BAB III DIREKSI
A. Pengertian Direksi
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, pada Bab VI Pasal 79, yang dimaksud dengan Direksi adalah “Orang perseorangan yang mampu melak- sanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota Direksi atau Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit, atau orang yang pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dalam waktu lima tahun sebelum pengangkatannya“.
Direksi diatur secara khusus dalam Bagian Pertama Bab VII Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 yaitu mulai pasal 92 sampai dengan pasal 107 Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 4 UUPT Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. Atau dengan pengertian lain, Direksi adalah unsur perusahaan yang bertanggungjawab penuh atas pengurusan perusahaan untuk kepentingan dan tujuan perusahaan serta mewakili perusahaan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar.
Istilah “Direksi“ atau “Director” menurut S.H. Gifis dalam Munir (2003:49) adalah sebagai berikut:
“One who sits a board of directors of a company or corporation, and who has the legal responsibility of exercising control over the officers and affairs of the company or corporation“
Seseorang yang duduk dalam Dewan Direksi suatu perusahaan dan memiliki tanggung jawab hukum untuk melaksanakan pengendalian terhadap pegawai dan kegiatan perusahaan.
Di samping itu ada lagi pendapat tentang Direksi (Munir, 2003:50) sebagai berikut:
“Persons appointed or elected according to law, authorized to manage and direct the affairs of a corporation or company“.
Orang yang ditunjuk atau dipilih menurut hukum yang berlaku, mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengarahkan kegiatan dari suatu perusahaan. Direksi bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan operasi perusahaan sebagaimana yang telah direncanakan.
Investor, Kreditor, Masyarakat, Karyawan, dan Konsumen menginginkan Direksi mampu untuk membuat prediksi atas kejadian pada masa yang akan datang dan menjalankan kegiatan perusahaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Melalui kemampuan, keahlian, sumber daya, motivasi, dan kewenangan yang dimiliki oleh Direksi, diharapkan Direksi tidak hanya siap untuk menghadapi suatu perubahan, akan tetapi dengan adanya perubahan tersebut mampu untuk menghasilkan keuntungan. Direksi harus mempunyai kewe- nangan yang cukup untuk memimpin jalannya kegiatan perusahaan.
Tantangan yang paling berat bagi Direksi adalah partisipasi dalam pelaksanaan Good Corporate Governance (Monks, 2004:257).
Direksi adalah anggota unsur perusahaan sebagai pemegang kekuasaan eksekutif di perusahaan. Direksi mengendalikan operasi perusahaan sehari-hari dalam batas-batas yang ditetapkan oleh
Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT), Anggaran Dasar dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta di bawah pengawasan Dewan Komisaris. Tugas dan fungsi utama Direksi adalah menjalankan roda manajemen perseroan secara menyeluruh. Dengan demikian, Direksi haruslah orang yang berwatak baik, berpengalaman, mem- punyai kompetensi menduduki jabatan tersebut, dan melaksanakan setiap kegiatan semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Direksi juga mempunyai tugas utama lainnya yaitu mengupayakan perusahaan dapat melaksanakan tanggung jawab sosialnya dan juga harus memperhatikan berbagai kepentingan stakeholders. Hal lain yang tak kalah penting adalah senantiasa mendorong pelaksanaan prinsip- prinsip Good Corporate Governance yang dilaksanakan dengan konsisten (Mas Achmad, 2005:129).
Pada dasarnya Direksi merupakan organ yang mengurus kegiatan Perseroan (karena itu disebut juga dengan istilah “pengurus”), maka setiap Perseroan Terbatas “wajib” memiliki Direksi minimal 1 orang.
Akan tetapi, untuk beberapa jenis Perseroan wajib memiliki minimal 2 (dua) orang Direksi, yakni yang merupakan Perseroan yang menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, Perseroan menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat dan Perseroan merupakan Perseroan terbuka. Jika memang dalam hal Perseroan memiliki lebih dari satu orang Direktur atau Direksi, maka salah satu anggota Direkturnya diangkat sebagai Direktur utama (Presiden Direktur). Selainn itu, dalam hal pengangkatan, direksi dan anggota Direksi diangkat berdasarkan pertimbangan keahlian, integritas, kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku yang baik, serta dedikasi yang tinggi untuk memajukan dan mengembangkan Perusahaan.
Direksi adalah salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk pengurusan perseroan sesuai dengan tujuan perseroan. Hal ini dikare- nakan “direksi adalah trustee sekaligus agent bagi perseroan terbatas.
Dikatakan sebagai trustee karena direksi melakukan pengurusan terhadap harta kekayaan perseroan, dan dikatakan agent, karena direksi bertindak keluar untuk dan atas nama perseroan”
Tugas dan tanggung jawab direksi adalah tugas dan tanggung jawab direksi sebagai suatu organ, yang merupakan tanggung jawab kolegial antara sesama anggota direksi terhadap perseroan. Ini berarti setiap tindakan yang diambil atau dilakukan oleh salah satu atau lebih anggota direksi akan mengikat anggota direksi lainnya. Akan tetapi tidak berarti tidak diperkenankannya terjadi pembagian tugas di antara anggota direksi
Direksi bertanggung jawab penuh atas manajemen perusahaan.
Setiap anggota direksi bertanggung jawab penuh dan secara pribadi jika ia bersalah atau lalai dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dalam melaksanakan tugasnya, direksi harus mematuhi anggaran dasar perseroan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini direksi harus menjalankan tugas-tugasnya dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.
Menurut Pramono (dalam Muskbah, 126), dalam kaitannya dengan Good Corporate Governance (GCG), direksi dipandang seba- gai kunci utama keberhasilan penerapan prinsip-prinsip GCG. Secara teoritis harus diakui bahwa dengan melaksanakan prinsip-prinsip GCG ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari direksi, yakni:
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang baik;
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value;
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia;
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders.
Gambar 2. Manfaat Direksi