• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perceraian Terhadap Prestasi Belajar

Dalam dokumen prestasi belajar siswa dalam keluarga yang (Halaman 51-57)

BAB II LANDASAN TEORI

C. Pembahasan Tentang Prestasi Belajar

3. Pengaruh Perceraian Terhadap Prestasi Belajar

yang lebih buruk lagi.Dalam hal ini, bukan saja anak tidak mau belajar melainkan ia cenderung berprilaku menyimpang, terutama perilaku menyimpang yang berat seperti anti sosial.33

Selain itu, perasaan orang tua satu dengan yang lain mempengaruhi cara mereka mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka. Misalnya, bila seorang anak dimarahi dalam sebuah rumah yang penuh kasih sayang, anak akan mengerti mengapa ia sampai dimarahi, namun bila hubungan antara kedua orang tua sedang mengalami ketegangan, kualitas mereka dalam mengasuh anak akan menurun.

Namun, adakalanya orang tua yang sedang mengalami ketegangan, malah menjadi terlalu melindungi anak-anak mereka. Reaksi anak-anak terhadap ketegangan yang timbul di rumah mereka, biasanya salah satunya yaitu mereka menjadi cemas secara berlebihan, kecemasan ini sering menimbulkan sifat agresif pada anak. Sayangnya, orang tua sering menganggap tindakan/ perilaku buruk anak-anak mereka sebagai hal yang biasa

a. Dampak Perceraian terhadap Kehidupan Rumah Tangga

Dalam kehidupan keluarga Allah telah menentukan tanggung jawab yang harus dipikul oleh suami dan istri. Apabila pasangan tersebut ternyata tidak lagi mampu mengemban tanggung jawab dan menegakkan keluarga yang berisikan semangat, kasih sayang, ketentraman dan saling memberikan dorongan untuk menciptakan kebahagiaan, maka dalam situasi seperti ini pasangan ini tidak lagi layak meneruskan bahtera rumah tangganya.

Pada saat seperti itu harus ada jalan keluar yang dapat mengobati suasana tidak sehat sehingga menghindarkan pasangan tersebut dari

kehancuran mental dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam. Kasus ini menimbulkan stress, tekanan dan menimbulkan perubahan fisik dan mental. Keadaan seperti ini dialami oleh semua anggota keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak.34

Kejadian yang kita saksikan di tengah masyarakat antara suami istri yang telah bercerai adalah timbulnya permusuhan atau sikap saling membenci. Bahkan bila mereka mempunyai anak. Anak-anak dapat mengalami penderitaan lahir dan batin. Hal semacam ini membuat banyak orang merasa sangat cemas dengan perceraian, bahkan mengecam perceraian sebagai suatu tindakan yang menghancurkan masa depan anak-anak.

Karena sebuah perceraian membawa dampak negatif yang besar sekali kepada suami, istri dan terutama anak, dimana anak pada saatnya membutuhkan perlindungan dan bantuan orang tua justru orang tua berpisah karena adanya perceraian.

Peristiwa perceraian, selain berdampak negative terhadap anak, juga berdampak negatif terhadap kedua pasangan yaitu suami dan istri.

Mereka sama-sama mengalami stress. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hasan Basri yang mengatakan bahwa stress bisa disebabkan oleh keadaan lingkungan sosial yang kurang mengembirakan seperti : hubungan suami istri yang kurang harmonis, hubungan antar tetangga

34Save M. Dagun, Psikologi Keluarga (Perceraian Ayah dalam Keluarga) (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hlm. 113.

yang tidak baik, hubungan yang tidak baik antara kedua orang tua atau salah satu dengan anak-anaknya, kerja sama dalam rumah tangga yang kurang berjalan sebagaimana mestinya, sering perselisihan terjadi dalam keluarga dan sebagainya. 35

Selain hal tersebut di atas, mereka juga mengalami kesulitan dalam hal menangani anak, terlebih bagi seseorang ibu. Dalam kasus perceraian ini, kaum ibu lebih mengalami kesulitan konkrit dalam menangani anak-anak. Sementara bagi ayah, ia mengalami kesulitan dalam taraf berpikir, merenungi dirinya bagaimana menghadapi situasi ini. 36

b. Rumah Tangga yang Perceraian dapat Berpengaruh terhadap Prestasi Belajar Anak

Anak-anak hari ini adalah orang dewasa di masa yang akan datang. Mereka akan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang cukup besar sebagaimana layaknya dalam kehidupan orang-orang dewasa pada umumnya. Bagaimana keadaan orang dewasa di masa yang akan datang sangat bergantung kepada sikap dan penerimaan serta perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya pada masa sekarang.

Oleh karena itu merupakan bahan kesadaran yang cukup baik pada sementara orang dewasa untuk memperhatikan apa yang mereka berikan kepada anak-anaknya.

35Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994), hlm. 128.

36Save M. Dagun.Psikologi Keluarga (Perceraian Ayah dalam Keluarga), (Jakarta:

Rineka Cipta, 1990), hlm. 117.

Setiap orang tua yang bertanggung jawab juga memikirkan dan mengusahakan agar senantiasa terciptakan dan terpelihara suatu hubungan antara orang tua dan anak yang baik, efektif dan menambah kebaikan dan keharmonisan hidup dalam keluarga. Sebab telah menjadi bahan kesadaran para orang tua bahwa hanya dengan hubungan yang baik kegiatan pendidikan dapat dilaksanakan dengan efektif dan dapat menunjang terciptanya kehidupan keluarga yang harmonis.

Oleh karena itu kasih sayang orang tua dan kemesraan yang berkembang dalam kehidupan suami istri dan kemudian membuahkan kelahiran tunas-tunas baru dalam keluarga dan masyarakat serta bangsa, anak disambut dengan penuh kasih sayang. Dasar kasih sayang yang murni akan sangat membantu perkembangan dan pertumbuhan anak- anak dalam kehidupan selanjutnya.

Orang tua dikatakan orang tua yang baik adalah orang tua yang memperhatikan aspek lahiriyah dan badaniah serta memperhatikan permasalahan perkembangan rohaniah dan keadaan belajar anak- anaknya, karena itu orang tua memperhatikan suasana rumah tangga yang tenang dan ruang belajar anak yang memungkinkan mereka dapat nyaman untuk belajar. Dan kedua orang tua yang baik tentu selalu memperhatikan hal-hal berikut :

a. Pertengkaran kedua orang tua selalu menganggu perasaan dan pemikiran anak. Perasaan seorang anak akan menjadi kacau dan kebingungan akan memihak siapa.

b. Orang tua yang baik jauh sebelum mempunyai anak dan keturunan telah berniat untuk menjadikan rumah tangganya yang berbahagia dan terbebas dari penyelewengan baik dalam bidang material, keungan maupun dalam bidang moral dan seksual, karena dalam kondisi yang demikian perasaan dan pemikiran anak benar-benar remuk, kemana lagi mereka mencari tempat berlindung kalau kedua orang tua ( salah satu) sudah tidak dapat dipercayai lagi.

c. Anak-anak walaupun sama jenis dan tinggi badannya tetapi tidaklah sama dalam aspek-aspek lainnya seperti dalam hal kecerdasan. Oleh karenanya janganlah sekali-kali membanding-bandingkannya dan terkesan kurang puas dan tidak senang dengan anak sendiri karena ia memiliki IQ yang rendah.

d. Memaksakan kehendak kedua orang tua terhadap anak juga merupakan kebiasaan yang perlu dihindarkan, sebab anak masih tumbuh dan berkembang.

e. Kedua orang tua harus selalu memperhatikan penggunaan waktu dari anak-anaknya. Jangan biarkan anak-anak meneruskan kebiasaan dan berprilaku yang kurang terpuji, sebab sedikit banyak dan lambat laun akan merugikan dirinya sendiri.

f. Kedua orang tua yang baik perlu memberikan kebebasan anak- anaknya dalam pergaulan mana yang dapat dimasukinya.37

37Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1994), hlm. 108-112.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kemampuan intelektual anak sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar namun bermacam- macam kondisi disekitarnya (tempat anak-anak belajar) tidak kurang pula pentingnya untuk diperhatikan karena kedua orang tua mempunyai andil yang cukup besar dalam membantu anak mendapatkan suasana belajar yang menguntungkan. Suasana seperti itu akan diperoleh dalam kehidupan keluarga yang harmonis.

Keluarga yang kurang harmonis yang didalamanya terhadap suatu konflik antara anggota keluarga dan konflik ini tidak kunjung jua ditemui jalan keluarnya, maka keluarga tersebut benda dalam ambang pintu perceraian. Peristiwa tersebut selalu mendatangkan ketidak-tenangan berpikir dan ketegangan tersebut memakan waktu lama.38

Dalam dokumen prestasi belajar siswa dalam keluarga yang (Halaman 51-57)

Dokumen terkait