Bab III Interaksi Sosial sebagai Toold
A. Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial menurut Susanto adalah hubungan antarmanusia yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial. Hasil interaksi sangat ditentukan oleh nilai dan arti serta interpretasi yang diberikan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi ini. Selanjutnya, pandangan lain tentang interaksi sosial menurut Bonner adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih yang saling memengaruhi mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
Pendapat lain tentang interaksi sosial menurut Soekanto adalah merupakan dasar proses sosial yang terjadi karena adanya hubungan-hubungan sosial yang dinamis mencakup hubungan antarindividu, antarkelompok atau antarindividu dan kelompok. Selanjutnya, pandangan Muriyatmoko &
Handayani interaksi sosial adalah hubungan antarmanusia yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial.
Hubungannya dengan membangun keharmonisan dengan konsep Bhineka Tunggal Ika dapat diinterpretasi melalui konsep interaksi sosial sebagai cara dalam membangun kebhinekaan di negara Indonesia. Melalui konsep interaksi sosial keharmonisan suatu negara dapat di jalankan sebagaimana dalam kehidupan bermasyarakat selalu dibangun melalui interaksi sosial.
Realitas yang ada dalam hidup bermasyarakat, kita selalu berinteraksi dengan orang lain, baik secara sadar maupun tidak sadar. Salah satu interaksi sederhana yang sering sekali terjadi antara anggota masyarakat adalah berpapasan ketika sedang berjalan di trotoar atau jalan. Ketika dua orang akan saling menyapa, mereka sekilas akan saling memandang dari kejauhan. Namun, kemudian mereka saling berpaling dan menghindari kontak mata ketika saling melewati.
42 Roni Lukum
Soerjono Soekanto (1990: 67) menyatakan bahwa walaupun orang-orang yang bertemu di jalan tidak saling berbicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi sosial telah terjadi.
Karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan maupun isyarat orang orang yang bersangkutan, yang disebabkan oleh misalnya bau keringat, minyak wangi, suara berjalan, dan sebagainya. Semuanya itu menimbulkan kesan di dalam pikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukan (Saptono dan Bambang, 2006: 67).
Erving Goffman (sebagaimana dikutip Giddens, 1994: 89) berpendapat bahwa dalam kejadian di atas telah terjadi “civil inattention” (ketidakpedulian damai atau ketidakpedulian yang sopan), yang sebenarnya berbeda dengan mengabaikan sama sekali orang lain karena masing-masing individu sadar akan kehadiran orang lain, tetapi menghindari gerakan atau bahasa tubuh yang mungkin dianggap mengganggu. Sikap seperti itu penting dalam kehidupan sehari-hari karena dengan cara itu seseorang mengatakan pada orang lain bahwa mereka tidak perlu saling mencurigai, membenci, atau menghindarinya.
Bayangkan betapa runyamnya kehidupan jika setiap orang harus merasa was-was, takut, atau khawatir ketika berpapasan dengan orang lain (Saptono dan Bambang, 2006: 67).
H. Bonner dalam bukunya social psychology memberikan rumusan interaksi sosial sebagai berikut (sebagaimana yang dikutip Gerungan, 2010: 62) interaksi sosial adalah suatu hubugan antara individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
Para ahli jiwa sosial dalam meninjau individu dalam hubungannya dengan dunia sekitar, terutama ditekankan pada sikap terhadap perkembangan misalnya bagaimana pengaruh dunia sekitar terhadap perkembangan individu, pengaruh itu
bersifat mutlak atau tidak. Maka timbullah anggapan bahwa manusia itu dalam hidupnya dan perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia luar, dan bagi golongan ini pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan) dianggapnya tidak ada. Misalnya manusia yang bersifat sombong, egoistik, dan sebagainya itu semua adalah karena pengaruh sekitar.
Aliran ini disebut empirisme, dipelopori oleh John lock dengan teorinya tabula rasa (Abu Ahmadi, 2007: 50).
Adapun definisi interaksi sosial menurut para ahli (Saptono dan Bambang, 2006: 68) Macionis (1997: 149) mendefinisikan interaksi soisal sebagai proses bertindak (aksi) dan membalas tindakan (reaksi) yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain. Sementara itu, Broom &
Selznic (1961: 11) menyebut interaksi sosial sebagai proses bertindak yang dilandasi oleh kesadaran adanya orang lain dan proses menyesuaikan respons (tindakan balasan) sesuai dengan tindakan orang lain.
Jadi, interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, serta antara kelompok dan kelompok. Interaksi bukan berarti hubungan verbal antarindividu maupun kelompok, melainkan perilaku, sikap, bahasa tubuh seseorang jika bertemu dengan orang lain itu merupakan suatu bentuk interaksi sosial.
Berangkat dari uraian konsep di atas oleh para ahli memberikan pemahaman kepada kita bahwa sesungguhnya interaksi sosial merupakan hubungan antara individu, kelompok sosial dengan harapan hubungan ini dapat mengurai sumbatan menghadapi problem dalam diri individu atau kelompok dalam menyelesaikan suatu masalah. Dapat dikatakan dengan interaksi sosial kita dapat menjembatani problem yang dihadapi oleh individu maupun kelompok masyarakat. Namun, interaksi sosial tidak juga dipahami sebagai suatu hubungan yang damai dapat juga hubungan atau
44 Roni Lukum
interaksi sosial dapat dilakukan melalui hubungan tidak normal, tetapi yang diharapkan kepada kita interaksi sosial diarahkan kepada suatu hubungan yang dapat menciptakan suatu hubungan yang harmonis.
Bila melihat realitas interaksi sosial yang tidak normal, seperti yang dikemukakan oleh Klymcka dalam tulisannya di atas mengemukakan beberapa kegagalan kita dalam membangun interaksi sosial yang normal. Misalnya membangun toleransi, gotong royong, solidaritas bersama yang menjadi harapan negara dengan model multikulturalisme, justru yang terjadi dikita adalah intoleransi, individualisme, konflik sosial. Semua ini merupakan bentuk kegagalan kita dalam membangun harapan nation state dengan model negara multikulturalisme. Untuk itu perlu kita melihat bagaimana terjadinya proses interaksi sosial di bawah ini.