Bab IV Lahir dan Tumbuhnya Konsepsi Etnisitas
A. Pengertian Etnisitas
Kata etnis (etnic), berasal dari bahasa Yunani, Etnhos yang merujuk pada suatu pengertian (identik) pada dasar geografis dalam suatu batas-batas wilayah dengan sistem politik tertentu (Rudolf: 1986: 2).
Istilah etnis umumnya hanya digunakan untuk suku-suku tertentu yang dianggap bukan asli Indonesia, namun telah lama bermukim dan berbaur dalam masyarakat, serta tetap memertahankan identitas mereka melalui cara-cara khas mereka yang dikerjakan, dan secara fisik mereka benar-benar khas, misalnya etnik Cina, etnik arab, etnis bugis, dan etnis Gorontalo.
66 Roni Lukum
Istilah etnis juga dipakai sebagai sinonim dari kata suku pada suku-suku yang dianggap asli Indonesia, misalnya etnik Bugis, etnik Minang, etnik dari Pakpak, etnik Dani, etnik Sasak, etnik Gorontalo dan ratusan etnik lainnya. Akhir-akhir ini istilah suku mulai ditinggalkan karena berasosiasi dengan keprimitifan, istilah etnis sendiri merujuk pada pengertian kelompok masyarakat.
Etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Konsep etnisitas bersifat relasional yang berkaitan dengan identifikasi diri dan asal usul sosial. Apa yang kita pikirkan sebagai identitas kita tergantung kepada apa yang kita pikiran sebagai bukan kita.
Pandangan yang mengatakan kesamaan etnis untuk mengelompokan etnis didasarkan pada adat kebiasaan dan padangan yang khas tidak cocok untuk diterapkan pada masyarakat yang latar belakang dan cara hidupnya berbeda sehingga homogenitas etnis tetap dipertahankan meskipun terdapat beragam cara hidup dan bentuk sosial. Penyebaran masyarakat yang berangkat dari budaya yang sama membentuk ciri etnis yang berbeda ketika masyarakat tersebut mulai menyebar dan beradaptasi dengan lingkungan tempat masing- masing dari mereka menetap dan tinggal.
Menurut Frederich Bart (1988: 9) istilah etnis menujuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal usul, ataupun kombinasi dari ketegori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Frederich Bart (1988) dan Zastrow (1989), menganggap etnis adalah himpunan manusia karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut yang terikat pada sistim nilai budayanya.
Thomas Sowell (dalam Frederich Bart 1998: 9) yang menulis tentang Ethnik of America, mengemukakan bahwa etnis merupakan sekolompok orang yang mempunyai pandangan dan praktik hidup yang sama atas suatu nilai dan norma
misalnya, kesamaan agama, Negara asal, suku bangsa, kebudayaan, dan lain-lain yang semuanya berpayung pada suatu kelompok yang disebut kelompok etnis.
Narroll (dalam Frederich Bart 1998: 9) berpendapat bahwa etnis sebagai suatu populasi yang:
1. Secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan.
2. Mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam satu bentuk budaya.
3. Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri, dan;
4. Membentuk ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan kelompok populasi lain.
Definisi etnis di atas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok etnis yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain, dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain.
Menurut Em Zul Fajri dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, etnis berkenaan dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Sedangkan menurut Ariyuno Sunoyo dalam Kamus Antropologi, bahwa: “Etnis adalah suatu kesatuan budaya dan teritorial yang tersusun rapi dan dapat digambarkan ke dalam suatu peta etnografi” (Sunoyo, 1985).
Setiap kelompok memiliki batasan-batasan yang jelas untuk memisahkan antara satu kelompok etnis dengan etnis lainnya. Menurut Koentjaraningrat (1982), konsep yang tercakup dalam istilah etnis adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan, sedangkan kesadaran dan identitas seringkali dikuatkan oleh kesatuan bahasa juga.
68 Roni Lukum
Suku bangsa yang sering disebut etnik atau golongan etnik mempunyai tanda-tanda atau ciri-ciri karakteristiknya. Ciri-ciri tersebut terdiri dari hal-hal berikut (Payung Bangun, 1998).
1. Memiliki wilayah sendiri.
2. Mempunyai struktur politik sendiri berupa tata pemerintahan dan pengaturan kekuasaan yang ada.
3. Adanya bahasa sendiri yang menjadi alat komunikasi dalam interaksi.
4. Mempunyai seni sendiri (seni tari lengkap dengan alat- alatnya, cerita rakyat, seni ragam hias dengan pola khas tersendiri).
5. Seni dan teknologi arsitektur serta penataan pemukiman.
6. Sistem filsafat sendiri yang menjadi landasan pandangan, sikap dan tindakan.
7. Mempunyai sistem religi (kepercayaan, agama) sendiri.
Etnisitas secara substansial bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya tetapi keberadaannya terjadi secara bertahap.
Etnisitas adalah sebuah proses kesadaran yang kemudian membedakan kelompok kita dengan mereka. Basis sebuah etnisitas adalah berupa aspek kesamaan dan kemiripan dari berbagai unsur kebudayaan yang dimiliki, seperti misalnya adanya kesamaan dan kemiripan dari berbagai unsur kebudayaan yang dimiliki, ada kesamaan struktural sosial, bahasa, upacara adat, akar keturunan, dan sebagainya. Berbagai ciri kesamaan tersebut, dalam kehidupan sehari-hari tidak begitu berperan dan dianggap biasa. Dalam kaitannya, etnisitas menjadi persyaratan utama bagi munculnya strategi politik dalam membedakan “kita” dengan “mereka” (Ivan dan Hadar, 2000).
Dari beberapa macam argumentasi mengenai etnis tersebut di atas, dapat ditarik benang merah bahwa yang mana etnis adalah sebuah komunitas masyarakat yang memiliki berbagai macam kesamaan dalam kehidupan sosiokulturalnya, kesamaan
tersebut yang membedakan mereka dengan komunitas- komunitas lainnya dalam masyarakat. Oleh karena itu, yang muncul dalam kehidupan sehari-hari lebih menjurus pada pengklaiman “keakukan dan kekitaan”.
Orang yang berasal dari suatu kelompok etnis cenderung melihat budaya mereka sebagai yang terbaik. Kecenderungan ini disebut sebagai etnosentrisme, yaitu kecenderungan untuk memandang norma dan nilai yang dianut seseorang sebagai hal yang mutlak dan digunakan sebagai standar untuk menilai dan mengukur budaya lain (Coleman dan Cressey, 1984).
Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya.
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar (1998) adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan agama, serta faktor emosi dalam diri individu. Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan dan perubahan sikap ini adalah faktor internal dan eksternal individu (Gerungan, 1991).
1. Faktor-Faktor Internal
Pengamatan dalam komunikasi melibatkan proses pilihan di antara seluruh rangsangan objektif yang ada di luar diri individu. Pilihan tersebut berkaitan erat dengan motif- motif yang ada dalam diri individu. Selektivitas pengamatan berlangsung karena individu tidak dapat mengamati semua stimulus yang ada.
2. Faktor-Faktor Eksternal
Sikap dapat dibentuk dan diubah berdasarkan dua hal, yaitu karena interaksi kelompok dan komunikasi.
Gerungan juga menambahkan apabila sikap sudah terbentuk dalam diri manusia, maka hal tersebut menentukan pola tingkah lakunya terhadap objek-objek sikap. Pembentukan sikap ini tidak terjadi dengan
70 Roni Lukum
sendirinya, namun berlangsung dalam interaksi manusia, yaitu interaksi di dalam kelompok dan diluar kelompok.
Pengaruh dari luar kelompok ini belum cukup untuk merubah sikap sehingga membentuk sikap baru.
Dalam narasi politik Indonesia pasa reformasi 1998 terlihat secara jelas bagaimana politik etnis sebagai embrio atau dinamika tersendiri dalam perhelatan politik lokal.
Seiring dengan dinamika fragmentasi masyarakat lokal ke dalam berbagai macam subsistem sosial membuat etnisitas sebagai suatu kekuatan politik dalam mendorong percaturan politik, baik Pemilu Presiden, DPR dan DPRD, maupun pemilihan kepala daerah.