BASEL II PILAR 3 : Pengungkapan Permodalan, Eksposur Risiko dan Penerapan Manajemen Risiko Bank
B. Risiko Pasar
Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) menetapkan indikator tingkat risiko yang mewakili toleransi risiko yang dapat diterima oleh Perusahaan.
Penetapan tingkat toleransi risiko dilakukan dengan mempertimbangkan penetapan sasaran bisnis tresuri, faktor perilaku risiko pasar secara historis, sasaran risiko dan indikator-indikator lainnya yang terkait dengan tingkat risiko.
Limit untuk level portofolio tresuri dievaluasi minimal satu tahun sekali atau dapat dilakukan lebih sering jika terdapat pergerakan volatilitas harga pasar atau perubahan business plan. Evaluasi ini sekurang- kurangnya memuat informasi mengenai latar belakang perubahan limit, kondisi saat ini, dasar perhitungan dalam melakukan perubahan limit, dampak terhadap modal, dan tingkat kedisiplinan dalam mematuhi limit selama ini. Limit VaR dimintakan persetujuan kepada RMC. Dalam menjalankan fungsi pengawasannya, Satuan Kerja Manajemen Risiko memiliki hak untuk mengangkat isu mengenai perubahan limit ataupun pelampauan limit ke RMC.
3. Kecukupan Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pengendalian Risiko, Serta Sistem Informasi Manajemen Risiko
Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, Perusahaan wajib melakukan serangkaian proses untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari aktivitas fungsional Perusahaan. Satuan Kerja Manajemen Risiko berperan untuk melakukan proses tersebut secara kontinu melalui pengembangan infrastruktur sehingga proses pengelolaan risiko pasar dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan batasan maksimum risiko yang dapat ditolerir oleh Perusahaan.
Proses identifikasi risiko pasar antara lain dilakukan melalui analisa produk baru (khususnya produk – produk tresuri) melalui new product approval process yang merupakan kontrol kunci bagi perusahaan dalam mengidentifikasi risiko pasar yang melekat (inherent risk) pada setiap produk tersebut, untuk kemudian dipertimbangkan dan dimitigasi dengan baik sebelum produk diluncurkan. Untuk mendukung proses identifikasi risiko pasar yang kuat, perusahaan memiliki kebijakan pengelolaan risiko produk dan aktivitas, yang mengatur mengenai
Secara internal, Perusahaan menggunakan analisa sensitivitas, yaitu perubahan nilai portofolio akibat pergerakan satu satuan variabel pasar yang independen, seperti DV01 dan basis DV01 untuk portfolio istrumen terkait suku bunga, net open position untuk posisi terbuka valuta asing, dan Vega untuk portfolio option. Selain analisa sensitivitas, perusahan juga sudah menggunakan perhitungan Value at Risk (VaR) dalam pengukuran risiko pasar
Portofolio yang tercakup dalam model internal Value at Risk (VaR) meliputi instrumen surat berharga, valuta asing dan derivatif. Metodologi perhitungan VaR yang digunakan adalah historical simulation, yang direview secara berkala dengan menggunakan data historis dari market factor dalam suatu jangka waktu tertentu dan tidak memerlukan suatu model dan asumsi. Metode valuasi dalam pengukuran nilai wajar suatu instrumen dilakukan dengan mengunakan harga yang tersedia di pasar (mark to market) atau dalam kondisi pasar yang tidak likuid menggunakan perhitungan theoretical price (mark to model).
Perusahaan melakukan perhitungan VaR untuk melihat risiko pasar secara internal setiap hari dan pengukuran VaR berdasarkan pada tingkat kepercayaan sebesar 99,7% (sembilan puluh sembilan koma tujuh persen) atau dengan tingkat kepercayaan lainnya jika diperlukan.
Perhitungan risiko untuk keperluan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) risiko pasar adalah menggunakan Metode Standar, yang meliputi perhitungan atas risiko suku bunga dan risiko nilai tukar.
Risiko pasar yang wajib diperhitungkan dalam beban modal untuk pendekatan standar adalah:
1. Posisi instrumen keuangan dalam trading book yang terekspos risiko suku bunga.
2. Posisi valuta asing dalam trading book dan banking book yang terekspos risiko nilai tukar.
3. Posisi option dengan underlying suku bunga dan/
atau valuta asing dalam trading book.
Proses pemantauan risiko pasar dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu front end control dan penetapan limit. Pada front end control, dealer berperan sebagai pemantau utama atas risiko pasar yang ditimbulkan dari aktivitas trading maupun pengelolaan aset dan liabilitas Perusahaan. Dealer wajib menjaga posisi terbuka trading sepanjang hari dengan memperhatikan limit yang telah ditentukan oleh Manajemen.
Unit Market Risk Management melakukan pemantauan terhadap pelampauan limit trading secara harian. Penetapan limit berfungsi untuk membatasi konsentrasi eksposur risiko pada suatu posisi, jenis risiko, tipe instrumen dan atau pasar tertentu.
Penetapan limit ini mengacu kepada risk tolerance dari Perusahaan dengan mempertimbangkan target profit dari aktivitas perdagangan.
Strategi yang diambil oleh Perusahaan dalam proses pengendalian risiko pasar adalah konservatif, antara lain melalui hedging, squaring position, back-to-back dan cara lain yang bertujuan untuk off-setting suatu transaksi/ posisi yang memiliki eksposur risiko pasar juga dapat digunakan untuk proses transfer risiko yang dimiliki. Perusahaan hanya melakukan transaksi yang sesuai dengan risk appetite dan strategi bisnis Perusahaan.
Perusahaan juga membatasi atau melarang jenis transaksi atau instrumen tertentu untuk ditransaksikan oleh bisnis unit, serta mengurangi risiko dengan cara memberikan batas maksimum transaksi atau portofolio sesuai dengan risk appetite Perusahaan. Namun demikian, Perusahaan juga dapat menerima risiko jika eksposur risiko masih berada dalam batas risk appetite Perusahaan dan keuntungan yang diperoleh jauh melebihi risikonya.
Perusahaan melakukan pengukuran atas risiko suku bunga di banking book yang timbul dari perbedaan perubahan suku bunga dan arus kas (repricing risk), perubahan keterkaitan suku bunga dari beberapa yield curve dengan posisi yang berbeda yang mempengaruhi aktivitas bank (basis risk), perubahan keterkaitan suku bunga pada rentang jatuh tempo (yield curve risk), dan suku bunga terkait option embedded dalam produk banking book (option risk).
Perusahaan mengukur eksposur risiko suku bunga baik dari perspektif pendapatan dan perspektif ekonomis di bawah rentang kemungkinan dari skenario suku bunga potensial, termasuk kondisi stres. Pendekatan pengukuran yang dapat digunakan untuk melakukan analisa atas eksposur risiko suku bunga yaitu: repricing gap analysis, PVBP, static simulation Economic Value of Equity (EVE).
Skenario yang digunakan pada static simulation Economic Value of Equity (EVE) adalah parallel interest rate shift 400 basis points up/down.
Skenario kenaikan 400 basis points berpotensi memberikan dampak terburuk terhadap modal, sehingga perhitungan kecukupan modal dengan memperhitungkan aspek risiko suku bunga menggunakan pendekatan skenario tersebut.
Backtesting
Unit Market Risk Management (MRM) merupakan unit yang bertugas melakukan backtesting untuk menilai keakuratan model VaR secara berkala dengan membandingkan hasil pengukuran VaR dengan returnnya.
Backtesting dilakukan dengan membandingkan perhitungan VaR dan kerugian aktual secara historikal dengan menggunakan Model Verification Based on Failure Test yaitu menghitung jumlah observasi dimana nilai kerugian melebihi perhitungan VaR untuk portofolio yang sedang diobservasi selama periode observasi. Model ini lebih bersifat historikal dan non parametric dengan menghitung jumlah observasi dimana nilai kerugian melebihi perhitungan VaR untuk portofolio yang sedang diobservasi selama periode observasi. Jika dalam pelaksanaan backtesting ini ditemukan pelampauan di atas tingkat kesalahan yang dapat diterima, maka terdapat kemungkinan bahwa model VaR-nya tidak akurat.
Backtesting dilaporkan secara periodik kepada RMC disertai dengan analisis penyebab penyimpangan (misalnya integritas model tidak sempurna, model tidak akurat, kualitas data laba/rugi intraday kurang baik, kondisi pasar yang bergerak ke arah yang tidak diantisipasi oleh model) dan rencana tindak lanjut atas hasil backtesting tersebut.
.
4. Sistem Pengendalian Internal yang Menyeluruh Secara periodik dilakukan kaji ulang terhadap
kecukupan kebijakan dan prosedur yang berlaku. Penilaian atas kecukupan kebijakan dan pelaksanaannya dilakukan oleh pihak yang bersifat independen, yaitu Satuan Kerja Internal Audit (SKAI) untuk kemudian disampaikan kepada manajemen dan Komite Audit untuk ditindaklanjuti. Informasi terkait dengan eksposur risiko pasar dikonsolidasi dan dilaporkan oleh unit yang membidangi keuangan dan akuntansi.
Internal Audit melakukan kaji ulang terhadap manajemen risiko pasar dilakukan secara berkala minimal sekali dalam setahun melalui proses audit internal. Kaji ulang mencakup aktivitas yang dilakukan Unit Pengendalian Risiko Pasar dan satuan kerja operasional yang terkait dengan manajemen Risiko Pasar. Kaji ulang tersebut paling kurang meliputi:
• Kecukupan dokumentasi dari manajemen risiko pasar (termasuk model internal).
• Proses persetujuan terhadap perubahan signifikan dalam manajemen risiko pasar.
• Integritas sistem informasi manajemen risiko pasar.
• Organisasi unit pengendalian risiko pasar antara lain pelaksanaan tugas dan tanggung jawab, independensi, dan kecukupan sumber daya manusia.
• Integrasi pengukuran risiko pasar ke dalam proses manajemen risiko harian.
• Cakupan produk atau instrumen keuangan yang terekspos risiko pasar yang menggunakan model internal.
• Verifikasi terhadap konsistensi, ketepatan waktu, independensi, dan keandalan sumber data yang digunakan dalam model internal.
• Keakuratan dan kelengkapan data untuk pengukuran risiko.
• Proses persetujuan internal untuk penggunaan model/teknik penilaian (valuasi).
• Keakuratan hasil valuasi.
• Keakuratan dan kelayakan dari berbagai asumsi volatilitas dan korelasi.
• Verifikasi terhadap proses validasi internal dan proses backtesting.
Internal Audit wajib mendokumentasikan seluruh laporan kaji ulang yang dilakukannya. Selain itu, sesuai ketentuan regulator yang berlaku mengenai pelaksanaan fungsi audit internal Bank umum, Internal Audit wajib menyampaikan laporan pelaksanaan fungsi audit internal.
5. Pengungkapan Kuantitatif Risiko Pasar
Tabel 7.1 Pengungkapan Risiko Pasar dengan Menggunakan Metode Standar
No. Jenis Risiko
Posisi Tanggal Laporan 31 Desember 2013 (Rp Juta)
Bank Konsolidasi
Beban Modal ATMR Beban Modal ATMR
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Risiko Suku Bunga 905.039 905.039
a. Risiko Spesifik 11.125 139.062 11.125 139.062
b. Risiko Umum 61.278 765.976 61.278 765.976
2 Risiko Nilai Tukar 48.762 609.527 48.762 609.527
3 Risiko Ekuitas - - - -
4 Risiko Komoditas - - - -
5 Risiko Option 781 9.759 781 9.759
Total 121.946 1.524.324 121.946 1.524.324
No. Jenis Risiko
Posisi Tanggal Laporan 31 Desember 2014 (Rp Juta)
Bank Konsolidasi
Beban Modal ATMR Beban Modal ATMR
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Risiko Suku Bunga
a. Risiko Spesifik 13.041 163.013 13.041 163.013
b. Risiko Umum 66.074 825.927,59 66.074 825.928
2 Risiko Nilai Tukar 18.103 226.292,25 18.103 226.292
3 Risiko Ekuitas - - - -
4 Risiko Komoditas - - - -
5 Risiko Option 4.915 61.433,50 4.915 61.433
Total 102.133 1.276.666 102.133 1.276.666
Tabel 7.2.a Pengungkapan Risiko Pasar dengan Menggunakan Model Internal (VaR) – Bank secara Individual
NIHIL
Tabel 7.2.b Pengungkapan Risiko Pasar dengan Menggunakan Model Internal (VaR) – Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
NIHIL