BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pengaruh Leasing terhadap Efisiensi biaya perusahaan
Adapun pengaruh leasing terhadap Efisiensi Biaya Perusahaan (Irham Fahmi:2014) adalah sebagai berikut :
1. Ongkos lebih rendah
Dengan adanya leasing keuntungan yang paling jelas adalah ongkos yang rendah, pihak lessor dapat menawarkan pembiayaan dengan ongkos rendah melalui leasing dengan menahan keuntungan tertentu yang 878
879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900
ditimbulkan oleh keuntungan-keuntungan semacam itu kepada pihak lessee dalam bentuk pembayaran sewa yang lebih ringan yang juga secara tidak langsung terjadi efisiensi biaya pada perusahaan.
2. Biaya perawatan
Efisiensi biaya yang diperoleh dari transaksi leasing. Dalam perjanjian leasing biasanya biaya instalasi, asuransi dan perawatan menjadi tanggungan pihak lessor. Dengan kebijakan dalam perjanjian tersebut otomatis biaya perusahaan menjadi efisien dan laba yang dihasilkan akan lebih besar. Lessee memiliki hak untuk meminta tambahan atau menukar barang yang di lease jika barang tersebut mengalai kerusakan atau memerlukan perbaikan atau pergantian komponen tertentu dengan cara menukar dengan barang sejenis atau yang lebih canggih hal ini tentunya dapat mengurangi beban biaya operasional dari perusahaan.
3. Pembiayaan 100%
Leasing biasanya memberikan pembiayaan 100% (yang meliputi biaya pajak, dan ongkos pemasangan). Sehingga pihak lessee tidak mengeluarkan biaya sedikit pun atau jika perusahaan membeli dengan alternatif kredit biasanya memerlukan suatu pembayaran uang muka (down payment). Dengan hal tersebut terjadi efisiensi biaya pada perusahaan dengan tidak keluarnya biaya untuk pembayaran di muka atau biaya pajak, ongkos pemasangan dan biaya lain-lain.
902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923
Dalam ilmu ekonomi, konsep ini disebut dengan konsep nilai waktu dari uang atau dalam bahasa populernya disebut dengan Time Value of Money . Sebuah konsep yang sangat sederhana sekali namun dalam implementasi dan pengembangannya mampu melahirkan banyak produk investasi dan sekaligus strategi investi. Dalam konsep Time Valuey of Money, sejumlah uang yang ada pada saat ini akan lebih berharga ketimbang sejumlah uang dalam jumlah yang sama yang kita miliki pada waktu yang akan datang (Hidayat:2011) , jadi faktor yang menentukan nilai waktu uang adalah seseorang memanfaatkan waktu itu.
Semakin efektif (tepat guna) dan efisien (tepat cara), maka akan semakin tinggi nilai waktunya (Karim:2010).
Konsep Time Value of Money mempunyai metode-metode perhitungan yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu future value dan present value. Dalam penulisan ini penulis hanya membahas tentang teori present value.
2.4.1 Present Value
Menurut Abdul Halim (2009), Present Value yaitu menghitung nilai sekarang dari penerimaan yang akan diterima di waktu mendatang dengan tingkat bunga tertentu. Berikut ini merupakan jenis-jenis Present Value :
1) Present value dari penerimaan sekaligus Untuk menghitung berapa jumlah uang sekarang yang akan diterima beberapa waktu mendatang dengan tingkat bunga tertentu.
2) Present value dari penerimaan berbeda 925
926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946
Untuk menghitung beberapa jumlah uang sekarang yang akan diterima beberapa waktu mendatang di mana jumlah penerimaan tersebut berbeda dengan tingkat bunga tertentu.
3) Present value dari anuitas
Untuk mengetahui berapa jumlah uang sekarang yang akan diterima beberapa waktu mendatang, di mana jumlah penerimaan tersebut tetap dengan tingkat bunga tertentu.
2.5 Penelitian Terdahulu
Ada beberapa penelitian terdahulu mengenai leasing yang telah dilakukan, Jarot Prasetyo (2018), Arafat Buyung Makatallu (2017) , Lisa Puspa Wijayanti (2008) , M Rouf Alwi (2015)
Pada Penelitian Jarot Prasetyo (2018) ,”Analisis Struktur Modal yang Paling Efisien antara Pembiayaan Sewa Guna Kapal Dengan Utang Jangka Panjang terhadap Nilai Perusahaan PT KLM , Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti mengumpulkan data-data tersebut dengan mengamati data-data sekunder PT. KLM seperti laporan keuangan ( laba rugi dan laporan posisi keuangan) . Setelah itu, melakukan forcasting pendapatan dan biaya-biaya dengan metode regresi pola linear dan kuadratik. Mengestimasi laporan posisi keuangan PT. KLM dengan sejumlah asumsi-asumsi budgeting.
Peneliti menganalisis struktur modal yang paling efisien dengan menggunakan 947
948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968
index (PI), dan payback period. Peneliti menggunakan rasio likuiditas , solvabilitas dan rentabilitas untuk menunjukkan dampak leasing kapal dan utang jangka panjang terhadap laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan.
Menganalisis nilai perusahaan baik leasing kapal dan utang jangka panjang menggunakan metode nilai perusahaan dan rasio rentabilitas ( Rasio return on asset dan return on equity) . Berdasarkan analisis budgeting, utang jangka panjang lebih baik daripada leasing kapal dan perhitungan rasio likuidits, solvabilitas, serta rentabilitas, utang jangka panjang lebih baik daripada leasing kapal. Namun , periode tahun pertama, likuiditas leasing kapal lebih baik daripada utang jangka panjang. Namun, utang jangka panjang mengukit nilai perusahaan lebih besar daripada leasing kapal.
Selanjutnya pada penelitian Arafat Buyung Makatallu (2017), “Analisis Pengaruh Kebijakan leasing terhadap Efisiensi Biaya BUMN Sektor Perbankan”, dalam penelitiannya menggunakan metode penelitian penelitian deskriptif. Hasil Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada Bank BRI dan Bank BNI, pengadaan aset tetap dengan cara sewa guna usaha (leasing), terutama aset tetap bergerak seperti inventaris kantor dan kendaraan bermotor dapat menekan tingginya tingkat inefisiensi. Dengan pengadaan aset tetap dengan alternatif sewa guna usaha selama kurun waktu 2012 – 2016, pada Bank BRI, diperoleh efisiensi sebesar Rp 238.199.920. pada Bank BNI diperoleh efisiensi sebesar Rp.
39.838.790.000. sedangkan pada Bank Mandiri diperoleh efisiensi sebesar Rp.
82.369.910.000. melalui pengadaan aset tetap dengan alternatif pembelian.
970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991
Kemudian dalam penelitian Lisa Puspa Wijayanti (2008), “Rencana Pembiayaan Leasing atau Hutang Jangka Panjang untuk Penggantian Investasi Aktiva tetap pada PT. Citra Perdana Kendedes Malang” . Metode analisis yang digunakan dalam analisis pembiayaan antara leasing dan hutang jangka panjang untuk investasi aktiva tetap pada PT. Citra Perdana Kendedes Malang adalah analisis NAL (Net Advantage of Leasing) dan NPV (Net Present Value) . Hasil perhitungan NPV (P) atas pembelian armada taksi pada PT. Citra Perdana Kendedes dapat dilihat bahwa besarnya NPV (P) sebesar Rp. 388.110.734 , dengan tolak ukur penilaian NPV, maka pergantian armada taksi dengan cara pembelian secara ekonomis menguntungkan atau layak digunakan. Sedangkan hasil perhitungan NAL sebesar Rp. 2.406.612.041 . Untuk menentukan apakah sewa guna usaha lebih baik dibanding hutang jangka panjang yaitu dengan menjumlahkan hasil dari NPV (P) dengan hasil dari NAL . jika NPV (P) + NAL >
0 , maka sewa guna usaha sebagai sumber pembiayaan lebih menguntungkan daripada hutang jangka panjang . Dapat dilihat dari penjumlahan NPV (P) dengan NAL atau disebut NPV (L) sebesr Rp. 2.794.722.755 . Besarnya NPV (L) dengan NAL atau sekarang aktiva yang hendak disewa. Berdasarkan tolak ukur yang ditentukan , maka pembiayaan dengan sewa guna usaha atau leasing secara ekonomis lebih menguntungkan dibanding hutang jangka panjang.
Pada penelitian M Rouf Alwi (2015) , “Analisis Alternatif Pendanaa Leasing dan Hutang Jangka Panjang Dalam Pengadaan Aktiva Tetap Perusahaan Studi Kasus pada PT . Anta Utama Tour and Travel” . Penelitian ini dilaksanakan 992
993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013
pendanaan hutang jangka panjang dengan leasing dalam pengadaan aktiva tetap yang mempunyai karakteristik cash outflow terkecil dan bisa menghemat dana perusahaan. Hasil diperoleh dari nilai Present Value (PV) cash outflow hutang jangka panjang Nilai Present Value (PV) cash outflow nya lebih besar dibandingkan dengan leasing. Jadi, sumber pendanaan yang paling menguntungkan dengan menggunakan hutang jangka panjang karena PT. Anta Utama Tour and Trevel bisa menghemat biaya.
2.6 Kerangka Pikir
Kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah membandingkan pembelian tunai dan leasing dalam perolehan aktiva tetap perusahaan dalam rangka mengefisiensikan biaya.
Gambaran dari kerangka penelitian inii sebagai berikut:
Gambar 2.3
BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
BANK
Pembelian Tunai Sewa Guna
Usaha
Kebijakan perusahaaan 1015
1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036
Penelitian ini dilakukan pada Bank Persero yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu Bank BRI, Bank BNI , Bank Mandiri , Bank BTN. Dengan mempertimbangkan bahwa Bank Persero merupakan perusahaan yang go public.
Waktu penelitian dimulai pada saat penulis mengajukan usulan penelitian yaitu dimulai november 2018- februari 2019
3.2 Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2005) “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan” yang menjadi populasi penelitian adalah semua yang merupakan Bank Persero yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Mandiri dan Bank BTN .
Sampel adalah sebagian sebagian untuk diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo:2005) .
Penelitian ini menggunakan sampel laporan laba rugi tahun 2016-2018 pada perusahaan BUMN sektor perbankan yaitu Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Mandiri.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif Kualitatif, yaitu dengan menggunakan pendekatan studi kasus.
1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2011: 73), penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena- fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan.
Selain itu, Penelitian deskriptif tidak memberikan perlakuan, manipulasi atau pengubahan pada variabel. Variabel yang diteliti, melainkan menggambarkan suatu kondisi yang apa adanya. Satu-satunya perlakuan yang diberikan hanyalah penelitian itu sendiri, yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Di tahapan ini, penulis akan menganalisa antara pembiayaan melalui alternatif leasing atau dibeli, dimana dananya berasal dari kas perusahaan, maka harus membandingkan antara present value cash outflow atas dasar leasing dengan present value cash outflow atas dasar pembelian yang sumber dananya dari kas perusahaan. Keputusannya adalah memilih present value cash outflow terendah, karena di sana terdapat efisiensi cash outflow, sehingga dapat disimpulkan alternatif manakah yang lebih menguntungkan dan memiliki peran terhadap efisiensi biaya perusahaan.
Untuk keperluan penelitian data yang digunakan adalah data sekunder.
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui sumber yang ada dan tidak perlu disimpulkan sendiri oleh peneliti (Sekaran, 2006). Data tersebut berupa angka-angka dalam laporan keuangan perusahaan Bank Persero melalui website Otoritas Jasa Keuangan (www.ojk.go.id).
1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080
Sumber data yang diperoleh dari situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berupa laporan publikasi perusahaan Bank Persero selama periode penelitian yakni tahun 2016-2018.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi yaitu melakukan pengumpulan dan pencatatan data dari laporan keuangan berupa laporan laba rugi perusahaan di situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data yang dikumpulkan tersebut berupa laporan keuangan perusahaan yang berkaitan dengan variabel penelitian selama periode lima tahun yakni tahun 2016-2018.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Bogdan dalam Sugiyono, 2016).
Teknik analisis data yang dilakukan peneliti yaitu melalui pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan sebenarnya yang terjadi pada obyek penelitian dengan membandingkan kenyataan dengan teori yang ada. Setelah memperoleh gambaran yang cukup, kemudian penulis melakukan analisis dari data yang diperoleh dari perusahaan, analisis ini 1081
1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102
digunakan untuk menilai apakah pembiayaan melalui leasing dapat menguntungkan perusahaan dengan berbagai keunggulan di dalamnya.
Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisa data tersebut adalah sebagai berikut:
1) Mengumpulkan data-data yang diperlukan
2) Mengolah data yang dikumpulkan sesuai dengan kebutuhan
3) Menganalisis data yang telah diolah :
Menghitung Present Value Cash Outflow (PVCO) alternatif leasing yang di dalamnya termasuk unsur-unsur biaya leasing dan discount factor.
Menghitung present value berdasarkan formula :
di mana:
PV : nilai sekarang dari sejumlah uang masa yang akan datang FVn : nilai uang yang diinvestasikan pada akhir tahun ke-n n : jumlah tahun sampai pembayaran yang akan diterima i : tingkat diskonto (atau bunga)
Menghitung biaya penyusutan berdasarkan metode straight-line method :
nilaiawal−nilai sisa 1103
1104 1105 1106 1107
1108
1109
1110 1111 1112
1113
1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120
Menghitung biaya pemeliharaan berdasarkan formula :
Biaya pemeliharaan = Total biaya leasing x Tingkat biaya pemeliharaan
Menghitung Present Value Cash Outflow (PVCO) alternatif pembelian langsung yang di dalamnya termasuk unsur-unsur harga pembelian, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan, dan discount factor.
Menghitung dan membandingkan efisiensi dari Present Value Cash Outflow (PVCO) alternatif leasing atau pembelian langsung
4) Menarik kesimpulan atas data yang telah di analisis
3.6 Definisi Operasional
Definisi Operasional Variabel dari penelitian ini adalah :
a. Leasing (X) adalah kegiatan pembiaayaan barang modal baik secara leasing dengan hak opsi (finance lease) maupun leasing tanpa hak opsi atau sewa guna usaha (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.
b. Efisiensi Biaya (Y) pada pokoknya dimaksudkan sebagai upaya penghematan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu hasil tertentu. Tingkat efisiensi yang dicapai dapat diketahui dengan cara membandingkan alternatif- alternatif pembiayaan yang dapat ditempuh untuk menghasilkan suatu target 1122
1123 1124 1125 1126 1127
1128 1129
1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137
1138 1139 1140 1141
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
A. Sejarah PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah -- yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia -- dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.
Setelah melalui proses konsolidasi dan integrasi menyeluruh di segala bidang, Bank Mandiri berhasil membangun organisasi bank yang solid dan mengimplementasikan core banking system baru yang terintegrasi menggantikan core banking system dari keempat bank legacy sebelumnya yang saling terpisah.
Sejak didirikan, kinerja Bank Mandiri senantiasa mengalami perbaikan terlihat dari laba yang terus meningkat dari Rp1,18 triliun di tahun 2000 hingga mencapai Rp5,3 triliun di tahun 2004. Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana pada 14 Juli 2003 sebesar 20% atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham.
Pencapaian Penting Bank Mandiri 2014 1144
1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166
Bank Mandiri terus memperkuat peran sebagai lembaga intermediasi untuk mendorong perekonomian nasional. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,2% pada akhir 2014 menjadi Rp.530 triliun dari Rp.472,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rasio NPL terjaga di level 2,15 %.
Pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset menjadi Rp.855 triliun dari Rp733,1 triliun pada Desember 2013. Sedangkan laba bersih pada 2014 tercatat tumbuh 9,2 % menjadi Rp19,9 triliun atau naik Rp1.7 triliun jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp.18,2 triliun. Selain pertumbuhan kredit, laju kenaikan laba bersih juga ditopang oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp15.06 triliun pada tahun 2014.
Laju kenaikan laba juga ditopang pertumbuhan bunga bersih sebesar 15,7% menjadi Rp 39,1 triliun dan kenaikan fee based income sebesar 3,9 % sehingga mencapai Rp.15,06 triliun. Dari capaian laba tersebut, kontribusi anak perusahaan mencapai 9.1% % atau sebesar Rp1,81 triliun.
Sebagai implementasi fungsi intermediasi dalam mendukung perekonomian nasional, Bank Mandiri juga terus memacu pembiayaan ke sektor produktif. Hasilnya, pada akhir 2014, kredit ke sektor produktif tumbuh 13.9 % mencapai Rp 410,6 triliun. dimana kredit investasi tumbuh 9,1 % dan kredit modal kerja tumbuh 16,7%.
Dilihat dari segmentasi, kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh bisnis, dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 33,2%
1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188
untuk segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 13,6 % menjadi Rp 73,4 triliun.
Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hingga akhir 2014, jumlah nasabah KUR Bank Mandiri meningkat 34 % yoy mencapai 396 ribu nasabah.
Kepercayaan masyarakat kepada Bank Mandiri juga terus tumbuh yang ditunjukkan dengan naiknya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp.636,4 triliun pada akhir 2014 dari Rp.556,4 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari pencapaian tersebut, total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dikumpulkan Bank Mandiri mencapai Rp380,5 triliun, yang terutama didorong oleh pertumbuhan tabungan sebesar 6,7% atau Rp15,93 triliun hingga mencapai Rp252,4 triliun.Capaian tersebut sangat menggembirakan, terutama jika mempertimbangkan tingkat persaingan likuiditas yang sangat ketat di industri.
Sebagai upaya untuk meningkatkan pengumpulan dana masyarakat melalui peningkatan kenyamanan bertransaksi, Bank Mandiri terus mengembangkan jaringan kantor cabang, jaringan elektronik, maupun jaringan layanan lainnya. Hingga Desember 2014, Bank Mandiri telah memiliki 2.312 cabang, 15.344 unit ATM serta penambahan jaringan bisnis mikro sehingga menjadi 1.833 unit.
Atas kinerja baik tersebut, Bank Mandiri meraih sejumlah penghargaan antara lain sebagai bank terbaik di Indonesia dari tiga publikasi terkemuka di sektor keuangan, yaitu Finance Asia, Asiamoney dan The Banker. Selain itu, Bank 1190
1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212
Mandiri juga berhasil mempertahankan predikat Best Bank in Service Excellence dari Marketing Research Indonesia (MRI) dan Majalah SWA selama tujuh tahun berturut-turut serta predikat Most Trusted Companies selama delapan tahun berturut-turut dari International Institute for Corporate Governance (IICG).
B. Visi & Misi PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Visi Mandiri
Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif
Misi Mandiri
Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar
Mengembangkan sumber daya manusia professional
Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder
Melaksanakan manajemen terbuka
Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan C. Budaya Organisasi PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
Integrity
Setiap saat berpikir, berkata dan berperilaku terpuji, menjaga martabat serta menjunjung tinggi kode etik profesi.
Professionalism
Berkomitmen untuk bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab.
Costumer Focus 1213
1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236
Excellence
Mengembangkan dan melakukan perbaikan di segala bidang untuk mendapatkan nilai tambah optimal dan hasil yang terbaik secara terus- menerus.
4.1.2 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
A. Sejarah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (selanjutnya disebut “BNI” atau
“Bank”) pada awalnya didirikan di Indonesia sebagai Bank sentral dengan nama
“Bank Negara Indonesia” berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang No. 2 tahun 1946 tanggal 5 juli 1946. Selanjutnya, berdasarkan Undang- Undang No. 17 tahun 1968, BNI ditetapkan menjadi “Bank Negara Indonesia 1946”, dan statusnya menjadi Bank Umum Milik Negara. Selanjutnya, peran BNI sebagai Bank yang diberi mandat untuk memperbaiki ekonomi rakyat dan berpartisipasi dalam pembangunan nasional dikukuhkan oleh UU No.17 tahun 1968 tentang Bank Negara Indonesia 1946.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.19 tahun 1992, tanggal 29 April 1992, telah dilakukan penyesuaian bentuk hukum BNI menjadi Perusahaan Perseroan Terbatas (Persero) penyesuaian bentuk hukum menjadi persero, dinyatakan dalam akta No.131 tanggal 31 juli 1992, dibuat dihadapan Muhani Salim, S.H., yang telahg diumumkan dalam Berita Negara Indonesia No.73 tanggal 11 September 1992 tambahan No. 1A.
1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260
BNI merupakan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkn sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996. Untuk memperkuat struktur keuangan dan daya saingnya , di tengah industri perbankan nasional, BNI melakukan sejumlah aksi korporasi, antara lain proses rekapitulasi oleh pemerintah di tahun 1999, divestasi saham pemerintah di tahun 2007, dan penawaran umu saham terbatas di tahun 2010.
Untuk memnuhi ketentuan Undang-undang No.40 tahun 2007 tanggal 16 Agustus 2007 tentang Perseroan Terbatas, Anggaran Dasar BNI telah dilakukan penyesuaian tersebut dinyatakan dalam Akta No.45 tanggal 13 Juni 2008 yang dibuat dihadapan Fatiah Helmi, S.H., Notaris di jakarta, berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggl 28 Mei 2008 dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, dengan Surat Keputusan No. AHU-AH.02-50609 tanggal 12 Agustus 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 103 Tanggal 23 Desember 2008 tambahan No. 29015.
Perubahan terakhir Anggaran Dasar BNI dilakukan antara lain tentang penyusunan kembali seluruh Anggaran Dasar sesuai dengan Akta No. 35 tanggal 17 Maret 2015 Notaris Fathiah Helmi, SH., telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia , dengan surat keputusan No. AHU-AH.01..03-0776526 tanggal 14 aprl 2015.
Saat ini 60% saham-saham BNI dimiliki oleh Pemerintah Republik 1261
1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282
maupun institusi, domestik dan asing. BNI kini tercatat sebagai Bank nasional terbesar ke-4 di Indonesia. Dilihat dari total aset, total kredit maupun total dana pihak ketiga. Dalam memberikan layanan finansial secara terpadu , BNI didukung oleh sejumlah perusahaan anak, yakni Bank BNI syariah, BNI multifinance, BNI sekuritas, BNI Life Insurance dan BNI Remmitance.
BNI menawarkan layanan penyimpanan dana maupun fasilitas pinjaman baik pada segmen korporasi, menengah, maupun kecil. Beberapa produk dan layanan terbaik telah disesuaikan dengan kebutuhan nasabah sejak kecil , remaja, dewasa , hingga pensiun.
B. Visi & Misi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Visi BNI
Menjadi Lembaga Keuangan yang Unggul dalam Layanan dan Kinerja Misi BNI
Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah dan selaku mitra pilihan utama
Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor
Menciptakan kondisi terbaik bagi karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi.
Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab kepada lingkungan dan komunitas.
Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik
1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307