BAB III BAB III
A. Antara 1945 sampai dengan 1950
1. Pengaturan Kekuasaan Kehakiman dalam UUD 1945
UUD 1945 menganut pembagian kekuasaan negara sebagaimana diatur dalam Bab III di bawah judul Kekuasaan Pemerintahan Negara. Sebagai konsekuensi dari pernyataan dalam Penjelasan UUD 1945, Negara Indonesia berdasar atas hukum (rechsstaat) tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Salah satu kekuasaan negara yang diatur dalam UUD 1945 adalah kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Pasal 24 dan 25.
Pasal 24 UUD 1945 menyatakan bahwa :
(1) Kekuasaan Kehakimaan dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain Badan Kehakiman menurut Undang-undang.
(2) Susunan dan kekuasaan Badan-badan Kehakiman itu diatur dengan Undang-undang.
Sedangkan Pasal 25 UUD 1945 menyatakan, "Syarat-syarat untuk menjadi dan untuk diberhentikan sebagai Hakim ditetapkan dengan Undang-undang".
Dalam Penjelasan Pasal 24 dan 25 UUD 1945 dinyatakan bahwa Kekuasaan Kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah. Berhubung dengan itu, harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim.
Walaupun tidak secara tegas (eksplisit) kekuasaan kehakiman yang merdeka/bebas dicantumkan dalam uraian Pasal 24 dan 25, secara tegas dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 24 dan 25 UUD 1945. Hal itu tidaklah mengurangi prinsip yang dianut mengenai kekuasaan kehakiman yang bebas/merdeka dari pengaruh lembaga/badan extra judiciil, walaupun sepintas lalu terdapat keraguan mengenai hal itu.2)
---
2)Padmo Wahyono, Negara Republik Indonesia, Ed.2. Cet.2(Jakarta : Rajawali, 1986), hal. 135
Lebih Lanjut Padmo Wahyono, Ibid, menjelaskan bahwa UUD 1945 menentukan 3 (tiga) hal pokok yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yakni, (1), bahwa ada sebuah Mahkamah Agung sebagai lembaga tinggi yang melakukan kekuasaan kehakiman dengan dibantu oleh lembaga/badan kehakiman lain berdasarkan Undang-undang; (2), bahwa susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman yang dimaksudkan dalam butir 1 diatur dengan Undang-undang; (3), bahwa pejabat yang menggerakkan kekuasaan kehakiman namanya hakim, yang syarat-syarat untuk dapat diangkat dan diberhentikannya ditentukan dengan undang-undang.
Pengaturan kekuasaan Kehakiman dalam UUD 1945 terdapat dalam bab tersendiri, yakni Bab IX dengan judul "Kekuasaan Kehakiman" yang diuraikan dalam dua pasal dan di antaranya (Pasal 24) diuraikan dalam dua ayat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengaturan kekuasaan kehakiman dalam UUD 1945 adalah singkat, tidak sebanding dengan tugas-tugas yang harus
dilakukan sebagai salah satu fungsi kekuasaan negara dalam suatu negara hukum. Berbeda dengan pengaturan kekuasaan pemerintahan negara yang diatur dalam Bab III UUD 1945 di bawah judul "Kekuasaan Pemerintahan Negara" dengan 13 pasal ( Pasal 4 sampai dengan Pasal 16).
Memperhatikan sedikitnya pengaturan kekuasaan kehakiman dibandingkan dengan pengaturan kekuasaan pemerintahan negara dalam UUD 1945 dapat membuka peluang pada kekuasaan negara lainnya dalam hal ini pemerintah untuk menafsirkan kekuasaan kehakiman dalam perspektif kekuasaan yang menyimpang dari hakikat konstitusi. 3) Asumsi tersebut pernah terbutki, ketika lahir UU No. 19 Tahun 1964 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun 1964 Nomor 107) yang saat itu berlaku kembali UUD 1945, sehingga Pasal 24 UUD 1945 menjadi rujukan dalam merumuskan konsideran.
---
3) Luhut MP. Pangaribuan, Menuju Sistem Peradilan Pengayoman (Suatu Catatan Awal), dalam Machrup Elrichk (Editor), Kapita Selekta Hukum - Mengenang (alm) Prof.H.Oemar Seno Adji, SH (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1995), hal. 95
Pasal 19 UU No. 19 Tahun 1964 menentukan:
"Demi kepentingan revolusi, kehormatan Negara dan Bangsa atau kepentingan masyarakat yang sangat mendesak, Presiden dapat turut campur tangan dalam soal-soal pengadilan"
Dari bunyi Pasal 19 tersebut membuktikan bahwa kemungkinan intervensi kekuasaan negara lainnya terhadap kekuasaan kehakiman dapat terjadi karena kurang tegasnya pengaturan kekuasaan kehakiman dalam UUD 1945, dan
penjabaran Pasal 24 dan 25 UUD 1945 diserahkan pada undang-undang. 4) Dengan demikian, pernyataan Pasal 24 dan 25 bukanlah merupakan pernyataan yang secara langsung mengenai kekuasaan kehakiman yang mandiri, tetapi tergantung pada undang-undang yang menurut sistem UUD 1945 dibuat oleh Pemerintah dan DPR.
Jika memperhatikan bunyi Pasal 24 dan 25 UUD 1945 akan timbul pertanyaan, mengapa penegasan kekuasaan kehakiman yang bebas/merdeka tidak diatur dalam batang tubuh UUD 1945, tetapi dalam Penjelasan ? Secara historis, perumusan pasal ini mengundang perdebatan yang sengit antara Muh.
Yamin dan Soepomo sebagai arsitek perumusan undang-undang dasar.
Menurut Muh. Yamin, perlu diberikan hak untuk menguji keabsahan
---
4) Ibid, hal. 97
undang-undang kepada Mahkamah Agung dan hal ini harus diatur secara tegas dalam undang-undang dasar. Pendapat Muh. Yamin yang disampaikan dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), ditolak oleh Soepomo karena dalam negara Republik Indonesia yang akan dibentuk tidak dikenal adanya pemisahan kekuasaan dan akhirnya sidang menyetujui pendapat Soepomo. 5)
Walaupun dalam Penjelasan Pasal 24 dan 25 UUD 1945 telah jelas arti kekuasaan kehakiman yang merdeka dan terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah, karena Pasal 24 ayat (2) menyatakan bahwa susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman diatur dalam undang-undang, maka dengan sendirinya peluang intervensi Pemerintah masih dapat dimungkinkan. Hal itu terbukti dengan terbitnya berbagai produk hukum di bidang kekuasaan kehakiman yang memberikan kekuasaan kepada Pemerintah untuk ikut campur dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman terutama dalam bidang organisatoris, adminsitratif, dan finansial sehingga dalam susunan kabinet terdapat Departemen Kehakiman. 6)
---
5) Moh. Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta : Yayasan Prapanca, 1959), hal 332 -343
6) Kabinet Pertama adalah Kabinet Presidentil yang dibentuk tanggal 19 Agustus 1945 dan berkahir tanggal 14 Nopember 1945 setelah lahirnya Maklumat Wakil Presiden No. X tahun 1945. Kabinet ini terdiri dari 20 Kementerian yakni 15 Kementerian dan 5 Kementerian Negara (Kementerian Kehakiman pada urutan 6). Lihat Departemen Penerngan, Susunan dan Program Kabinet Republik Indonesia selama 25 Tahun - 1945-1970 (Jakarta : Pradnya Paramita, 1970), hal. 3.
Karena pengaturan kekuasaan kehakiman lebih lanjut diatur dalam suatu undang-undang, dengan sendirinya, baik langsung maupun tidak langsung intervensi kekuasaan negara lainnya masih dimungkinkan terjadi.
Menurut Oemar Seno Adji, UUD 1945 berbicara sumir sekali mengenai peradilan bebas yang memungkinkan adanya peluang munculnya intervensi dari kekuasaan negara lainnya, yakni Pemerintah.7)