B. Pengertian Perkawinan
2. Pengertian Perkawinan Menurut Hukum Agama
Pada dasarnya hukum agama memandang perkawinan sebagai suatu perbuatan suci karena perkawinan merupakan persetujuan antara dua pihak dalam memenuhi perintah Tuhan. Apabila dihubungkan dengan masalah
keagamaan, perkawinan didefinisikan sebagai suatu pengikatan jasmani dan rohani yang membawa akibat hukum terhadap agama yang dianut oleh kedua calon mempelai beserta keluarga kerabatnya. Hukum agama telah menetapkan kedudukan manusia dengan iman dan taqwanya tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan (dilarang). Oleh karena itu, setiap agama pada dasarnya tidak dapat memberikan ijin perkawinan yang berlangsung jika kedua mempelai tidak seagama. Perkawinan yang terjadi sebagai ikatan lahir (jasmani) dan batin (rohani) dapat diartikan sebagai suatu ikatan untuk mewujudkan kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian, setiap keluarga (rumah tangga) hendaknya membina rumah tangganya dengan penuh kedamaian, yang dilandasi dengan doa serta harapan campur tangan dari Tuhan sebagai perencana dalam setiap perkawinan.
Perkawinan menurut hukum agama Islam dituliskan dalam kosa kata bahasa Arab, yaitu nikah yang mempunyai 2 (dua) arti. Nikah dalam arti yang sebenarnya adalah “dham” yang artinya menghimpit, menindih, atau berkumpul, sedangkan nikah dalam arti kiasan adalah “wathaa” yang artinya bersetubuh (Sadarsono, 1992: 36).
Berdasarkan hukum Islam mengenai makna perkawinan, Al- Qur’an memakai istilah “Mitsaqon Gholidon” yang berarti perjanjian yang teguh.
Istilah tersebut pertama-tama menunjuk pada perjanjian antara Allah swt.
dengan para nabi atau para rasul-Nya. Istilah tersebut menunjukkan kesucian hubungan antara Allah swt. dengan manusia yang dipilih-Nya.
Dengan demikian, dalam suatu perkawinan diyakini adanya campur tangan Allah didalamnya. Bahkan al-Qur’an memandang perkawinan sebagai suatu hal dalam rangka menaati agama (syariat). Perkawinan merupakan perintah Allah walaupun perkawinan itu termasuk dalam bidang muamalah atau hubungan antara manusia dengan manusia (Hadiwardoyo, 1995: 12)
Perkawinan berdasarkan hukum Islam adalah “aqad” (perikatan) antara wali wanita calon isteri dengan pria calon suaminya. Aqad nikah itu harus diucapkan oleh wali wanita dengan jelas berupa “ijab” (serah) dan
“kabul” (diterima) oleh si calon suami, yang dilaksanakan di hadapan dua orang saksi yang memenuhi syarat. Jika tidak demikian, maka perkawinan tidak sah. Selanjutnya, dikatakan bahwa tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Thalib (1974: 28) bahwa syarat nikah pada hakekatnya adalah “aqad” antara seorang calon suami isteri untuk mengijinkan keduanya bergaul sebagai suami isteri. Aqad artinya ikatan atau perjanjian untuk mengikatkan diri dalam perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam perkawinan menurut hukum Islam terkandung beberapa hal sebagai berikut:
1. Perkawinan adalah aqad (ijab dan kabul) antara seorang pria dengan seorang wanita.
2. Perkawinan itu harus dilakukan dengan adanya kemauan bebas dari kedua belah pihak untuk membentuk keluarga (rumah tangga).
3. Perkawinan itu bertujuan untuk memperoleh keturunan.
4. Perkawinan itu merupakan syariat untuk mentaati agama karena diyakini bahwa dalam perkawinan ada campur tangan Tuhan di dalamnya.
5. Perkawinan bukan hanya merupakan hubungan antara manusia dengan manusia tetapi juga hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Pernikahan atau perkawinan dalam pandangan Islam bukan hanya formalisasi hubungan suami dan isteri atau pemenuhan kebutuhan fitrah insani semata, tetapi lebih kepada amal ibadah yang disyari’atkan. Nikah didefinisikan sebagai suatu aqad yang menghalakan hubungan seksual antara suami dan isteri dan menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya (Zahroh, 2000: 44).
Pernikahan merupakan ’aqd al Tamlik, dapat juga diartikan ’aqd al Ibahah, pernikahan diartikan sebagai membolehkan melakukan hubungan seksual antara suami dan isteri tanpa ada kepemilikan secara penuh.
(Hindun, 2002). Pernikahan dianggap sebagai ibadah karena secara jelas Allah dan Rasul-Nya mensyari’atkan nikah sebagai perintah yang harus dilaksanakan. Sebagaimana dituliskan dalam Firman Allah Q. S. an-Nisa Ayat 1 berikut ini.
Terjemahan : “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan menjadikan isteri dari padanya, dan dari pada keduanya berkembang biak laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah yang kamu saling meminta dengan nama-Nya dan takutlah akan memutuskan silaturahmi” (Departemen Agama RI, 2002: 45)
Lebih tegas lagi diperintahkan oleh Rasulullah saw. kepada kaum muda yang sudah memiliki kesiapan, hendaknya segera menikah tanpa harus banyak berpikir dan menunggu-nunggu, karena nikah itu perbuatan yang mulia dan disukai oleh al-Khaliq. Rasulullah saw. juga mengingatkan amal yang terpuji ini merupakan sebagian dari kesempurnaan pelaksanaan agama. Jadi barang siapa yang belum menunaikan nikah berarti ia belum mampu melaksanakan agama secara sempurna.
Pernikahan juga akan mengantarkan manusia kepada ketenteraman, suasana sejuk yang membebaskan diri dari kegelisahan dan rasa gundah gulana, apabila perkawinan dilaksanakan atas landasan syar’i. Perkawinan yang terjadi pada setiap mahluk hidup, baik manusia, tumbuhan maupun hewan dilaksanakan untuk keberlangsungan dan pengembangbiakan makhluk yang bersangkutan. Namun, rumah tangga akan menjadi sebuah neraka kecil apabila terlaksana di luar landasan Islam. Sehingga, perkawinan tersebut tidak akan mewujudkan keluarga sakinah, berarti jauh dari apa yang
dianjurkan oleh Islam itu sendiri. Pada zaman krisis moral seperti saat ini, banyak kalangan muda yang tidak mempunyai keberanian untuk menikah.
Mereka takut menjalani bahtera rumah tangga dengan segala beban resikonya. Selain itu, ada beberapa orang tua yang tidak mau membantu anak-anaknya pada langkah awal memasuki jenjang berkeluarga, sehingga anak akan ragu memulai suatu rumah tangga (Mahmud, 1993: 1).
Pernikahan dianjurkan, namun pada satu sisi pemuda saat ini belum siap untuk menikah, sebab dianggap belum dewasa dan belum bisa mengurus keluarga atau belum cukup umur. Akan tetapi, realita kultur budaya menunjukkan bahwa banyak hal yang bisa menjorok pemuda kepada hal yang bersifat maksiat, melalui koran, majalah, film, dan sarana-sarana yang lebih destruktif. Tidak banyak pemuda yang mampu menahan keinginannya yang menggebu atau dibiarkan saja mereka melakukan perzinahan atau perbuatan yang sejenis. Zinah bukan hanya bersetubuh seperti yang dipikirkan oleh masyarakat umumnya, sebab ada enam macam zinah yaitu zinah mata, zinah lisan, zinah bibir, zinah tangan, zinah kaki, dan zinah hati (Baihaqi, 2001: 283).
Sangat disesalkan apabila seorang pemuda tidak berani menikah hanya lantaran takut dengan kondisi perekonomian, padahal menikah merupakan ibadah, hanya karena takut menanggung resiko ekonomi lalu melampiaskannya dengan cara yang justru memakan biaya lebih besar selain dosa. Allah swt. menjanjikan limpahan rezeki bagi orang yang mau
menikah, sehingga umat-Nya tidak perlu merasa takut menikah karena miskin. Sebagaima Firman Allah dalam Q.S. An-Nur Ayat 32 berikut.
Terjemahnya : ”Hendaklah kamu mengawinkan orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantaramu dan orang-orang yang shalih diantara hambamu yang laki-laki dan yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kekayaan kepada mereka dengan karuniaNya Allah maha luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui (Departemen Agama RI, 2002: 494)
Adapun fungsi atau faedah nikah atau perkawinan menurut Yunus (1990) adalah Allah menjadikan mahluk-Nya berpasang-pasangan, menjadikan manusia laki-laki dan perempuan, menjadikan hewan jantan dan betina, begitu pula tumbuh-tumbuhan. Hikmahnya ialah supaya manusia hidup berpasang-pasangan, dua sejoli sebagai suami dan isteri, membangun rumah tangga yang damai dan teratur. Oleh karena itu, harus ada ikatan dan pertalian yang kokoh yang tak mudah putus dan diputuskan melalui akad nikah atau ijab kabul perkawinan. Apabila akad nikah telah dilangsungkan, maka mereka telah berjanji dan bersetia, akan membangun rumah tangga yang damai dan teratur, akan sehidup semati, sakit senang mereka menjadi satu keluarga, serta melahirkan keturunan yang sah dalam masyarakat.
Kemudian keturunan itu akan membangun pula rumah tangga yang baru dan seterusnya. Dari beberapa keluarga dan rumah tangga itu berdirilah, kampung, yang terhimpun dalam satu desa dan pada akhirnya akan
melahirkan sebuah negeri. Inilah hikmahnya Allah menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, sehingga anak-anaknya berkembang biak meramaikan dan memakmurkan bumi yang luas ini. Allah swt. menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi ini sebagai kebaikan dan kemaslahatan anak Adam itu.
Agama Islam menetapkan bahwa untuk membangun rumah tangga yang damai dan teratur, harus melalui suatu perkawinan dalam bentuk akad nikah yang sah, serta diketahui sekurang-kurangnya dua orang saksi, bahkan dianjurkan supaya diumumkan kepada tetangga dan karib kerabat dengan mengadakan pesta perkawinan (walimah). Dengan demikian, terpeliharalah keturunan tiap-tiap keluarga dan mengenal tiap-tiap anak kepada bapaknya, terjauh dari bercampur aduk antara satu keluarga dengan yang lain atau anak-anak yang tidak mengenal ayahnya. Selain itu, kehidupan suami isteri dengan keturunannya turun temurun berhubungan rapat dan bersangkut paut bahkan bertali temali, laksana rantai yang sama kuat dan tak ada putusnya. Alangkah malangnya nasib seorang wanita yang menyia-nyiakan kecantikannya waktu masih muda dengan berfoya-foya dan pergaualan bebas tanpa batas. Kemudian setelah habis manis sepah dibuang, maka wanita itu tinggal seorang diri, tak ada suami yang memeliharanya dan anak yang menyayanginya, bahkan tak ada keluarga yang membujuknya, seolah-olah ia tinggal dalam neraka dunia, sesudah mengecap surga dunia beberapa waktu. Berlainan dengan nasib seorang wanita yang bersuami waktu mudanya. Setelah tiba waktu tua, disampingnya
ada suami yang memeliharanya, dan anak yang mencintainya, seolah-olah ia hidup dalam surga dunia sejak dari kecil sampai waktu tuanya. Inilah hikmah perkawinan dan itulah faedah mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur. Faedah lain dari perkawinan adalah memelihara seseorang dari lembah kejahatan (perzinahan), dua macam dosa besar terdapat pada faraj, yaitu berzina dan liwath (homosexs atau lesbian). Apabila ada isteri atau suami disampingnya, tentu seseorang akan terhindar dari perbuatan keji tersebut (Ahmad, 1990: 126).