• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pemerintah Desa Membangun Keharmonisan

Bab VI Membangun Masyarakat Multikulturalisme

F. Upaya Pemerintah Desa Membangun Keharmonisan

154 Roni Lukum

F.

Upaya Pemerintah Desa Membangun Keharmoni-

Begitu pun dengan pasal 28 UUD 1945 dan pasal 29 UUD NRI 1945 sebagai landasan dalam menghormati hak asasi manusia, artinya pasal ini meminta kepada warga negara dan penyelenggara negara bersikap toleransi kepada semua warga negaranya dalam menjalankan hak dan kewajiban melakukan kegiatan ritual keagamaan. Serta pasal 31 ayat 1 UUD NRI 1945 mengamanahkan peran aktif pemerintah untuk menghormati kearifan lokal setiap etnis di daerah yang memiliki tradisi dan kebudayaannya. Materi konstitusi tadi merupakan penjabaran operasional dari dasar negara Pancasila ke dalam konstitusi sebagai sumber tertib hukum tertinggi di negara kita.

Berangkat dari kajian dasar negara dan konstitusi UUD NRI 1945 di atas menunjukkan komitmen negara dalam mewujudkan Nation State melalui model negara multikul- turalisme di dalam mencegah ancaman disintegrasi bangsa.

Oleh karena itu, pihak pemerintah pusat dan pemerintah daerah sampai pada pemerintahan tingkat kecamatan dan desa agar selalu menjaga amanah The Founding Fathers dalam mewujudkan Nation State dengan model negara multikulturalisme dapat dilaksanakan.

Dalam mengupayakan Kerukunan di Desa Tri Rukun merupakan kewajiban semua pihak yang berada di Desa Tri Rukun. Termasuk di dalamnya adalah peran dari masyarakat Tri Rukun itu sendiri. Akan tetapi, untuk memperkuat Kerukunan di tengah-tengah masyarakat, sangat dibutuhkan campur tangan dari pemerintah Desa untuk memperkokoh Kerukunan tersebut. Hal ini seperti yang di ungkapkan dalam teori Struktural bahwa Kerukunan sosial dipengaruhi oleh struktur sosial dalam masyarakat. Pihak penguasa sebagai struktur tertinggi dapat menerapkan peraturan-peraturan yang mengintegrasikan masyarakat. Dengan kata lain Kerukunan sosial dalam konteks ini terjadi di bawah tekanan. Teori di atas menyatakan, bahwa dalam membagun Kerukunan di suatu

156 Roni Lukum

wilayah sangat dibutuhkan intervensi pemerintah. Dalam hasil penelitian, upaya yang dilakukan pemerintah Desa Tri Rukun dalam membangun Kerukunan antara etnis Bali dan Gorontalo yang berada di Desa Tri Rukun yaitu dengan cara memberikan motivasi, serta arahan maupun pesan-pesan kepada masyarakat Desa Tri Rukun tentang pentingnya sikap saling menghormati dan saling memahani antara masyarakat etnis yang berada di Desa Tri Rukun. Selain dari hal tersebut pemerintah Desa Tri Rukun selalu mengajak masyarakat yang berada di Desa Tri Rukun untuk saling gotong royong dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh setiap etnis yang berada di Desa Tri Rukun.

Selain dari pemerintah Desa. Di sisi lain, para tokoh masyarakat dan tokoh agama ikut terlibat dalam menjaga kerukunan di Desa Tri Rukun, seperti pada agama hindu yang diungkapkan oleh salah seorang tokoh agama hindu, bahwa pada agama hindu ada aturan khusus mengenai kerukunan yang berada di Desa Tri Rukun. Jika terjadi permasalahan antara masyarakat Hindu dengan Muslim, maka pihak dari agama hindu yang terlibat dalam permasalahan itu akan dikenakan sanksi dari Tokoh Agama Hindu. Selanjutnya, dari pihak muslim jika terjadi permasalahan maka sebelum permasalah menjadi besar dan sampai pada pihak kepolisian maka tokoh masyarakat dari muslim akan segera melakukan atau mencari jalan alternatif untuk mendamaikan pihak-pihak yang ber- konflik.

Kerukunan masyarakat etnis yang berada di Desa Tri Rukun selama ini telah terbentuk secara alami. Artinya, masyarakat Desa Tri Rukun telah memahami keadaan mereka yang hidup beranekaragam dalam suatu wilayah sehingga dalam hal ini upaya merintah Desa Tri Rukun dalam mengupayakan kerukunan yaitu dengan cara melakukan pembinaan kepada masyarakat secara intensif. Walaupun Kerukunan di Desa Tri Rukun telah terbentuk, pemerintah Desa

Tri Rukun masih memiliki tantang maupun hambatan dalam menjaga Kerukunan tersebut, yaitu salah satu adalah media sosial yang serba elektronik. Karena melalui media tersebut, termasuk facebook dll., bisa menyebabkan terjadinya potensi konflik, yaitu dengan postingan yang menyangkut diskriminasi ras, etnisitas maupun agama.

Berdasarkan penelusuran di lokasi penelitian, upaya pemerintah desa Tri Rukun dalam menjaga hubungan harmonis antarsuku adalah dengan jalan penamaan desa Tri Rukun artinya nama ini merupakan bagian dari unsur perekat dalam membangun interaksi sosial yang ada di desa Tri rukun sehingga sampai saat ini desa tersebut masih dalam kondisi kondusif artinya tidak pernah terjadi konflik antarsuku.

Dengan demikian, Desa Tri Rukun semula hanya dusun damai membuat nama desa ini ikut dalam menjaga stabilitas desa dalam membangun negara multikulturalisme sehingga hasil observasi kami di lapangan menunjukkan warga Desa Tri Rukun mayoritas etnis Bali hidup berdampingan dengan etnis lokal Gorontalo dan dengan etnis Minahasa secara damai.

Untuk menelusuri upaya apa yang dilakukan pemerintah desa dalam mewujudkan negara multikulturalisme dikemuka- kan oleh bapak kepala desa Tri Rukun bapak I Wayan Candra tentang sikap-sikap negatif yang akan memecah belah hubungan antarras, agama, etnis, budaya di wilayahnya sebagai berikut.

“Pemerintah desa Tri Rukun dalam hal mencegah sikap yang akan memecah belah warganya, kebijakan yang kami tempuh adalah selalu mengundang masyarakat melalui Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang digagas oleh pemerintah Kabupaten Boalemo di kantor desa melakukan sosialisasi tentang apa artinya hidup berdampingan antaretnis dalam membangun desa Tri Rukun secara bersama sehingga kepala desa dengan tegas menyatakan bahwa sikap egosentrisme, etnonasionalisme,

158 Roni Lukum

sikap primordialisme dan etnosentrisme, tidak pernah ada pada sikap warga desanya yang dilakukan pada setiap bulan dan didukung oleh tiga pilar kepala desa, Babinsa dan tokoh-tokoh masyarakat ketika ada potensi gesekan antarsuku ketiga pilar ini bekerja dalam menghilangkan sikap-sikap negatif seperti etno nasionalisme, egosentrisme dan sikap primordialisme dapat kami cegah sehingga bila ada gangguan keamanan dari luar desa kami warga masyarakat dapat mencegahnya” (Wawancara tanggal 10 Juli 2020).

Berdasarkan pernyataan kepala Desa Tri Rukun pemerintah desa pun ikut terlibat di dalam memelihara kerukunan beragama dan keharmonisan antaretnis di desa Tri Rukun. Melalui kegiatan FKUB yang rutin diselenggarakan pemerintah desa Tri Rukun di kantor desa dengan warganya khususnya kalangan generasi mudah dapat membantu dalam mempererat hubungan persaudaraan warga masyarakat desa Tri Rukun dan memperkuat pertahanan warganya dari gangguan keamaman dari pihak luar yang akan mengganggu hubungan harmonis di antara etnis di Desa Tri Rukun Kecamatan Wonosari Kabupaten Bolemo.

Untuk menelusuri apakah ada gerakan gangguan keamanan dari pihak luar di Desa Tri Rukun dan bagaimana upaya pemerintah desa dan pemerintah kecamatan mengantisipasi gerakan gangguan keamanan dari luar. Peneliti menemui informan penelitian yang berasal dari staf Kecamatan Wonosari.

Di antara informan yang ditemui adalah Ibu Ni Wayan Putri Kepala, seksi Trantib Kecamatan Wonosari, ketika dikonfirmasi kondisi tentang gangguan keamanan yang datang dari fihak luar memberikan jawaban sebagai berikut.

“Warga masyarakat Kecamatan Wonosari yang ditempati oleh warga Transmigrasi di 14 desa yang ada semuanya tidak bermasalah hubungan antara etnis lokal dan warga transmigrasi sampai dengan saat ini tidak terjadi konflik antaretnis sebagaimana yang terjadi di daerah Kabupaten Poso dan Provinsi Maluku. Salah satu contohnya adalah desa Tri Rukun yang di tempati oleh etnis mayoritas Bali dan etnis lokal Gorontalo, serta etnis Minahasa kehidupan mereka sampai dengan saat ini sangat damai sesuai dengan nama desanya Tri Rukun artinya tiga etnis yang hidup bersama etnis Bali mayoritas, etnis lokal Gorontalo dan etnis Minahasa semuanya dalam kondisi stabilitas desanya sangat aman. Yang dimaksudkan warga masyarakat termasuk kalangan generasi mudahnya yang masih darah mudah yang berpotensi melakukan perilaku menyimpang. Mereka ini yang perlu mendapat perhatian bagai-mana menjaga hubungan antaretnis dari gangguan keamanan dari pihak luar” (Wawancara tanggal 10 Juni 2020).

Berdasarkan hasil wawancara di atas pihak pemerintah kecamatan telah berusaha melakukan upaya preventif dalam mencegah ancaman gangguan yang datang dari luar warga kecamatan Wonosari baik secara langsung maupun dengan cara melalui media sosial yang bertujuan dalam memecah belah hubungan antaretnis sebagai warga transmigrasi di kecamatan Wonosari khususnya di desa Tri Rukun.

Dengan demikian, dapat dievaluasi tentang feno-mena interaksi sosial antara etnis lokal Gorontalo dengan etnis Bali di desa Tri Rukun setelah menghadirkan semua indikator interaksi sosial yang menunjukkan bahwa desa Tri Rukun sangat tangguh dalam menjaga stabilitas keamanan desanya dan ini berimplikasi terhadap ketahanan wilayah Kecamatan Wonosari dan bagi Pemerintah daerah Kabupaten Boalemo yang akan di kaji pada bap 8 tentang implikasi dari penerapan model negara multikulturalisme terhadap implikasi ketahanan Wilayah di

160 Roni Lukum

daerah Provinsi Gorontalo Desa Tri Rukun Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo.

ita-cita di dalam mewujudkan Nation State dengan model negara multikulturalisme dapat dilihat dari kondisi Ketahanan wilayah yang merupakan bagian dari ketahanan nasional. Artinya, jika lemah ketahanan wilayah setiap daerah maka lemah pula ketahanan nasional suatu negara sehingga itu perlu kita analisis makna dari Ketahanan nasional. Ketahanan nasional maknanya adalah merupakan kondisi dinamis suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar dan dalam yang secara langsung dan tidak langsung membahayakan negara Indonesia.

Berdasarkan makna ketahanan nasional di atas mem- berikan pesan kepada kita sebagai warga negara dan khususnya kepada pemerintah baik itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan strategi dalam mewujudkan Nation State melalui model negara multikul-turalisme sehingga kita tidak akan mengalami kondisi failed state (negara gagal) dalam memertahankan cita-cita pendirian bentuk negara kesatuan

C