BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2005) “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan” yang menjadi populasi penelitian adalah semua yang merupakan Bank Persero yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Mandiri dan Bank BTN .
Sampel adalah sebagian sebagian untuk diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo:2005) .
Penelitian ini menggunakan sampel laporan laba rugi tahun 2016-2018 pada perusahaan BUMN sektor perbankan yaitu Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Mandiri.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif Kualitatif, yaitu dengan menggunakan pendekatan studi kasus.
1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2011: 73), penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena- fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan.
Selain itu, Penelitian deskriptif tidak memberikan perlakuan, manipulasi atau pengubahan pada variabel. Variabel yang diteliti, melainkan menggambarkan suatu kondisi yang apa adanya. Satu-satunya perlakuan yang diberikan hanyalah penelitian itu sendiri, yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Di tahapan ini, penulis akan menganalisa antara pembiayaan melalui alternatif leasing atau dibeli, dimana dananya berasal dari kas perusahaan, maka harus membandingkan antara present value cash outflow atas dasar leasing dengan present value cash outflow atas dasar pembelian yang sumber dananya dari kas perusahaan. Keputusannya adalah memilih present value cash outflow terendah, karena di sana terdapat efisiensi cash outflow, sehingga dapat disimpulkan alternatif manakah yang lebih menguntungkan dan memiliki peran terhadap efisiensi biaya perusahaan.
Untuk keperluan penelitian data yang digunakan adalah data sekunder.
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui sumber yang ada dan tidak perlu disimpulkan sendiri oleh peneliti (Sekaran, 2006). Data tersebut berupa angka-angka dalam laporan keuangan perusahaan Bank Persero melalui website Otoritas Jasa Keuangan (www.ojk.go.id).
1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080
Sumber data yang diperoleh dari situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berupa laporan publikasi perusahaan Bank Persero selama periode penelitian yakni tahun 2016-2018.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi yaitu melakukan pengumpulan dan pencatatan data dari laporan keuangan berupa laporan laba rugi perusahaan di situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data yang dikumpulkan tersebut berupa laporan keuangan perusahaan yang berkaitan dengan variabel penelitian selama periode lima tahun yakni tahun 2016-2018.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Bogdan dalam Sugiyono, 2016).
Teknik analisis data yang dilakukan peneliti yaitu melalui pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan sebenarnya yang terjadi pada obyek penelitian dengan membandingkan kenyataan dengan teori yang ada. Setelah memperoleh gambaran yang cukup, kemudian penulis melakukan analisis dari data yang diperoleh dari perusahaan, analisis ini 1081
1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102
digunakan untuk menilai apakah pembiayaan melalui leasing dapat menguntungkan perusahaan dengan berbagai keunggulan di dalamnya.
Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisa data tersebut adalah sebagai berikut:
1) Mengumpulkan data-data yang diperlukan
2) Mengolah data yang dikumpulkan sesuai dengan kebutuhan
3) Menganalisis data yang telah diolah :
Menghitung Present Value Cash Outflow (PVCO) alternatif leasing yang di dalamnya termasuk unsur-unsur biaya leasing dan discount factor.
Menghitung present value berdasarkan formula :
di mana:
PV : nilai sekarang dari sejumlah uang masa yang akan datang FVn : nilai uang yang diinvestasikan pada akhir tahun ke-n n : jumlah tahun sampai pembayaran yang akan diterima i : tingkat diskonto (atau bunga)
Menghitung biaya penyusutan berdasarkan metode straight-line method :
nilaiawal−nilai sisa 1103
1104 1105 1106 1107
1108
1109
1110 1111 1112
1113
1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120
Menghitung biaya pemeliharaan berdasarkan formula :
Biaya pemeliharaan = Total biaya leasing x Tingkat biaya pemeliharaan
Menghitung Present Value Cash Outflow (PVCO) alternatif pembelian langsung yang di dalamnya termasuk unsur-unsur harga pembelian, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan, dan discount factor.
Menghitung dan membandingkan efisiensi dari Present Value Cash Outflow (PVCO) alternatif leasing atau pembelian langsung
4) Menarik kesimpulan atas data yang telah di analisis
3.6 Definisi Operasional
Definisi Operasional Variabel dari penelitian ini adalah :
a. Leasing (X) adalah kegiatan pembiaayaan barang modal baik secara leasing dengan hak opsi (finance lease) maupun leasing tanpa hak opsi atau sewa guna usaha (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.
b. Efisiensi Biaya (Y) pada pokoknya dimaksudkan sebagai upaya penghematan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu hasil tertentu. Tingkat efisiensi yang dicapai dapat diketahui dengan cara membandingkan alternatif- alternatif pembiayaan yang dapat ditempuh untuk menghasilkan suatu target 1122
1123 1124 1125 1126 1127
1128 1129
1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137
1138 1139 1140 1141
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
A. Sejarah PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah -- yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia -- dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.
Setelah melalui proses konsolidasi dan integrasi menyeluruh di segala bidang, Bank Mandiri berhasil membangun organisasi bank yang solid dan mengimplementasikan core banking system baru yang terintegrasi menggantikan core banking system dari keempat bank legacy sebelumnya yang saling terpisah.
Sejak didirikan, kinerja Bank Mandiri senantiasa mengalami perbaikan terlihat dari laba yang terus meningkat dari Rp1,18 triliun di tahun 2000 hingga mencapai Rp5,3 triliun di tahun 2004. Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana pada 14 Juli 2003 sebesar 20% atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham.
Pencapaian Penting Bank Mandiri 2014 1144
1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166
Bank Mandiri terus memperkuat peran sebagai lembaga intermediasi untuk mendorong perekonomian nasional. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,2% pada akhir 2014 menjadi Rp.530 triliun dari Rp.472,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rasio NPL terjaga di level 2,15 %.
Pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset menjadi Rp.855 triliun dari Rp733,1 triliun pada Desember 2013. Sedangkan laba bersih pada 2014 tercatat tumbuh 9,2 % menjadi Rp19,9 triliun atau naik Rp1.7 triliun jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp.18,2 triliun. Selain pertumbuhan kredit, laju kenaikan laba bersih juga ditopang oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp15.06 triliun pada tahun 2014.
Laju kenaikan laba juga ditopang pertumbuhan bunga bersih sebesar 15,7% menjadi Rp 39,1 triliun dan kenaikan fee based income sebesar 3,9 % sehingga mencapai Rp.15,06 triliun. Dari capaian laba tersebut, kontribusi anak perusahaan mencapai 9.1% % atau sebesar Rp1,81 triliun.
Sebagai implementasi fungsi intermediasi dalam mendukung perekonomian nasional, Bank Mandiri juga terus memacu pembiayaan ke sektor produktif. Hasilnya, pada akhir 2014, kredit ke sektor produktif tumbuh 13.9 % mencapai Rp 410,6 triliun. dimana kredit investasi tumbuh 9,1 % dan kredit modal kerja tumbuh 16,7%.
Dilihat dari segmentasi, kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh bisnis, dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 33,2%
1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188
untuk segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 13,6 % menjadi Rp 73,4 triliun.
Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hingga akhir 2014, jumlah nasabah KUR Bank Mandiri meningkat 34 % yoy mencapai 396 ribu nasabah.
Kepercayaan masyarakat kepada Bank Mandiri juga terus tumbuh yang ditunjukkan dengan naiknya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp.636,4 triliun pada akhir 2014 dari Rp.556,4 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari pencapaian tersebut, total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dikumpulkan Bank Mandiri mencapai Rp380,5 triliun, yang terutama didorong oleh pertumbuhan tabungan sebesar 6,7% atau Rp15,93 triliun hingga mencapai Rp252,4 triliun.Capaian tersebut sangat menggembirakan, terutama jika mempertimbangkan tingkat persaingan likuiditas yang sangat ketat di industri.
Sebagai upaya untuk meningkatkan pengumpulan dana masyarakat melalui peningkatan kenyamanan bertransaksi, Bank Mandiri terus mengembangkan jaringan kantor cabang, jaringan elektronik, maupun jaringan layanan lainnya. Hingga Desember 2014, Bank Mandiri telah memiliki 2.312 cabang, 15.344 unit ATM serta penambahan jaringan bisnis mikro sehingga menjadi 1.833 unit.
Atas kinerja baik tersebut, Bank Mandiri meraih sejumlah penghargaan antara lain sebagai bank terbaik di Indonesia dari tiga publikasi terkemuka di sektor keuangan, yaitu Finance Asia, Asiamoney dan The Banker. Selain itu, Bank 1190
1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212
Mandiri juga berhasil mempertahankan predikat Best Bank in Service Excellence dari Marketing Research Indonesia (MRI) dan Majalah SWA selama tujuh tahun berturut-turut serta predikat Most Trusted Companies selama delapan tahun berturut-turut dari International Institute for Corporate Governance (IICG).
B. Visi & Misi PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Visi Mandiri
Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif
Misi Mandiri
Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar
Mengembangkan sumber daya manusia professional
Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder
Melaksanakan manajemen terbuka
Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan C. Budaya Organisasi PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
Integrity
Setiap saat berpikir, berkata dan berperilaku terpuji, menjaga martabat serta menjunjung tinggi kode etik profesi.
Professionalism
Berkomitmen untuk bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab.
Costumer Focus 1213
1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236
Excellence
Mengembangkan dan melakukan perbaikan di segala bidang untuk mendapatkan nilai tambah optimal dan hasil yang terbaik secara terus- menerus.
4.1.2 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
A. Sejarah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (selanjutnya disebut “BNI” atau
“Bank”) pada awalnya didirikan di Indonesia sebagai Bank sentral dengan nama
“Bank Negara Indonesia” berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang No. 2 tahun 1946 tanggal 5 juli 1946. Selanjutnya, berdasarkan Undang- Undang No. 17 tahun 1968, BNI ditetapkan menjadi “Bank Negara Indonesia 1946”, dan statusnya menjadi Bank Umum Milik Negara. Selanjutnya, peran BNI sebagai Bank yang diberi mandat untuk memperbaiki ekonomi rakyat dan berpartisipasi dalam pembangunan nasional dikukuhkan oleh UU No.17 tahun 1968 tentang Bank Negara Indonesia 1946.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.19 tahun 1992, tanggal 29 April 1992, telah dilakukan penyesuaian bentuk hukum BNI menjadi Perusahaan Perseroan Terbatas (Persero) penyesuaian bentuk hukum menjadi persero, dinyatakan dalam akta No.131 tanggal 31 juli 1992, dibuat dihadapan Muhani Salim, S.H., yang telahg diumumkan dalam Berita Negara Indonesia No.73 tanggal 11 September 1992 tambahan No. 1A.
1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260
BNI merupakan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkn sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996. Untuk memperkuat struktur keuangan dan daya saingnya , di tengah industri perbankan nasional, BNI melakukan sejumlah aksi korporasi, antara lain proses rekapitulasi oleh pemerintah di tahun 1999, divestasi saham pemerintah di tahun 2007, dan penawaran umu saham terbatas di tahun 2010.
Untuk memnuhi ketentuan Undang-undang No.40 tahun 2007 tanggal 16 Agustus 2007 tentang Perseroan Terbatas, Anggaran Dasar BNI telah dilakukan penyesuaian tersebut dinyatakan dalam Akta No.45 tanggal 13 Juni 2008 yang dibuat dihadapan Fatiah Helmi, S.H., Notaris di jakarta, berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggl 28 Mei 2008 dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, dengan Surat Keputusan No. AHU-AH.02-50609 tanggal 12 Agustus 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 103 Tanggal 23 Desember 2008 tambahan No. 29015.
Perubahan terakhir Anggaran Dasar BNI dilakukan antara lain tentang penyusunan kembali seluruh Anggaran Dasar sesuai dengan Akta No. 35 tanggal 17 Maret 2015 Notaris Fathiah Helmi, SH., telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia , dengan surat keputusan No. AHU-AH.01..03-0776526 tanggal 14 aprl 2015.
Saat ini 60% saham-saham BNI dimiliki oleh Pemerintah Republik 1261
1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282
maupun institusi, domestik dan asing. BNI kini tercatat sebagai Bank nasional terbesar ke-4 di Indonesia. Dilihat dari total aset, total kredit maupun total dana pihak ketiga. Dalam memberikan layanan finansial secara terpadu , BNI didukung oleh sejumlah perusahaan anak, yakni Bank BNI syariah, BNI multifinance, BNI sekuritas, BNI Life Insurance dan BNI Remmitance.
BNI menawarkan layanan penyimpanan dana maupun fasilitas pinjaman baik pada segmen korporasi, menengah, maupun kecil. Beberapa produk dan layanan terbaik telah disesuaikan dengan kebutuhan nasabah sejak kecil , remaja, dewasa , hingga pensiun.
B. Visi & Misi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Visi BNI
Menjadi Lembaga Keuangan yang Unggul dalam Layanan dan Kinerja Misi BNI
Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah dan selaku mitra pilihan utama
Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor
Menciptakan kondisi terbaik bagi karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi.
Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab kepada lingkungan dan komunitas.
Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik
1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307
Budaya Kerja BNI "PRINSIP 46" merupakan tuntunan perilau insan BNI, terdiri dari :
4 (Empat) Nilai Budaya Kerja BNI:
Profesionalisme
Integritas
Orientasi Pelanggan
Perbaikan Tiada Henti
6 (Enam) Nilai Prilaku Utama Insan BNI:
Meningkatkan Kompetensi dan memberikan hasil terbaik
Jujur, Tulus dan ikhlas
Disiplin , Konsisten dan bertanggungjawab
Memberikan layanan terbaik melalui kemitraan yang sinergis
Senantiasa melakukan penyempurnaan
Kreatif dan Inovatif
4.1.3 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
A. Sejarah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi).Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah 1309
1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333
kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat.
Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan 1336
1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358
di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor 1359
1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380
Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.
B. Visi & Misi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Visi BRI
Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.
Misi BRI
Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.
1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404
Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan teknologi informasi yang handal dengan melaksanakan manajemen risiko serta praktek Good Corporate Governance (GCG) yang sangat baik.
Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders).
C. Budaya Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
BRIliaN (BRI dengan Lima Nilai) meliputi nilai-nilai pokok yang dikelompokkan sebagai berikut:
Integrity
Professionalism
Trust
Innovation
Costumer Centric
10 (sepuluh) sikap prilaku insan BRI adalah sikap dan prilaku setiap insan BRI yang mencerminkan nilai-nilai pokok Budaya Kerja BRI (BRILiaN)
Jujur, dapat dipercaya dan taat pada aturan
Selalu menjaga kehormatan dan nama baik pribadi dan perusahaan
Handal, Prudent, disiplin dan bertanggung jawab
Beriorientasi ke masa depan
Sebagai panutan dan berjiwa besar
Tegas dalam menindaklanjuti adanya penyimpangan
Memberikan pelayanan yang terbaik dengan tetap memperhatikan kepentingan perusahaan
Terampil, ramah ,senang melayani
Memperlakukan pekerja secara terbuka, adil, saling menghargai
Mengembangkan sikap kerja sama dalam menciptakan sinergi untuk kepentingan perusahaan
1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434
4.1.4 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
A. Sejarah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
Bank Tabungan Negara atau yang dikenal dengan BTN, saat ini kita kenal sebagai Bank untuk KPR (Kredit Perumahan Rakyat). Bank BTN ini telah mengalami perjalanan panjang hingga menjadi BTN seperti saat ini.
PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk didirikan sebagai bank milik Negara, semula dengan nama “Bank Tabungan Pos” berdasarkan Undang-undang Darurat No. 9 Tahun 1950 tanggal 9 Februari 1950. Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 4 tahun 1963, nama Bank Tabungan Pos diubah menjadi “Bank Tabungan Negara”.
Pada tanggal 29 April 1989, Bank mulai beroperasi sebagai bank umum milik negara.Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1992, status Bank diubah menjadi perseroan terbatas milik negara (Persero). Akta pendirian Bank sebagai Persero dibuat dihadapan Notaris Muhani Salim, S.H., No. 136 tanggal 31 Juli 1992 dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. C2-6587.HT.01.01.TH.92 tanggal 12 Agustus 1992,serta diumumkan dalam Berita Negara No. 73 tanggal 11 September 1992 Tambahan No. 6A.
Anggaran dasar Bank telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan perubahan yang didokumentasikan dalam Akta yang dibuat oleh Notaris Emi Susilowati, S.H., No. 29 tanggal 27 Oktober 2004. Perubahan terakhir ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam 1436
1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458
Surat Keputusan No. C-27480. HT.01.04.TH.2004 tanggal 3 November 2004, serta diumumkan dalam Berita Negara No. 1332 tanggal 8 Februari 2005 Tambahan No. 11.51 Berdasarkan surat keputusan Direksi Bank Indonesia No.
27/55/KEP/DIR tanggal 23 September 1994, Bank memperoleh status sebagai bank devisa.
Berdasarkan pasal 3 anggaran dasar Bank, ruang lingkup kegiatan Bank adalah menjalankan kegiatan umum perbankan sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku, termasuk melakukan kegiatan Bank berdasarkan prinsip syariah. Bank mulai melakukan kegiatan Bank berdasarkan prinsip syariah pada tanggal 14 Februari 2005 dengan mulai beroperasinya cabang syariah pertama di Jakarta -Harmoni. Bank berdomisili di Jakarta dan kantor pusat Bank berlokasi di Jalan Gajah Mada No.1, Jakarta Pusat. Pada tanggal 31 Desember 2007, Bank memiliki 65 kantor cabang (termasuk 12 kantor cabang syariah), 180 cabang pembantu, 1 kantor kas dan 1.261 kantor kas SOPP (System Online Payment Points/Kantor Pos On-line).
Salah satu produk andalan BTN seperti yang kita ketahui adalah KPR atau Kredit Perumahan Rakyat. Dalam Kredit perumahan , BTN tampil di depan.
Dengan 38 Lebih cabang seluruh Indonesia, kemudahan untuk memperoleh kredit perumahan makin dirasakan oleh masyarakat.
Berawal dari tahun 1974 Pemerintah menetapkan kebijakan pembangunan perumahan untuk masyarakat menengah ke bawah. Untuk menunjang berhasilnya kebijakan tersebut, BTN ditunjuk sebagai wadah pembiayaan Kredit Pemilikan 1459
1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480