• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengolahan Data

Dalam dokumen Petunjuk Umum Bendungan Lamenta (Halaman 119-122)

BAB VII PETUNJUK PEMANTAUAN BENDUNGAN

7.3 PENGUKURAN DAN PEMBACAAN INSTRUMEN

7.3.3 Pengolahan Data

waterlevel meters akan menyala dan mengeluarkan bunyi. Catat nilai kedalaman muka air tanah dengan melihat nilai kedalaman di pita ukur tersebut,

3) Lakukan pencatatan pada setiap kedalaman permukaan air tanah di dalam sumur pengamatan/ observation well.

d. Pemrosesan data

1) Melakukan pengeplotan data secara serial untuk muka air tanah masing-masing observation well

2) Melakukan pengeplotan data hubungan muka air tanah, elevasi muka air waduk dan curah hujan.

3. Patok Geser

a) Prosedur pengamatan

1) Metode pengukuran konvensional dapat digunakan untuk melakukan pengukuran elevasi dan titik-titik koordinat.

2) Titik-titik elevasi dan koordinat yang diukur harus mengacu pada titik-titik acuan yang terletak di luar bendungan yang disetujui oleh pengawas.

b) Pencatatan

Pengukuran harus dicatat koordinat X, Y dan Z pada setiap patok geser c) Proses Data

1) Setelah titik-titik pengukuran dipasang, ukur elevasi dan koordinat masing- masing titik terpasang. Berdasarkan pada data tersebut, rangkaian titik-titik acuan asal dan garis pusat bendungan ditetapkan.

2) Berdasarkan data pengukuran, pengukuran titik-titik pergerakan permukaan harus dilakukan pencatatan secara berkala.

3) Pergerakan komulatif baik pergerakan vertikal maupun horisontal dari masing- masing titik pergerakan permukaan dapat ditentukan dengan membandingkan data pengukuran sekarang dengan data pengukuran awal.

7.3.3 Pengolahan Data

mengecek apakah pengamatan data tersebut layak atau tidak, trend jangka panjang dari pengamatan data dalam berbagai keadaan bendungan akan dijelaskan dalam manual ini sebagai referensi.

Jika dalam pengamatan terdapat data yang waspada 1, maka untuk mengevaluasi data secara sistematik dan mencari penyebabnya, harus dilakukan hal-hal sebagai berikut:

 Cek apakah data tersebut konsisten dengan trend jangka panjang atau hasil pengamatan sebelumnya.

 Cek apakah data tersebut konsisten mendekati hasil pengamatan.

 Cek apakah data tersebut konsisten dengan hasil pemeriksaan visual.

 Cek apakah data tersebut konsisten dengan pengalaman jangka panjang pada keberadaan bendungan lainnya.

 Cek apakah ada kejadian khusus, seperti gempa bumi, hujan deras dan banjir yang terjadi pada saat pengukuran.

Jika data yang diamati tidak konsisten dengan trend jangka panjang yang diharapkan dan penyebabnya tidak ditemukan dengan jelas, misalnya nilai pengamatan berubah secara cepat terhadap elevasi muka air waduk atau hujan deras, maka dapat diindikasikan bahwa suatu potensi kerusakan telah berkembang. Hal tersebut harus secepatnya dilaporkan.

Evaluasi lebih lanjut oleh tenaga ahli yang berpengalaman dibutuhkan untuk mencari penyebab pembacaan waspada 1. Tenaga ahli profesional, yang banyak berpengalaman dalam monitoring instrumen harus diminta untuk menganalisis dan mengevaluasi data.

b. Bocoran

Rembesan yang tidak terkontrol melalui daerah inti atau bagian dangkal dari pondasi bendungan merupakan hal yang paling penting dalam mengontrol keamanan suatu timbunan bendungan. Pemeriksaan visual secara teratur dan monitoring kebocoran yang timbul di daerah hilir merupakan hal pokok untuk menilai sifat suatu timbunan selama pengisian.

Indikasi pertama dari suatu permasalahan potensial dapat dilihat dengan adanya suatu perubahan jumlah bocoran yang diamati dan atau kandungan zat padat dalam debit air.

Sesuai dengan perencanaan sistem pengukuran rembesan, penangkapan air oleh weir meliputi:

 Bocoran air melalui daerah inti

 Rembesan air melalui bagian dangkal bendungan

 Rembesan air melalui abutmen

 Hujan yang melalui kulit bendungan bagian hilir

Berdasarkan pada pengalaman yang diperoleh dari berbagai keadaan timbunan bendungan, jumlah air rembesan tidak hanya dipengaruhi oleh elevasi muka air, tapi juga dipengaruhi oleh curah hujan. Jumlah rembesan dalam observation weir harus dicek dan dibandingkan dengan elevasi muka air waduk dan hujan lokal. Jika tiba-tiba ada perbedaan jumlah rembesan yang terkumpul tanpa penyebab yang jelas, seperti perubahan setelah naiknya elevasi muka air waduk atau hujan deras maka dapat diindikasikan adanya suatu permasalahan rembesan.

Sebagai tambahan pada jumlah rembesan, kandungan partikel air rembesan juga merupakan indikasi penting terjadi tidaknya erosi buluh. Oleh karena itu, jika air rembesan keruh atau kotor, maka menandakan adanya partikel terlarut dan perubahan secara radikal dalam kandungan kimia, indikasi tersebut dapat dijadikan fakta telah terjadi erosi buluh (piping) dan harus segera mendapatkan perhatian. Jika dipandang perlu, maka harus diambil sampel air waduk dan air rembesan untuk dianalisis kualitas airnya. Analisis seperti itu juga dapat mengidentifikasi bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut.

c. Pergerakan

Penurunan puncak bendungan yang berlebihan dapat menyebabkan kehilangan tinggi jagaan (freeboard) atau retak di inti bendungan. Di samping itu, pengembangan retak transversal yang disebabkan oleh perbedaan penurunan di inti bendungan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utama dalam pengembangan bocoran pada beberapa tipe bendungan. Bentuk kerusakan ini sering terjadi pada daerah pondasi yang daya dukungnya tidak memenuhi syarat atau pada pertemuan dengan abutmen yang curam.

Untuk memonitor perkembangan pergerakan di bendungan telah dipasang alat pengukuran pergerakan internal dan eksternal.

Pengukuran titik-titik permukaan digunakan untuk memonitor penurunan secara makro atau pergerakan lateral timbunan. Pada dasarnya, perkembangan penurunan jangka panjang dapat diproporsionalkan dengan tinggi penempatan titik terukur. Pada sisi lain, pergerakan horizontal titik yang diukur bisa ke arah penurunan lereng maupun ke arah bagian dalam bendungan.

d. Tekanan Pori

Tekanan air pori di tubuh bendungan dapat bertambah karena bertambahnya rembesan.

Penambahan tekanan pori dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan bahan sehingga penambahan tekanan pori menandakan adanya kerusakan bendungan. Penurunan tekanan pori secara tiba-tiba juga dapat dijadikan sebagai suatu indikasi retak yang berkembang atau terjadi pergerakan lateral.

Petugas monitoring harus waspada jika terjadi kondisi yang tidak biasa seperti berikut:

Trend tekanan pori di pusat dan bagian hilir inti bendungan berubah segera menyesuaikan dengan elevasi muka air waduk dan total tinggi tekanan pori segera merespon elevasi muka air waduk.

 Pengukuran tinggi piezometer tiba-tiba naik atau mempunyai trend yang tidak cocok dengan plot data.

Dalam dokumen Petunjuk Umum Bendungan Lamenta (Halaman 119-122)