E. Tujuan Penelitian
1. Pengertian Nilai Akhlak
Nilai berasal dari bahasa inggris yang artinya
“value” termasuk bidang kajian filsafat. Persoalan tentang nilai dibahas dan dipelelajari salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai (axiology theory of value). Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nilai memilki arti sifat- sifat (hal-hal) yang penting dan berguna bagi kemanusiaan.9Nilai juga dapat diartikan sebagai suatu yang dianggap berharga dan menjadi tujuan yang hendak dicapai.10Sedangkan menurut Sutarjo Adi Susilo nilai akan selalu berhubungan dengan kebaikan serta keluhuran budi dan akan menjadi sesuatu yang dihargai dan dijunjung tinggi, serta dikejar oleh seseorang sehingga ia
9Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus Besar bahasa Indonesia, ( Jakarta: Pusat bahasa, edisi 1v, 2008) h.783
10 M. Sastrapradja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, Usaha Nasional, Surabaya, thn, hlm. 339
16
merasakan adanya suatu kepuasan dan ia merasa menjadi manusia yang sebenarnya.11
Dalam kajian yang lebih dalam, istilah nilai tidak mudah diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Nilai juga bisa diartikan sebagai sebuah pikiran atau konsep mengenai apa yang dianggap penting bagi seorang dalam kehidupannya, ini sesuai dengan pandangan Gazalba, sebagaimana yang dikutip oleh Chabib Thoha mendefinisikan nilai sebagai sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, bukan hanya persoalan benar dan salah yang menurut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Sedangkan menurut Chabib toha sendiri nilai adalah sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan
11 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 56-57.
17
dengan subjek yang memberi arti (manusia yang menyakini).12
Berdasarkan pada beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah harapan tentang suatu hal yang berguna, bermanfaat, selalu dijunjung tinggi dan sebagai acuan tingkah laku bagi kehidupan manusia.
Sedangkan pengertian akhlak yaitu Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa, yukhluqu, ikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af‟ilu, yuf‟ilu if‟alan yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi‟ah (kelakuan, tabi‟at, watak dasar), al-„adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru‟ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).13Internal creation atau kejadian batin dapat juga berarti ciri-ciri watak seseorang yang
12Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 61
13Jamil Shaliba, al-Mu‟jam al-Falsafi, Juz 1, (Mesir: Dar al-Kitab al- Mishari, 1978), hlm.539. Lihat pula Luis Ma‟luf al-Munjid,Kamus al-Munjid, (Beirut: al -Maktabah al-Katulikiyah, t.t.), hlm.194; Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm. 19.
18
dalam bahasa asingnya “the traits of men‟s moral characters”.
Namun, akar kata akhlak dari akhlaqa sebagaimana tersebut diatas tampaknya kurang pas, sebab isim mashdar dari kata akhlaqa bukan akhlaq tetapi ikhlaq. Berkenaan dengan ini maka timbul pendapat yang mengatakan bahwa secara linguistik kata akhlaq merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian adanya. Kata akhlaq adalah jamak dari kata khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan akhlaq sebagaimana telah disebutkan di atas.
Baik kata akhlaq atau khuluq kedua-duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam Al-Qur‟an, maupun al-Hadis, sebagai berikut:
ٖىٍِظَع ٍقُهُخ ٰىَهَعَن َكََِّإَٔ
ٗ
Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam [68]:4).
ٍٍَِنََّٔ ۡلۡٱ ُقُهُخ َّلَِّإ ٓاَزَْٰ ٌِۡإ
ٖٔ١
19
Artinya: “(Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaanyang dahulu.” (QS. Al-Syu‟ara [26]:137).
َقُهُخ ْىَُُُٓس ْحَا اًًٌَُِْا ٍٍَُِِْيْؤًُْنا ُمًَْك َأ Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna
keimanannya adalah orang sempurna budi pekertinya.” (HR Turmudzi)
ِقَهْخَ ْلۡاَيِس اَكِي ِىًَِّحُ ِلۡ ُجْثِعُب اًَََِّإ Artinya: “Bahwasanya aku diutus (Allah) untuk
menyempurnakan keluhuran budi pekerti.” (HR Ahmad).
Ayat pertama disebut di atas menggunakan kata khuluq untuk arti budi pekerti, sedangkan ayat yang kedua menggunakan kata akhlak untuk arti adat kebiasaan.
Selanjutnya hadist pertama menggunakan kata khuluq untuk arti budi pekerti, dan hadis yang kedua menggunakan kata akhlak yang juga digunakan untuk arti budi pekerti. Dengan demikian, kata akhlaq atau khuluq secara kebahasaan berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, muru‟ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi dalam tabi‟at. Pengertian akhlak dari sudut kebahasaan
20
inidapat membantu kita dalam menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah.
Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah ini kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Ibn Miskawaih (w.421 H/1030 M) yang selanjutnya dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu misalnya secara singkat mengatakan, bahwa akhlak adalah: Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan.14 Sementara itu, Imam al-Ghazali (1059- 1111 M.) yang selanjutnya dikenal sebagai Hujattul Islam (Pembela islam), karena kepiawainnya dalam membela islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan dengan agak lebih luas dari Ibn Miskawaih, mengatakan, akhlak adalah: Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang
14Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A‟raq, (Mesir: al- Mathba‟ah al-Mishriyah, 1934), Cet. 1, hlm.40
21
dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.15
Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, dalam Mu‟jam al-Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlak adalah: Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan,baik atau buruk,tanpa pemikiran dan pertimbangan.16Selanjutnya di dalam Kitab Dairatul Ma‟arif, secara singkat akhlak diartikan: Sifat-Sifat manusia yang terdidik.17
Keseluruhan definisi akhlak tersebut di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara satu dan lainnya. Definisi-definisi akhlak tersebut secara substansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yag terdapat dalam perbuatan akhlak.
15Imam al-Ghazali, Ihya‟Ulum al-Din, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), hlm.56
16Ibrahim Anis, al-Mu‟jam al-Wasith, (Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1972), hlm.202
17Abd al-Hamid, Dairah al-Ma‟arif,II (Kairo:Asy-Sya‟b, t.t.), hlm.436.
22 2. Macam-Macam Nilai Akhlak
Dari segi sifatnya, akhlak dibagi menjadi dua bagian yaitu akhlak terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) dan akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah). Adapun akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah pemaaf, manis muka, saling tolong menolong, senang bersaudara, pemurah. Akhlak tercela (al-akhlaq al- madzmumah) adalah egois, kikir, sombong, khianat, aniaya, merasa tidak butuh orang lain, dll. Umat islam seharusnya memiliki akhlak yang mulia. Rasulullah Saw mengemukakan dalam hadits sebagai berikut: Artinya:
“Rasulullah Saw berkata: Sesungguhnya yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling baik akhlaqnya”.18
Hadist ini memuat informasi bahwa Nabi Saw memiliki sifat yang baik dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang yang berakhlaq mulia. Itu
18Rohimin, Paradigma Praktik Ibadah Kemasyarakatan, h. 30
23
berarti bahwa akhlak mulia adalah suatu hal yang perlu dimiliki oleh Umat Muslim.19 Agar setiap muslim dapat memiliki akhlak mulia, maka harus diajarkan baik oleh pendidik maupun orang tua siswa.
B. PENDIDIKAN BUDI PEKERTI