• Tidak ada hasil yang ditemukan

prestasi belajar siswa dalam keluarga yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "prestasi belajar siswa dalam keluarga yang"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM KELUARGA YANG MENGALAMI PERCERAIAN ( STUDI PADA SDN 88 BENGKULU TENGAH KECAMATAN PONDOK KELAPA

KABUPATEN BENGKULU TENGAH )

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri Bengkulu Untuk Memenuhi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd ) Dalam Ilmu Tarbiyah

Oleh:

AMELLISA CAHYANI NIM. 1516240203

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI) FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU (IAIN) TAHUN 2020

(2)
(3)

KEMENTERIAN AGAMA RI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Bengkulu, Telp. (0736) 51276, Fax.

(0736) 51171 PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “Prestasi Belajar Siswa Dalam Keluarga Yang Mengalami Perceraian (Studi Pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah)” yang disusun oleh Amellisa Cahyani NIM.1516240203 telah dipertahankan di depan dewan penguji skripsi Fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu pada hari Selasa tanggal 07/01/2020 dan dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Ketua

Dr. H. Mawardi Lubis,M.Pd : Nip. 196512101998031015

Sekretaris

Abdul Aziz Mustamin, M.Pd : Nip.198504292015031007

Penguji I

Deni Febriani, M.Pd : Nip. 197502042000032001

Penguji II

Dra. Aam Amaliyah, M.Pd : Nip. 196911222000032002

Bengkulu, 7 Januari 2020 Mengetahui

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Tadris

Dr. Zubaedi, M.Ag.,M.Pd.

NIP. 19690381996031005

(4)

MOTTO

Rasulullah SAW ditanya tentang peranan kedua orang tua.

Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu”. (HR. Ibnu Majah)

Hidup merupakan pilihan setiap manusia, pilihan untuk menentukan sebuah nilai hidup.

(5)

PERSEMBAHAN

Bismillahirrahmanirrahim, maha sempurna Allah dengan segala takdirnya. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya,sehingga kebahagian menyertai keluargaku, Akan ku persembahkan Skripsi ini untuk:

1. Kepada orang tuaku. Terkhusus Ibunda Endang yang kucintai dan kusayangi, yang selalu memberikan cinta kasih sayang, Do’a yang terbentang luas tanpa batas.Untuk membalas semua itu, hanya Do’a yang dapat ku panjatkan kepada-Mu ya Allah, bantulah hamba untuk selalu membahagiakan mereka dan berikan Syurga-Mu untuknya kelak. Amin.

2. Terima kasih kepada Keluarga Besar terutama Pak cik Supardi dan Bucik Seri Marheni yang selalu membantu dalam segi moril atau pun materi.

3. Kakakku yang selalu membantu dan mendukungku Monicha Dea Pratiwi, Rio Mahesa, Lingga Riadi Utama, Sunarti Cahaya, Adytia Pradita, Ika Alviani, Serta Ayahanda Suritno yang selalu menyayangi dan memberikan dorongan yang tak henti pula.

4. Keponakanku tercinta Khenzi, Baim, Naura, Nafisa, Icel yang dapat membuat semangat dengan tawamu.

5. Sahabat yang selalu bersama dalam berjuang, selalu bersama dalam suka dan duka: Enilia Safitri, Siti Rabbani, Anastasya Inayah P, Rahmad Ilahi, Aisyah Octy Y, Romi Ari S.

6. Terima kasih untuk Pembimbing Akademik ibu Deni Febrini, S.Ag. M.Pd yang telah membimbing selama kuliah.

7. Seluruh guru dan dosenku yang telah tulus mendidik dan memberikan ilmu yang berguna kepada ku.

8. Sahabat KKN 69 disukaraja yang bersama-sama mencari pengalaman di daerah lain pada KKN 2018: Heri, Edi, Alek, Erdian, hamdi, Miya, Siska, Widya, Widia, Dwi. Serta teman-teman PGMI Kelas G 2015 seperjuangan.

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, Nama : Amellisa Cahyani

Nim : 1516240203

Jurusan/Prodi : Tarbiyah/Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul

“Prestasi Belajar Siswa Dalam Keluarga Yang Mengalami Perceraian ( Studi Pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah”, adalah asli hasil karya atau penelitian saya sendiri dan bukan plagiasi dari karya orang lain. Apabila dikemudian hari diketahui bahwa skripsi ini adalah hasil plagiasi maka saya siap dikenakan sanksi akademik.

Bengkulu, November 2019 Penulis

Amellisa Cahyani NIM: 1516240203

(7)
(8)

ABSTRAK

Amellisa Cahyani, Nim :1516240203 Judul: “Prestasi Belajar Siswa Dalam Keluarga Yang Mengalami Perceraian ( Studi Pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah)”. Pembimbing I: Edi Ansyah, M.Pd, Pembimbing II: Abdul Aziz Mustamim, M.Pd.

Kata kunci : Prestasi Belajar, Perceraian Orang Tua.

Permasalahan yang hendak dibahas dalam skripsi ini adalah dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Tujuan penelitian sesuai dengan rumusan masalah yang dikaji penulis, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut: Untuk mendeskripsikan Apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat prestasi belajar siswa yang kedua orang tuanya mengalami perceraian studi pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah ? dan Bagaimana prestasi belajar siswa yang keluarganya mengalami perceraian studi pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah?. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data yang diperoleh dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa: 1) Faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat prestasi belajar yang kedua orang tuanya mengalami perceraian menjadi dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri (internal) dan berasal dari luar diri (eksternal). Prestasi belajar yang ditimbulkan oleh siswa di SDN 88 Bengkulu Tengah terdapat lima anak yang memiliki prestasi belajar yang memuaskan, dua anak yang memiliki prestasi belajar yang biasa saja, tiga anak yang memiliki prestasi belajar yang rendah. 2) Dampak perceraian orang tua tergolong bermacam-macam meskipun diakui bahwa perceraian kedua orang tua dapat menimbulkan masalah serius terhadap psikologis anak yang berpengaruh pada menurunnya prestasi belajar siswa yang ditandai dengan konsentrasi belajar yang menurun akibat sulit menerima pelajaran yang diberikan, anak menjadi cenderung pendiam dan penyendiri serta suka melamun maka hasil belajar akan menurun.

(9)

KATA PENGANTAR









Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Prestasi Belajar Siswa Dalam Keluarga Yang Mengalami Perceraian ( Studi Pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah ).

Shalawat dan salam juga tak henti penulis curahkan kepada junjungan dan uswatun hasanah kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam yang maju dan modern.

Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Jurusan Tarbiyah Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu. Penyampaian dalam skripsi menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami dan informasi yang akurat diuraikan secara terperinci sehingga materi yang dibahas dapat bermanfaat bagi pengguna.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini tidak lepas dari adanya bimbingan, motivasi dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M.Ag., M.H selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu.

2. Bapak Dr.Zubaedi,M.Ag.,M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu.

3. Ibu Nurlaili,M.Pd selaku ketua jurusan Tarbiyah yang telah membantu memfasilitasi penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini.

4. Ibu Dra. Aam Amaliyah,M.Pd selaku ketua Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

(10)

5. Bapak Edi Ansyah,M.Pd selaku pembimbing 1 yang selalu membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini.

6. Bapak Abdul Aziz Mustamim,M.Pd selaku pembimbing II yang selalu membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini.

7. Bapak/Ibu dosen, pimpinan, staf dan karyawan Civitas Akademika IAIN Bengkulu.

8. Kedua orang tua yang sangat penulis sayang dan kakak-kakakku yang selalu mendo’akan dan memberikan semangat kepadaku dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Seluruh mahasiswa Program studi PGMI khususnya teman-teman seperjuangan angkatan 2015 IAIN Bengkulu.

Penulis menyadari dalam penyajian skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangatlah penulis harapkan demi perbaikan dimasa yang akan datang. Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya dan pendidikan umumnya. Semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.

Aamiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bengkulu, 7 Januari 2020 Penulis

Amellisa Cahyani NIM. 1516240203

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

NOTA PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

SURAT PERNYATAAN ... vi

PERNYATAAN PLAGIARISME ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR BAGAN ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Manfaat penelitian ... 9

BAB II LANDASAN TEORI A. Pembahasan Tentang Keluarga 1. Pengertian Keluarga ... 11

2. Peran dan Fungsi Keluarga ... 12

B. Pembahasan Tentang Perceraian 1. Pengertian Perceraian ... 21

2. Faktor Penyebab Perceraian ... 21

3. Dampak Perceraian ... 24

C. Pembahasan Tentang Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar ... 26

2. Faktor-faktor Yang Dapat Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 27

3. Pengaruh Perceraian Terhadap Prestasi Belajar ... 36

D. Penelitian Terdahulu ... 42

E. Kerangka Berfikir ... 44

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan atau Jenis Penelitian ... 46

B. Setting Penelitian ... 46

C. Informasi Penelitian ... 47

D. Teknik Pengumpulan Data ... 50

(12)

E. Teknik Keabsahan Data ... 51 F. Teknik Analisis Data ... 52 BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Wilayah Penelitian ... 55 B. Temuan Hasil Penelitian ... 59 C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 79 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 83 B. Saran ... 84 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Populasi dan Sampel ... 48

Tabel 4.1 Nama-nama Kepala Sekolah ... 58

Tabel 4.2 Data Guru dan Pegawai... 58

Tabel 4.3 Daftar Jumlah Siswa ... 59

(14)

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Berfikir ... 44

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Kisi-kisi Pedoman Wawancara ... Lampiran 1 2. Pedoman Wawancara ... Lampiran 2 3. Pedoman Observasi ... Lampiran 3 4. Nama-nama informan ... Lampiran 4 5. SK Kompre ... Lampiran 5 6. SK Penelitian Dari Fakultas ... Lampiran 6 7. SK Selesai Penelitian ... Lampiran 7 8. SK Pembimbing ... Lampiran 8 9. Nota Penyeminar ... Lampiran 9 10. Nota Pembimbing ... Lampiran 10 11. Pengesahan Pembimbing ... Lampiran 11 12. Surat Pergantian Judul ... Lampiran 12 13. Nilai Kompre ... Lampiran 13 14. Kartu Bimbingan Proposal ... Lampiran 14 15. Kartu Bimbingan Skripsi ... Lampiran 15 16. Hasil Cek Plagiat ... Lampiran 16 17. Dokumentasi Foto-foto ... Lampiran 17 18. Daftar Hadir Seminar Proposal ... Lampiran 18

(16)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Lingkungan keluarga merupakan suatu peranan yang amat penting dalam proses kemajuan anak. Lingkungan keluarga merupakan pilar utama yang dapat membentuk baik atau buruknya kepribadian seorang anak agar dapat berkembang dengan baik beretika, moral, maupun akhlaknya. Peranan Keluarga dapat membentuk sikap dan kepribadian seorang anak. Anak dalam kandungan sampai usia lanjut mendapatkan pendidikan, baik dari Lingkungan Keluarga (Pendidikan Informal), Lingkungan Sekolah (Pendidikan Formal), maupun Lingkungan Masyarakat (Pendidikan non-Formal).

Lingkungan keluarga termasuk penanggung jawab utama terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani anaknya, dengan melalui ilmu mendidik dan membimbing putra-putrinya. Oleh karena itu melihat berhasil atau tidaknya pendidikan seorang anak dapat dilihat dari perkembangan sikap, disiplin, dan pribadi orang tuanya maupun komunikasi di dalam keluarga. Pengaruh keluarga terhadap pembentukan kepribadian/kedisiplinan anak sangatlah besar karena merupakan sebuah pondasi anak.

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasannya adalah 1) keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, 2) anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, 3) para anggota keluarga merupakan

significant people” bagi pembentukan kepribadian anak. Disamping itu

1

(17)

keluarga juga dipandang sebagai lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan insan (manusiawi), terutama bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Melalui perlakuan dan perawatan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik- biologis, maupun kebutuhan sosio-psikologisnya. Apabila anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, maka anak cenderung berkembang menjadi seorang pribadi yang sehat.1

Suasana keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.

Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis, yaitu suasana yang memberikan curahan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan dalam bidang agama, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cenderung positif, sehat (welladjustment). Sedangkan anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, kurang harmonis, orang tua bersikap keras kepada anak, atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama, maka perkembangan kepribadiannya cenderung mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya (maladjustment).

Berdasarkan dari pengalaman pribadi, saya selaku yang pernah mengalami. Kata “Perceraian atau perpisahan” dalam keluarga adalah sesuatu hal yang membuat hati saya selaku anak akan hancur berkeping-keping, karena menghadapi perpisahan tidaklah mudah. Perceraian atau perpisahan tidak hanya berpengaruh terhadap kedua belah pihak saja melainkan ada anak

1Syamsu Yusuf LN dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008),hlm. 27-29

(18)

yang akan di korbankan juga akibat perceraian itu. Karena suasana, sikap, moral, tekanan, emosi yang akan mempengaruhi perasaan anak tersebut.

Tidak luput dari kenyataan yang ada bahwa semakin hari semakin banyak keluarga yang mengalami perceraian. Beberapa kasus diantaranya mungkin disebabkan oleh perselingkuhan, perbedaan prinsip hidup, atau sebab-sebab lainnya yang bisa diakibatkan, oleh masalah internal maupun eksternal dari kedua belah pihak.

Dalam suasana keluarga yang bercerai bukan hanya komunikasi yang memburuk, tetapi juga terdapat aspek yang tidak relevan dalam hubungan itu, sehingga menyebabkan berkurangnya ketertarikan antar diri pasangannya.

Dalam hal ini, dapat diuraikan bahwa dalam keluarga yang bercerai antar pasangan terjadi pelemahan rasa saling menilai secara positif, yang terjadi penilaian menjadi cenderung negatif antara satu pasangan dengan pasangannya.

Dampak dari keegoisan orang tua serta kurangnya waktu untuk anak dalam memberikan kebutuhannya menjadikan anak memiliki karakter mudah emosi (sensitif), kurang konsentrasi belajar, tidak peduli terhadap lingkungan dan sesamanya, tidak tahu sopan santun, tidak tahu etika bermasyarakat, mudah marah dan cepat tersinggung, mencuri semua perhatian orang, ingin menang sendiri, susah diatur, suka melawan orang tua, tidak memiliki tujuan hidup, dan kurang memiliki daya juang.

Jika anak sudah melanggar norma tersebut, sudah merupakan kewajiban orangtua sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya untuk memberikan

(19)

teguran yang disertai penjelasan logis sesuai dengan perkembangan usianya, supaya anak mengerti dan memahami bagaimana bersikap dan berprilaku yang sesuai dengan norma-norma masyarakat.

Anak seperti ini juga membutuhkan motivasi yang harus ditanamkan dalam dirinya. Seharusnya orang tua dapat memberikan penjelasan mengenai situasi yang terjadi dan memberikan motivasi agar situasi perceraian tidak menjadi beban dan menjadi pemikiran buruk untuk anaknya, ntah itu dalam belajar, dari hasil belajar ataupun dilingkungan sekitar.

Di dalam motivasi mencakup di dalamnya arah atau tujuan tingkah laku, kekuatan respons, dan kegigihan tingkah laku. Secara luas pengertian motivasi adalah “pendorongan” atau suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia bergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.2

Keputusan orang tua untuk melakukan perceraian tak lepas dari dampak yang akan diterima oleh anak. Perceraian itu sendiri akan berdampak pada kualitas hidup anak itu sendiri. Walaupun pasangan yang bercerai berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dampak buruk akibat perceraian agar tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan serius pada anak-anak mereka. Namun semua itu sulit untuk dihindari, perceraian orang tua menjadi sebuah faktor yang sangat berpengaruh untuk pembentukan perilaku dan kepribadian anak nantinya. Prestasi adalah penilaian guru tentang

2M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan.(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2007), hlm.70-73.

(20)

perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penugasan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai dalam kurikulum.3

Prestasi belajar dalam bidang pendidikan merupakan hasil dari pengukuran terhadap siswa yang meliputi kognitif, afektif, psikomotorik setelah mengikuti proses yang dilihat/diukur dengan menggunakan instrument tes atau instrument yang relevan. Jadi, prestasi belajar merupakan hasil pengukuran dari penilaian belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang dicapai setiap anak pada periode tertentu.4

Dari beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh sekolah terhadap perkembangan pribadi siswa, diketahui bahwa pada umumnya pendidikan sekolah itu mempertinggi taraf intelegensi. Sekolah itu bukan hanya merupakan lapangan tempat orang mempertajam inteleknya saja. Peranan sekolah itu jauh lebih luas.

Bentuk-bentuk dasar daripada kelangsungan “pendidikan” pada umumnya ialah, pembentukan sikap dan kebiasaan yang wajar, merangsang potensi-potensi anak, perkembangan kecakapan-kecapakannya pada umumnya, belajar kerja sama dengan kawan sekelompok, melaksanakan tuntutan-tuntutan dan contoh-contoh yang baik, belajar menahan diri demi kepentingan orang lain, memperoleh pengajaran, menghadapi saringan, yang semuanya antara lain mempunyai akibat pencerdasan otak anak-anak seperti yang dibuktikan dengan tes-tes intelegensi. Untuk memperoleh hasil bahwa

3Syaful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya : Usaha Nasional, 1999), hlm. 21.

4Syaful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru......hlm. 19-20.

(21)

peranan besarnya kelas dan metode guru itulah yang menjamin kemajuan perkembangan jiwa anak.

Dari beberapa hasil penelitian bahwasanya efek perceraian orang tua terhadap performansi anak dikelas yang menyimpulkan bahwa anak memiliki nilai performansi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak bercerai. Hal tersebut disebabkan oleh stres keluarga yang terjadi akibat perceraian sehingga mempengaruhi performansi anak di sekolah.

Dalam kasus ini di sekolah-sekolah, terdapat beberapa fenomena yang menarik ketika melihat perilaku para siswa-siswi di sekolah yang berasal dari keluarga orang tua bercerai, dimana perilaku anak dari korban perceraian orang tua sering salahsuai karena mengalami krisis kepribadian. Kasus anak seperti ini sering terjadi di sekolah dengan penyesuaian diri anak yang kurang baik, seperti malas belajar, menyendiri, agresif, membolos, dan suka menentang guru.5

Melihat pentingnya peranan sekolah dalam menunjang perkembangan pribadi siswa. Maka penulis rasa merupakan hal urgent untuk diteliti sejauhmana peranan sekolah tersebut dilaksanakan. Oleh sebab itu penulis memilih SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah sebagai tempat penelitian.

Dikarenakan setelah penulis melakukan survei di dalam SDN 88 Bengkulu Tengah Kec. Pondok Kelapa, Kab.Bengkulu Tengah terdapat

5Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga, (Bandung: ALFABETA, 2009), hlm. 66.

(22)

beberapa orang anak yang mengalami perceraian kedua orang tuanya. Orang tua mereka memilih berpisah, dan disini karakter atau kepribadian mereka berbeda-beda. Setiap kelas pasti ada siswa dari keluarga yang bercerai dengan tingkat prestasi yang berbeda-beda pula. Hal unik inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong penulis untuk melakukan penelitian di SDN tersebut.6

Melihat dari uraian yang telah penulis kemukakan sebelumnya, maka penulis memilih judul “Prestasi Belajar Siswa Dalam Keluarga Yang Mengalami Perceraian ( Studi Pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah )”

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah penulis paparkan pada bagian sebelumnya ada beberapa masalah yang teridentifikasi, yaitu

1. Pengaruh kepribadian anak akibat perceraian orang tua.

Sesuai dengan apa yang telah dikemukan pada bagian latar belakang, bahwasanya perceraian orang tua akan berdampak pada kepribadian seorang anak. Hal itu melingkupi sikap, moral, tekanan emosi pada anak tersebut.

2. Turunnya minat belajar anak karena perceraian

Perceraian sangatlah mempengaruhi minat belajar siswa, karena adanya dorongan atau kemauan siswa itu untuk belajar tentu saja dari orang tuanya yang memberikan curahan kasih sayang dan perhatian yang lebih.

Anak yang keluarganya bercerai tentu saja dapat mengalami stress

6Januari, 2019.

(23)

keluarga dan itu sangat buruk untuk performansinya dikelas, apalagi saat belajar.

3. Prestasi belajar anak terhadap perceraian orang tua.

Prestasi belajar seorang anak itu juga bergantung pada motivasi yang ada, baik motivasi dari dalam diri sendiri ataupun motivasi dari luar. Orang tua merupakan sosok penting yang dapat membangun serta menumbuhkan motivasi yang telah diterima oleh anak tersebut.

Dari beberapa hal tersebut, terlihat pentingnya kehadiran sosok orang tua dalam menentukan prestasi belajar anak. Hal yang demikianlah yang membuat penelitian ini bersifat urgent. Mengingat bahwa prestasi belajar anak itu juga ikut menentukan masa depannya.

C. Batasan Masalah

Agar penelitian ini terarah dalam menjawab rumusan masalah yang ada, maka penulis akan memberikan batasan sebagai berikut :

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang kedua orang tuanya bercerai.

2. Prestasi belajar maksudnya penilaian yang sudah dirata-ratakan yang terdapat pada hasil rapot.

Hal ini berkaitan dengan prestasi siswa yang ada di SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah yang mana diantara beberapa siswa yang berasal dari keluarga bercerai mendapatkan hasil belajar/prestasi belajar yang jelek.

(24)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka yang menjadi masalah pokok dari penelitian ini adalah :

1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang kedua orang tuanya mengalami perceraian studi pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah ?

2. Bagaimana prestasi belajar siswa yang keluarganya mengalami perceraian studi pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah ?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan yang dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang kedua orang tuanya mengalami perceraian studi pada SDN 88 Bengkulu Tengah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah.

2. Untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa yang keluarganya mengalami perceraian studi pada SDN 88 Bengkulu TengahKecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

(25)

a. Dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan sebagai hasil pengamatan langsung dan dapat memahami dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar peserta didik.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahui dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar peserta didik.

2. Manfaat Praktis

a. Diharapkan dapat memberikan pemikiran kepada orang tua yang mempunyai masalah rumah tangga tentang bagaimana dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar peserta didik agar tidak terjadi perceraian.

b. Dapat menunjukan bagaimana dampak perceraian orang tua terhadap prestasi belajar peserta didik.

c. Dalam lembaga pendidikan dapat memberikan motivasi kepada peserta didik yang mengalami permasalahan perceraian kedua orang tua mereka agar lebih semangat untuk meraih prestasi belajar yang lebih baik.

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembahasan Tentang Keluarga 1. Pengertian Keluarga

Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat.

Kumpulan dari kelompok-kelompok kecil yang bernama keluarga tersebut kemudian membentuk sebuah komunitas dari yang terkecil, seperti ketetanggaan, rukun warga, hungga yang lebih besar, seperti suku bangsa, bangsa atau Negara. Bila suatu masyarakat terdiri dari banyak keluarga, maka sebuah keluarga atau kaluarga yang dalam bahasa Sansekerta berarti

“seisi rumah”, terdiri dari individu-individu di dalamnya.7

Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan mana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak.8 Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum dewasa.

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasannya adalah 1) keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, 2) anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan 3) para anggota

7Leslie Retno Angeningsih, Keluarga dan Pembentukan Karakter Anak. (Yogyakarta:

INDes, 2016), hlm.1.

8Abu Ahmadi,Psikologi Sosial. (Jakarta:Rineka Cipta, 2007), hlm. 221.

11

(27)

keluarga merupakan “significant people” bagi pembentukan kepribadian anak.9

Jadi keluarga yang merupakan sekumpulan orang yang terdiri dari orang tua (ayah-ibu), serta anak. Dimana keluarga merupakan lingkungan awal dibentuknya karakter seorang anak. Apabila seorang anak didik dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang cukup, maka kedepannya akan terbentuklah karakter yang baik, begitu pula sebaliknya. Kemudian ini akan menjadi landasan prilaku kepribadian seorang anak dilingkungan pergaulannya. Baik itu di lingkungan masyarakat serta lingkungan pendidikan/sekolah anak tersebut.

2. Peran dan Fungsi Keluarga

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.

Keberhasilan dalam mendidik anak tidak bisa dilepaskan dari peran penting seorang ibu dalam keluarga.

Tugas ibu tidak bisa dikatakan ringan, tetapi sangat mulia, yaitu mendidik dan mengantarkan anak-anaknya semenjak masih berada dalam kandungan, lahir, kemudian meniti kehidupan di dunia hingga menjadi dewasa membutuhkan campur tangan seorang ibu. Sementara itu, suami

9Syamsu Yusuf LN dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), hlm.27.

(28)

sebagai kepala rumah tangga mempunyai tugas pokok mencari nafkah untuk kehidupan keluarga. Walaupun pada kenyataannya pada zaman sekarang tugas mencari nafkah tidak hanya terletak pada suami saja, tetapi juga dilakukan oleh istri.

Akan tetapi, bagi para istri walaupun sebagai wanita karier hendaknya tetaptidak melupakan tugas pokoknya dalam rumah tangga, yaitu mengasuh dan membimbing anak-anaknya. Kasus yang sering terjadi malah anak-anak diserahkan kepada baby sister. Sementara untuk urusan pendidikan anak, sepenuhnya diserahkan kepada lembaga atau sekolah dengan membayarnya.10

Jadi selain keluarga itu berperan sebagai tempat manusia berkembang sebagai manusia sosial, terdapat pula peranan-peranan tertentu di dalam keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan individu sebagai makhluk sosial.11

a. Peranan Sosial Ekonomi Keluarga

Keadaan sosial ekonomi keluarga dapat juga berperan terhadap perkembangan anak-anak. Hubungan sosial anak-anak yang berbeda.

Orang tua mereka dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam, sebab tidak disulitkan oleh kebutuhan-kebutuhan primer, seperti mencari nafkah sehari-hari.

10Leslie Retno Angeningsih. Keluarga dan Pembentukan Karakter Anak, (Yogyakarta:

INDes, 2016), hlm. 94-97.

11Syamsu Yusuf LN dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm. 236.

(29)

Namun demikian status sosial ekonomi tidaklah dapat dikatakan sebagai faktor yang mutlak, sebab hal ini tergantung pula kepada sikap orang tua dan corak interaksi dalam keluarga itu. Walaupun status sosial ekonomi orang tua memuaskan, tetapi bila mereka tidak memperhatikan pendidikan anaknya dan selalu cekcok, maka hal itu tidak menguntungkan perkembangan sosial anak-anak.

Pada akhirnya perkembangan sosial anak itu turut ditentukan pula oleh sikap anak-anak itu sendiri terhadap keluarganya. Mungkin sekali status sosial ekonomi orang tua mencukupi dan interaksinya juga baik, namun anak berkembang dengan tidak wajar.

b. Keutuhan Keluarga

Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan sosial anak-anak ialah faktor keutuhan keluarga. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu di dalam keluarga itu ada ayah, ibu, dan anak-anak. Apabila tidak ayah atau ibu, atau keduanya tidak ada, maka struktur keluarga itu tidak utuh lagi.

Selain keutuhan dalam struktur keluarga dimaksud pula keutuhan dalam interaksi keluarga, jadi bahwa di dalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Apabila orang tuanya sering cekcok dan menyatakan sikap saling bermusuhan dengan disertai tindakan-tindakan yang agresif, keluarga itu tidak dapat disebut utuh.12

12Abu Ahmadi. Psikologi Sosial, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 235-239.

(30)

Memahami kandungan Firman Allah Swt dalam surat al-Tahrim ayat 6, yaitu :

      

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6).13

Maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya orang tua memiliki kewajiban dan tugas-tugas sebagai home base keluarga yaitu dikelompokkan antara lain, sebagai berikut :

1. Sebagai pemelihara dan pelindung keluarga, orang tua sebagai kepala keluarga memiliki tugas dan fungsi yaitu melindungi dan memelihara keluarganya, baik secara moril maupun materinya. Ini sesuai dengan Hadits Rasulullah Saw.

Yaitu artinya “setiap kamu adalah orang yang memiliki tanggung jawab dan setiap kamu akan bertanggung jawab atas apa yang kamu pertanggung jawabkan. Dalam hal ini orang tua juga harus dituntut untuk memberikan jaminan material misalnya seperti nafkah dan sebagainya. Hal ini termasuk ke dalam Firman Allah Swt. dalam surat al-Thalaq ayat 6, yaitu :

         

Artinya : “tempatkanlah mereka itu dimana saja kamu bertempat tinggal dan janganlah kamu memberi mudharat kepada mereka untuk menyempitkan atas mereka”.14

13Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Jakarta: Surya Cipta Aksara, 2012), hlm. 820.

14Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Jakarta: Surya Cipta Aksara, 2012), hlm. 817

(31)

Dalam hal ini orang tua atau keluarga harus ada tanggung jawab untuk melindungi dan memelihara semua anggota di dalam keluarga.

2. Sebagai Pendidik, kodratnya sebagai orang tua berfungsi sebagai seorang pendidik. Selain melindungi dan memelihara kepada anaknya, orang tua sangat berkewajiban dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya, karena dengan melalui sebuah pendidikan, anak akan memperoleh pengalaman dan dapat mengembangkan dirinya secara aktif dan optimal. Orang tua sebagai pendidik mewariskan sebuah nilai-nilai pada anak melalui latihan dan pembiasaan. Dalam hal ini, “melatih anak-anak adalah sesuatu hal yang penting sekali, karena anak sebagai amanah dari Allah Swt.

bagi orang tuanya, anak memiliki hati yang suci, bersih dari segala ukiran dan gambaran, ia dapat menerima segala ukiran dan gambaran atasnya atau condong kepada yang segala dicondongkan kepadanya, maka ia diarahkam kepada kebaikan , sedangkan orang tua serta pendidiknya mendapatkan bagian pahalanya. Sebaliknya jika orang tua memberikan kebiasaan yang jelek dan membiarkan ia kedalam kejahatan, maka celakalah ia, dan orang tua dan pemeliharanya akan mendapatkan beban dosanya”.

a. Fungsi Biologis

Faktor ini berhubungan dengan keadaan jasmani, dan seringpula disebut faktor fisiologis. Setiap individu sejak

(32)

dilahirkan telah menunjukkan adanya perbedaan dalam konstitusi tubuhnya, baik dari keturunan atau pembawaan individu (anak) itu sendiri. Kondisi jasmani yang berbeda-beda itu menyebabkan sikap dan sifat-sifat serta tempramen yang berbeda-beda.

Namun dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian selanjutnya, faktor-faktor lain seperti lingkungan dan pendidikan tidak dapat dimungkiri peranan dan pengaruhnya.

b. Fungsi Pendidikan (Edukatif)

Keluarga adalah lingkungan pendidikan yang utama bagi anak. Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 ayat 4.

“Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan”. Berdasarkan undang-undang tersebut, maka fungsi keluarga dalam pendidikan adalah menyangkut penanaman, pembimbingan atau pembiasaan nilai-nilai agama, budaya dan keterampilan-keterampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.15 c. Fungsi Perlindungan (Protektif)

Di dalam fungsi ini keluarga, sangatlah berperan dalam menciptakan keluarga sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan, dan penuh semangat di dalam diri anggotanya. Maka keluarga harus ditata sedemikian

15Baharuddin, Psikologi Pendidikan ”Refleksi Teoritis Terhadap Fenomena” (Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media,2017), hlm. 223-224

(33)

rupa seperti menyangkut aspek dekorasi interior rumah, hubungan komunikasi yang lancar atau tidak kaku (kesempatan berdialog bersama sambil santai), makan bersama, menimbulkan suasana yang humor, dan sebagainya.

d. Fungsi Ekonomis

Faktor sosial yang dimaksud disini adalah masyarakat di sekitar individu yang memengaruhi individu tersebut. Yang termasuk dalam faktor ini adalah tradisi-tradisi, adat istiadat, dan peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat. Dalam perkembangan individu (anak) pada masa bayi dan kanak-kanak, peranan keluarga (ayah dan ibu) sangat menentukan bagi kepribadian individu itu selanjutnya.

Begitu pula kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarga. Keadaan dan suasana keluarga yang berbeda juga member pengaruh yang cukup menentukan terhadap perkembangan kepribadian individu.16

e. Fungsi Sosiolisasi

Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya.

Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerja

16Baharuddin, Psikologi Pendidikan”Refleksi Teoritis Terhadap Fenomena”(Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media,2017), hlm. 223-224.

(34)

sama dengan orang lain, bersikap toleran, menghargai pendapat gagasan orang lain, mau bertanggung jawab dan bersikap matang dalam kehidupan yang heterogen (etnis, ras, budaya, dan agama).

f. Fungsi Agama

Mendidik anak merupakan amanah dari Allah, terutama bagi orang tua anak itu sendiri. Dalam Al-Qur’an dan hadits banyak terdapat ayat atau keterangan yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu :Keluarga berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim:6).17

Ayat ini memberikan tanda kepada para orang tua bahwa mereka diwajibkan memelihara diri dan keluarganya dari murka Tuhan. Satu-satunya menghindari api neraka atau murka Allah adalah dengan selalu mengingat Allah atau bergama yang benar.

Keluarga memiliki kewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotanya untuk mengamalkan dan mempelajari ajaran agama yang dianutnya.

Dalam Al Hadits (riwayat Imam Hakim) : “Kewajiban orang tua terhadap anak adalah member nama yang baik,

17Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Surya Cipta Aksara, 2012), hlm. 820.

(35)

membina akhlaknya, mengajar kitab, renang dan amanah, member rizqi yang halal, dan menikahkannya”.

Al Hadits : “Didiklah anakmu dengan tiga hal : mencintai nabimu dan keluarganya, membaca Al-Qur’an”.18

Kenakalan remaja/anak disebabkan oleh kondisi keluarga yang negatif, seperti ketegangan keluarga, otoritas orang tua, dan miskinnya teladan keagamaan. Diantara ketiga faktor tersebut, yang paling dominan adalah miskinnya teladan keagamaan dari orang tua.19

Anggota keluarga yang keyakinannya kuat terhadap Allah akan memiliki mental yang sehat, yakni mereka akan terhindar dari beban-beban psikologis dan mampu menyesuaikan dirinya secara harmonis dengan orang lain, serta berpartisipasi aktif dalam memberikan kontribusi secara konstruksi terhadap kemajuan atau kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian dapat kita lihat besarnya pengaruh keluarga terhadap psikologis seorang anak. Mulai dari membentuk mental hingga prilaku yang diterapkan dalam pergaulan keseharian pada lingkungan sosial seorang anak.

B. Pembahasan Tentang Perceraian 1. Pengertian Perceraian

18 Syamsu Yusuf LN dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 223.

19Moh.Sochib, Pola Asuh Orang Tua “Dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri” (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1998), hlm.5.

(36)

Perceraian adalah istilah untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi keluarga yang rukun dan sejahtera yang menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan dalam keluarga tersebut.

Pada kenyataannya sikap anak akan menjadi sangatsedih akibat perceraian kedua orang tuanya dan melampiaskan kesedihannya dengan bersikap menyakiti dan berprilaku agresif dalam berinteraksi dengan saudara-saudara maupun teman-temannya. Banyak anak yang secara klinisdinyatakan mengalami depresi seiring dengan perceraian orang tua.

2. Faktor-Faktor Penyebab Perceraian

Peranan keutuhan keluarga dapat ditafsirkan dari beberapa hasil penelitian sebagai berikut:

a. R. Stury melaporkan pada tahun 1983, 63% dari anak nakal dalam suatu lembaga pendidikan anak-anak delinkuen, berasal dari keluarga dari keluarga yang tidak utuh.

b. K. Gottschaldt, Leipzig (1950), mendapatkan bahwa 70,8% dari anak- anak yang sulit di didik yang ia selidiki, berasal dari keluarga-keluarga yang tidak teratur, tidak utuh, atau mengalami tekanan hidup yang terlampau berat.

c. Maud A. Merril, Boston, 1945, mendapatkan bahwa 50% dari anak delinkuen (anak-anak yang menyeleweng) berasal dari keluarga Broken Home.

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya perceraian yaitu:

(37)

1) Perselingkuhan

Perselingkuhan merupakan sebuah perzinahan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang bukan menjadi pasangan hidup yang sah, padahal ia telah terikat dalam perkawinan secara resmi dengan pasangan hidupnya. Jadi, perselingkuhan sebagai aktivitas hubungan sexual di luar perkawinan (extra-marital sexsual relationship) dan mungkin semula tidak diketahui oleh pasangan hidupnya, akan tetapi lama kelamaan diketahui secara pasti. Oleh karena itu, seseorang akan merasa sangat kecewa, sakit, hati, stress dan depresi setelah mengetahui bahwa pasangan hidupnya melakukan perselingkuhan, sebab dirinya telah dikhianati secara diam-diam. Akibat semua itu, kemungkinan seseorang memilih untuk bercerai dari pasangan hidupnya. 20

2) Masalah Ekonomi-Finansial

Keberlangsungan dan kebahagiaan sebuah perkawinan sangat dipengaruhi oleh kehidupan ekonomi-finansialnya. Kebutuhan- kebutuhan hidup akan dapat tercukupi dengan baik bila pasangan suami istri memiliki sumber financial yang memadai. Sebaliknya dengan adanya kondisi masalah keuangan atau ekonomi akan berakibat buruk seperti kebutuhan-kebutuhan keluarga tidak dapat terpenuhi dengan baik, anak-anak mengalami kelaparan, mudah

20Didik Priyana, Dampak Perceraian Terhadap Kondisi Psikologis Dan Ekonomis Anak (Studi Pada Keluarga Yang Bercerai Di Desa Logede Kec. Sumber Kab. Rembang), (Semarang : Penerbitan Universitas Negeri Semarang, 2011), hlm. 26.

(38)

sakit, mudah menimbulkan konflik pertengakaran suami-istri, akhirnya berdampak buruk dengan munculnya perceraian.

3) Masalah Perilaku Buruk seperti Kebiasaan Berjudi

Perjudian (gumbling) merupakan aktivitas seseorang untuk memperoleh keberuntungan yang lebih besar dengan mempertaruhkan sejumlah uang tertentu. Pengahasilan yang diperoleh melalui usaha atau bekerja, dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan sebagian lagi ditabung (investasi) untuk keperluan masa depan, seperti keperluan membeli rumah, mobil, atau pendidikan anak-anak.

Namun apabila seorang suami melupakan atau mengabaikan kebutuhan keluarga, sehingga semua penghasilan dipertaruhkan untuk kegiatan perjudian, maka hal ini sangatlah mengecewakan bagi istri maupun anak-anak. Mereka tidak dapat menikmati kehidupan yang sejahtera dan selalu menderita secara financial. Oleh karena itu, mereka protes dan menggugat untuk bercerai dari suami.

4) Kekerasan Verbal

Kekerasan verbal (verbal violence) merupakan sebuah penganiayaan yang dilakukan oleh seorang pasangan terhadap pasangan lainnya, dengan menggunakan kata-kata, ungkapan kalimat yang kasar, tidak menghargai, mengejek, mencaci-maki, menghina, menyakiti perasaan dan merendahkan harkat martabat.

(39)

Akibat mendengarkan dan menghadapi perilaku pasangan hidup yang demikian, membuat seseorang merasa terhina, kecewa, terluka batinnya dan tidak betah untuk hidup berdampingan dalam perkawinan.

3. Dampak Perceraian

Sebuah perceraian sangatlah berdampak mendalam bagi keluarga.

Kasus perceraian ini akan menimbulkan tekanan, emosi, stress, perubahan dari fisik maupun mental seseorang. Kondisi ini tentunya akan dialami oleh semua anggota keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak. Terjadinya perceraian itu akan membuat peran seorang ayah dan ibu tidaklah menjadi peran yang efektif lagi, dimana mereka tidak melibatkan tanggung jawab penuh dalam memberikan perhatian dalam mengasuh anak.

Hilangnya hubungan kasih sayang orang tua karena perceraian atau perpisahan yang terjadi dapat mempengaruhi anak dalam dua hal, yaitu : a. Anak dapat menyalahkan dirinya dalam hal tentang perceraian orang

tuanya. Sikap menyalahkan dirinya sendiri ini pada anak dapat menimbulkan harga diri yang rendah dan sifatnya menetap. Anak ini dapat meyakini bahwa dirinya adalah seseorang yang tidak berguna dan tidak layak untuk dicintai. Ini semua dapat berpengaruh pada kepercayaan dirinya.

b. Anak dapat menganggap orang lain sebagai orang yang harus ditolak dan tidak dapat dipercayai. Pandangan ini dapat berlanjut sampai sang anak

(40)

dewasa, dan dan mempersulit sang anak untuk menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya.

Perceraian yang terjadi pada suatu keluarga memberikan dampak yang mempengaruhi jiwa dan kondisi seorang anak. Dalam perasaannya, perceraian merupakan suatu kekurangan yang memalukan. Perceraian hampir selalu membuat anak bersedih, marah, dan lemah. Anak lebih merasa terasingkan diantara masyarakat yang kebanyakan memiliki keluarga yang utuh. Dampak dari perceraian juga akan lebih dirasakan anak dalam dunia pendidikannya. Anak akan merasa terkucil ditengah teman-temannya yang merupakan dari keluarga yang utuh baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan bermain. Mereka akan sering malu untuk bergaul dan bersosialisasi seperti sebelumnya saat ketika orang tuanya masih utuh.

Dan juga seorang anak tidak akan focus dengan pelajaran yang diberikan guru, karena pikiran dan hatinya sedang mengalami guncangan akibat perpisahan orang tuanya. Tidak ada gairah untuk belajar, karena orang tuanya yang selama ini memberikan motivasi dan dukungan penuh kepada anak dalam belajar maupun prestasinya. Akibat dari hal itu, anak akan menjadi malas, senang menyendiri, perhatian, dan minat belajarnya menurun. Tetapi apakah perceraian akan selalu berdampak negatif ? tentu saja tidak demikian. Karena para peneliti menemukan bahwa anak yang diasuh oleh orang tua tunggal juga dapat lebih baik dan sukses daripada anak yang diasuh oleh keluarga yang selalu diselimuti rasa tertekan. Menurut

(41)

beberapa keluarga, perceraian dianggap sebuah putusan terbaik karena agar mengakhiri rasa tertekan, rasa takut, cemas, dan ketidaktentraman.21

C. Pembahasan Tentang Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun secara kelompok.22

Prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.Dalam pengertian lainnya prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan pengusahaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai- nilai yang terdapat dalam kurikulum.23

Sedangkan pengertian belajar menurut para ahli psikologi adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku sebagai hasil dari praktik atau latihannya.24

Belajar merupakan suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Yang mana pengertian belajar dibatasi dengan dua rumusan. Pertama belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.

21Save M Dagun, Psikologi Keluarga, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm. 136.

22Syaful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya : Usaha Nasional, 1999), hlm. 19.

23Syaful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1999), hlm. 20-42.

24Nana Sudjana, Teori-teori Belajar untuk Pengajaran (Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 1991), hlm. 5

(42)

Kedua belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.25

Pengertian belajar lainnya dapat dilihat dengan dua sudut yaitu makro dan mikro. Dilihat dalam arti makro/luas, belajar adalah kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.26

Dengan demikian yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku individu sebagai akibat dari pengetahuan yang diperoleh atau keterampilan yang dikembangkan pada pelajaran sekolah dan biasanya ditunjukkan dengan nilai-nilai pada test atau angka-angka hasil penugasan guru dan lain-lain. Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu. 27

2. Faktor-faktor yang Dapat Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal).

Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil

25Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru (Bandung : Rosdakarya, 2010), hlm. 80.

26Sardiman A. M, Interaksi dan Motivasi Belajar (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2014), hlm. 22.

27Sutratinah Tirtonegoro, Anak Super Normal dan Program Pendidikannya (Jakarta : Bina Aksara, 2015), hlm. 43.

(43)

interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh sebab itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing.28

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.

b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.29

Dalam hal lain di asumsikan bahwa ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar yaitu:

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar. Faktor ini meliputi faktor fisiologi dan psikologis.

1) Faktor fisiologis, antara lain :

a) Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar siswa : misalnya keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar.

28Moh. Uzer Usman dkk, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1993), hlm. 10.

29Muhibbin Syah,Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Rosdakarya, 2010), hlm. 132.

(44)

b) Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu. Dalam hal ini adalah fungsi-fungsi panca indera seperti mata, telinga dan sebagainya.

Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan panca inderanya. Oleh karena itu, berfungsinya panca indera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik.

2) Faktor psikologi

Yaitu suatu faktor atau hal yang dapat mendorong aktivitas belajar atau suatu faktor yang menjadi alasan dilakukannya belajar.

Dalam hal ini, Arden N. Frendsen mengatakan bahwa yang mendorong seseorang untuk belajar antara lain :

a) Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.

b) Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.

c) Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru dan teman-teman.

d) Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi.

e) Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

(45)

f) Adanya pengajaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.30

Slameto melengkapi dengan mengatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasil belajar pada anak atau siswa, antara lain :

a) Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

Intelegensi sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai intelegensi yang rendah. Walaupun begitu, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor diantara faktor yang lain.

b) Perhatian

30Sumadri Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 1995), hlm. 249- 253.

(46)

Keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu obyek atau sekumpulan obyek. Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar.

c) Minat

Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Oleh karenanya, minat mempunyai pengaruh yang besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajarinya tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya.

d) Bakat

Bakat merupakan kemampuan untuk belajar. Dan kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Sebagai pendidik mengetahui dan menempatkan siswa sesuai dengan bakatnya sangatlah penting, karena bahan pelajaran yang dipelajari siswa yang sesuai dengan bakatnya, akan lebih berhasil dengan baik karena ia akan

(47)

belajar dengan senang hati dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya.

e) Motif

Merupakan daya penggerak atau pendorong manusia dalam melakukan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan. Dalam proses belajar harus diketahui apa yang mendorong siswa agar mau belajar dengan baik dan melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang belajar. Motif-motif tersebut dapat ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan dan kebiasaan- kebiasaan yang terkadang juga dipengaruhi keadaan lingkungan.

Oleh karenanya, motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar agar siswa lebih bersungguh-sungguh dalam belajarnya.

f) Kematangan

Kematangan merupakan suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Maksud dari kematangan disini bukan berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus, untuk itu diperlukan adanya latihan-latihan dan pelajaran.Dengan kata lain, anak yang matang belum tentu dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Dan belajar akan lebih berhasil jika anak sudah siap atau matang.

(48)

g) Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi responden atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka belajarnya akan lebih baik. 31 b. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar. Faktor ini meliputi faktor non sosial dan faktor sosial.

1) Faktor non sosial

Yang dapat dikelompokkan ke dalam faktor non sosial dalam belajar antara lain : keadaan udara, suhu udara cuaca, waktu (pagi, siang ataupun malam), tempat (letaknya, gedungnya), alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti alat tulis, buku, alat peraga dan sebagainya yang biasanya disebut dengan alat pelajaran). Semua faktor tersebut di atas harus diatur sedemikian rupa, sehingga dapat membantu proses belajar anak secara maximal, karena hal tersebut juga dapat mempengaruhi terhadap proses belajar dan hasil belajar pada anak.

31Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 2015), hlm. 55-59.

(49)

2) Faktor sosial

Faktor sosial disini merupakan faktor manusia (sesama manusia), baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadirannya dapat disimpulkan tidak langsung hadir. Misalnya ada seseorang yang sedang belajar dikamar, satu atau dua orang yang keluar masuk kamar belajar atau adanya suara nyanyian yang datang dari tv yang menjadi representasi kehadiran seseorang. Dua contoh tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu konsentrasi anak yang kehadirannya secara langsung maupun tidak langsung. 32

Faktor-faktor sosial yang telah dijelaskan diatas dapat mengganggu proses belajar dan prestasi belajar anak, karena perhatian mereka sudah tidak tertuju lagi kepada hal yang dipelajarinya atau aktivitas belajarnya. Oleh karena itu, faktor- faktor tersebut harus diatur supaya belajar anak dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.

Yang termasuk dalam faktor-faktor sosial antara lain : a) Lingkungan sosial sekolah

Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seseorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan

32Sumadri Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 1995), hlm. 249- 250.

(50)

memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar misalnya rajin membaca dan berdiskusi dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.

b) Lingkungan sosial siswa

Termasuk ke dalam lingkungan sosial siswa adalah masyarakat, tetangga , dan juga teman-teman sepermainan disekitar perkembangan siswa tersebut. Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh yang serba kekurangan dan anak-anak penganggur misalnya akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak, siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika memerlukan teman belajar, berdiskusi atau meminjamkan alat-alat belajar tertentu yang kebetulan belum dimilikinya.

c) Lingkungan sosial keluarga

Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri.

Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaa keluarga serta letak rumah, semuanya dapat member dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

Misalnya kebiasaan yang ditetapkan orang tua siswa dalam mengelola keluarga yang keliru, seperti kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak

(51)

yang lebih buruk lagi.Dalam hal ini, bukan saja anak tidak mau belajar melainkan ia cenderung berprilaku menyimpang, terutama perilaku menyimpang yang berat seperti anti sosial.33 3. Pengaruh Perceraian terhadap Prestasi Belajar

Selain memberikan kehangatan, keduanya juga harus berupaya memelihara dan mendidik anak-anaknya agar terlindung dari berbagai bahaya yang akan mengancam. Dari satu sisi, usaha tersebut merupakan hak seseorang anak, dan dari sisi lain usaha tersebut merupakan hak seorang anak, dan dari sisi lain usaha tersebut merupakan tugas kedua orang tua. Kedua kelompok tersebut masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab di hadapan Allah swt.

Anak yang lahir dan dibesarkan dari keluarga yang berantakan atau orang tua mereka bercerai akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkugan sosialnya bahkan tak ayal dari mereka merasa sangat kurang percaya diri, bahkan untuk memancing simpatik orang lain mereka akan bertindak agresif dan nakal, susah mengendalikan emosi adalah salah satu dari sekian banyak dampak yang dihasilkan dari perceraian orang tua. Anak yang diabaikan oleh orang tuanya inilah biasanya mengalami kegelisahan dan ketegangan. Bisa juga anak yang biasanya tenang dan pendiam berubah menjadi anak nakal, atau anak yang selalu ceria berubah menjadi pemurung.

33Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Rosdakarya, 2010), hlm. 135-138.

Gambar

Tabel 3.1  Populasi dan Sampel

Referensi

Dokumen terkait

terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Waru. 3) Untuk mengetahui adanya pengaruh minat belajar dan lingkungan sekolah. terhadap

belajar di SMP Negeri 1 Jatipurno bagi siswa yang orang tuanya perantau. dan bagi siswa yang orang

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara intensitas siswa dalam bimbingan belajar di luar sekolah baik klasikal maupun privat dengan

berdasarkan tipe pola asuh orang tua, menunjukkan prestasi belajar matematika siswa dengan pendekatan Quantum Learning lebih baik dibandingkan dengan prestasi

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh partisipasi orang tua dalam mendidik di lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa kelas X

Jika pola asuh orang tua yang baik, lingkungan belajar yang mendukung, serta teman sebaya yang saling memotivasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan sebaliknya, jika

Remaja tidak akan berlama-lama menyesali dan meratapi masalah perceraian orang tuanya sehingga anak dapat mengatasi masalah tersebut dengan melakukan berbagai kegiatan

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci dan informan tambahan pandangan remaja terhadap dirinya sendiri setelah orang tuanya bercerai adalah pada umumnya