasi itu pasti tidak terjadi secara serentak, namun berlangsung bertahap. Oleh karena itu, perencanaan mungkin disusun untuk suatu jangka waktu tertentu saja, yang akan dilanjutkan secara berkesinambungan dari suatu tahap ke tahap berikutnya. Perencanaan itu mungkin juga tidak dalam rangka regenerasi, tetapi diperlukan berdasarkan rencana mutasi dan bahkan mungkin disesuaikan dengan ketentuan tentang masa jabatan, yang berlaku bagi posisi/jabatan kepemimpinan tertentu.
13.3.2 Kaderisasi kepemimpinan secara formal dan bersifat