BAB III METODE PENELITIAN
D. Teknik Pengumpulan Data
Dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula, secara langsung dengan tatap muka (face to face relationship) antara si pencari informasi dengan sumber informasi (antara peneliti dengan responden) dan dilaksanakan secara sistematis berlandaskan pada tujuan penelitian. Metode ini digunakan untuk memperoleh data siswa-siswa yang orang tuanya bercerai melalui Guru Wali Kelas, dan data tentang prestasi belajar siswa.
3. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis.Dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notula rapat, dan catatan.47 Data dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi data-data yang diperoleh dari wawancara dan observasi.Metode dokumentasi digunakan untuk mencari data tentang profil, visi dan misi, sarana dan prasarana sekolah yang berhubungan dengan penelitian ini.
E. Teknik Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data merupakan faktor yang menentukan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini pemeriksaan keabsahan datanya peneliti menggunakan teknik triangulasi teori, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan teori untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.48
47Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 274.
48Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), hlm. 178.
Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat beberapa macam triangulasi: Pertama, Triangulasi Sumber yang dilakukan dengan cara mengecek data melalui beberapa sumber. Kedua, Triangulasi Teknik yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Ketiga, Triangulasi Waktu yang dilakukan dengan cara melakukan pengecekan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda.
Dengan penelitian ini, triangulasi yang digunakan peneliti adalah triangulasi sumber yang dilakukan dengan cara mengecek melalui beberapa sumber. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.49
F. Teknik Analisis Data
Pengolahan data merupakan kegiatan terpenting dalam proses dan kegiatan penelitian. Kekeliruan memilih analisis dalam penelitian ini berakhir fatal pada kesimpulan, generalisasi maupun interpretasi.Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui pencatatan, penyusunan, pengolahan dan penafsiran serta menghubungkan makna data yang diperoleh peneliti kemudian mengaitkannya dengan masalah penelitian.
49Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 241.
Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan proses analisis data sebagaimana yang digunakan oleh Miles dan Huberman, meliputi:50
a. Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar”
yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisis.Ia merupakan bagian dari analisis.51 Data penelitian yang diperoleh dari sumber data yang terkait dengan kepribadian siswa kelas II, III, IV, V, VI yang orang tuanya mengalami perceraian oleh peneliti akan dipilah-pilah, mana yang dibuang, dan mana yang akan digunakan dalam penelitian ini. Selama dalam proses pemilihan data tersebut, peneliti membuat ringkasan, dan lain sebagainya. Kegiatan ini berlangsung sampai penelitian ini menjadi laporan akhir penelitian yang lengkap.
b. Penyajian Data
Alur penting kedua dari kegiatan analisis adalah penyajian data.Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian yang sering digunakan pada data kualitatif adalah bentuk teks naratif serta dapat pula dalam bentuk matriks, grafik, jaringan dan bahan.52
50Mathews B. Miles dan A. Micael Huberman, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta: UI Press, 1992), hlm. 15-17.
51Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 247.
52Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 249.
c. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi
Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam penelitian ini mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan.53
Pada tahap ini peneliti mencoba menarik kesimpulan berdasarkan tema untuk menemukan makna dari data yang dikumpulkan. Makna- makna yang muncul dari data harus di uji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya yakni yang merupakan validitasnya. Ketiga analisis tersebut terlibat dalam proses saling berkaitan, sehingga menentukan hasil akhir dari penelitian data yang disajikan secara sistematis berdasarkan tema-tema yang dirumuskan. Dapat disimpulkan bahwa peneliti dalam menganalisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang kerap digunakan dalam penelitian kualitatif.
53Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 92-99.
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH DAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Wilayah Penelitian 1. Profil SDN 88 Bengkulu Tengah
Sejarah berdirinya Sekolah Dasar Negeri 88 Bengkulu Tengah, awal mula SD bernama Sekolah Dasar Negeri 37 Pondok Kelapa yang berdiri Tahun 1995 yang Kepala Sekolahnya bernama Erlan Suki, A.Ma. dengan jumlah tenaga pengajar 18 (delapan belas) guru, yang terdiri dari 1 (satu) Kepala Sekolah, 3 (tiga) guru laki-laki, dan 14 (empat belas) guru perempuan.
Pada tahun 2002 Sekolah Dasar bernama Sekolah Dasar Negeri 22 Pondok Kelapa yang terdiri dari 16 (enam belas) tenaga pengajar, 1 (satu) Kepala Sekolah, 3 (tiga) guru laki-laki dan 12 (dua belas) guru perempuan.
Kemudian pada tahun 2007 berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri 17 Pondok Kelapa dengan No. NPSN: 10702961, Nomoe Statistik Sekolah (NSS) : 10-1-26-09-03-017, dipimpin oleh Kepala Sekolahnya Drs. Irnadi, jumlah tenaga pengajar 16 (enam belas) orang guru yang terdiri dari guru laki-laki 5 (lima) orang dan guru perempuan 11 (sebelas) orang. Jenjang Pendidikan tenaga pengajar di SD Negeri 17 Pondok Kelapa, 8 (delapan) orang guru berpendidikan Sarjana (S1) dan 8 (delapan) guru berpendidikan DII. Jumlah siswa yang ada sebanyak 241 (dua ratus empat puluh satu) siswa,Tenaga pengajar yang sudah sertifikasi sebanyak 15 (lima belas) guru dan yang belum sertifikasi 2 (dua) orang guru.
55
Nama Sekolah Dasar (SD) bengalami perubahan kembali menjadi Sekolah Dasar Negeri 88 Bengkulu Tengah pada tahun 2017 yang dipimpin oleh Kepala Sekolah yang bernama Harmin,S.Pd, dengan jumlah tenaga pengajar ada 11(sebelas) orang guru. Dan sekarang Sekolah Dasar Negeri 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah dipimpin oleh Helendra,M.Pd, dengan jumlah tenaga pengajar ada 10 (sepuluh) orang guru yang terdiri dari guru laki-laki 2 (dua) orang dan guru perempuan 8 (delapan) orang.
2. Visi, Misi, dan Strategi sekolah a. Visi
Mewujudkan anak didik yang berprestasi, beriman dan berpijak pada budaya bangsa. (Sumber Sekolah)
b. Misi
1) Menata lingkungan sekolah yang asri, aman, nyaman dan menyenangkan.
2) Meningkatkan mutu guru.
3) Motivasi belajar siswa yang berkesinambungan.
4) Melengkapi sarana dan prasarana pendidikan.
5) Meningkatkan kerjasama dengan komite sekolah, orang tua, dan masyarakat.
c. Strategi
1) Meningkatkan pelaksanaan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan.
2) Menerapkan disiplin belajar mengajar yang jelas dan tegas.
3) Melaksanakan pembinaan dan pengawasan secara berkala terhadap seluruh peserta didik.
3. Letak dan Luas Sekolah
SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah yang dijadikan tempat/objek penelitian.
Tepatnya jarak ke pusat Kecamatan ± 2 KM dan jarak ke pusat Otoda ± 12 KM. Jalan untuk menuju ke lokasi sudah dikatakan memadai, karena dapat ditempuh dengan segala jenis angkutan yakni motor dan mobil.
Sekolah memiliki luas 2.323 M², yang berbatasan dengan wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan tanah Bainah.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Jln. Gang dan Balai Dusun.
3. Sebelah barat berbatasan dengan Syarbini.
4. Sebelah timur berbatasan dengan Jalan Desa.
Tanah tersebut diperoleh secara Hibah dari Bapak Suwirto pada tahun 1995. Pada awalnya nama SD tersebut SDN 37 Pekik Nyaring, SD tersebut sudah dua kali berganti nama dan sekarang menjadi SDN 88 Bengkulu Tengah. Untuk mengetahui lebih jelas pergantian kepala sekolah di SDN 88 Bengkulu Tengah dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 4.1
Nama-nama Kepala Sekolah SDN 88 Bengkulu Tengah
No. Nama Periode
1. Ir. Erlan Zuki 1995-2003
2. Ir. Rahatia 2003-2006
3. Drs. Irnadi 2006-2018
4. Harmin, S.Pd 2018-2019
5. Helendra, M.Pd 2019- Sekarang
Sumber: Arsip Sekolah54 4. Jumlah guru
Jumlah Guru di SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah :
Tabel 4.2
Data Guru dan Pegawai SDN 88 Bengkulu Tengah No
.
Nama Jabatan Pendidikan Gol
1. Helendra, M.Pd Ka. Sekolah S2 IV A
2. Darti Nuraiba, A.Ma.Pd Guru Kelas D2 IV A
3. Jainah, A.Ma Guru Mapel(PAI) D2 IV A
4. Rusmiati, A.Ma.Pd Guru Kelas D2 IV A
5. Harmin, S.Pd Guru Kelas S1 IV A
6. Hitler Nainggolan, S.Pd Guru Kelas S1 IV A
7. Martini Sawaliah, S.Pd Guru Kelas S1 IV A
8. Ruaidah, S.Pd Guru Kelas S1 IV A
9. Nuryati Siallagan, S.Pd Guru Kelas S1 IV A
10. Indarmawati, S.Pd Guru Mapel S1 IV A
11. Fitri Handayani, S.Pd Guru Kelas S1 III B
Sumber Data: TU SDN 88 Bengkulu Tengah55
54Arsip SDN 88 Bengkulu Tengah
55Arsip SDN 88 Bengkulu Tengah.
5. Jumlah siswa
Jumlah siswa/siswi SDN 88 Bengkulu Tengah, jumlah siswa baik laki-laki maupun perempuan yaitu 218 orang. Dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.3
Daftar jumlah siswa SDN 88 Bengkulu Tengah
Kelas L P Jumlah
I 11 16 27
II 20 14 34
IIIA 9 11 20
IIIB 9 12 21
IVA 10 11 21
IVB 9 11 20
VA 11 9 20
VB 14 4 18
VI 21 16 37
114 104 218
Sumber Data: TU SDN 88 Bengkulu Tengah56 B. Temuan Hasil Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi belajar pada siswa yang kedua orang tuanya bercerai di SDN 88 Bengkulu Tengah dan dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar peserta didik di SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah.
Hasil penelitian ini diperoleh berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di SDN 88 Bengkulu Tengah yang terdapat 10 orang siswa yang kedua orang tuanya mengalami perceraian, dan telah dilakukan wawancara, observasi kepada 10 siswa yang di antaranya siswa kelas II, IIIA, IVB, VA,
56Arsip SDN 88 Bengkulu Tengah.
VB, dan VI yang orang tuanya bercerai. Sebelum melakukan wawancara dengan siswa, peneliti terlebih dahulu mencari informasi kepada pihak terkait yaitu kepala sekolah, guru wali kelas, dan siswa kelas II, IIIA, IVB, VA, VB, dan VI itu sendiri. Hal ini dilakukan untuk mendukung data dalam pemilihan siswa untuk di lakukan wawancara dengan informasi yang telah diperoleh dari pihak-pihak tersebut.
Peneliti menggunakan metode wawancara dan observasi bertujuan agar dapat mencari data yang lengkap mengenai objek. Wawancara dilakukan oleh siswa sendiri, guru wali kelas, dan temannya. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh dan memperjelas penjabarannya, dalam penelitian ini akan dijelaskan hasil penelitian meliputi a) mengenai prestasi belajar pada siswa yang kedua orang tuanya bercerai di SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah, b) mengenai dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah.
1. Faktor-faktor pendukung dan penghambat prestasi belajar siswa yang orang tuanya bercerai di SDN 88 Bengkulu Tengah.
Mengenai faktor-faktor yang mendukung dan menghambat prestasi belajar peserta didik seperti yang diketahui faktor ini dapat dibagi menjadi menjadi dua yaitu faktor dari dalam(internal) yakni dalam diri peserta didik itu sendiri yang meliputi aspek fisiologis dan aspek psikologis.
Aspek fisiologis meliputi jasmani. Kondisi tubuh yang lemah akan berdampak secara langsung pada kualitas penyerapan materi pelajaran,
untuk itu perlu asupan gizi dari makanan dan minuman agar kondisi tetap terjaga. Selain itu juga perlu memperhatikan waktu istirahat yang teratur dan cukup tetapi harus disertai olahraga ringan secara berkesinambungan.
Sedangkan aspek psikologis meliputi intelegensi, sikap, bakat, minat dan motivasi. Sedangkan faktor kedua yang mendukung dan menghambat prestasi belajar peserta didik adalah faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar diri peserta didik meliputi Lingkungan sosial ini meliputi lingkungan orang tua dan keluarga, sekolah serta masyarakat.
Lingkungan sosial yang paling banyak berperan dan mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah lingkungan orang tua dan keluarga. Lingkungan sosial sekolah meliputi para guru yang harus menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik serta menjadi teladan dalam hal belajar, staf – staf administrasi di lingkungan sekolah, dan teman – teman di sekolah dapat mempengaruhi semangat belajar siswa.
Selain ada juga faktor non sosial yang memberi sumbangsi atas prestasi belajar yang dicapai peserta yang meliputi gedung sekolah dan bentuknya, rumah tempat tinggal, alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar siswa. Melihat kembali kepembahasan skripsi ini berikut ini observasi dan wawancara mengenai hal-hal yang menghambat dan mendukung prestasi belajar peserta didik yang orang tuanya bercerai:
1) Faktor Internal a. Intelegensi
Dari siswa Nastasya Alea Rahmadani merupakan anak yang pemalu dan pendiam terlihat pada saat dikelas maupun pada saat melakukan wawancara.
Hasil wawancara terhadap orang tua siswa mengenai cara bapak/ibu dalam memberikan kasih sayang terhadap anak. Ia berkata bahwa:
“Anak saya dapat dikatakan anak yang pendiam, saya memang jarang bertanya mengenai dirinya di sekolah karena saya merasa tidak ada masalah dan anak saya juga tidak ada mengadu apa pun.
Dalam hal kasih sayang tentu saja ada, saya memberikannya dengan memperhatikan asupan makananya. Dalam belajarnya dia mengerjakannya sendiri karena saya tidak dapat mendampingi, karena kadang sudah lelah dalam bekerja.”57
Dalam hal belajar, Meskipun siswa dari keluarga yang kedua orang tuanya bercerai tidak membuat prestasi belajarnya di sekolah menurun. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap siswa mengenai motivasi dalam belajar yang diberikan orang tua, ia mengatakan bahwa:
“Saya mengerjakan tugas dari guru biasanya dengan teman-teman saya. Karena saya lebih suka mengerjakan tugas yang diberikan guru secara berkelompok, bagi saya hal itu merupakan hal yang menyenangkan untuk berkumpul dengan teman sekolah di luar jam sekolah daripada harus di rumah. Motivasi yang diberikan orang tua saya dalam belajar lebih kepada memberikan dukungan dengan menanyakan sudah mengerjakan tugas atau belum, namun untuk mengajari dalam belajar saya mengerjakannya sendiri bersama teman- teman.”58
57Wawancara dengan Ibu Ema Suarsinah.
58Wawancara denganFarel Adelio Imansyah, 3 Agustus 2019.
kesimpulannya yaitu anak yang memiliki kemampuan yang cepat untuk beradaptasi akan lebih mudah menerima pelajaran daripada anak yang tidak dapat beradaptasi terhadap lingkungannya.
b. Perhatian
Farel Adelio Imansyah ( kelas IVB ) dari wawancara yang dilakukan terhadap orang tua siswa, mengenai perhatian seperti apa yang ibu/bapak berikan terhadap anak. Ia mengatakan bahwa :
“Saya lebih menekankan ke anak saya untuk lebih memperhatikan pembelajaran, walaupun saya hanya dapat memberikan perhatian dengan menanyakan mengenai pembelajarannya dan menanyakan mengenai tugas yang diberikan oleh guru. Karena saya harus bekerja.59
Menurut Muhammad Fadhil Mukharom Tonis ( kelas VA ) dari hasil wawancara peneliti mengenai tugas yang diberikan oleh guru untuk di rumah apakah sering diperiksa oleh ibunya atau tidak, ia mengatakan bahwa:
“Saya di rumah sering menghabiskan waktu bersama nenek.
Neneklah yang banyak mengajari saya mengenai hal-hal seperti memberikan sikap yang sangat menyayangi dan memanjakan saya.
Terlebih di rumah saya sangat senang karena nenek selalu memasakkan dan menemani pada saat saya belajar di rumah. Dan ibu saya yang mengingatkan saya untuk shalat. walaupun ibu saya sibuk bekerja.”
Menurut Ridho Murhidayat ( kelas VB) dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap orang tua siswa mengenai perhatian seperti apa yang diberikan bapak/ibu untuk anak, ia berkata bahwa:
“Saya sangat menyayangi anak saya. Mengenai perhatian yang saya berikan untuknya, saya menyadari bahwa kurang memperhatikan anak karena keadaan saya harus bekerja. Begitu pula ayahnya (ayah
59Wawancara dengan Ibu Sulis Setiawati.
tiri) juga harus mencari nafkah. Namun saya menyadari bahwa anak saya sangat optimis dalam belajar, karena dirinya memiliki prestasi yang bagus di dalam pelajaran terlihat dari rapotnya yang mendapatkan prestasi. Dalam bentuk memotivasinya saya sering mengingatkan anak saya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.60
Zalfero Bagaskara ( kelas VB) dari wawancara peneliti terhadap siswa mengenai apakah di rumah pekerjaan sekolah anda di periksa kembali oleh ibu atau kakak anda. Ia berkata bahwa:
“Pembelajaran di sekolah tidak pernah diperiksa atau pun ditanya lagi pada saat di rumah, karena saya setelah pulang sekolah terkadang langsung menonton tv dan kakak perempuan saya juga tidak akan mempermasalahkan itu karena ia memiliki pekerjaannya sendiri. Kami biasa mengerjakan tugas yang diberikan sekolah itu malam hari, dan kalau saya tidak mengerti saya akan menanyakannya dengan kakak perempuan saya. Walaupun kadang kakak saya sering tidak ingin diganggu.”
Muhammad Iqbal Nurmahdadi Putra ( kelas IVB ) dari Sifat yang terdapat pada siswa menurut temannya tersebut setelah dilakukan wawancara dengan siswa mengenai adanya motivasi dalam belajar dari orang tua, ia berkata bahwa:
“Dirumah saya sering dengan nenek saja, nenek membebaskan saya setelah pulang sekolah kalau saya ingin bermain. Walaupun di rumah saya sering menonton tv dan bermain handphone, nenek pun tidak melarang saya.”
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian di atas bahwasannya adanya perhatian yang baik dalam pelajaran diberikan kepada anak akan mempengaruhi prestasi belajar anak karena dibandingkan dengan perhatian yang tidak di dapat dalam diri anak akan mengakibatkan rendahnya prestasi belajar anak itu sendiri.
60Wawancara dengan Ibu Darsi.
c. Minat
Ridho Nurhidayat ( kelas VB ) dari hasil wawancara peneliti terhadap siswa tentang apa yang membuat belajar itu menjadi hal yang menyenangkan, ia berkata bahwa:
“Saya sangat menyukai pembelajaran yang saya anggap mudah dan itu adalah pembelajaran IPA, karena IPA pembelajaran yang tidak membuat saya pusing dengan angka-angka yang banyak dan harus berhitung. Dan pembelajarannya pun juga mengasyikan ditambah gurunya yang baik, mengajarkan kami sehingga kami memahami pembelajarannya. Guru yang mengajar pembelajaran IPApun sangat peduli terhadap saya, ketika saya tidak mengerti ia akan mendampingi saya, itulah pula yang membuat saya berani untuk bertanya.”61
Annisa Sulistiawati ( kelas IIIA ) dari hasil wawancara peneliti terhadap siswa mengenai adanya motivasi dalam belajar dari orang tua anda. Ia menjawab bahwa:
“Pada saat pulang sekolah saya langsung mengganti pakaian dan kadang setelah makan langsung bermain, ibu saya tidak mempermasalahkan itu. Ketika malam hari saya baru mengerjakan tugas dari sekolah, jika saya tidak memahaminya saya akan bertanya kepada teman saya besok harinya.Walaupun saya memiliki prestasi yang biasa namun saya tetap ingin belajar dengan bantuan guru maupun teman-teman saya.”62
Muhammad Ali Zulhilmi Suratno ( kelas VI ) dari wawancara terhadap siswa mengenai apakah belajar itu menyenangkan dan cara kamu belajar dikelas. Ia berkata bahwa:
“Saya suka belajar dikelas apalagi pembelajaran matematika, walaupun saya kurang memahami matematika. Gurunya yang baik membuat saya menyenangi pembelajaran matematika tersebut.
Saya belajar dikelas dengan memperhatikan guru, kalau pun saya
61Wawancara dengan Ridho Nur Hidayat, 22 Agustus 2019.
62Wawancara dengan Annisa Sulistiawati, 23 Agustus 2019.
tidak memahaminya saya akan bertanya kepada teman yang memahami pembelajaran tersebut.”
Dari penelitian di atas dapat disimpulkan bahwasannya minat mempunyai pengaruh yang besar terhadap belajar karena dengan adanya minat di dalam diri siswa, maka siswa akan bersungguh- sungguh dan sebaliknya pelajaran yang tidak sesuai dengan minatnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya sendiri karena tidak sesuai bakat yang diinginkannya.
d. Motif
Annisa Sulistiawati ( kelas IIIA ) dari wawancara peneliti dengan orang tua siswa, mengenai sikap bapak/ibu terhadap kedisiplinan dan prestasi belajar anak. Ia berkata bahwa:
“Saya mendidik anak saya seperti orang tua pada umumnya, walaupun ia dari anak yang kedua orang tuanya bercerai. Saya tidak ingin mendidiknya terlalu keras, dan di sekolah memang saya tidak bertanya namun selama anak saya tidak ada mengadu dalam hal apa pun berarti tidak ada masalah. Dalam hal belajar, saya tidak ingin terlalu menekannya karena ia anak yang sedikit tertutup dan pendiam.”63
Muhammad Fadhil Mukharom Tonis ( kelas VA ) dari wawancara yang dilakukan mengenai bagaimana sikap bapak/ibu terhadap kedisiplinan dan prestasi belajar anak anda, ia berkata bahwa:
“Saya dalam bersikap untuk anak lebih ingin menjadikan ia mandiri, tidak manja terhadap apa pun. Karena saya lebih ingin membuat anak saya tidak bergantung terhadap orang lain, terlebih karena saya tidak bisa menemaninya dalam hal belajar karena harus bekerja. Anak saya lebih banyak menghabiskan waktunya
63Wawancara dengan Waginem.
dengan ibu saya (neneknya). Dalam prestasinya saya bangga terhadap anak saya, walaupun saya tidak banyak memberikan dorongan dalam belajar untuk anak saya. Tetapi dia masih masuk ke dalam siswa yang berprestasi.64
Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa yang mendorong siswa agar berkeinginan belajar dengan baik dan dapat ditanamkan dalam diri siswa dengan cara tidak menekan anak dalam hal belajar agar anak dapat nyaman dengan lingkungan sekitarnya.
2) Faktor Eksternal
a. Lingkungan sosial sekolah
Muhammad Fadhil Mukharam Tonis ( kelas VA ) dari wawancara peneliti lakukan dengan guru mengenai adanya perlakuan khusus yang diberikan ibu terhadap siswa yang kedua orang tuanya bercerai. Ia berkata bahwa:
“Kalau mengenai sikap khusus sebenarnya semuanya saya ratakan sama karena setiap anak itu saya samakan , tidak adanya perbedaan untuk kedua orang tuanya bercerai atau pun tidak. Saya hanya akan mendekatinya jika dirasa siswa tersebut ingin menceritakan masalahnya Dan disini siswa merupakan anak yang dapat berteman dengan baik dan memiliki sikap yang baik. Tidak sungkan untuk bertanya apabila dia tidak mengerti mengenai pembelajaran yang dijelaskan.”65
Annisa Sulistiawati ( kelas IIIA ) dari guru wali kelasnya yang dilakukan pada saat wawancara dengan peneliti mengenai sikap khusus yang diberikan kepada anak yang kedua orang tuanya
64Wawancara dengan Ibu Nisfulailah Tam.
65Wawancara dengan ibu Nuryati Siallagan,S.Pd. 7 Agustus 2019.