Pengembangan Air Baku
2.2. Peningkatan Ketersediaan Air Sehat (Safe Water)
Air yang tidak sehat menjadi salah satu sumber utama penyakit di Indonesia, dan kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai menjadi penyebab utama kontaminasi fecal pada system penyediaan air bersih. Penyelesaian (solusi) atas masalah ini, adalah dengan penanganan langsung pada penyebabnya, melalui penyediaan yang mencukupi fasilitas pembuangan air limbah dan sanitasi. Hal ini adalah tantangan/per-
soalan jangka panjang, dan tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Sebagai sasaran antaranya, sejumlah kebijakan dan instrumen diperlukan untuk mening- katkan paling tidak keter- sediaan air "bersih" (yang biasa didefinisikan sebagai air yang terbebas dari lim bah kimia industri dan limbah yang membahayakan lain- nya, tetapi mungkin masih mengandung kontaminasi fecal) untuk penduduk per- kotaan yang semakin me- ningkat. Dalam banyak kasus hal ini akan merupakan ke- giatan/program yang berka-
• 'l(ebija/([m Pengefofaan Sum6er Vaga Jl.ir
60
-
itan dengan penyediaan air bersih (pipedwater) oleh pemerintah Kota.
Sementara investasi penyediaan air bersih untuk perkotaan sangat diper- lukan, pengkajian kembali tentang
"demand side" menunjukkan adanya faktor-faktor lain yang sama pentingnya yang perlu juga dipertimbangkan. Hal ini khususnya menyangkut strategi untuk memperbaiki kondisi saat ini dengan memperhitungkan ketersediaan dan alternatif tarif/harga air dari berbagai sumber air (termasuk air permukaan dari sungai dan saluran, sumur dangkal, hidran umum, pedagang eceran air, dan air kemasan komersial). Disimpulkan juga bahwa kualitas dan keandalan mungkin lebih panting dari harga. Dan upaya untuk mengembangkan ketersediaan air bersih dan untuk mencapai kesamaan ·equity) layanan hendaknya mengacu kepada "kebutuhan nyata" rumah tangga untuk berbagai tingkatan penghasilan (income).
Kebijakan-kebijakan berikut perlu dipertimbangkan dalam penyediaan air baku untuk air bersih.
1). Bersandar pada kekuatan pasar (relying.on market forces).
Sebagaimana diketahui reformasi kebijakan sektor sumber daya air (SDA) dititik beratkan pada strategi pengelolaan terpadu SDA, termasuk kebijakan dan insentip untuk mengurangi kebutuhan air, dan pengembangan lembaga yang difokuskan pada "real time" pengelolaan SDA dalam lingkup seluruh DPS, termasuk "conjuctive use" antara air permukaan dan air tanah.
Pemerintah juga tengah menyiapkan perubahan-perubahan peraturan dan kelembagaan yang diperlukan. Kebijakan harga pasar (market pricing) dan kebijakan pemulihan biaya (cost recovery) akan diperlukan dalam pengendalian kebutuhan air, dan sekaligus juga diperlukan untuk keberlanjutan investasi yang lalu dan yang akan datang.
• 'l(g6ijafqm Pengefofaan Sum6er 'iJaya Jlir
2). lntervensi Pemerintah (government interventions).
Koordinasi kebijakan tarif air untuk berbagai penggunaan diperlukan untuk menjamin kelestarian lingkungan. Sebagai contoh kebijakan yang ada untuk tarif air untuk air baku (piped water) dan untuk penggunaan air tanah oleh industri telah ikut menyebabkan terjadi polusi yang berlebihan memerlukan intervensi berupa kebijakan terpadu. Kebijakan hendaknya berlaku untuk seluruh DPS, tidak hanya mencakup isu-isu alokasi air tetapi juga mencakup upaya pengurangan polusi dari berbagai sumber. Upaya penyediaan air bersih di Surabaya dan Jakarta, sebagai contoh, menjadi semakin kompleks dengan adanya polusi akibat pertumbuhan kota dan kawasan industri yang sangat cepat di bagian hulu.
3). Kombinasi Cost Recovery dan subsidi.
Kebijakan ini mencakup: i) Subsidi dari pemerintah untuk pembangunan prasarana pengambilan air dari sumber air dan saluran pembawa dari pengambilan ke instalasi penjernihan air, ii) Cost recovery untuk pembangunan instalasi penjernihan air dan jaringan distribusi, iii) Pricing policy, dengan penerapan "tarip progresip", yaitu kenaikan tarip untuk satuan volume air setelah men-
capai batas tertentu (kebu- tuhan air miniral), iv) Subsidi silang (cross subsidy) untuk bangunan yang bersifat
"multipurpose", misalnya tarip air baku untuk tenaga listrik, industri dan kawasan perdagangan lebih tinggi dari tarip untuk air baku untuk rumah tangga dengan penghasilan rendah.
4). Prasarana Penyedia Air' Baku Regional vs Indi- vidual.
Dengan semakin ter- batasnya kapasitas pasok sumber air, maka pem-
• 'l(e6ya!(an Tengefofaan Sum6er 'Da!fa :~ir
bangunan prasarana penyedia air baku skala kecil yang bersifat individual/
lokal menjadi semakin tidak efisien.· Sebaliknya pembangunan prasarana penyedia air baku skala regional misalnya waduk dengan daya tampung yang memadai akan menjadi semakin efisien lebih-lebih jika penggunaannya juga bersifat "multipurpose" atau "multiuse". Dimana sistem "cost sharing" diantara tujuan industri, tenaga listrik, pertanian, maupun sistem "cross subsidy"antara pengguna industri dan rumah tangga akan dapat diterapkan. Dengan demikian tujuan penyediaan air bagi rumah tangga penghasilan rendah diharapkan dapat tercapai.
5). Memanfaatkan potensi sarana penyedia air baku yang ada maupun dalam penyelesaian.
Waduk Juanda (Jatiluhur) disamping yang telah digunakan sekarang untuk berbagai keperluan seperti air baku, irigasi, dan tambak, masih mempunyai kapasitas untuk memasok air baku sebesar 38 m3/det yang dapat dipakai untuk kawasan Jakarta, Tangerang dan Bekasi. lnvestasi yang diperlukan adalah pembangunan kapal untuk menyalurkan air dari outlet waduk ke instalasi penjernihan air dan pembangunan jaringan pipa distribusinya.
Hal yang sama juga dapat diperoleh dari waduk : i) Bili-Bili (3,3 m3/det) akan menambah pasokan air baku bagi kota Makassar serta kawasan industri disekitarnya, ii) Wonorejo akan menambah pasokan air baku sekitar 8 m3/
detik yang dapat dimanfaatkan bagi kota-kota di hilir waduk Wonorejo khususnya Surabaya, dan iii) Batutegi, yang menyediakan 2,5 m3/det air baku untuk kota Bandar Lampung dan sekitarnya.
Sedangkan pembangunan waduk-waduk dalam penyelesaian; i) Waduk Keuliling untuk Kabupaten Aceh Besar, ii) em bung untuk penyediaan air baku Kodya Sabang iii) Waduk Manggar untuk air baku kota Samarinda, iv) Waduk Batu Bulan di NTB untuk 90.000 jiwa, v) Waduk Pelaperado di NTB untuk 50.000 jiwa, dan vi) Waduk Tilong di NTT untuk air baku kota Kupang.
3. Pengembangan Air Baku 3.1. Tantangan dan Upaya
62
Yang dimaksudkan dengan "air baku" adalah air yang belum diproses untuk keperluan rumah tangga, perkotaan dan industri (domestic, municipal and
industry), di luar irigasi.
Usaha-usaha untuk peman- faatan dan pengembangan air baku sesungguhnya sa- ngat sederhana, yakni ba- gaimana membawa air baku dari sumbernya kepada pengguna air baku, apalagi sampai kepada end-users masih memerlukan proses lain yang dilaksanakan oleh pihak lain di luar kewe- nangan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Jadi jelas bahwa dalam pelaksana- annya persoalan menjadi tidak sesederhana di atas kertas, karena berbagai, antara lain :
1) Keterbatasan kemampuan pemerintah dalam penyediaan anggaran untuk pengembangan air baku.
2) Masih terbatasnya peranserta swasta dan masyarakatdalam pengusahaan air baku, sehingga peran pemerintah masih sangat menonjol, di lain pihak adanya keterbatasan kemampuan sebagaimana disebutkan pada butir 1.
3) Masih memerlukan proses lanjutan untuk sampai ke pemanfaatan akhir, karena sekedar membawa air baku dari sumbernya kepada pengguna tanpa proses lanjutan, karena pad a umumnya pemanfaatan memedukan air dengan kualitas tertentu.
4) Sering terdapat permasalahan pada saat membawa air baku dari sumbernya ke pengguna, misalnya saluran air baku harus melalui kawasan permukiman, sehingga harus ada pembebasan lahan yang dapat menimbulkan permasalahan sosial.
5) Antara sumber air baku dengan pemanfaatan tidak selalu layak dari sisi ekonomi karena jauh, yang bilamana diupayakan akan mengakibatkan mahalnya harga air baku.
• 'l(g6yal(an PengetiJfiian Sum6er 'iJaya Jlir
64
6) Beberapa kawasan tidak mempunyai sumber air baku yang memadai, sehingga harus ada inter-basin water transfer dan ini berarti mahal.
Berdasarkan issue yang menonjol pada program penyediaan dan pengelolaan air baku dan faktor-faktor praktis sebagaimana disebutkan di atas, maka ditempuh upaya-upaya sebagai berikut:
1) Melaksanakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai oleh lembaga yang lebih berorientasi kepada semi-profit semacam korporat wilayah sungai, terutama untuk wilayah-wilayah sungai yang dinilai strategis.
2) Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat dan dunia usaha sekaligus mengundang peran serta dunia usaha untuk bersama-sama pemerintah mengusahakan penyediaan air baku, sejauh di dalamnya terdapat profit sehingga dapat merangsang dunia usaha untuk berpartisipasi.
3) Mensinkronkan antara program penyediaan air baku yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dengan institusi yang merupakan pengguna antara seperti Perusahaan Air Minum, Pemerintah Kabupaten, atau sejenisnya sebelum sampai ke end-user, sehingga program penyediaan air baku dapat langsung dimanfaatkan oleh end-users.
4) Membangun prasarana air baku untuk melayani kawasan-kawasan yang mempunyai tingkat kebutuhan air baku yang tinggi dari sumber air baku yang berpotensi dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
5) Pada kawasan-kawasan yang tidak mempunyai potensi air baku yang me- madai, seperti kawasan-kawasan timur, maka diupayakan penyediaan air baku melalui pengembangan prasarana berbasis teknologi tepat guna dan sederhana.