• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Kinerja Guru

BAB I PENDAHULUAN

E. Devinisi Operasional

5. Pengertian Kinerja Guru

Kinerja adalah performance atau unjuk kerja. Kinerja dapat pula di artikan prestasi kerja atau pelaksanaan kerja atau hasil unjuk kerja. Sementara itu menurut W. Smith dikutip dari Rusman tentang Model-Model Pembelajaran (2016 : 50) Performance is output derivers from proceses,humen or therwise, yaitu kinerja adalah hasil dari suatu proses yang dilakukan manusia. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu wujud prilaku seseorang atau organisasi dengan orientasi prestasi. Kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: ability, capacity, held, incentive, environment dan validity (Nanto Atmojo dikutip dari Rusman) tentang Model- Model Pembelajaran( 2016 : 50 ).

Adapun Prawirosentono dikutip dari Ahmad Susanto Tentang Manajemen Peningkatan Kinerja Guru (2016: 69) menatakan kinerja sebagai hasil kerja yang dapat di capai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara lega, tidak melanggar hukum dan sesuain dengan moral maupun etika.

Menurut Payman J.Simanjuntak dikutip dari Ahmad Susanto Tentang Manajemen Peningkatan Kinerja Guru (2016 : 69) menyatakan kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atau pelaksanaan tugas tertentu dalam rangka pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu dalam rangka pencapaian organisasi. Setiap individu atau organisasi tentu saja memiliki tujuan yang akan dicapai dengan menetpkan target atau sasaran. Keberhasilan individu atau organisasi dalam mencapai target atau sasaran tersebut itulah merupakan kinerja.

Adapun ukuran dari kinerja menurut T.R. Michell dikutip dari Rusman Model-Model Pembelajaran (2016: 50) dapat dilihat dari Quality Of works, promthness, initiative and communcation. Keempat komponen tersebut adalah ukuran standar kinerja yang dapat dijadikan dasar untuk mengetahui baik buruknya atau efektif tidaknya kinerja seorang tersebut.

Standar kinerja perlu dirumuskan untuk dijadikan acuan dalam mengadakan perbandingan terhadap apa yang dicapai dengan apa yang diharapkan, atau kualitas kinerja adalah wujud perilaku atau kegiatan yang dilaksanakan dan sesuai dengan harapan dan kebutuhan atau tujuan yang hendak

dicapai secara efektif dan efesien, untuk mencapai hal tersebut, sering kali kinerja seseorang dihadapkan pada berbagai hambatan / kendala sehingga pada ahirnya dapat menimbulkan bentuk kinerja yang kurang efektif. Dengan kata lain, standar kinerja dapat dijadikan patokan dalam mengadakan pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dilaksanakan.

Menurut Ivancevich dikutip dari Rusman (2016: 51) tentang Model- Model Pembelajaran menyatakan bahwa patokan kinerja meliputi:

(a) Hasil, mengacu pada ukuran output utama organisasi

(b) Efisien, mengacu pada penggunaan sumber daya langkah oleh organisasi.

(c) Kepuasan, mengacu pada keberhasilan organisasi dalam memenuhi kebutuhan atau karyawan atau anggotanya.

(d) Keadaptasian, mengacu pada ukuran tanggapan organisasi terhadap perubahan.

secara etimologi, istila guru dalam bahasa inggris disebut ‘’teacher’’, sedangkan dalam bahasa arab dikenal dengan istila ‘’mu’alim, mudaris, muhadzib, mu’adib,’’ yang berarti orang menyampaikan ilmu, pelajaran, akhlak, dan pendidikan. Dalam kamus umum bahasa indonesia, guru diartikan orang yang mengajari orang lain, disekolah atau mengajari ilmu pengetahuan atau keterampilan. Pengertian ini masih sangat umum dan masih perlu diperdalam.

Hal ini mengacu pada pengertian ini, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, ustad atau kiai dapat juga disebut guru.

Menurut Muhibin Syah dikutip dari Murip Yahya dalam bukunya berjudul tentang Tenaga Profesi Kependidikan (2013 : 24), menyatakan bahwa guru yang dikenal dengan istila ‘’teacher’’ memiliki arti ‘’ A Person whose occupation is teaching others’’, yaitu orang pekerjaannya mengajar orang lain.

Pengertian lebih kusus dijelaskan A. Tafsir dikutip dari Murib Yahya dalam bukunya berjudul Tenaga Profesi Kependidikan (2013 : 24) menyatakan bahwa guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran disekolah pengertian ini lebih memfokuskan bahwa guru adalah pemegang bidan studi disekolah atau madrasah

Istilah guru tersebut tidak bisa dilepaskan dengan istila pendidik sebab pada realitasnya dikalangan masyarakat berkembang bahwa guru adalah pendidik. Sementara itu, Abdul Hamid Al-Hasyimi dikutip dari Murip Yahya dalam bukunya berjudul Tenaga Profesi Kependidikan (2013 : 25) menjelaskan bahwa pendidik adalah orang yang dengan sengaja mengasuh individu atau beberapa individu lainnya agar dibawa pengasuhannya, individu-individu tersebut dapat tumbuh dan berhasil dalam menjalankannya kehidupannya.

Dalam sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 ditegaskan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi guru, dosen, konselor, pamong belajar, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan ke khususannya, serrta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan merujuk pada pengertian ini, pendidik lebih umum mencakup tenaga

kependidikan lainnya, sedangkan guru lebig khussus, yaitu tenaga kependidikan yang bertugas menyampaikan pembelajaran (mendidik) disekolah.

Dalam pendidikan formal, guru memiliki peran penting dibandingkan dengan komponen lain, seperti sarana dan prasarana, materi dan kurikulum.

Bahkan, ada yang mengatakan ‘’No Teacher no Education’’ . maksudnya, tanpa guru, tidak terjadi proses pendidikan. Selain itu, guru juga sangat berperan dalam memberi teladan bagi para muridnya. Sebuah pepata mengatakan, ‘’ guru kencing berdiri, murid kencing berlari. ‘’ oleh karena itu, seorang guru harus menjadi panutan dan suri teladan bagi anak didiknya karena apa yang dilakukan atau diperbuat oleh gurunya akan dicontoh oleh anak didiknya.

Salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan adalah memperbaiki kinerja guru. Kinerja guru adalah persepsi guru terhadap prestasi kerja guru yang berkaitan dengan kualitas kerja, tanggung jawab, kejujuran, kerjasama dan prakarsa. Beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja guru antara lain adalah peran kepemimpinan kepala sekolah, pemberian kompensasi, kedisiplinan guru, dan pengembangan Sumber Daya Guru (SDM).

Guru merupakan profesi profesional di mana ia dituntut untuk berupaya semaksimal mungkin menjalankan profesinya sebaik mungkin. Sebagai seorang profesional maka tugas guru sebagai pendidik, pengajar dan pelatih hendaknya dapat berimbas kepada siswanya. Dalam hal ini guru hendaknya dapat meningkatkan terus etos kerjanya sehingga menghasilkan kinerja yang baik, yang merupakan modal bagi keberhasilan pendidikan.

Teori dasar yang digunakan sebagai landasan untuk menilai kualitas kinerja guru adalah teori Vroomian, dimana Vroom mengemukakan bahwa

“performance = f (ability x motivation).” Dalam teori ini kinerja seseoran merupakan fungsi perkalian antara kemampuan (kompetensi) dan motivasi.

Hubungan perkalian mengandung artian bahwa: jika seseorang rendah pada salah satu komponen maka prestasi kerjannya akan renda pula.

1) Tugas pokok guru

Sebagai pendidik, kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana disebutkan dalam konstitusi sistem pendidikan Nasional, berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran dan ikut meningkatkan mutu pendidikan nasional yang bertujuan berkembangnya peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis.

Secara umum, menurut Uzer Usman dikutip dari Murib Yahya dalam bukunya berjudul Profesi Tenaga Kependidikan (2013 : 25) mengatakan bahwa tugas guru dikelompokan menjadi tiga jenis, yaitu:

(a). Profesi. Tugas profesi ini meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.

(b). Kemanusiaan. Salah satu tugas ini adalah menjadi orang tua kedua.

(c). Kemasyatakatan. Salah satu tugas ini ikut mencerdaskan bangsa dan ikut membantu menciptakan dan membantu warga indonesia yang bermoral pancasila.

2) Sifat-sifat guru

Guru perlu dibekali dengan sifat-sifat yang melekat pada dirinya. Mahmud dalam bukunya Sosiologi Pendidikan Teori dan Kajian dikutip dari Rusman tentang Model-Model Pembelajaran (2016:51) menjelaskan berbagai pendapat ahli tentang sifat-sifat guru, yaitu sebagai berikut.

(1). Menurut Purwanto dikutip Rusman tentang Model-Model Pembelajaran (2016:51), syarat guru meliputi berijazah, sehat jasmani dan rohani, takwa kepada tuhan yang maha esa, berkelakuan baik, bertanggung jawab, berjiwa nasional, adil, percaya dan menyayangi murid-muridnya, sabar dan rela berkorban, memiliki kewibawaan terhadap anak-anaknya, penggembira, bersikap baik terhadap guru-guru lainnya, bersikap baik terhadap masyarakat, benar-benar menguasai mata pelajarannya, menyukai mata pelajaran yang diajarkannya, dan berpengetahuan luas.

(2). Menurut An- Nahlawi dikutip dari Rusman tentang Model-Model Pembelajaran (2016:51), sifat-sifat guru adalah tujuan, tingkah laku, dan pola pikir guru bersifat rabbani, ikhlas, bersabar, jujur, membekali diri dengan ilmu, mampu menggunakan metode mengajar, mampu mengelola siswa, mempelajari kehidupan praktis siswa, tanggap dengan berbagai persoalan dan bersikap adil.

(3). Menurut Al-Abrasyi dikutip dari Rusman tentang Model-Model Pembelajaran (2016:51), sifat-sifat guru yang islami antara lain: zuhud, bersih tubuh, bersih jiwa, tidak ria, tidak pendendam, tidak menyenangi

permusuhan, tidak malu mengakui ketidak tahuan, tegas dalam perkataan dan erbuatan, bijaksana, ikhlas, rendah hati, lemah lembut, pemaaf, sabar, berkeperibadia, tidak merasa rendah diri, bersifat kebapakan, mengetahui karakter siswa.

(4). Menurut Ahmad Yunus seperti dikutip Rusman (2016:51) sifat-sifat guru, antara lain kasih sayang dengan siswa,bijak dalam memilih bahan pelajaran, melarang siswa melakukan hal-hal yang tidak baik, memberikan peringatan, memberikan nasehat, menghargai pelajaran lain yang bukan pegangannya, bijak dalam memilih bahan yang sesuai dengan taraf kecerdasan siswa, mementingkan berpikir dan berijtihad, jujur dalam keilmuan dan adil.

Sifat-sifat guru dalam konteks sistem pendidikan nasional tertuan dalam kompetensi keperibadian yang di dalamnya meliputi:

a. Memiliki ketakwaan

b. Bersikap sesuai dengan norma agama, moral dan adat c. Jujur

d. Tegas e. Berakhlak f. Arif dan dewasa g. Memiliki keteladanan h. Memiliki etos kerja dan i. Percaya diri

Berkenaan denga standar kinerja guru, Piet A. Sahertian dikutip dari Rusman dalam bukunya berjudul Model-Model Pembelajaran (2016 :51) menyatakan bahwa; standar kinerja guru itu berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnnya seperti: (1) bekerja dengan siswa secara individual;

(2) persiapan dan perencanaan pembelajaran; (3) pendayagunaan media pembelajaran; (4) melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar; (5) kepemimpinan yang aktif dari guru.

Ada sepuluh kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh seorang, meliputi: (1) menguasai bahan ajar/ materi pembelajaran; (2) mengelola program pembelajaran; (3) mengelola kelas; (4) menggunakan media dan sumber belajar;

(5) menguasai landasan pendidikan; (6) mengelola interaksi pembelajaran; (7) menilai prestasi belajar siswa; (8) mengenal fungsi dan layanan bimbingan dan penyuluhan; (9) mengenal dan menyelenggaraka administrasi sekolah; (10) memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pembelajaran.

Dokumen terkait