• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Sumber Daya Manusia

Dalam dokumen Pembahasan Kinerja Keuangan (Halaman 36-50)

Langkah Perusahaan

6. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Perusahaan memerlukan sumber daya manusia yang handal dalam menjalankan usahanya. Untuk memenuhi tujuan tersebut bank akan melakukan budaya kinerja kerja tinggi yang berkesinambungan, manejemen bakat, pengembangan kemampuan kepemimpinan, pengembangan keahlian yang kritis dan career mobility reinforcement.

Selain strategi bisnis yang telah disebutkan diatas, Perusahaan juga akan memprioritaskan inisiatif-insiatif berikut di tahun 2015 antara lain:

• Mempersingkat proses kredit secara end-to-end

• Meningkatkan kualitas aset Perusahaan

• Peningkatan usaha untuk membangun budaya cross- selling

• Melanjutkan momentum inovasi dalam cabang maupun jalur perbankan elektronik

• Membangun budaya pemenang bagi karyawan dan manajemen

• Memfokuskan pertumbuhan dana murah dan pembiayaan UKM berdasarkan dimensi geografis

• Meningkatkan sinergi dan memperluas kesempatan bisnis perbankan korporat.

• Menyukseskan inisiatif dual-banking dengan unit syariah

POSISI KEUANGAN RENCANA BISNIS BANK

Dalam rangka mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia, Perusahaan bermaksud mengimplementasikan strategi pengembangan bisnis di yang merata di seluruh segmen retail, korporat, komersial dan UMKM dengan pertumbuhan kredit tahunan berkisar pada 10-12%.

Perusahaan juga akan melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan dana masyarakat melalui perluasan jaringan layanan seperti branchless banking dan agent banking meningkatkan jumlah nasabah dan melakukan pemasaran produk baru. Inisiatif-inisiatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah dana masyarakat sebesar 9-13%

dari tahun 2014. Hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga rasio likuiditas atau straight LDR pada tingkat rasio sekitar 94-96%. Struktur permodalan yang tercermin pada rasio kecukupan modal (CAR) akan dipertahankan di atas level 14-16%. Secara keseluruhan, Perusahaan menargetkan pendapatan bersih sebelum pajak meningkat pada kisaran 25-35%.

URAIAN TENTANG ASPEK PEMASARAN

Dalam mendukung tercapainya rencana strategis jangka pendek maupun jangka panjang, Perusahaan terus berupaya memberikan produk dan jasa yang terbaik kepada nasabah melalui pemasaran yang efektif.

Becoming A Leading Digital Bank

Khusus untuk meningkatkan porsi dana murah, salah satu strategi yang dilakukan adalah menawarkan beragam manfaat dan kelebihan dari produk tabungan yang inovatif khusus bagi nasabah konsumer. Salah satu produk tabungan unggulan yang baru saja diluncurkan pada tahun 2014 adalah Tabungan ON Account.

administrasi, bebas biaya transfer dan tarik tunai di ATM Bersama, Prima, ATM CIMB Bank, dan MEPS serta didukung dengan jaringan internasional MasterCard/Cirrus. Selain itu, Tabungan ON Account ini juga memberikan pengalaman serunya belanja kapan dan dimana saja dengan memberikan berbagai diskon dan cash back menarik.

Sebagai bagian dari strategi Perusahaan, yaitu Becoming A Leading Digital Bank, Perusahaan tetap fokus pada pengembangan saluran distribusi elektronik. Di Indonesia sendiri, Perusahaan telah memiliki 3.272 ATM dan 666 CDM hingga akhir 2014 dan menargetkan tambahan 300 ATM di tahun 2015.

Sementara dari sisi penetrasi pengguna Internet Banking CIMB Clicks, hingga akhir 2014 Perusahaan telah mencapai lebih dari 1 juta pengguna dengan jumlah transaksi per bulan mencapai 1,1 juta transaksi per Desember 2014. Sedangkan pengguna CIMB Go Mobile dan Rekening Ponsel masing- masing mencapai 839 ribu dan 674 ribu, serta jumlah transaksi masing-masing berhasil menembus 315 ribu dan 507 ribu per Desember 2014.

Selain dari sisi produk dan jalur perbankan elektronik, Perusahaan juga terus berupaya mengembangkan strategi- strategi inovatif untuk dapat meningkatkan pangsa pasar Perusahaan kedepannya. Strategi intensifikasi jaringan kantor dalam upaya memperluas area pemasaran terus dan senantiasa dikembangkan oleh Perusahaan. Strategi tersebut antara lain melalui pemindahan cabang-cabang ke area/wilayah yang lebih produktif dan berpotensi, serta mengembangkan outlet “Digital Lounge” di berbagai kota besar di Indonesia

Perusahaan terus berinovasi dalam mengembangkan konsep layanan Perbankan Elektronik (Branchless Banking), dimana peran teknologi digital membantu nasabah lebih praktis dan efisien dalam transaksi perbankan.

Innovation for customer experience

Perusahaan terus mencurahkan perhatian pada pelayanan dan produk-produk perbankan yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmentasi nasabah.

Perusahaan telah memenuhi kebutuhan calon nasabah

Dengan berbagai kemewahan fasilitasnya, peluncuran kartu kredit ini juga sejalan dengan strategi Perusahaan untuk menggarap potensi perbankan di kalangan komunitas Jepang di Indonesia yang selama ini telah dilakukan oleh Japan Desk CIMB Niaga.

Selain meningkatkan produk dan pelayanan kepada nasabah konsumer, Perusahaan juga berupaya meningkatkan kepuasan nasabah korporat. Perbankan Korporat pada tahun 2014 melakukan serangkaian inisiatif strategis seperti mendorong pertumbuhan pembiayaan melalui penajaman segmentasi nasabah dengan pembentukan unit- unit spesialis industri, dan mengoptimalkan pendekatan bisnis value chain untuk mendorong pertumbuhan bisnis Perusahaan secara keseluruhan melalui upaya referral dan cross-selling.

Perusahaan juga terus fokus untuk meningkatkan penyaluran kredit pada sektor usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam membantu mengembangkan potensi daerah yang bersangkutan sekaligus mengejar bisnis usaha bermarjin tinggi. Untuk terus meningkatkan penyaluran kredit UMKM, Perusahaan menerapkan inisiatif khusus antara lain: optimalisasi cabang yang terus dilakukan, khususnya cabang Micro Finance, termasuk perbaikan Service Level Agreement (SLA) pencairan kredit dan pengembangan produk dan aktivitas yang sesuai kebutuhan nasabah. Diharapkan beberapa inisiatif khusus tersebut akan mampu meningkatkan volume kredit khususnya pada sektor-sektor yang bermarjin tinggi.

Dari sisi Perbankan Syariah, Perusahan melanjutkan keberhasilan konsep dual-banking Syariah dengan terus memanfaatkan potensi kantor cabang dalam memasarkan produk-produk berbasis syariah, dan bekerja sama dengan Unit Usaha Syariah (UUS) Perusahaan dalam mengadaptasi produk atau program Perbankan konvensional yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi produk berbasis syariah.

Salah satu produk unggulan syariah, yaitu Tabungan Xtra iB, ditambah dengan produk baru Tabungan iB Pahala Haji dan iB Rencana Haji yang diluncurkan pada tahun 2014, membuat volume tabungan syariah di tahun 2014 mencapai

Produk Tabungan Haji tersebut akan menjadi produk unggulan baru UUS Perusahaan yang dapat meningkatkan volume tabungan syariah. Salah satu keunggulan produk Tabungan Haji tersebut adalah keterhubungan dengan sistem komputerisasi haji terpadu (Siskohat) Kementerian Agama RI. Sehingga, nasabah yang jumlah tabungannya telah memenuhi jumlah minimum syarat pendaftaran haji, secara pasti bisa mendaftarkan diri menjadi calon jamaah haji, dan mendapat nomor porsi untuk keberangkatan haji.

Segmen Tresuri dan Pasar Modal mengalami tahun yang penuh turbulensi di 2014, seiring dengan dinamika kondisi makroekonomi nasional maupun global. Hal ini dapat terlihat dari turunnya keuntungan transaksi valas dan surat berharga pada 2014 menjadi Rp400 miliar, turun 52% dari tahun 2013 yang sebesar Rp838 miliar. Namun, unit Tresuri dan Pasar modal konsisten dalam menerapkan strategi dan program yang fokus pada kebutuhan nasabah antara lain pada aktivitas market making untuk produk-produk valuta asing bagi nasabah Perbankan Korporat dan Komersial, cross-selling produk valas, dan peningkatan aktivitas pemasaran bagi produk-produk terstruktur bersinergi dengan CIMB Group.

Hal tersebut dilakukan dengan senantiasa memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan ketentuan yang ada.

Dalam layanan Transaction Banking, pada tahun 2014 Perusahaan telah melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan jumlah transaksi (baik transaksi trade finance dan bank guarantee, remittance), layanan/jasa foreign exchange, bancassurance, dan wealth management melalui penawaran maupun layanan yang menarik.

Di samping itu, Perusahaan terus meningkatkan value proposition dari Transaction Banking yang telah berjalan seperti CIMB@Work, CIMB@Bizchannel, Gateway@

CIMB, BizCard, e-tax payment, Value Chain pada segmen nasabah komersial, serta menawarkan layanan produk bancassurance untuk segmen ritel.

Adapun pada produk bancassurance mengalami perlambatan yang cukup signifikan, yaitu dari Rp320 miliar di tahun 2013 ke Rp253 miliar di 2014, hal ini disebabkan adanya regulasi baru yang mempengaruhi rantai bisnisnya.

Namun demikian, pada tahun 2015 Perusahaan tetap berencana untuk menambah layanan EDC (electronic data capture) dengan mayoritas 12 kota besar di Indonesia dan berbagai target industri.

SUKU BUNGA DASAR KREDIT

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia No. 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 No.16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.

4475) dan Peraturan Bank Indonesia No. 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2001 No. 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4159) yang terakhir diubah dengan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2012 No. 199 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 5353), maka Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/1/DPNP.

Bank Indonesia mewajibkan seluruh Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional di Indonesia untuk melaporkan dan mempublikasikan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dalam Rupiah.

Penerapan transparansi informasi mengenai SBDK merupakan salah satu upaya untuk memberikan kejelasan kepada nasabah dan memudahkan nasabah dalam menilai manfaat dan biaya atas kredit yang ditawarkan oleh Perusahaan. Selain itu, SBDK juga berupaya untuk meningkatkan good governance dan mendorong persaingan yang sehat dalam industri perbankan antara lain melalui terciptanya disiplin pasar (market discipline) yang lebih baik.

Pada dasarnya, SBDK merupakan suku bunga terendah yang digunakan sebagai dasar bagi Perusahaan dalam penentuan suku bunga kredit yang dikenakan kepada nasabah Perusahaan. SBDK dihitung berdasarkan 3 (tiga) komponen, yaitu Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) yang timbul dari kegiatan penghimpunan dana yang biasanya terkait erat dengan BI rate, biaya overhead yang dikeluarkan Perusahaan berupa beban operasional bukan bunga yang dikeluarkan untuk kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran kredit dan profit margin yang ditetapkan dalam kegiatan penyaluran kredit.

Perhitungan SBDK belum memperhitungkan komponen premi risiko dari debitur, yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing debitur.

Dengan demikian besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK.

Bank Indonesia mewajibkan bank untuk melaporkan perhitungan SBDK kepada Bank Indonesia secara bulanan

Suku Bunga Dasar Kredit Periode

Suku Bunga Dasar Kredit

Kredit Kredit Konsumsi

Korporasi Ritel Mikro KPR Non-KPR

31 Mar 2014 11,00% 12,00% 20,00% 11,50% 12,00%

30 Jun 2014 11,25% 12,25% 20,00% 11,75% 12,25%

30 Sep 2014 11,50% 12,50% 20,00% 12,00% 12,50%

31 Des 2014 11,50% 12,50% 20,00% 11,75% 12,25%

Namun Bank Indonesia menyerahkan penggolongan kredit korporat, kredit ritel dan kredit konsumsi (KPR dan non-KPR) berdasarkan kriteria internal yang digunakan oleh bank.

Perusahaan mengelompokan kredit untuk perhitungan SBDK berdasarkan segmen bisnis sebagai berikut:

1. Kredit korporat yang merupakan kredit yang diberikan kepada nasabah Perbankan korporat (Corporate Banking) dan Komersial Menengah-Atas (High-End Commercial);

2. Kredit ritel yang mencakup kredit yang diberikan kepada nasabah Perbankan Komersial Menengah-Bawah (Small- Medium Enterprise) dan Pinjaman Khusus (Special Lending);

3. Kredit mikro; dan

4. Kredit konsumsi KPR (Mortgage) dan non-KPR (Auto Loan).

Informasi SBDK yang berlaku setiap saat dapat dilihat pada publikasi di setiap kantor dan/atau website Perusahaan (www.cimbniaga.com).

URAIAN MENGENAI PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU SIGNIFIKAN TERHADAP PERUSAHAAN

Peraturan Perundang- undangan (termasuk Peraturan BI & OJK)

Perubahan Signifikan dari Peraturan Sebelumnya atau Pokok dari

Peraturan yang Baru Alasan perubahan Dampak pada

Perusahaan Surat Edaran Bank

Indonesia Nomor 16/2/

DPM tanggal 3 Februari 2014 tentang Transaksi Swap Lindung Nilai kepada Bank Indonesia

SEBI ini mengatur mengenai pelaksanaan Transaksi Swap Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dilakukan melalui transaksi swap beli Bank dalam Dolar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), dokumen underlying transaksi, nilai minimum transaksi dan jangka waktu transaksi swap lindung nilai yaitu maksimal 12 bulan dengan setelmen secara netting.

Untuk mengatur pelaksanaan mengenai Transaksi Swap Lindung Nilai kepada Bank Indonesia

Perusahaan akan melaksanakan transaksi Swap sesuai dengan ketentuan tersebut

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No 04-POJK.04- 2014 tanggal 1 April 2014 perihal Tata Cara Penagihan Sanksi Administrasi Berupa Denda di Sektor Keuangan

POJK ini membahas mengenai pelaksanaan pembayaran denda yang didebet dari rekening giro Bank umum dan sanksi tambahan apabila denda tidak dilunasi dalam jangka waktu yang telah ditetapkan yang dapat berupa :

a. Surat teguran pertama b. Peringatan tertulis;

c. Pembatasan kegiatan usaha;

d. Pembatalan persetujuan;

e. Pembatalan pendaftaran;

f. Pembekuan kegiatan usaha; dan/atau g. Pencabutan izin usaha.

Untuk menyesuaikan Tata Cara

Penagihan sanksi administrasi dengan perkembangan industri

Perusahaan akan mengikuti peraturan dari OJK tersebut

Peraturan Bank Indonesia No.16-07-PBI-2014 tanggal 7 April 2014 perihal

Kewajiban Bank untuk membatasi posisi saldo harian Pinjaman Luar Negeri (PLN) Jangka Pendek dikecualikan terhadap:

a. Giro milik Bukan Penduduk yang menampung dana untuk pembelian

Perubahan ini dilakukan dalam rangka merespons

Perusahaan akan menaati peraturan tersebut

Peraturan Perundang- undangan (termasuk Peraturan BI & OJK)

Perubahan Signifikan dari Peraturan Sebelumnya atau Pokok dari

Peraturan yang Baru Alasan perubahan Dampak pada

Perusahaan Peraturan Bank Indonesia

No.16-08-PBI-2014 tanggal 8 April 2014 perihal Uang Elektronik (E-Money)

PBI ini mengatur mengenai Uang Elektronik (E-Money), yang mana izin sebagai penerbit E-Money diberikan BI untuk jangka waktu 5 tahun sejak 8 April 2014.

Selain itu diatur juga mengenai pihak yang dapat bekerjasama dengan Penerbit, ketentuan pengelolaan E-Money, dan penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital (LKD) yaitu kegiatan layanan jasa sistem pembayaran dan keuangan yang dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga serta menggunakan sarana dan perangkat teknologi berbasis mobile maupun berbasis web dalam rangka keuangan inklusif.

Peraturan ini dibuat untuk mendukung pertumbuhan industri uang elektronik yang sehat perlu adanya peningkatan keamanan teknologi dan efisiensi penyelenggaraan uang

elektronik

Perusahaan akan menaati peraturan tersebut

Peraturan Bank Indonesia No.16-09-PBI-2014 tanggal 8 April 2014 perihal Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank

Perubahan peraturan ini mencakup jenis investasi yang dapat dilakukan hedging, dimana apabila investasi tersebut berupa dividen yang belum pasti jumlah dan waktu penerimaannya maka dapat dilakukan hedging melalui transaksi outright forward jual valuta asing terhadap rupiah Bank dengan Pihak Asing.

Jangka waktu hedging paling singkat 1 (satu) minggu dan paling lama sampai dengan jangka waktu penerimaan dividen dan selama periode hedging terdapat keputusan manajemen perusahaan yang dapat memberikan kepastian mengenai jumlah dan waktu pembayaran dividen yang akan diterima Pihak Asing, Bank wajib melakukan penyesuaian atas jumlah hedging Pihak Asing menjadi paling banyak sesuai dengan jumlah dividen yang sudah pasti akan diterima oleh Pihak Asing dan jangka waktu hedging menjadi sesuai dengan tanggal pembayaran dividen. Penyesuaian hedging tersebut dapat dilakukan dengan penyelesaian secara netting.

Perubahan peraturan ini dilakukan dalam rangka pendalaman pasar valuta asing domestik melalui pemberian fleksibilitas bagi pelaku pasar dalam melakukan lindung nilai atas kegiatan ekonomi di Indonesia khususnya lindung nilai terhadap penghasilan investasi di Indonesia

Perusahaan akan mengikuti peraturan Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing

Surat Edaran Bank Indonesia No.16-05-DPM tanggal 8 April 2014 perihal Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Valuta Asing oleh Bank

Investasi berupa pembelian Surat Berharga diatur sebagai berikut

a. Total nilai portofolio paling sedikit sama dengan nilai hedging pada saat awal transaksi hedging dilakukan. Apabila dalam jangka waktu hedging terdapat penurunan market value Surat Berharga yang digunakan sebagai underlying maka tidak terdapat kewajiban top-up atas nilai Surat Berharga dimaksud b. Apabila dalam jangka waktu hedging terdapat penambahan Surat Berharga

dalam portofolio yang sama, dan pihak asing bermaksud untuk melakukan hedging atas penambahan Surat Berharga tersebut maka pihak asing yang bersangkutan wajib membuka kontrak hedging baru dengan jangka waktu paling singkat 1 (satu) minggu dengan nilai hedging paling banyak sebesar penambahan Surat Berharga dimaksud

Dalam hal selama periode hedging terdapat keputusan manajemen perusahaan mengenai kepastian jumlah dan waktu penerimaan penghasilan dari investasi, bank wajib melakukan penyesuaian hedging pihak asing atas jumlah nominal dan jangka waktu hedging , dengan dokumen pendukung

Peraturan ini dibuat dalam rangka pendalaman pasar valuta asing domestik dengan memberikan fleksibilitas bagi pelaku pasar dalam melakukan lindung nilai atas kegiatan ekonomi khususnya lindung nilai atas penghasilan investasi di Indonesia

Perusahaan akan memantau transaksi rupiah secara menyeluruh serta menentukan waktu dan nilai hedging yang tepat

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.08- POJK.03-2014 / SEOJK No.10-SEOJK.03.2014 tanggal 11 Juni 2014 perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah

1. Bank wajib memelihara dan/atau meningkatkan Tingkat Kesehatan Bank dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, prinsip syariah, dan manajemen risiko dalam melaksanakan kegiatan usaha.

2. Unit Usaha Syariah wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara individual.

3. Bank wajib menyampaikan hasil Penilaian sendiri (self-assessment) Tingkat Kesehatan Bank kepada OJK, yang dilakukan setiap semester untuk posisi akhir bulan Juni dilaporkan paling lambat pada tanggal 31 Juli dan posisi akhir bulan Desember dilaporkan paling lambat 31 Januari yang telah mendapat persetujuan dari Direksi dan telah disampaikan kepada Dewan Komisaris.

4. Unit Usaha Syariah wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara individual dengan cakupan penilaian terhadap faktor profil risiko (risk profile) yaitu : risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko reputasi, risiko imbal hasil, dan risiko investasi.

5. Peringkat setiap faktor penilaian Tingkat Kesehatan Bank dikategorikan sebagai berikut : peringkat 1, peringkat 2, peringkat 3, peringkat 4, peringkat 5

6. Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank ditetapkan berdasarkan analisis secara komprehensif dan terstruktur terhadap peringkat setiap faktor.

Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank dikategorikan sebagai berikut:

a. Peringkat Komposit 1 (PK-1);

b. Peringkat Komposit 2 (PK-2);

c. Peringkat Komposit 3 (PK-3);

d. Peringkat Komposit 4 (PK-4);

e. Peringkat Komposit 5 (PK-5)

Peraturan ini dibuat dalam rangka meningkatkan efektivitas penilaian tingkat kesehatan bank untuk menghadapi perubahan kompleksitas usaha dan profil risiko

Perusahaan telah menerapkan penilaian tingkat kesehatan pada Unit Usaha Syariah dengan peringkat komposit 2 pada Desember 2014

Peraturan Perundang- undangan (termasuk Peraturan BI & OJK)

Perubahan Signifikan dari Peraturan Sebelumnya atau Pokok dari

Peraturan yang Baru Alasan perubahan Dampak pada

Perusahaan Peraturan Bank Indonesia

No.16-11-PBI-2014 tanggal 1 Juli 2014 perihal Pengaturan dan Pengawasan Makroprudensial

Pengawasan makroprudensial melalui :

1. Surveilans sistem keuangan dengan melakukan penilaian terhadap risiko sistemik; dan

2. Pemeriksaan terhadap bank dan lembaga lainnya yang memiliki keterkaitan dengan bank jika diperlukan untuk meyakini risiko sistemik yang bersumber dari kegiatan usaha bank.

Pemeriksaan oleh pihak lain :

Bank Indonesia dapat menugaskan pihak lain untuk melakukan pemeriksaan untuk dan atas nama Bank Indonesia.

SANKSI 1. Tahap 1 :

Pelanggaran dikenakan sanksi teguran tertulis dan tetap wajib memenuhi ketentuan;

2. Tahap 2 :

Telah diberikan teguran tertulis namun tetap melanggar, maka dapat dikenakan sanksi administratif berupa :

a. Pembatasan dan/atau larangan keikutsertaan dalam operasi moneter;

b. Penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK);

c. Perubahan status kepesertaan dalam Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS) dari status aktif (active) menjadi ditangguhkan (suspended); dan/atau

d. Penghentian sementara dalam Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia.

Pengaturan Makroprudensial melalui Instrumen Pengaturan antara lain untuk : 1. Memperkuat

ketahanan permodalan dan mencegah leverage yang berlebihan;

2. Mengelola fungsi intermediasi dan mengendalikan risiko kredit, risiko likuiditas, risiko nilai tukar dan risiko suku bunga, serta risiko lainnya yang berpotensi menjadi risiko sistemik;

3. Membatasi konsentrasi eksposur (exposure concentration);

4. Memperkuat ketahanan infrastruktur keuangan; dan/

5. Meningkatkan atau efisiensi sistem keuangan dan akses keuangan.

Kewajiban Bank antara lain : 1. Mematuhi

ketentuan Bank Indonesia di bidang makroprudensial;

2. Menyediakan dan menyampaikan data dan informasi yang diperlukan dalam kegiatan surveilans Bank Indonesia;

3. Memberikan dokumen dan/

atau data, keterangan dan penjelasan secara lisan maupun tulisan, akses terhadap sistem informasi bank, dan hal lainnya yang diperlukan dalam kegiatan pemeriksaan Bank Indonesia; dan 4. Melaksanakan

tindak lanjut atas hasil pengawasan makroprudensial yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

Peraturan Bank Indonesia No.16-12-PBI-2014 tanggal 24 Juli 2014 perihal Operasi Moneter Syariah

Substansi yang diatur di PBI tentang OMS ini pada dasarnya merupakan penggabungan substansi di PBI tentang OMS dan PBI tentang SBIS, dan juga penambahan instrumen Term Deposit (TD) Syariah dalam valas, dengan beberapa penyesuaian pengaturan antara lain:

a. Penghapusan jual beli SBIS sebagai instrumen OPT Syariah.

b. Penyesuaian pelaksanaan OPT Syariah dan menambah pengaturan lelang fixed rate tender dan variable rate tender.

c. Standing facilities syariah dilaksanakan setiap hari kerja.

d. Fleksibilitas pada penjelasan PBI atas pengaturan SBIS yang dapat diagunkan kepada BI.

e. Menghapus perseorangan sebagai peserta OMS.

f. Penambahan instrumen TD Syariah dalam valas sebagai salah satu instrumen OPT dan pengaturan bahwa TD Syariah dalam valas dapat dilakukan early redemption dan dapat menjadi pengurang Posisi Devisa Neto (PDN).

g. Peserta OMS wajib memiliki rekening giro valas di BI dalam hal mengikuti transaksi OPT syariah dalam valas dan kewajiban menyediakan dana yang cukup untuk transfer ke rekening BI di bank koresponden.

h. Pengaturan sanksi atas batalnya transaksi akibat gagal setelmen transaksi OPT Syariah dalam valas.

Peraturan ini dibuat untuk mencapai target operasional kebijakan moneter didukung dengan pengelolaan likuiditas di pasar valas.

Perusahaan akan memantau seluruh aktivitas Operasi Moneter Syariah yang dilakukan Unit Usaha Syariah

Surat Edaran Bank Indonesia No.16-13- DPM tanggal 24 Juli 2014 perihal Tata Cara Penempatan Berjangka Syariah dalam Valas

Peraturan ini mengatur mengenai transaksi penempatan berjangka (Term Deposit) syariah dalam valuta asing yang merupakan transaksi penempatan dana valuta asing secara berjangka oleh Bank (Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang merupakan bank devisa) di Bank Indonesia dan pokok pengaturan terkait transaksi Term Deposit Valas Syariah adalah sebagai berikut :

a. Dilakukan dengan mekanisme lelang melalui RMDS atau sarana lain yang

Peraturan ini dibuat untuk mengatur ketentuan pelaksanaan tata cara penempatan berjangka syariah

Perusahaan akan mematuh peraturan tersebut

Dalam dokumen Pembahasan Kinerja Keuangan (Halaman 36-50)