• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Terhadap Budaya Dan Peristiwa

BAHASTRA

E. Perkembangan Pendidikan Pada Usia

3. Pengaruh Terhadap Budaya Dan Peristiwa

Orang dapat melihat danau yang terbentang luas di Sumatra Utara. Hal ini menjadi suatu peristiwa yang di kenang sepanjang masa. Dan jadi pelajaran bagi orang tua agar tetap menjaga perkataan dan janji yang sudah di sepakati.

Peninggalan cerita ini terdapat di sebuah danau di Sumatera Utara yaitu di kenal sebagai Danau Toba.

SIMPULAN

Simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Setiap ucapan yang di ucapkan sesuatu yang penting

b. Mau berbuat dan mau bertanggung jawab

c. Orang tua kunci segalanya SARAN

Saran dari peneliti terhadap pembaca adalah sebaiknya kita selalu memperhatikan ucapan dan selalu berpegang teguh pada apa yang telah kita ucapkan. Dan selalubertanggung jawab apa apa yang telah kita perbuat.

DAFTAR PUSTAKA

Sapari, Nila, Kurniati. 2008. Kompetensi Berbahasa Indonesia. Semarang.

Ghyass Putra.

Alwi, H. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Revisi. Jakarta:

Balai Pustaka.

Rosmilan Pulungan1, Amanda Syahri Nasution2

Nilai Moral dan Kerja Keras dalam Dongeng Danau Toba pada Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas VII Terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

91 Hasbullah. 2008. Dasar- Dasar Ilmu

Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kusyanti, Y. 2008. Nilai Budaya Dalam Penuturan Senandung Jolo Di Desa Tanjung Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi.

Jambi: PBS FKIP Universitas Jambi.

Mahmud, A. 1997. Analisis Struktur dan Nilai Budaya. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Moleong, L. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sadulloh, U. 2007. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabet.

Sarwiji S. dan Sutarmo. 2008. Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas VII.

SMP. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Semi, M. A. 1984. Anatomi Sastra.

Bandung: Angkasa Raya.

Suwanda, T. 2007. Analisis Struktural Semiotik Teks Drama Sampek Engtay Karya N.Rantiarno.

Suyono. 2004. Cerdas Berfikir Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas X SMA. Bandung: Ganesa Exact.

BAHASTRA

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

ISSN: 2550-0848; ISSN Online : 2614-2988 Vol. 3, No. 2, Maret 2019

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

92 NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL BAKAU KEBAIKAN

KARYA SITI LESTARI NAINGGOLAN DAN RELEVANSINYA BAGI DUNIA PENDIDIKAN

Tiflatul Husna 1, Fita Fatria 2

1. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah 2. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah

[email protected]

Abstrak. Tujuan penelitian ini (1) untuk mendeskripsikan nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalam novel Bakau Kebaikan karya Siti Lestari Nainggolan. (2) Untuk mendeskripsikan relevansi nilai pendidikan karakter dalam novel Bakau Kebaikan karya Siti Lestari Nainggolan bagi pendidikan. Objek penelitian ini berupa novel anak. Pengumpulan data menggunakan teknik baca berulang-ulang dan pencatatan. Teknik analisis data bersifat deskriptif. Temuan penelitian (1) nilai-nilai karakter yang ditemukan yaitu kreatif, cinta lingkungan, rasa ingin tahu, bersahabat, disiplin, dan gemar membaca. (2) novel anak ini relevan untuk menambah wawasan siswa SD kelas atas yaitu kelas IV, V, dan VI.

.

Kata kunci: Pendidikan Karakter, Nilai, Novel

Abstract. The purpose of this study (1) is to describe the value of character education contained in the novel Bakau Kebaikan by Siti Lestari Nainggolan. (2) To describe the relevance of character education values in the novel Bakau Kebaikan by Siti Lestari Nainggolan for education. The object of this research is a children's novel. Data collection uses repetitive reading and recording techniques.

The data analysis technique is descriptive. Research findings (1) character values found are creative, love the environment, curiosity, friendliness, discipline, and love to read. (2) this children's novel is relevant to add insight into upper class elementary school students, namely classes IV, V, and VI.

.

Keywords: Character Education, Value, Novel PENDAHULUAN

Pendidikan adalah kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat.

Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang dapat memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. (1)Adanya pemahaman tentang pentingnya pendidikan akan berpengaruh terhadap cara pandang dan sikap hidup masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia memerlukan manusia-manusia berkarakter untuk membentuk sebuah kehidupan yang harmonis dan seimbang.Hal ini guna menghadapi tantangan zaman tentang perilaku amoral, asusila, yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan menggerus kepribadian masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, santun, dan beradab.Tindak kriminal yang dilakukan menjadi sebuah fenomena yang tidak dapat dianggap remeh. Terkhusus remaja, tentu merekalah yang diharapkan menjadi cikal-bakal penerus bangsa di masa yang akan datang. Menilik dari persoalan

tersebut, pendidikan formal dianggap memiliki titik sentral dari semua ini.Sebagai wadah resmi yang dianggap mampu membenahi kondisi dengan meningkatkan kualitas pendidikan karakter di sekolah-sekolah.

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 Bab 2 Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab” (2)

Hasil-hasil kebudayaan kultural yang diperoleh melalui pendidikan dapat dimanifestasikan pada diri peserta didik.

Sehingga, apa yang diperoleh melalui pendidikan itu menjadi cerminan kebudayaan yang seharusnya ada dan melekat pada diri masyarakat sesuai

Tiflatul Husna 1, Fita Fatria 2

Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Bakau Kebaikan Karya Siti Lestari Nainggolan dan Relevansinya Bagi Dunia Pendidikan

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

93 dengan jati diri, norma etika, dan sosial di

lingkungannya.

Pendidikan karakter menjadi isu yang sangat penting bagi negeri ini. Selain proses membentuk pribadi yang berkarakter, pendidikan karakter diharapkan juga mampu menjadi jembatan untuk kualitas Sumber Daya Masyarakat (SDM) di masa yang akan datang.

Demikian dibutuhkannya pendidikan karakter untuk kebaikan bangsa ini. Maka dari itu, pendidikan karakter ini tidak hanya dilakukan melalui lembaga resmi tetapi juga media lain seperti melalui media cetak dan elektronik seperti televisi, radio, sosial media (facebook, instagram, you tube), majalah, dan novel.

Novel dapat dijadikan salah satu media untuk penanaman nilai-nilai pendidikan karakter.Secara tidak langsung, membaca dan menelaah novel mampu memberikan pendidikan bagi pembaca. Hasil pembacaan itu merupakan refleksi sosial terhadap sebuah keadaan yang akan mempengaruhi tingkah-laku (sikap positif) seseorang. Novel dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang efektif.

Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji pesan-pesan yang terkandung yang terkandung di dalam novel.Novel merupakan sebuah karya sastra yang sarat nilai dan dapat digunakan untuk mentransformasikan nilai pendidikan karakter.Adapun yang dikaji dalam penelitian ini adalah Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Bakau Kebaikan Karya Siti Lestari Nainggolan dan Relevansinya bagi Pendidikan.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif.Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Teknik analisis data bersifat deskriptif. Objek penelitian ini berupa novel anak dengan judul Bakau Kebaikan. Pengumpulan data menggunakan teknik baca berulang-ulang dan pencatatan.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa karakter yang dituliskan di dalam buku Bakau Kebaikan Karya Siti Lestari Nainggolan.

Cerita ini berlatar belakang tentang kehidupan masyarakat di Belawan yang

dekat dengan laut.Perbandingan antara anak-anak yang sekolah pada jenjang pendidikan SD dengan anak yang belajar di rumah (home schooling).Pada dasarnya, anak-anak yang sekolah di lembaga pendidikan resmi merasa asing dan aneh dengan sekolah rumah.Mereka beranggapan sekolah rumah dapat dilakukan dengan suka-suka.Tidak ada PR dan bangun tidak terjadwal.Namun, buku ini memberikan pemahaman bahwa sekolah di rumah pun banyak yang kita pelajari termasuk sikap cinta lingkungan.Dengan tidak menafikan bahwa sekolah di lembaga formal juga sangat baik yang terpenting saling menghargai.

Adapun karakter yang dituliskan dalam cerita ini adalah: Nilai Karakter Kreatif

Setiap manusia tercipta dengan daya kreativitasnya masing- masing.Tindakan itu dipengaruhi oleh pola pikir yang terus berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang berguna dari bahan-bahan yang mungkin biasa saja.Misalnya dalam pembuatan dodol.Komposisi utamanya adalah tepung pulut, santan, dan gula merah.Namun, bagi masyarakat Belawan yang kehidupannya dekat dengan laut mereka mampu memproduksi hal baru yaitu dodol bakau.Kehidupan laut tentu dekat dengan bakau.Bakau menjadi hal yang sangat penting ditaman agar terhindar dari erosi.Buah-buah bakau dapat dijadikan dodol yang sebelumnya hanya terbuang begitu saja.Dodol bakau juga mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat karena adanya daya kreatif itu.

Seorang anak bernama Alang ingin bermain ke Belawan lalu ayahnya ikut.Dia bingung mengapa ayahnya ikut?Kalau Alang jelas sekali ingin bertemu dengan teman-temannya. Alang bertanya, mengapa ayahnya ke sana.

Ayahnya menjawab:

“Dodol bakau,” (Nainggolan, 2017:10)

“Dulu Paman suka mencari buah prepat.Bersama teman Paman, buah itu kami buat jadi rujak.Ada juga yang menyebutnya dengan buah bogem.Buah mangrove spesies buah Sonneratia spp.

Mereka bahkan sudah membuat dodol olahan buah itu,” (Nainggolan, 2017:44)

Tiflatul Husna 1, Fita Fatria 2

Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Bakau Kebaikan Karya Siti Lestari Nainggolan dan Relevansinya Bagi Dunia Pendidikan

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

94 Memanfaatkan sampah yang telah

diambil dari laut atau botol bekas untuk membuat sesuatu sehingga menjadi lebih berguna juga disebut sebagai nilai karakter kreatif.

“Benar saja, Paman Zaki mulai memotong botol-botol yang sudah kering dengan model tertentu untuk dijadikan pot bunga. Di sana juga ada Nisa yang melukis botol-botol itu dengan gambar kelinci. Ada banyak cat warna di sana dengan banyak kuas kecil juga.

(Nainggolan, 2017: 41)

Pekerjaan membuat pot itu terasa lebih menyenangka.Mereka memotong botol-botol itu mencontoh model yang mereka suka.Ada pot yang berbentuk seperti kelinci, bunga, bebek, dan bentuk lainnya.Lalu mereka mewarnai dengan warna yang mereka suka. Mereka juga memasang tali untuk pot bermodel pot gantung. (Nainggolan, 2017: 45)

Nilai Karakter Cinta Lingkungan Setiap manusia bertanggung jawab atas kelangsungan lingkungan yang bersih.Semua orang tahu membuang sampah harus pada tempatnya.Namun, tidak semua mampu melakukan dengan tertib.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya faktor kebiasaan.

Kebiasaan yang buruk perlahan-lahan akan menjadi karakter yang mengakar di dalam diri seseorang. Maka dari itu kita perlu melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik.Seperti sikap Yuda yang menegur Alang ketika membuang sampah di laut, kemudian mengambil sampah itu lalu memasukkan ke dalam tong sampah.

Yuda menghela napas.Dia mengambil galah yang tersimpan di dekat situ dan meraih sampah yang Alang buang di laut.Untung saja sampahnya belum hanyut jauh.Jadi, mudah meraihnya.Yuda memungut sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah.Lho, ternyata rumah Yuda mempunyai tempat sampah. Alang saja yang abai melihatnya! (Nainggolan, 2017:13)

Laut memang luas, walau membuang sampah berupa sepotong plastik akan tetap mencemari lingkungan.

Setiap satu orang satu sampah, air laut bisa menjadi tidak sehat dan merusak ekosistem yang ada di dalamnya.

Selain itu, kepada makhluk hidup lainnya kepedulian harus ditanamkan.

Tidak boleh merasa semena-mena dan menganggap makhluk lain adalah musuh yang harus dimusnahkan. Seperti menyiksa binatang dan sebagainya.Dalam buku ini diceritakan monyet-monyet yang ada di pinggir laut diberi makan untuk menjaga kelangsungan hidup monyet.

Monyet-monyet itu sangat agresif.Mereka mulai mengambil karung yang dibawa oleh para penumpang.Ketika diserbu oleh monyet, para penumpang itu terpaksa melepaskan karung yang dipegangnya.Isi karung itu pun berhamburan.Ternyata isinya pisang.

(Nainggolan, 2017:19)

Kebersihan lingkungan tanggung jawab semua kalangan. Tua-muda sama saja. Namun, dengan keterbatasan pengalaman orang-orang muda, maka orang dewasa perlu memberikan keteladanan. Seperti dalam kutipan percakapan berikut ini:

“Karena kita harus melestarikan bumi.Salah satunya dengan membersihkan sampah di lautan dan menjaganya tetap bersih,” jawab Paman. (Nainggolan, 2017:

45).

Nilai Karakter Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan atau rasa ingin tahu terhadap sesuatu selalu hadir dalam diri manusia tergantung dari seberapa pentingnya sesuatu itu untuk diketahui.Dalam kehidupan yang dekat dengan laut, maka persoalan sampan dan dayung adalah sebuah hal wajib untuk dipelajari. Seringkali para pendatang pun ingin tahu bagaimana rasanya mendayung sampan dan seperti apa tekniknya. Begitu pun dengan tokoh Alang yang berkunjung dari Medan ke Belawan.

Setelah beberapa menit mendayung, paman Zaki menawarkan Alang untuk mencoba,”Alang mau

mencoba mendayung?”Alang

mengangguk.Kelihatannya mudah.Alang memegang dayung dan mulai mendayung mengikuti petunjuk Paman Zaki.Dayung itu terbuat dari kayu. Mula-mula mudah melakukannya tapi setelah lima sampai enam kali mendayung, berat dayungnya mulai terasa. (Nainggolan, 2017: 14)

Karakter ingin tahu ini maksudnya, adanya rasa ingin mencoba dalam hal yang positif.Mempelajari alam dan lingkungan. Belajar dari apa yang dilihat, dirasa, dan didengar. Seperti

Tiflatul Husna 1, Fita Fatria 2

Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Bakau Kebaikan Karya Siti Lestari Nainggolan dan Relevansinya Bagi Dunia Pendidikan

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

95 halnya perjalanan Alang, Yuda, dan

Paman Zaki.Mereka menjelajah di laut dengan sampan.

“Mau menjelajah lebih jauh lagi?”

tanya Paman Zaki. Alang dan Yuda mengangguk. (Nainggolan, 2017: 17) Nilai Karakter Bersahabat

Salah satu ciri khas masyarakat timur seperti Indonesia adalah sikap bersahabat dan penuh keakraban.Saling menyapa bila bertemu adalah bagian dari sopan santun yang dijaga sebagai warisan budaya bangsa. Demikian pula dalam novel anak ini, sikap bersahabat tergambar seperti paragraf di bawah ini:

Saat Paman Zaki mengemudikan sampan, mereka bertiga bercerita.Bertanya kabar, bagaimana sekolah, teman-teman di sekolah, guru, dan cerita-cerita menyenangkan lainnya.Iqbal juga bercerita tentang rumah belajarnya.

(Nainggolan, 2017:18)

Karakter bersahabat juga dapat dilihat dari kerendahan hati untuk meminta maaf atau memaafkan kesalahan seseorang.

“Maaf ya, seharusnya aku tidak membuang sampah ke laut,” ucap Alang menyesal.

“Maafkan aku juga,

Alang.Seharusnya aku tidak membentakmu.Aku menjadi sedih saat melihat laut menjadi kotor,” ucap Yuda dan keduanya pun bersalaman.

(Nainggolan, 2017:22) Nilai Karakter Disiplin

Bangun tepat waktu dan tidak bermalas-malasan adalah salah satu ciri pribadi yang disiplin.Baik hari libur atau sekolah bangun pagi harus tetap dilakukan dengan tidak mengulur-ulur waktu.Seperti tokoh Yuda dalam cerita ini yang telah bangun lebih awal sehingga dapat melalukan aktivitas, sementara Alang masih terbawa dengan sifatnya yang kurang disiplin.

Alang dan Iqbal satu kamar dengan Yuda.Yuda sudah bangun dari tadi.Saat ibu membangunkan Alang dan Iqbal, bukannya bangun Alang malah menggulung diri dalam selimut.Pagi di Belawan jauh lebih dingin dari pada pagi di rumah Alang. (Nainggolan, 2017:26)

Nilai Karakter Gemar Membaca

Setiap orang memiliki kegemaran masing-masing.Ada yang gemar

memasak, menyanyi, dan

membaca.Membaca tergolong ke dalam karakter yang harus dipupuk.Dengan membaca, pengetahun diperoleh.Untuk itu, perlu bagi setiap pribadi menyediakan waktu untuk kegiatan membaca. Dengan rajin membaca maka akan menjadi bahan baku untuk menuliskan sesuatu.

“Kamu belum membaca buku di

atas meja?”Yuda yang

menjawab.Tangannya tetap bekerja, masih sibuk membersihkan botol-botol.“Ayo, cepat selesaikan tugas dari Paman!Jadi, kita bisa membaca cerita yang Iqbal tulis.”

(Nainggolan, 2017: 33)

“Wow!” Alang menatap Iqbal takjub.Alang membaca cerita yang ditulis oleh Iqbal.Cerita itu berjudul Arus Kosa.

“Ceritanya belum selesai, Lang,”

jawab Iqbal sedikit tersipu mendapat pujian dari Alang.

“Kalau begitu, ayo kita selesaikan.”

Setelah membaca cerita itu, mereka mendiskusikan bagaimana setiap bagian akan dibuat. Mereka berdebat bahwa karakter Kai sebaiknya seperti itu dan karakter Gabu sebaiknya seperti ini.Lalu mereka tertawa membahas cerita itu. Sampai akhirnya, mereka sepakat pada jalan cerita yang sama. (Nainggolan, 2017: 35-36).

Relevansi Novel Bakau Kebaikan bagi Dunia Pendidikan

Novel Bakau Kebaikan memiliki relevansi dengan bahan pembelajaran sastra di SD tingkat kelas atas yaitu kelas 4, 5, dan 6 baik dari segi sastra, bahasa, sosial budaya, maupun psikologi. Dari segi sastra, novel Bakau Kebaikan tersusun secara harmonis sehingga membentuk cerita yang utuh dan menarik, apalagi dengan dilengkapi gambar yang mempersentasekan sebuah keadaan.

Gambar itu turut meberi rangsangan bagi pembaca. Dari segi bahasa, novel Bakau Kebaikan mudah dipahami dengan struktur kalimat yang tidak terlalu panjang, dilengkapi dengan bahasa asing yang dapat memperkaya kosa kata siswa serta gaya bahasa yang menambah nilai estetis. Dari segi sosial budaya, novel Bakau Kebaikan memiliki latar sosial dan 7

8

Tiflatul Husna 1, Fita Fatria 2

Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Bakau Kebaikan Karya Siti Lestari Nainggolan dan Relevansinya Bagi Dunia Pendidikan

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

96 budaya masyarakat Belawandapat dilihat

dari cara berpikir dan bersikap para tokohnya yang merefleksikan kebiasaan hidup, adat istiadat, budaya, tradisi, pandangan hidup, dan keyakinan masyarakat Belawan sehingga dapat menambah wawasan siswa terhadap kehidupan sosial dan kebudayaan di luar daerahnya. Dari segi psikologi, novel Bakau Kebaikan yang menghadirkan kisah-kisah yang realistis-imajiner sejalan dengan tahap perkembangan psikologi siswa SD.

SIMPULAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Nilai-nilai karakter yang ditemukan yaitu kreatif, cinta lingkungan, rasa ingin tahu, bersahabat, disiplin, dan gemar membaca.Secara keseluruhan novel ini berbicara tentang mencintai lingkungan yang bernuansa persahabatan anak-anak di Belawan dengan memasukkan unsur kearifan lokal dan juga modern.(2) memiliki relevansi dengan kriteria bahan pembelajaran sastra di SD kelas atas yaitu kelas 4, 5, dan 6 , baik dari segi sastra, bahasa, sosial budaya, pendidikan, dan psikologis.

DAFTAR PUSTAKA

Wayan Lasmawan. Pengembangan Materi dan Model Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dalam Konteks Instruksional (Aplikasidalam Pembelajaran Siswa Jenjang SMP), TK: Undiksha, Prodi Pend. IPS,TT, hlm 4.

Tim Redaksi Wikrama Waskitha. 2003.

Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Jakarta:

Wikrama Waskitha, hlmn 148

KBBI Daring. Tersedia:

https://kbbi.web.id/nilai. Diakses tanggal 03 November 2018.

Bertens, K. 2004. Etika. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Zein Elmubarok. 2007. Membumikan Pendidikan Mengumpulkan yang Terserak Menyambung yang

Terputus dan Menyatukan yang Tercerai. Bandung: Alfabetha, hlmn 102

Thomas Lickona. 2013. Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media, hlmn 72.

Nilai-nilai Pendidikan Karakter. Tersedia:

https://rumahinspirasi.com/18- nilai-dalam-pendidikan-karakter- bangsa/. Diakses tanggal 3 November 2018

Doni Koesoema A. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta:

Grasindo, hlmn 53

Sri Narwanti. 2011. Pendidikan Karakter Pengintegrasian 18 Bentuk Nilai Pembentuk Karakter dalam Mata Pelajaran. Yogyakarta:

Familia, hlmn 14

Muchlas Samani dan Hariyanto. 2012.

Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosydakarya, hlmn 44.

Endah Tri Priyatni. 2010. Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis. Jakarta: Bumi Aksara, hlmn 124.

Agus Wibowo. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra. hlmn 19-20 Sugiyono. (2012). Metode Penelitian

Kuantitatif Kualitatif & RND.

Bandung: Alfabeta.

BAHASTRA

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

ISSN: 2550-0848; ISSN Online : 2614-2988 Vol. 3, No. 2, Maret 2019

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

98 SEMIOTIKA (MAKNA WARNA DALAM UIS KARO)

Lisa Septia Dewi Br.Ginting 1, Rosmilan pulungan 2 1. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah 2. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah

[email protected]

Abstrak. Memaknai bahasa dan memahaminya juga bisa dipelajari dari warna.

Warna dapat menyapaikan pesan dan arti-arti khusus dari warna yang berbeda.

Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki ciri-ciri tersendiri, baik makanan yang berbeda, pakaian yang berbeda, tata cara perayaan yang berbeda pula. Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki keistimewaan yang berbeda-beda pula. Tujuan penelitian i i untuk mengetahui makna warna dalam uis karo. Penelitian ini menganalisis makna warna dalam uis karo dengan literatur semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif.

Kata kunci : Semiotika, uis karo

Abstract. Understanding the language and understanding it can also be learned from color. Color can greet messages and special meanings of different colors.

Every tribe in Indonesia has its own characteristics, both different foods, different clothes, different celebratory procedures. Every tribe in Indonesia has different features. The aim of the research is to find out the color meanings in uis karo. This study analyzes the color meaning in karo uis with the semiotic literature. This research is a descriptive qualitative study.

Keywords: Semiotics, uis karo PENDAHULUAN

Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya, manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh pancaindranya, dan mulai menyadari keterbatasaanya.

Dalam kehidupan sehari-harinya manusia juga tak dapat terpisahkah dari aktivitas.

Baik itu dilakukan secara individu maupun kelompok. Dalam aktivitas tersebut kadang-kadang (bahkan harus) terdokumentasi. Terlebih pada zaman globalisasi sekarang ini, hampir semua yang dialami manusia dapat dikases oleh manusia yang lain, baik informasi yang baik-baik maupun yang kurang baik untuk dilihat. Apalagi suatu informasi itu dapat mendatangkan nilai jual yang tinggi.

Untuk itu dalam meneliti pesan yang terdapat dalam dokumen atau sumber pesan yang terdapat di media cetak atau elektronik bahkan media-media yang lain, dibutuhkan suatu metode tersendiri yang dikenal dengan analisi semiotik. Analisi ini dimaksudkan agar kita dapat memahami maksud dari tanda- tanda yang ada. Sebagai negara yang memiliki keragaman suku, adat istiadat, bahasa serta budaya, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Dengan adanya keragaman tersebut, menjadikan ciri khas

yang unik karena hampir diberbagai pelosok nusantara ini masing- masing budaya memiliki corak dan karakter masing- masing. Selain itu, letak geografis dan kondisi alam menjadi factor yang berpengaruh terhadap pola hidup bermasyarakat dan pembentukan kesenian yang berkembang dimasyarakat. Budaya Indonesia merupakan cerminan dari nilai- nilai luhur bangsa Indonesia yang beraneka ragam. Sebagai warisan budaya, kebudayaan tradisional merupakan salah satu asset yang harus dikembangkan dan dibina guna memperkuat kedudukan dan kelestarian budaya bangsa Indonesia.

Salah satu warisan kebudayaan Indonesia ialah pakaian tradisional.

Dimana corak maupun motif dari masing- masing pada pakaian tradisional merupakan sebuah cerminan budaya suatu daerah yang turun temurun dan dilestarikan.

Uis Gara atau Uis Adat Karo adalah pakaian adat yang digunakan dalam kegiatan adat dan budaya Suku Karo dari Sumatera Utara. Selain digunakan sebagai pakaian resmi dalam kegiatan adat dan budaya, pakaian ini sebelumnya digunakan pula dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Karo.

Dokumen terkait