BAB 2 LANDASAN TEORI
3.5 Metode Analisis Data
Dalam rangka menguji hipotesis penelitian, peneliti menggunakan metode analisis regresi berganda yaitu suatu metode untuk menguji signifikan atau tidaknya
pengaruh dari sekumpulan variabel indipenden terhadap variabel dependen.
Adapun persamaan umum analisis regresi berganda ini yaitu:
Keterangan:
Y = civility a = koefisien
b = koefisien regresi untuk masing-masing X X1 = perspective taking
X2 = fantasy
X3 = emphatic concern X4 = personal distress X5 = cognitive reappraisal X6 = expressive suppression X7 = anonimitas
e = residu
Adapun data yang dianalisis dengan persamaan diatas adalah hasil dari pengukuran yang sudah ditransformasi ke dalam true score. Dalam hal ini, true score adalah faktor yang dihitung dengan menggunakan software SPSS dengan menggunakan item yang valid. Tujuan dari true score adalah agar koefisien regresi tidak mengalami atenuasi atau underestimated (koefisien regresi yang terhitung lebih rendah dari yang seharusnya sehingga tidak signifikan).
Dalam analisis regresi berganda, besarnya proporsi varians resiliensi yang dipengaruhi oleh bervariasinya seluruh IV bisa diukur dengan rumus R, dimana:
Keterangan:
R : koefisien determinan berganda SS reg : jumlah kuadrat regresi SS y : jumlah kuadrat dari variable y
Selanjutnya R dapat diuji signifikan atau tidak dengan uji F (F test), adapun rumus uji F adalah sebagai berikut:
Dimana k adalah jumlah independent variabel dan N adalah jumlah sampel.
Dari hasil uji F yang dilakukan nantinya, dapat dilihat apakah variabel-variabel independent yang diujikan memiki pengaruh yang signifikan atau tidak terhadap dependent variabel.
3.6 Prosedur Penelitian
Secara garis besar penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu:
1. Peneliti menyusun proposal penelitian. Dalam proposal tersebut peneliti menyusun perumusan masalah, menentukan variabel yang akan diteliti, melakukan studi pustaka guna mendapatkan landasan teori yang tepat mengenai variabel penelitian, dan mempersiapkan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian. Setelah itu peneliti menentukan sampel penelitian.
2. Setelah proposal diterima, peneliti menyusun, menyiapkan, dan memodifikasi alat ukur yang digunakan.
3. Mengurus surat izin penelitian dari fakultas psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk Kepala Sekolah Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah.
4. Setelah Kepala Sekolah Madrasah Aliyah UIN Syarif Hidayatullah mengizinkan, peneliti diminta untuk menyerahkan kuesioner beserta reward yang akan diberikan kepada siswa yang telah berpartisipasi dalam pengisian kuesioner.
5. Peneliti tidak diperbolehkan untuk mengambil data secara langsung dikelas- kelas namun dibantu oleh guru- guru yang sedang mengajar.
6. Pengambilan data dilakukan selama satu minggu, terhitung sejak tanggal 15 Januari 2019 – 21 Januari 2019 yang disebar dikelas X, XI dan XI dengan dibantu oleh para guru. Peneliti menyebar kuesioner sebanyak 250 namun yang kembali hanya 205 dikarenakan penyebaran data di kelas XII tidak diperbolehkan karena dikhawatirkan akan mengganggu kegiatan akademik siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional.
7. Setelah mendapatkan data, peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan CFA (Confirmatory Factor Analysis).
8. Pengolahan data:
a. peneliti memberikan kode dan melakukan skoring terhadap hasil skala yang telah diisi oleh responden.
b. menghitung dan membuat tabulasi data yang diperoleh, kemudian membuat tabel data. Melakukan analisa data dengan menggunakan teknik analisa regresi.
c. membuat kesimpulan dan laporan akhir penelitian.
55 BAB 4
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 205 siswa yang terdiri dari 108 siswa laki- laki dan 97 siswa perempuan di Madrasah Aliyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah non probability sampling dan dengan metode convenience.
Berikut ini adalah tabel yang dapat menjelaskan karakteristik responden penelitian:
Tabel 4.1
Gambaran umum subjek penelitian
Variabel Kelas Laki- Laki Perempuan Jumlah
Kelas X 45 27 72
XI 44 49 93
XII 19 21 40
Total 108 97 205
Berdasakan tabel 4.1 responden laki-laki berjumlah 108 orang dan responden perempuan berjumlah 97 orang. Dengan demikian, responden yang terdapat dalam penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin laki- laki. Responden dari kelas X berjumlah 72 orang terdiri 45 laki- laki dan 27 perempuan, responden dari kelas XI berjumlah 93 orang terdiri dari 44 laki- laki dan 49 perempuan, responden dari kelas XII berjumlah 40 orang terdiri dari 19 laki- laki dan 21 perempuan.
Tabel 4.2
Media sosial yang paling aktif digunakan responden
Media sosial Jumlah Persentase
Whatsapp 47 23%
Instagram 64 31%
Line 58 28%
Youtube 36 18%
Total 205 100%
Berdasarkan tabel 4.2 media sosial yang paling aktif digunakan adalah instagram yaitu sebanyak 64 responden (31%), line yaitu sebanyak 58 responden (28%), whatsapp yaitu sebanyak 47 responden (23%), youtube yaitu sebanyak 36 responden (18%).
Tabel 4.3
Waktu yang digunakan responden
Waktu (per hari) Jumlah Persentase
1-3 jam/hari 70 34%
4-6 jam/hari 63 31%
6-9 jam/hari 43 21%
>9 jam/hari 29 14%
Total 205 100%
Berdasarkan tabel 4.3 sebanyak 70 responden menghabiskan waktu online dalam menggunakan media sosial 1-3 jam/hari, 63 responden menghabiskan waktu online dalam menggunakan media sosial 4-6 jam/hari, 43 responden menghabiskan waktu
online dalam menggunakan media social 6-9 jam/hari, 29 responden menghabiskan waktu online dalam menggunakan media sosial lebih dari 9 jam/hari.
4.2 Analisis Deskriptif
Pada penelitian ini, skor yang digunakan dalam analisis statistik adalah skor yang dihitung untuk menghindari estimasi bias dari kesalahan pengukuran yang merupakan hasil proses konversi raw score, skor ini disebut true score. Proses ini dilakukan untuk memudahkan dalam melakukan perbandingan antara skor hasil penelitian variabel-variabel yang diteliti. Dengan demikian, raw score pada setiap variabel harus diletakan pada skala yang sama. Untuk memperoleh deskripsi statistik, dihitung item-item yang valid dan positif, sehingga didapatkan faktor skor. Jadi, penghitungan skor faktor ini tidak menunjukan item-item variabel seperti pada umumnya, tetapi dihitung true score pada tiap skala. Skor faktor yang dianalisis adalah skor faktor yang bermuatan positif dan signifikan.
T-Score= (skor faktor x 10) + 50
Setelah didapatkan skor faktor yang telah dirubah menjadi true score, nilai baku inilah yang akan dianalisis dalam uji hipotesis korelasi dan regresi. Hal tersebut berlaku juga untuk semua variabel pada penelitan ini. Skor tersebut disajikan dalam tabel 4.2 berikut ini:
Tabel 4.4
Skor variabel penelitian
Variabel N Min Max Mean Std.
Deviation
Civility 205 9,97 62,17 50,00 8,99759
Perspective Taking 205 15,64 63,30 50,00 8,66676
Fantasy 205 23,75 68,04 50,00 8,02639
Empathic Concern 205 21,93 65,21 50,00 7,98587
Personal Distress 205 25,75 66,80 50,00 8,83360
Cognitive Reappraisal 205 11,11 67,62 50,00 8,58671 Expressive Suppression 205 29,50 63,55 50,00 9,29002
Anonimitas 205 30,73 69,29 50,00 9,53596
Valid N (listwise) 205
Berdasarkan data pada tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa nilai minimum dari variabel civility adalah 9,97, nilai maksimum 62,17, mean 50,00, dan standar deviasi 8,99759. Perspective taking memiliki nilai minimum 15,64, nilai maksimum 63,30, mean 50,00, dan standar deviasi 8,66676. Fantasy memiliki nilai minimum 23,75, nilai maksimum 68,04, mean 50,00, dan standar deviasi 8,02639. Emphatic Concern memiliki nilai minimum 21,93, nilai maksimum 65,21, mean 50,00, serta standar deviai 7,98587. Personal Distress memiliki nilai minimum 25,75, nilai maksimum 66,80, mean 50,00, serta standar deviasi 8,83360. Cognitive Reappraisal memiliki nilai minimum 11,11, nilai maksimum 67,62, mean 50,00, serta standar deviasi 8,58671. Expressive Suppression memiliki nilai minimum 29,50, nilai maksimum 63,55, mean 50,00, serta standar deviasi 9,29002. Anonimitas memiliki nilai minimum 30,73, nilai maksimum 69,29, mean 50,00, serta standar deviasi 9,53596.
4.3 Kategorisasi variabel
Penulis membuat kategorisasi data penelitian menggunakan standar deviasi dan mean dari t-score setelah melakukan deskripsi dari masing-masing variabel. Kategorisasi dibuat menjadi tiga bagian, yaitu: Rendah dan Tinggi. Kategori dibuat menjadi dua bagian karena bertujuan untuk melihat distribusi data yang lebih merata. Dalam hal ini ditetapkan norma sebagai berikut:
Tabel 4.5
Rumus kategorisasi
Kategorisasi Rumus
Rendah X<M
Tinggi X>M
Nilai tersebut menjadi batas peneliti untuk menentukan kategorisasi rendah dan tinggi dari masing-masing variabel penelitian. Gambaran kategori skor variabel berdasarkan tinggi dan rendahnya variabel yang digunakan dalam penelitian ini akan disajikan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.6
Kategorisasi skor variabel
Variabel Frekuensi Persentase
Rendah Tinggi Rendah Tinggi
Civility 84 121 41% 59%
Perspective Taking 106 99 52% 48%
Fantasy 111 94 54% 46%
Emphatic Concern 95 110 46% 54%
Personal Distress 99 106 48% 52%
Cognitive Reappraisal 109 96 53% 47%
Expressive Suppression 107 98 52% 48%
Anonimitas 110 95 54% 46%
Berdasarkan tabel 4.4, dapat diketahui bahwa dari 205 responden, terlihat pada variabel civility memilliki skor rendah sebesar 41% dan 59% skor tinggi. Pada variabel perspective taking memiliki skor rendah sebesar 52% dan 48% skor tinggi.
Pada variabel fantasy memiliki skor rendah sebesar 52% dan 48% skor tinggi. Pada variabel emphatic concern memiliki skor rendah sebesar 46% dan 54% skor tinggi.
Pada variabel personal distress memiliki skor rendah 48% dan 52% skor tinggi. Pada variabel cognitive reappraisal memiliki skor rendah sebesar 53% dan 47% skor tinggi. Pada variabel expressive suppression skor rendah sebesar 52% dan 48% skor tinggi. Pada variabel anonimitas memiliki skor rendah sebesar 54% dan 46% skor tinggi.
4.4 Hasil Uji Hipotesis Penelitian 4.4.1 Pengujian Hipotesis
Selanjutnya, uji hipotesis untuk mengetahui pengaruh masing-masing independent variable terhadap dependent variable dalam penelitian ini, analisisnya dengan menggunakan multiple regression. Data yang dianalisis yaitu true score yang diperoleh dari hasil analisis faktor. Pada tahapan ini penulis menguji hipotesis dengan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan software SPSS 25.0. Dalam analisis regresi, terdapat tiga hal yang dilihat, yaitu melihat besaran R-square untuk mengetahui berapa persen (%) varians dependent variable yang dijelaskan oleh independent variable, kedua apakah secara keseluruhan independent variable berpengaruh secara signifikan terhadap dependent variable, ketiga melihat signifikan atau tidaknya koefisien regresi dari independent variable. Pengujian hipotesis
dilakukan dengan beberapa tahapan. Langkah pertama penulis melihat besaran R- square untuk mengetahui berapa persen (%) varians dependent variable yang dijelaskan oleh independent variable. Lihat tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.7 Tabel R-square
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .692a .479 .461 6.60698
a. Predictors: (Constant), Perspective Taking, Fantasy, Emphatic Concern, Personal Distress, Cognitive Reappraisal, Expressive Suppression, Anonimitas
Berdasarkan data pada tabel 4.5 diketahui bahwa perolehan R2 sebesar 0,479 atau 47,9%. Artinya, proporsi varians dari civility dijelaskan oleh perspective taking, fantasy, emphatic concern, personal distress, cognitive reappraisal, expressive suppression dan anonimitas dalam penelitian ini adalah sebesar 47,9%. Sedangan 52,1% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini. Langkah kedua, peneliti menganalisis dampak dari seluruh independent variable terhadap civility.
Adapun hasil uji F dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4.8 Tabel ANOVA
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig
Regression 7915.652 7 1130.807 25.905 .000b
Residual 8599.493 197 43.652
Total 16515.146 204
a. Predictors: (Constant), Perspective Taking, Fantasy, Emphatic Concern, Personal Distress, Cognitive Reappraisal, Expressive Suppression, Anonimitas
b. Dependent Variable: Civility
Jika melihat kolom signifikansi (p < 0.05), maka hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh yang signifikan seluruh independent variable terhadap civility ditolak. Maka hipotesis alternatif diterima, yaitu ada pengaruh yang signifikan variabel perspective taking, fantasy, emphatic concern, personal distress, cognitive reappraisal, expressive suppression dan anonimitas terhadap civility.
Langkah ketiga adalah melihat koefisien regresi tiap independent variable.
Jika p < 0.05 maka koefisien regresi tersebut signifikan, berarti independent variable tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap civility. Adapun penyajian ditampilkan pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.9
Koefisien regresi
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std.
Error Beta
1 (Constant) 32.539 6.464 5.034 .000
Perspective Taking .402 .066 .387 6.127 .000
Fantasy .132 .070 .123 1.888 .061
Emphatic Concern .020 .076 .018 .262 .749
Personal Distress .006 .059 .006 .102 .919
Cognitive Reappraisal .133 .065 .127 2.055 .041 Expressive
Suppression -.307 .054 -.317 -5.655 .000
Anonimitas -.037 .049 -.040 -.758 .449 a. Dependent Variable: Civility
Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui persamaan regresi sebagai berikut:
civility = 32.539 + 0,402 perspective taking + 0,132 fantasy + 0,020 emphatic
concern + 0,006 personal distress + 0,133 cognitive reappraisal - 0,307 expressive suppression - 0,037 anonimitas.
Dari persamaan regresi tersebut, dapat dijelaskan bahwa dari tujuh independent variable, hanya perspective taking, cognitive reappraisal dan expressive suppression yang signifikan. Penjelasan dari nilai koefisien regresi yang diperoleh dari masing-masing IV adalah sebagai berikut:
1. Nilai koefisien regresi perspective taking sebesar 0,402 dengan signifikansi 0.000 (sig < 0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari perspective taking terhadap civility
‘ditolak’. Dengan demikian, perspective taking berpengaruh signifikan terhadap civility. Arah positif menunjukan semakin tinggi perspective taking, maka semakin tinggi tingkat civility. Sebaliknya, semakin rendah perspective taking, maka semakin rendah tingkat civility.
2. Nilai koefisien regresi fantasy sebesar 0.132 dengan signifikansi 0.061 (sig >
0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari fantasy terhadap civility ‘diterima’. Artinya fantasy tidak berpengaruh signifikan terhadap civility.
3. Nilai koefisien regresi emphatic concern sebesar 0,020 dengan signifikansi 0,794 (sig > 0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari emphatic concern terhadap civility
‘diterima’. Artinya emphatic concern tidak berpengaruh signifikan terhadap civility.
4. Nilai koefisien regresi personal distress sebesar 0,006 dengan signifikansi 0,919 (sig > 0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari personal distress terhadap civility
‘diterima’. Artinya personal distress tidak berpengaruh signifikan terhadap civility.
5. Nilai koefisien regresi cognitive reappraisal sebesar 0,133 dengan signifikansi 0,041 (sig < 0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari cognitive reappraisal terhadap civility ‘ditolak’. Dengan demikian, cognitive reappraisal berpengaruh signifikan terhadap civility. Arah positif menunjukan semakin tinggi cognitive reappraisal, maka semakin tinggi tingkat civility.
Sebaliknya, semakin rendah cognitive reappraisal, maka semakin rendah tingkat civility.
6. Nilai koefisien regresi expressive suppression sebesar -0,307 dengan signifikansi 0,000 (sig < 0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari expressive suppression terhadap civility ‘ditolak’. Dengan demikian, expressive suppression berpengaruh signifikan terhadap civility. Arah negatif menunjukan semakin tinggi expressive suppression, maka semakin rendah tingkat civility. Sebaliknya, semakin rendah expressive suppression, maka semakin tinggi tingkat civility.
7. Nilai koefisien regresi anonimitas sebesar -0,037 dengan signifikansi 0,449 (sig > 0.05), yang berarti bahwa hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari anonimitas terhadap civility ‘diterima’.
Artinya anonimitas tidak berpengaruh signifikan terhadap civility.
4.4.2 Analisis Proporsi Varians
Selanjutnya peneliti ingin mengetahui sumbangan proporsi varians dari masing- masing independent variable terhadap civility. Maka dari itu, peneliti melakukan analisis regresi berganda dengan cara menambahkan satu independent variable setiap melakukan regresi. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:
Tabel 5.0
Proporsi varians untuk masing-masing independent variable
Model R Square
Change Statistics R Square
Change F Change df 1 df 2 Sig. F Change
1 .335 .338 103.549 1 203 .000
2 .360 .023 7.129 1 202 .008
3 .366 .005 1.710 1 201 .192
4 .368 .002 .575 1 200 .449
5 .395 .027 8.909 1 199 .003
6 .478 .083 31.506 1 198 .000
7 .479 .002 .575 1 197 .449
Predictors: (Constant), Perspective Taking, Fantasy, Emphatic Concern, Personal Distress, Cognitive Reappraisal, Expressive Suppression, Anonimitas
Berdasarkan data dari tabel 4.8 dapat disampaikan informasi sebagai berikut:
1. Variabel perspective taking memberikan sumbangan sebesar 33,8% terhadap varians civility.
2. Variabel fantasy memberikan sumbangan sebesar 2,3% terhadap varians civility.
3. Variabel emphatic concern memberikan sumbangan sebesar 0,5% terhadap varians civility.
4. Variabel personal distress memberikan sumbangan sebesar 0,2% terhadap varians civility.
5. Variabel cognitive reappraisal memberikan sumbangan sebesar 2,7%
terhadap varians civility.
6. Variabel expressive suppression memberikan sumbangan sebesar 8,3 % terhadap varians civility.
7. Variabel anonimitas memberikan sumbangan sebesar 0,2% terhadap varians civility.
67
Berdasarkan hasil analisis data penelitian, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah “terdapat pengaruh yang signifikan variabel empati (perspective taking, fantasy, emphatic concern, personal distress), regulasi emosi (cognitive reappraisal, expressive suppression) dan anonimitas terhadap civility pada siswa Madrasah Aliyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hasil uji hipotesis minor diperoleh tiga independent variable yang berpengaruh signifikan terhadap civility, yaitu perspective taking, cognitive reappraisal dan expressive suppression. Sedangkan, empat independent variable lain yang tidak mempengaruhi signifikan yaitu: fantasy, emphatic concern, personal distress dan anonimitas. Total sumbangan pengaruh seluruh Independent variable terhadap civility sebanyak 47,9 persen.
5.2 Diskusi
Penulis akan mendiskusikan mengenai seluruh independent variable yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: empati (perspective taking, fantasy, emphatic concern, personal distress), regulasi emosi (cognitive reappraisal, expressive suppression) dan anonimitas terhadap dependent variable yaitu civility siswa Madrasah Aliyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Empati menjadi prediktor munculnya civility. Empati merupakan faktor penting untuk mempertahankan civility (Khan dan Lawhorne., 2008). Empati memiliki empat dimensi yaitu: perspective taking, fantasy, emphatic concern dan
personal distress yang secara keseluruhan digunakan sebagai variabel prediktor.
Hasil penelitian ini mendapatkan satu dimensi variabel empati yang memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap civility, yaitu dimensi perspective taking.
Sementara, dimensi fantasy, emphatic concern dan personal distress tidak berpengaruh signifikan terhadap civility.
Variabel perspective taking memiliki pengaruh yang signifikan dan menghasilkan koefisien secara positif terhadap civility di media sosial. Artinya semakin tinggi perspective taking yang dimiliki siswa maka semakin tinggi juga perilaku civility yang dilakukan siswa di media sosial. Hasil yang diperoleh dalam penilitan ini sejalan dengan penelilitan yang dilakukan oleh Stephen, Heaphy dan Dutton (2011) yang menyatakan bahwa perspective taking merupakan prediktor yang berpengaruh signifikan dan positif terhadap civility. Ketika individu dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, maka respon individu tersebut akan disesuaikan dengan perasaan orang lain yaitu dengan berperilaku secara civility sehingga tidak terjadi konflik antar satu sama lain (Earvin, 2016). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil wawancara yang diperoleh penulis. Narasumber mengatakan dalam memposting sesuatu di media sosial, seseorang harus mampu memahami pikiran dan perasaan orang lain yang membaca postingan tersebut. Hal yang dipertimbangkan adalah apakah orang lain akan terganggu dengan bahasa yang digunakan atau membuat tersinggung orang lain. Sehingga narasumber berusaha untuk berkomunikasi secara civility dalam berinteraksi di media sosial.
Variabel fantasy tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap civility.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Raboteg (1997) bahwa tidak
ada hubungan antara fantasy dengan perilaku moral seperti civility. Pada alat ukur fantasy responden diminta untuk membayangkan mengenai karakter tokoh pada film dan novel, sedangkan tidak semua responden menyukai menonton film dan membaca novel.
Variabel personal distress tidak signifikan berpengaruh terhadap civility.
Personal distress dikaitkan dengan empati negatif atau reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain yang diekspresikan dengan perasaan terkejut, takut, cemas yang berlebihan dan rasa tidak berdaya (Davis, 1980).
Kemampuan akan mengontrol emosi atau regulasi emosi berhubungan pada civility (Ferris, 2002). Regulasi emosi memiliki dua dimensi yaitu: cognitive reappraisal dan expressive suppression (Gross dan John 2003). Secara keseluruhan dimensi tersebut digunakan sebagai variabel prediktor. Hasil penelitian ini mendapatkan kedua dimensi dari variabel regulasi emosi memiliki pengaruh signifikan terhadap civility.
Pada variabel cognitive reappraisal berpengaruh secara positif dan signifikan yang artinya semakin tinggi cognitive reappraisal maka semakin tinggi civility. Syahadat (2013) mengungkapkan bahwa kemampuan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif akan mempengaruhi emosi dan perilaku seseorang, contoh ketika seseorang mengubah pikirannya terhadap suatu stimulus negatif, kemudian mengatur dan menurunkan emosi negatifnya maka perilaku yang muncul adalah bentuk perilaku yang konstruktif, bukan destruktif. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil wawancara yang diperoleh penulis. Narasumber mengatakan jika mengalami stimulus yang menggugah emosi di media sosial,
maka narasumber akan mencoba memaklumi orang tersebut dan mencoba untuk mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Dari hal itu,maka emosi negatif dari narasumber akan berkurang sehingga narasumber akan berperilaku civility di media sosial.
Pada variabel expressive suppression berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap civility. Artinya, semakin tinggi expressive suppression maka semakin rendah civility. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Roberton, Daffern dan Bucks (2012) yang menemukan bahwa strategi expressive suppression yang berlebihan justru dapat mengakibat seseorang lebih rentan terhadap agresi atau tindakan incivility karena penggunaan strategi ini secara berlebihan dapat meningkatkan tingkat emosi negatif yang individu alami..
Strategi expressive suppression diharapkan dapat mengurangi ekspresi emosi, tapi pada kenyataannya akan terjadi kegagalan dalam menurunkan pengalaman emosional dan bahkan akan meningkatkan respon fisiologis dalam individu karena usaha keras yang dilakukan seseorang dalam menekan ekspresi emosi (Gross, 2002). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil wawancara yang diperoleh penulis. Narasumber mengatakan bahwa seseorang ketika mencoba untuk tidak mengekspresikan emosinya di media sosial, akan sulit untuk terus menahan emosinya, karena interaksi di media sosial tidak bertatap muka secara langsung dan media sosial menyediakan fasilitas untuk update status, sehingga seseorang akan mudah untuk meluapkan emosinya melalui update status atau meluapkan emosinya kepada seseorang yang menstimuli narasumber untuk membangkitkan emosinya.
Variabel anonimitas menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ciivlity. Hasil di dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Santana (2013) dimana anonimitas berpengaruh secara negative terhadap civility, jadi semakin rendah anonimitas maka akan semakin tinggi civility. Namun ada hal lain yang menunjukkan jika alasan pengguna media sosial menggunakan akun anonim tidak selalu berhubungan dengan komunikasi yang incivil atau rendahnya civility, dipandang sebagai hak atas privasi seseorang. Seseorang dapat merasa aman ketika menyampaikan informasi yang sifatnya rahasia dan seseorang dapat lebih mengeksresikan ide dan pendapat tanpa takut mengenai pelecehan, ancaman atau pembalasan tanpa berniat untuk melakukan komunikasi yang incivil (Sari, 2016).
Kelebihan dalam penelitian ini adalah penggunaan ketiga faktor yang diteliti secara bersama-sama sehingga dapat mengetahui faktor yang signifikan dari variabel yang sering diteliti dalam civility di media sosial. Selain itu, penelitian yang meneliti tentang civility masih jarang dilakukan di Indonesia.
Kekurangan dalam penelitian ini adalah pada proses pengambilan data peneliti tidak dapat mengontrol selama proses dan lama waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan data. Peneliti tidak diperbolehkan untuk mengambil data secara langsung di kelas tetapi harus dibantu oleh guru yang mengambil data di masing- masing kelas sehingga peneliti tidak dapat mengontrol selama proses pengambilan data.