نوُداَكَي ِ
A. Hasil Pengembangan
3. Pengembangan Bahan Ajar Mabadi’ Fiqih
tampilan layout yang menggunakan grafik atau tabel dalam menyajikan materi-materi.
Terdapat beberapa langkah pengembangan yang dilakukan oleh peneliti dalam mengembangkan bahan ajar. Berikut adalah langkah- langkah pengembangan bahan ajar Mabadi’ Fiqih:
1) Menentukan Mind Mapping (peta pikiran)
Tahapan awal dalam mengembangkan bahan ajar peneliti menentukan peta pikiran materi-materi kitab Mabadi’ Fiqih Juz 1.
Kitab Mabadi’ Fiqih menyajikan pertanyaan-pertanyaan dalam menyampaikan materi. Bahkan ada sebagian materi yang tidak sesuai dengan alur pokok bahasan, oleh karena itu dalam menentukan peta pikiran, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut:
a) Menuliskan materi utama dalam sebuah grafik kotak. Untuk menentukan materi pokok dalam kitab Mabadi’ Fiqih, peneliti membaca secara keseluruhan kitab tersebut dari awali sampai akhir (scanning), kemudian peneliti membuat daftar materi pokok. Materi pokok dalam kitab Mabadi’ Fiqih; Syahadat, Rukun Islam, Sholat, Puasa, Haji, Sholat Ied.
b) Menambahkan cabang yang keluar dari materi utama untuk setiap poin atau submateri yang terkait dengan materi utama.
Tiap pembahasan materi pokok, memiliki submateri dan tiap submateri terdapat sub submateri yang lebih terperinci.
Setelah materi pokok ditentukan, peneliti mencari submateri secara berurutan berdasarkan materi pokok yang sudah
ditentukan. Misal; materi pokok nya adalah sholat, sholat memiliki submateri; niat sholat, hal-hal yang harus dilakukan sebelum sholat, rukun-rukun sholat dan lain sebagainya. Dari tiap submateri tersebut memiliki cabang-cabang yang lebih terperinci. Dan terkadang peneliti menemukan sub submateri dalam submateri, misal dalam pembahasan sholat; sholat - hal yag harus dilakukan sebelum sholat - wudhu - rukun wudhu - do'a ketika berwudhu.
c) Menggunakan warna yang berbeda untuk tiap-tiap submateri dan rincian submateri. Penggunaan warna untuk mengikat daya tarik Santri dan dapat memengaruhi minat belajar Santri.
d) Menggunakan simbol-simbol dan llustrasi-ilustrasi yang menarik untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik. Simbol- simbol yang digunakan oleh peneliti berupa gambar kotak, trapesium dan garis-garis. Pemetaan yang digunakan peneliti berupa skematik dan tabel-tabel. Untuk membedakan antara simbol materi pokok dengan submateri, peneliti meletakkan posisi materi poko di sebelah kanan, dan semakin ke kiri merupakan submateri dan penjelasan rincinya.
Gambar 4.1
Layout Mind Mapping (peta pikiran) dengan skematik
Pada contoh gambar di atas, peneliti menentukan materi pokok tentang sholat. Pada pokok materi sholat, peneliti menentukan submateri sholat; pengertian, waktu sholat, yang harus dilakukan sebelum sholat, rukun-rukun sholat, yang dilakukan ketika siap untuk melaksanakan sholat. Submateri memiliki rincian-rincian (sub submateri) atau penjelasan terperinci dari tiap-tiap submateri.
Jika penjelasan dari submateri tidak memadai untuk ditampilkan satu halaman, maka peneliti menyajikannya pada halaman lainnya. Contoh gambar 4.1 yang masih belum terperinci adalah submateri rukun-rukun sholat yang tidak memungkinkan untuk ditampilkan pada satu halaman.
Gambar 4.2
Penjelasan submateri menggunakan skematik
Untuk membedakan antara materi pokok, submateri dan sub submateri, peneliti menggunakan warna yang berbeda satu
sama lainnya. Jika memiliki warna yang sama, hal itu menunjukkan bahwa ia memiliki bagian submateri atau sub submateri yang sama. Selain menggunakan grafik untuk menerapkan metode mind mapping, peneliti juga menggunakan tabel-tabel.
Tabel yang digunakan oleh peneliti menjelaskan jika posisi paling kanan adalah materi pokok, dan yang mengarah ke kiri adalah submateri dan penjelasannya.
Gambar 4.3
Mind Mapping menggunakan tabel
Tabel di atas menjelaskan berbagai pokok materi; sholat tarawih, sholat 'id dan pergi haji. Dari tiap pokok materi tersebut
memiliki submateri; jumlah roka'at, waktu dan bacaan niat sholat tarawih, dan pembagian sholat 'id (sholat idul adha dan idul fitri) serta pengertian dan penjelasan tentang siapa saja yang berhak untuk pergi haji. Untuk membedakan antara materi pokok dan submateri dapat melihat dari perbedaan warna yang ditampilkan.
2) Membuat daftar kosakata bahasa Arab.
Bahasa Arab adalah bahasa yang umum digunakan dalam setiap kitab. Mabadi’ Fiqih, kitab fiqih yang digunakan oleh Santri tingkat awal akan sulit untuk difahami jika Santri belum memiliki dasar kemampuan berbahasa Arab, dan sangat jarang sekali Santri tingkat awal sudah berkompeten dalam berbahasa Arab. Oleh karena itu peneliti membuat sebuat daftar kosakata bahasa Arab untuk mempermudah Santri dalam mengartikan bahasa Arab.
Kosakata bahasa Arab yang ditulis adalah kata-kata yang digunakan dalam kitab Mabadi’ Fiqih. Sebagian kosa kata yang bukan dasar (tashrif), peneliti merubahnya menggunakan kata dasar dalam bahasa Arab. Misal: بانتجا adalah bentuk tashrif (pecahan) dari kata ةنتجا- ةنتجي yang artinya menjauhkan. Hal ini untuk menambah wawasan kebahasaan Santri, agar dapat memahami antara bentuk dasar dan tashrifnya.
Gambar 4.4
Bagian Kosakata (mufrodat)
Penyusunan kosakata bahasa arab, peneliti membuat daftar kata-kata yang penting dan pokok dalam suatu kalimat dari awal pembahasan sampai akhir. Setelah itu, peneliti menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dan mengurutkan kosakata secara alfabetis bahasa Arab.
Kosakata bahasa Arab sangat membantu Santri dalam memahami dan mengartikan materi Fiqih. Santri dapat mencari arti dalam bahasa Indonesia jika terdapat kata-kata yang mereka tidak tahu. Selain mempermudah, juga dapat menambah
kemampuan berbahasa Arab Santri dengan menghafal kosakata yang telah disediakan.
3) Membuat bagian depan pengembangan bahan ajar
Bagian depan pengembangan bahan ajar terdiri dari sampul utama dan mukaddimah penulis. Bahan ajar Mabadi’
Fiqih hanya memiliki 15 lembar bagian isi, sehingga sampul menyesuaikan tema bahan ajar yang bersifat simpel atau sederhana dan menarik. Peneliti tidak mancakupkan daftar isi karena jumlah halaman yang sedikit.
Sampul utama (cover) bahan ajar Mabadi’ Fiqih dirancang dengan bentuk yang simpel dan menarik untuk menghilangkan kesan jenuh dari para Santri. Bahan ajar Mabadi’ Fiqih hanya memiliki 15 lembar bagian isi, sehingga sampul menyesuaikan tema bahan ajar yang bersifat simpel atau sederhana dan menarik.
Sampul bahan ajar terdiri dari judul kitab, penjelasan madzhab yang digunakan (Syafi'i), pengarang kitab Mabadi' Fiqi, keterangan penggunaan lafal-lafal bahasa kitab Mabadi’ Fiqih, penjelasan penggunaan metode baru Mind Mapping, serta nama peneliti pengembang bahan ajar Mabadi’ Fiqih.
Gambar 4.5
Cover Pengembangan Bahan Ajar
Lembar kedua setelah sampul utama adalah mukaddimah (kata pengantar) dari penulis. Isi dari kata pengantar berupa ucapan syukur kepada Allah SWT dan pengagungan kepada nabi Muhammad SAW, keterangan bahwa kitab Mabadi’ Fiqih telah dikarang atau disusun oleh syekh Umar Abdul Jabbar berdasarkan madzhab Syafi'i dan penggunaan kitab Mabadi’ Fiqih oleh banyak kalangan santri dan pesantren.
Hal terutama dalam kata pengantar adalah penjelasan penulis bahwa kitab Mabadi’ Fiqih dikembangkan oleh penulis dengan menggunakan metode baru Mind Mapping (skematik dan tabel) dalam penulisannya. Serta menerangkan bahwa bahasa
yang digunakan adalah lafal-lafal yang ada pada kitab Mabadi’
Fiqih.
Paragraf terakhir pada bagian mukaddimah adalah ucapan harapan dan do'a dari penulis agar kitab ini bermanfaat bagi pembaca serta harapan agar ada penulis lain yang dapat melanjutkan penulisannya pada bab-bab selanjutnya kitab Mabadi’ Fiqih.
Gambar 4.6 Bagian Mukaddimah