BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.3 Pengendalian Internal
Pengendalian internal merupakan bagian dari manajemen risiko yang harus dilaksanakan oleh setiap untuk mencapai tujuan lembaga. Sistem pengendalian intenal adalah sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang saling berkaitan dengan tujuan untuk mencapai tujuan-tujujuan yang diharapkan untuk memisahkan fungsi antara pencatatan dan pengurusan kas yang jelas, dan bertujuan untuk menghindari kecrurangn-kecurangan atau penyelewengan- penyelewengan yang kemungkinan terjadi dalam perusahaan. Dengan adanya sistemn pengendalian intenal ini maka penerimaan kas dalam perusahaan tidak dapat digelapkan.
Standar Profesi Akuntan Publik (2011) mendefinisikan:
“Pengendalian internal sebagai suatu proses yang dijalankan oleh entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan meliputi keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi, serta kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku“.
Tercapainya pengendalian internal dalam suatu perusahaan dapat meminimalisir kerugian atau pemborosan pengelolaan sumber daya perusahaan.
Pengendalian internal juga menyediakan informasi tentang bagaimana menilai kinerja perusahaan dan manajemen sebagai pedoman dalam perencanaan selanjutnya (Mulyadi, 2002).
Menurut Yusar dan Fitri (2013:79) dalam (Rista, 2016):
“Pengendalian internal adalah sebuah proses, dipengaruhi oleh dewan entitas direksi, manajemen dan personil lainnya, yang di rancang untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam kategori berikut: efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, kepatuhan terhadap berlaku hukum dan peraturan dan pengamatan aset terhadap akuisisi yang tidak sah, penggunaaan atau pelepasan”.
Menurut Ni Luh (2015) dalam Rista (2016) pengendalian akuntansi merupakan “bagian dari sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk menjaga kekayaan organisasi serta mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi”.
Boynton dan Johnson (2006) dalam (Rista, 2016) mendefinisikan “aktivitas pengendalian sebagai kebijakan organisasi dan prosedur yang membantu memastikan bahwa perintah manajemen telah dilakukan”. Aktivitas pengendalian membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan berkenaan dengan risiko yang diambil untuk pencapaian tujuan organisasi.
Menurut Arens (2009:370) dalam (Rista, 2016) menjelaskan “bahwa sistem pengendalian internal terdiri atas kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan manajemen kepastian yang layak bahwa perusahaan telah
mencapai tujuan dan sasarannya”. Kebijakan dan prosedur ini disebut pengendalian, dan secara kolektif membentuk pengendalian internal entitas tersebut.
Hery (2016:132) menjelaskan dalam bukunya yang berjudul “Auditing dan Asurans” bahwa memiliki tiga tujuan umum dalam merancang sistem pengendalian internal yang efektif, yaitu keandalan pelaporan keuangan, efesiensi dan efektivitas operasi, seerta ketaatan pada hukum dan peraturan”
Jusup (2014:356) menjelaskan lebih lanjut mengenai ketiga tujuan di atas, sebagai berikut:
1. Keandalan pelaporan keuangan entitas. Manajemen bertanggung jawab untuk meyusuk laporan keuangan bagi investor, kreditur, dan pihak-pihak lainnya.
Manajemen mempunyai tanggung jaan hokum dan professional untuk memberi kepastian bahwa informasi di dalam laporan telah disajikan dengan wajar sesuai pengendalian intern yang efektif atas pelaporan keuangan ini.
2. Efektivitas dan efesiensi operasi entitas. Pengendalian intern dalam suatu entitas akan mendorong efektivitas dan efesiensi penggunaan sumber-sumber secara optimal untuk mencapai tujuan entitas. Tujuan utama pengendalian ini adalah untuk member informasi keuangan dan non-keuangan yang akurat tentang operasi entitas untuk pengambilan keputusan.
3. Kesesuaian dengan undang-undang dan peraturan-peraturan. Entitas-entitas public, non-publik, dan organisasi nirlaba berkewajiban untuk menaati banyakundang- undang dan peraturan-peraturan. Sebagian di antaranya hanya menyangkut akuntansi secara tak langsung, namun ada juga yang langsung berkaitan dengan akuntansi, seperti misalnya undang-undang perpajakan.
Sutarbi (2004:33) menjelaskan bahwa “sistem pengendalian yang baik dalam perusahaan akan berguna untuk: 1. Menjaga keamanan harga milik suatu organisasi, 2. Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, 3. Memajukan efesiensi dalam operasi, 4. Membantu menjaga agar tidak ada yang menyimpang dari kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu”.
American Institute of Certifield Public Accountant (AICPA) 2013, mendefinisikan s”istem pengendalian internal mencakup susunan organisasi dan
semua metode beserta kebijakan peraturan yang terkoordinasi dalam perusahaan, dengan tujuan untuk melindungi: 1. Harta kekayaan perusahaan, 2. Memeriksa kecermatan dan keandalan data akuntansi, 3. Meningkatkan efisiensi operasi usaha.
Mulyadi (2002:178) menjelaskan bahwa tujuan pengendalian intern terbagi atas dua, sebagai berikut:
1. Menjaga kekayaan perusahaan. Pengguanaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otoritas yang telah ditetapkan dan pertanggungjawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan dengan kekayaan yang sesungguhnya.
2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. Pelaksanaan tramsaksi melalui sistem otoritas yang telah ditetapkan, dan pencatatan akuntansi yang terjadi tercatat dengan benar di dlam catatan.
Menurut Suharso (2016) dalam (Rista, 2016), mengungkapkan keterbatasan pengendalian internal yang mungkin terjadi karena:
1. Penetapan tujuan sebagai prasyarat pengendalian internal tidak tepat;
2. Pengambilan keputusan oleh manusia yang salah satu bias;
3. Kegagalan/kesalahan faktor manusia sebagai pelaksana pengendalian;
4. Kemampuan manajemen mengesampingkan pengendalian;
5. Kemampuan manajemen, personil lain, atau pihak ketiga untuk berkolusi;
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal adalah keberhasilan manajemen dalam mencapai tujuan instansi yang berkaitan dengan menjaga keandalan penyajian laporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasional dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengendalian internal dapat berperan dalam mencegah dan mendeteksi suatu kecurangan akuntansi (fraud) dalam suatu instansi. Dan tujuan dari diterapkan pengendalian internal di dalam suatu entitas ialah sebagai penyedia informasi untuk tujuan perencanaan kinerja dan sebagai pedoman untuk menilai kinerja perusahaan. Selain itu, pengendalian interna; juga dapat mencegah
terjadinya suatu pemborosan dan penyalahgunaan sumber daya [erusahaan yang akan berujung pada kerugian serta ketidaktaatan terhadap kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan.
Dalam Alvin, dkk (2014:356) Internal Control-Integrated Framwork yang dikeluarkan COSO, yaitu “kerangka kerja pengendalian internal yang paling luas diterima di Amerika Serikat, menguraikan lima kompoen pengendalian internal yang dirancang dan diimplementasikan oleh manajemen untuk memberikan kepastian yang layak bahwa tujuan pengendaliannya akan tercapai’. Setiap komponen mengandung banyak pengendalian, tetapi auditor hanya berfokus pada pengendalian yang dirancang untuk mencegah atau mendeteksi salah saji yang material dalam laporan keuangan. Komponen pengendalian internal COSO dalam Alvin , dkk (2014:356) meliputi hal-hal berikut ini: “1. Lingkungan pengendalian, 2. Penilaian resiko, 3.Informasi dan Komunikasi, 4. Aktivitas pengendalian, dan 5. Pemantauan”. Dari lima komponen diatas mengais komponen pengendalian interal menurut COSO akan diuraikan secara terperinci adalahs sebagai berikut:
1. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian (control environment) terdiri dari atas tindakan, kebijakan, dan prosedur yang mencerminkan sikap manajemen puncak, para direktur, dan pemilik entitas scera keseluruhan mengenai pengendalian internal serta arti pentingnya bagi entitas itu. Untuk memahami dan menilai lingkungan pengendalian, auditor harus mempertimbangkan sub komponen pengendalian yang paling penting.
a. Integritas dan Nilai-nilai Etis b. Komitmen pada Kompetensi
c. Partisipasi Dewan Komisaris atau Komite Audite d. Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen
e. Stuktur Organisasi
f. Kebijakan dan praktik Sumber Daya Manusia 2. Penilaian resiko
Penilaian resiko (risk assessment) atas pelaporan keuangan adalah tindakan yang dilakukan menajamen untuk mengidentifikasi dan menganalisis resiko-resiko yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan GGAP. Sebagai contoh, jika suatu perusahaan sering menjual produk dengan harga di bawah harga pokok persediaan karena pesatnya perubahan teknologi, perusahaan melebih sajakan persediaan. Demikian pula, kegagalan untuk memenuhi tujuan sebelumnya, mutu personil, penyebaran geografis operasi perusahaan, signifikansi dan komplesitas proses bisnis inti, pengenalan teknologi informasi yang baru, dapat meningkatkan risiko. Setelah mengidentifikasi suatu resiko, manajemen mengestimasi signifikansi resiko itu, menilai kemungkinan terjadinya resiko itu, dan mengembangkan tindakan harus khusus yang diperlukan untuk mengurangi resiko itu ke tingkat yang dapat diterima.
3. Informasi dan komunikasi
Tujuan sistem informasi dan komunikasi akuntansi entitas adalah untuk memulai mencatat, memproses, dan melaporkan transaksi yang dilakukan entitas itu serta mempertahankan akuntabilitas aset terkait. Sistem informasi dan
komunikasi akuntansi mempunyai beberapa subkomponen, yang biasanya terdiri atas kelas-kelas transaksi seperti penjualan, retur penjualan, penerimaan kas, akusisi, dan sebagainya. Untuk setiap kelas transaksi, sistem akuntansi penjulan harus memenuhi keenam tujuan yang berhubungan dengan transaksi, sistem akuntansi harus memenuh keenam tujuan yang berhubungan dengan transaksi yang sudah diidentifikasi sebelumnya. Sebagai contoh, sistem akuntansi penjualan harus dirancang untuk memastikan bahwa semua pengiriman barang oleh perusahaan telah dengan tepat dicatat sebagai penjualan (tujuankelengkapan dan keakuratan) dan tercermin dalam laporan keuangan pada periode yang tepat (tujuan penetapan waktu). Sistem itu juga harus menghindari pencatatan ganda penjualan dan pencatatan penjualan bila pengiriman belum dilakukan (tujuan keterjadian).
4. Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian (control activities) adalah kebijakan dan prosedur, selain yang sudah termasuk dalam empat komponen lainnya, yang membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan telah diambil untuk mengenai resiko guna mencapai tujuan entitas. Sebenarnya ada banyak aktivitas pengendalian semacam ini dalam entitas manapun, termasuk pengendalian manual dan terotomasi. Aktivitas pengendalian umumnya dibagi menjadi lima jenis berikut ini:
a. Pemisahan tugas yang memadai
b. Otoritas yang sesuai atas transaksi dan aktivitas c. Dokumen dan catatan yang memadai
d. Pengendalian fisik atas aset dan catatan e. Pemeriksaan kinerja secara independen 5. Pemantauan
Aktivitas pemantauan berhubungan dengan penilaian mutu internal secara berkelanjutan atau periodik oleh manajemen untuk menentukan bahwa pengendalian itu telah beroperasi seperti yang diharapkan, dan telah dimodifikasi sesuai dengan perubahan kondisi. Informasi yang dinilai ini berasal dari berbagai sumber, termasuk studi atas pengendalian internal yang ada, laporan auditor internal, pelaporan pengecualian tentang aktivitas pengendalian, laporan dari pembuat peraturan seperti badan pengatur bank, umpan balik dari personil operasional, dan keluhan pelanggan tentang jumlah tagihan.
Mulyadi (2009) menyatakan pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian internal diantaranya adalah:
a. Manajemen, bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menyelenggarakan secara efektif pengendalian internal organisasinya.
b. Direktur utama perusahaan, bertanggung jawab unutk menciptakan atmosfer pengendalian di tingkat puncak, agar kesadaran terhadap pentingnya pengendalian menjadi tumbuh di seluruh organisasi.
c. Direktur bagian keuangan dan akuntansi, menjalankan peran penting dalam perancangan, implementasi, dan pemantauan sistem pelaporan keuangan organisasi, penyusunan rencana dan anggaran perusahaan, penilaian dan analisis kinerja, serta pencegahan dan pendeteksian pelaporan keuangan yang menyesatkan.
d. Dewan komisaris dan komite audit. Dewan komisaris bertanggung jawab untuk memeriksa apakah manajemen memenuhi tanggung jawab mereka
dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pengendalan internal, sedangkan fungsi komite audit secara langsung berdampak pada auditor.
e. Auditor internal, bertanggung jawab untuk memeriksa dan mengevaluasi memadai atau tidaknya pengendalian internal entitas dan membuat rekomendasi peningkatannya.
f. Personel lain entitas. Peran dan tanggung jawab semua personel lain yang menyediakan informasi atau menggunakan informasi yang dihasilkan oleh pengendalian internal harus ditetapkan dan dikomunikasikan dengan baik.
g. Auditor independen. Sebagai bagian dari prosedur auditnya terhadap laporan keuangan, auditor dapat menemukan kelemahan pengendalaian internal kliennya, sehingga ia dapat mengkomunikasikan temuan auditnya tersebut kepada manajemen, komite audit, atau dewan komisaris.
h. Pihak luar lain. Pihak luar lain yang bertanggung jawab atas pengendalian internal entitas adalah badan pengatur (regulatory body), seperti Bank Indonesia dan Bapepam. Badan pengatur ini mengeluarkan persyaratan minimum pengendalian internal yang harus dipenuhi oleh suatu entitas dan memantau kepatuhan entitas terhadap persyaratan tersebut.
Efektifnya sistem pengendalian internal diharapkan mampu mengurangi adanya tindakan menyimpang yang dilakukan oleh manajemen. Manajemen cenderung melakukan tindakan menyimpang untuk memaksimalkan keuntungan pribadi. “Salah satu peluang tindakan menyimpang yaitu kecenderungan melakukan kecurangan akuntansi, sehingga dengan adanya sistem pengendalian yang baik peluang tersebut dapat dikurangi dengan sistem pengendalian internal yang baik. Pengendalian internal yang baik dapat mengurangi atau bahkan menutup peluang untuk melakuakan kecenderungan kecurangan akuntansi”
(Ariani, 2014). “Kecenderungan kecurangan akuntansi dapat dikurangi jika pengendalian internal yang tinggi diterapkan dalam suatu intansi” (Ahmad, 2017)