• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

E. Pengertian Hotel

30

pernapasan, pusing, dan mengantuk bila tercium/terhirup. Contoh limbah ini ialah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.

8) Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)

Limbah dengan bentuk ini adalah limbah yang bisa menyebabkan permasalahan ataupun kerusakan pada lingkungan dan ekosistem, misalnya limbah CFC atau chlorofluorocarbon yang dihasilkan dari suatau mesin pendingin.

9) Karsinogenik (carcinogenic), teratogenik (teratogenic), mutagenik (mutagenic)

Limbah karsinogenik adalah limbah B3 yang bisa meneyebabkan muncunlnya sel kanker. Teratogenik adalah limbah yang dapat memengaruhi pembentukan embrio. Sedangkan limbah mutagenic ialah limbah yang bisa menyebabkan perubahan kromosom.

31

makan dan minum yang dikelolah secara komersial serta memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan pemerintah. (Bataafi, 2005:4).

Menurut Sulastiyono (2006:5-6) defenisi hotel dapat disimpulkan bahwa didalamnya terdapat beberapa unsur pokok yang terkandung dalam pengertian hotel sebagai akomodasi komersial yaitu:

1. Hotel merupakan suatu bangunan, lembaga, perusahaan, atau badan usaha akomodasi.

2. Hotel menyiapkan fasilitas pelayanan jasa dalam hal berupa penginapan, pelayanan makanan, dan minuman serta jasa-jasa yang lainnya.

3. Hotel merupakan fasilitas pelayanan jasa yang merupakan terbuka untuk semua orang atau umum bagi yang akan melakukan nginap sementara ataupun jangka pendek dalam melakukan perjalanan.

4. Sebuah usaha yang dikelola secara komersial.

Hotel dapat dibagi dan dikelompokkan menjadi beberapa jenis menurut ukuran dan kriteria tertentu:

1. Menurut ukuran (zize hotel)

a. Small Hotel, merupakan hotel yang mempunyai 150 kamar hunian.

b. Medium average Hotel, yaitu hotel yang mempunyai kapasitas kamar berkisar pada 150-300 kamar hunian.

c. Large Hotel, suatu hotel yang berkapasitas 600 kamar hunian.

2. Berdasarkan lamanya tamu menginap

a. Transit Hotel, tamu yang hendak menginap dalam tempo singkat, berkisar hanya satu malam.

32

b. Semi-Residential Hotel, tamu hendak menginap diatas satu malam, tetapi jangka waktu menginap terbilang singkat, kira-kira berkisar antara dua pekan hingga satu bulan.

c. Residental Hotel, tamu yang menginap dalam tempo agak lama, kira-kira paling sedikit 29 hari.

3. Menurut lokasi hotel, dikemukakan Bataafi (2005:10) yaitu :

a. City Hotel, merupakan hotel yang lokasinya terletak dikawasan perkotaan.

b. Residential Hotel, hotel yang terletak dipinggir atau berdekatan dengan kota besar.

c. Motel, yaitu hotel yang berlokasi dipinggir atau disepanjang jalan raya yang berhubungan antara antar kota besar dan memiliki penyediaan pasilitas parker terpisah.

d. Beack Hotel, hotel yang terletak dikawasan tepi pantai.

Untuk dapat memberikan berupa info terhadap para wisatawan/tamu yang hendak menginap di hotel mengenai standar fasilitas yang dimiliki oleh pos dan telekomunikasi (sekarang departemen kebudayanaan dan parawisata) melalui derektorat jedral parawisata mengeluarkan suatu peraturan mengenai usaha dan klafikasi hotel yang berdasarkan pada:

Klasifikasi hotel menurut Sulastiyono (20011:4) ialah :

a. Besar/kecilnya hotel atau banyak/kurangnya jumlah kamar tamu.

b. Lokasi tempat penginapan/hotel dan fasilitas-fasilitas yang tersedia.

c. Peralatan yang dimiliki.

d. Tingkat pendidikan karyawan.

33

Dengan peraturan tersebut maka terdapat klasifikasi hotel berbintang (hotel bintang satu sampai bintang lima) dan hotel tidak berbintang (di sebut hotel melati).

F. Kerangka fikir

Kajian tinjauan pustaka di atas bahwa strategi pengawasan dalam

Kajian tinjauan pustaka di atas bahwa strategi pengawasan dalam pengelolaan limbah B3 kegiatan hotel, Pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengawasan limbah B3 kegiatan hotel ada dua yaitu pemerintah, dan swasta.

pemerintah, pemerintah dalam hal ini yaitu Dinas Lingkunga Hidup lebih beriorientasi pada proses pengawasan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun dalam hal pengawasan ini masih dinilai lemah. Kebijaksanaan pemerintah dalam pengawasan secara mutlak sudah menjadi wewenang kepala daerah setempat, sedangkan Dinas Lingungan Hidup memfasilitasi dalam hal pengawasan pengelolaan Limbah B3.

Swasta, swasta dimaksud ialah para pengelola hotel sebagai penghasil limbah B3 diharapkan juga dapat mengelola hasil limbah bahan berbahaya beracun yang dihasilkan dengan baik dibawah pembinaan pemerintah.

34

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

G. Fokus Penelitian

Fokus penelitian digunakan sebagai dasar dalam mengumpulkan data sehingga tidak terjadi kesalahan terhadap data yang diambil. Untuk menyusuaikan pemahaman dan cara pandang terhadap suatu karya ilmiah ini, maka penulis akan memberikan penjelasan mengenai maksud dan fokus penelitian terhadap penulisan karya ilmiah ini. Fokus penelitian merupakan penjelasan dari kerangka dan konsep. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pengawasan pemerintah dalam pengelolaan limbah B3 di kota Makassar. Dalam penelitian karya ilmiah ini, penulis menggunakan pendekatan tujuan (goal approach) dalam mengukur keberhasilan pengelolaan limbah B3 kegiatan hotel di kota Makassar.

Strategi pengawasan pemerintah dalam pengelolaan limbah B3 di hotel di Kota Makassar

Mengukur kinerja

Menentukan kebutuhan akan tindakan koreksi Menetapkan

standar

Membandingkan kinerja dengan

standar

Mengubah standar Mengoreksi

penyimpangan Mempertahankan

status quo

Tercapainya pengelolaan limbah B3 hotel yang baik di Kota Makassar

35

Bagaimana strategi pengawasan pemerintah dalam pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di hotel di Kota Makassar.

H. Deskripsi Fokus Penelitian 1. Menetapkan Standar.

Control Standard adalah sebuah standar yang ditetapkan Dinas Lingkungan Hidup di Kota Makassar dalam srategi pengawasan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Misalnya, segi tempat TPS dan prosedur-prosedur lainnya.

2. Mengukur Kinerja

Pengukuran kinerja adalah aktivitas yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar serta memberikan penilaian konstan dan kontinu dari pihak pengelola limba B3 dengan kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun.

3. Membandingkan Kinerja dengan Standar

Tahap ini Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar melakukan observasi untuk membandingkan hasil pengelolaan limbah B3 dengan standar yang telah ditentukan.

4. Menentukan Kebutuhan Tindakan Korektif

Berbagai keputusan yang dapat dilakukan Dinas Lingkungan hidup Kota Makassar menyangkut tindakan korektif setelah membandingkan kinerja dengan standar, dapat memilih salah satu tindakan: mempertahankan status quo (tidak melakukan apa-apa), mengoreksi penyimpangan, atau mengubah standar.

36 BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian akan dilaksanakan di Kota Makassar dengan pertimbangan bahwa pengelolaan limbah B3 kegiatn hotel perlu mendapat perhatian dari semua pemilik usaha/hotel yang terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar. Alasan lain dipilih sebagai tempat penelitian karena meningkatnya pembagunan hotel di Kota Makassar sehingga meningkatnya juga kegiatan hotel dan semakin meningkat juga limbah B3 yang dihasilkan dan belum terkelolah dengan baik, di samping Kota Makassar tersebut juga strategis bagi peneliti. Penelitian ini dilakukan di Dinas Lingkungana Hidup serta di Hotel Amaris, dan Hotel Claro, yang akan dilaksanakan dari tanggal 28 Juni s/d 29 Agustus 2019, setelah pelaksanaan seminar proposal.

B. Jenis dan Tipe Penelitian a. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode/bentuk penelitian kualitatif yang berupaya bisa menjelaskan sedetail mungkin objek atau keadaan lapangan dan masalah penelitian berdasarkan fakta yang diperoleh di lapangan. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002:3) bahwa metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkann data deskriptif berupa fakta-fakta tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

37 b. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah fenomenologi yaitu peneliti akan mendeskripsikan pengalaman yang dilakukan dan dialami oleh informan berkaitan dengan strategi pengawasan pemerintah dalam pengelolaan limbah B3 kegiatan hotel di Kota Makassar.

C. Sumber Data

Sumber data ialah seluruh sesuatu yang dapat memberikan informasi tentang data. Bedasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua (2) yaitu data utama/primer dan data sekunder

1. Data Primer/utama merupakan data yang diolah oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang hendak ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan.

2. Data Sekuder adalah data yang diperoleh untuk mendukung data primer yang sumbernya dari data-data yang sudah diperoleh sebelumnya menjadi seperangkat informasi dalam bentuk dokumen, laporan-laporan, dan informasi tertulis lainnya yang berkaitan dengan peneliti. Pada penelitian data sekunder yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a) Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data-data yang diperoleh melalui buku-buku ilmiah, tulisan, karangan ilmiah yang berkaitan dengan penelitian.

b) Dokumentasi yaitu dengan menggunakan catatan-catatan yang ada dilokasi serta sumber-sumber yang relevan dengan objek penelitian.

38 D. Informan penelitian

Informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang berhubungan langsung dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar. Dimana yang dimaksud disini adalah informan yang diharapkan memberikan data secara obyektif, netral dan dapat dipertanggung jawabkan. Adapun informan dari peneliti ini bedasarkan judul diatas yakni Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Untuk lebih jelasnya, karakteristik informan sebagai berikut:

Tabel 3.1

Data Informan Penelitian

No Informan

1. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar 2. Pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar 3. Karyawan Hotel di Kota Makassar

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2014:137) teknik pengumpulan data adalah dapat dikerjakan dalam berbagai setting atau tersusun dan terencana, berbagai sumber, dan berbagai metode. Jika dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumentasi.

a) Observation (observasi), yaitu proses penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung di Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dan lokasi lainnya yang menjadi objek atau yang berkaitan penelitian selanjutnya, yaitu pengumpulan data dengan melakukan peninjauan

39

dibeberapa tempat sekitar lokasi, serta melihat secara langsung, pengumpulan data pencatatan yang di lakukan peneliti terhadap objek dilakukan di tempat berlangsungnya peristiwa sehingga peneliti berada bersama objek yang sedang diteliti atau diamati.

b) Interview (wawancara), Wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara bebas terpimpin, artinya peneliti mengadakan pertemuan langsung dan wawancara bebas artinya peneliti bebas mengajukan pertanyaan kepada informan sesuai dengan jenis data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, dimana peneliti telah menetapkan terlebih dahulu masalah dan pertanyaan yang akan di ajukan kepada pihak yang diwawancarai dalam penelitian ini. Tujuan diadakannya wawancara yaitu untuk melengkapi dan mengecek ulang data hasil dari observasi di Dinas Lingkungan Hidup serta lokasi lainnya yang berkaitan dengan penelitian tersebut, wawancara dalam penelitia ini dilakukan dengan mendatangi langsung informan penelitian dan ditanyakan terhadap mereka macam-macam hal yang mempunyai hubungan dengan inti permasalahan. Wawancara dilaksanakan secara lebih dalam untuk mendapatkan data langsung dengan cara serangkaian tanya jawab terhadap pihak-pihak yang terlibat dengan pelaksanaan pengelolaan limbah B3 kegiatan hotel di Kota Makassar dengan cara mencatat dan merekam hal yang dianggap penting untuk melengkapi data.

c) Dokumentasi, teknik ini bertujuan melengkapi teknik observasi dan teknik wawancara mendalam. yaitu pemanfaatan informal melalui dokumen- dokumen tertentu yang dianggap pendukung yang bersumber dari laporan-

40

laporan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah B3 Hotel di Kota Makassar, metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dangan masalah yang hendak diteliti sehingga segera memperoleh data yang komplik, sah dan bukan karangan, dengan cara peneliti mengambil atau mendapatkan data yang sudah ada dan tersedia didalam catatan dokumen. Dokumentasi ini diambil untuk memperoleh data-data, foto, serta catatan lapangan yang berkaitan dengan Strategi Pengawasan Pemerintah dalam Pengelolaan Limbah B3 Hotel di Kota Makassar.

F. Teknik Analisis Data

Menurut Miles dan Hubermen dalam Sugiyono (2014:243) analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengolah data dari hasil penelitian menjadi data, dimana data diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisa interaktif (interactive model of analysis). Dalam model ini terdapat tiga komponen pokok.

1. Reduksi data

Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang menjadikan lebih tegas/mempertegas, mempersingkat/memperpendek, menjadi fokus, menghilangkan suatu yang tidak penting dan menata data sedemikian sebaik mungkin simpulan penelitian dapat dilakukan.

41 2. Penyajian Data

Sajian data merupakan suatu rakitan informasi yang memungkinkan kesimpulan. Secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logis supaya makna peristiwanya menjadi lebih mudah dipahami.

3. Penarikan kesimpulan

Dalam awal pengumpulan data penelitian suduh harus mulai mengerti akibat, dan berbagai proporsi sehingga penarikan kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan:

Gambar 3.1 Model Teknik Data

Sumber: Miles dan Huberman (Sugiyono, 2014) G. Keabsahan Data

Menurut Sugiyono (2014:253) triangulasi maksudkan suatu cara pengumpulan data yang berbentu menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang sudah ada. Dengan itu maka triagulasi sumber/pusat bahasa, triangulasi teknik mengumpulkan data dan triagulasi waktu.

Pengumpulan data

Penarikan kesimpulan penyajian

reduksi

42 1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakuakan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini penelitian melakukan pengumpualan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan,wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian penelitian membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Dalam hal yang diperoleh dengan wawancara,lalu dicek dengan observasi dan dokumen.Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda maka penelitian melakukan diskusi lebih lanjut kepada data yang bersangkutan atau yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

3. Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lenih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam tujuan pengujian kredibilitas atau kekuatan untuk menimbulkan kekuatan data bisa dilakukan dengan metode melakukan meninjau kembali dengan wawancara, obsevasi atau cara berbeda dalam tempo atau situasi

43

yang tidak sama. Jika hasil ujian menghasilkan data yang berbeda atau tidak sesuai maka dikerjakan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian dari tim peneliti lain diberi tugas melakukan pengumpalan data.

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Keadaan Geografis Kota Makassar

Kota Makassar adalah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara dan juga dikenal sebagai

“Waterfront City” yang didalamnya mengalir beberapa sungai (Sungai Tallo, Sungai Jeneberang, dan Sungai Pampang) yang kesemuanya bermuara ke dalam kota. Kota Makassar merupakan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut. Dari kondisi ini menyebabkan Kota Makassar sering mengalami genangan air pada musim hujan, terutama pada saat turun hujan bersamaan dengan naiknya air pasang.

Makassar adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi yang dahulu disebut Ujung Pandang, terletak antara 119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Maros, sebelah Timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah Barat adalah Selat Makassar. Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2°(datar) dan kemiringan lahan 3-15° (bergelombang). Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi. Kota Makassar memiliki kondisi iklim sedang hingga tropis memiliki suhu udara rata-rata berkisar antara 26,°C sampai dengan 29°C.

45

Secara administrasi Kota Makassar dibagi menjadi 15 kecamatan dengan 153 kelurahan. Di antara 15 kecamatan tersebut, ada tujuh kecamatan yang berbatasan dengan pantai yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mariso, Kecamatan Wajo, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Tallo, Kecamatan Tamalanrea, dan Kecamatan Biringkanaya. Batas-batas administrasi Kota Makassar adalah batas utara Kab. Maros, batas timur Kab. Maros, batas selatan Kab. Gowa dan Kab. Takalar, batas barat selat Makassar.

2. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Dinas Lingkungan Hidup

Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar mempunyai tugas pokok yaitu, merumuskan, membina, mengkoordinasikan, dan mengendalikan kebijakan dibidang lingkungan hidup meliputi analisis dampak lingkungan, pencegahan dan pengendalian dampak lingkungan, pemulihan dampak lingkungan serta penaatan dampak lingkungan.

Adapun pernyataan visi dan misi Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar yaitu:

Visi : Mewujudkan Makassar kota dunia yang nyaman dan berwawasan lingkungan

Misi :

1. Meningkatkan kualitas teknis aparatur DLH yang didukung oleh peningkatan kualitas inteklektual, mental spiritual, keterampilan serta sarana dan prasarana.

2. Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang nyaman.

46

3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

Dalam menyelenggarakan tugas pokok Badan Lingkungan Hidup Daerah mempunyai fungsi:

1. Perumusan kebijakan teknis lingkungan hidup daerah meliputi standarisasi dan pemulihan kualitas lingkungan, ekonomi, sumber daya dan teknologi lingkungan, konservasi sumber daya alam dan pengendalian pencemaran, pengawasan dan penegakan hukum lingkungan.

2. Pengorganisasian penyusun perencanaan lingkungan hidup daerah meliputi standarisasi dan pemulihan kualitas lingkungan, ekonomi, sumberdaya, dan teknologi lingkungan, konservasi sumberdaya alam dan pengendalian pencemaran, pengawasan dan penegakan hukum lingkungan.

3. Pembinaan dan penyelenggaraan tugas dibidang lingkungan hidup daerah meliputi standarisasi dan pemulihan kualitas lingkungan,ekonomi, sumber daya dan teknologi lingkungan, konservasi sumberdaya alam dan pengendalian pencemaran, pengawasan dan penegakan hukum lingkungan.

4. Penyelenggaraan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

Struktur organisasi merupakan susunan dan hubungan antara setiap bagian maupun posisi yang terdapat pada sebuah organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan-kegiatan operasionalnya dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Struktur organisasi dapat menggambarkan secara jelas pemisahan kegiatan dari pekerjaan antara yang satu dengan kegiatan yang lainnya dan juga bagaimana hubungan antara aktivitas dan

47

fungsi dibatasi. Di dalam struktur organisasi yang baik harus dapat menjelaskan hubungan antara wewenang siapa melapor atau bertanggung jawab kepada siapa, jadi terdapat suatu pertanggungjawaban apa yang akan di kerjakan. Itulah beberapa definisi struktur organisasi.

Dari pengertian struktur organisasi yang kemukakan diatas dapat kiranya diketahui bahwa struktur organisasi adalah kerangka segenap tugas pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi, hubungan antara fungsi-fungsi yang merupakan wewenang dan tanggung jawab dari tiap-tiap anggota yang melaksanakan tugas dalam organisasi.

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa adaya struktur organisasi maka dalam pelaksanaan pekerjaan guna mencapai pekerjaan organisasi yang telah ditentukan dapat berjalan tanpa adanya suatu penumpukan atau ketidak sesuaian dalam pelaksanaan tugas. Selain itu juga mempermuda dalam melakukan penempatan anggota organisasi untuk melaksanakan tugas-tugas yang ada. Oleh karena seorang pemimpin organisasi harus benar-benar mengetahui dan memahami tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh masing-masing bagian dari organisasi. Sehingga terdapat tugas baru yang harus dilaksanakan, ia mengetahui bagian mana dalam organisasi yang harus melaksanakan tugas tersebut.

Adapun susunan dan tata kerja Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut:

a. Kepala Badan;

b. Sekretariat; mempunyai tugas pokok mengkoordinasi kegiatan, memberikan pelayanan teknis dan administrasi umum dan kepegawaian,

48

keuangan serta penyusunan program. Sekretariat membawahi:

1) Sub Bagian Perencanaan dan pelaporan 2) Sub Bagian Keuangan

3) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

c. Bidang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau; mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas mengelolah ruang terbuka hijau. Bidang pengelolaan terbukan hijau membawahi:

1) Seksi Perencanaan dan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau 2) Seksi Pengelolaan dan Pemeliharaan Ruang Terbuka Hijau 3) Seksi Pengendalian dan Kemitraan Ruang Terbuka Hijau

d. Bidang persampaha, limbah B3 dan peningkatan kapasitas; mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas persampahan, limbah dan peningkatan kapsitas yang membawahi:

1) Seksi pengembangan dan pengendalian sistem persampahan dan limbah B3

2) Seksi edukasi, promosi monitoring dan evaluasi persampahan 3) Seksi peningkatan kapasitas lingkungan hidup

e. Bidang pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup;

mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang membawahi:

1) Seksi pencemaran dan kerusakan lingkungan 2) Seksi konsevasi lingkungan

3) Seksi pengawasan dan penengakan hukum lingkungan

49

f. Bidang penataan dan penaatan; mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas menata dan menaati aturan yang membawahi:

1) Seksi inventarisasi RPPLH dan LKHAS 2) Seksi kajian dampak lingkungan

3) Seksi pengaduan penyelesaian sengketa lingkungan g. Unit pelaksana teknis (UPT)

1) UPT laboratorium lingkungan; mempunyai tugas pokok melaksanakan operasional secara struktural serta bertanggungjawab secara langsung kepada Dinas Lingkungan Hidup.

2) UPT pemakaman; mempunyai tugas pokok melaksanakan teknis pengawasan, pemeliharaan, pengurusan, dan pengelolaan pemakaman.

3) UPT bank sampah; mempunyai tugas pokok melaksanakan menabung uang dari sampah.

4) UPT pengelolaan sampah; mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan daur ulang sampah.

3. Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas

1) Tugas Pokok:

Membantu Kepala Dinas Lingkungan Hidup di bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup.

2) Fungsi:

a. Penyusunan informasi pengelolaan sampah tingkat kabupaten/kota a. Penyusunan informasi pengelolaan sampah tingkat kabupaten/kota

50

b. Penetapan target pengurangan sampah dan prioritas jenis sampah untuk setiap kurun waktu tertentu

c. Perumusan kebijakan pengurangan sampah

d. Pembinaan pembatasan timbunan sampah kepada produsen/ industri e. Pembinaan penggunaan bahan baku produksi dan kemasan yang mampu

diurai oleh proses alam

f. Pembinaan pendaur ulangan sampah

g. Penyediaan fasilitas pendaurulangan sampah

h. Pembinaan pemanfaatan kembali sampah dari produk dan kemasan produk i. Perumusan kebijakan penanganan sampah di kabupaten/kota

j. Koordinasi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan dan pemrosesan akhir sampah

k. Penetapan lokasi tempat TPS, TPST dan TPA sampah

l. Pengawasan terhadap tempat pemrosesan akhir dengan sistem pembuangan open dumping

m. Penyusunan dan pelaksanaan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah n. Pemberian kompensasi dampak negatif kegiatan pemrosesan akhir sampah o. Pelaksanaan kerjasama dengan kabupaten/kota lain dan kemitraan dengan

badan usaha pengelola sampah dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah

p. Pengembangan investasi dalam usaha pengelolaan sampah

q. Penyusunan kebijakan perizinan pengolahan sampah, pengangkutan sampah dan pemrosesan akhir sampah yang diselenggarakan oleh swasta

Dokumen terkait