Pengelolaan Terpadu Somber Daya Air
5) Reformasi Peraturan dan Perundang-Undangan
Pokok-pokok revisi UU No. 11Th. 1974 tentang Pengairan sejalan dengan dilaksanakannya reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air (SDA) diantaranya mencakup : i) perluasan peran masyarakat, ii) kejelasan peran pemerintah pusat dan daerah, iii) keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi.
• x._e6yal(_an Pengefofizan Sum6er 'Daya .!il.ir
Beberapa hal penting yang mengatur konservasi SDA di dalam rancangan
\
revisi UU No. 11 Th. 197 4 diantaranya adalah mencakup pengertian dan pokok-pokok pengaturan sebagai berikut :
Konservasi SDA terdiri dari : i) perlindungan terhadap sumber air; ii) pengawetan air, dan iii) pengelolaan kualitas air;
Konservasi SDA wajib dilakukan oleh pengelola SDA;
Konservasi SDA wajib menjadi masukan dalam penyusunan rencana tata ruang dan pelestarian fungsi resapan air wajib dimasukkan dalam penyusunan dan pelaksanaan tata guna lahan;
Pelaksanaan konservasi harus memperhatikan rencana pengelolaan SDA dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Pemerintah wajib menetapkan kawasan lindung untuk melestarikan daerah tangkapan air;
Masyarakat dan pengelola SDA dilarang melakukan kegiatan penggunaan air yang mengakibatkan pemborosan, kerusakan fungsi air, kerusakan fungsi daerah tangkapan air dan pencemaran air.
Beberapa Pera- turan Pemerintah tu- runnya yang juga perlu dirubah adalah PP No.
22 Th. 1982 tentang Tata Pengaturan Air, PP No. 77 Th. 2001 tentang lrigasi, PP No.
82 Th. 1990 tentang Pengendalian Pence- maran Air, dan PP No.; 35 Th. 1991 tentang Sungai. Disamping itu sekarang sedang disu- sun Rancangan PP tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.
• 'l(g6ijaf@n Tengefofaan Sum6er '.Daya }l.ir
32
2.2. Landasan lnstitusional
Terdapat beberapa lembaga yang bertanggung-jawab dan menangani sumber daya air, sebagai contoh seperti yang tercantum dalam UU No. 11/197 4 ten tang Pengairan, pasal 5 ayat 1 dan 2; Peraturan Pemerintah No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air.
UU No. 11 tahun 1974 Pasal5 ayat 1 menyatakan bahwa:
Menteri yang diserahi tugas urusan pengairan diberi wewenang dan tanggung- jawab untuk mengkoordinasikan segala peraturan usaha-usaha perencanaan, perencanaan teknis, pengawasan, pengusahaan, pemeliharaan serta perlindungan dan penggunaan air dan sumber-sumber air dengan memperhatikan kepentingan Departemen dan atau Lembaga lain yang bersangkutan.
Pengecualian penanganan disebutkan dalam pasal 5 ayat 2, yaitu :
Pengurusan administratif atas sumber air bawah tanah dan mata air panas sebagai sumber Mineral dan tenaga adalah di luar wewenang dan tanggung- jawab Menteri yang disebut pada ayat 1 tersebut.
Sedangkan dalam PP 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, tugas koordinasi pengendalian dan pencemaran air diserahkan kepada Menteri yang mengelola lingkungan hidup.
Sementara itu, pasal 8 dan 9 dari PP No. 22 tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air mengamanatkan bahwa :
1) Menteri (yang bertanggung-jawab dalam bidang SDA, melaksanakan wewenang dan bertanggung-jawab untuk mengkoordinasikan segela pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1, UU No. 11 tahun 1974.
2) Tugas Tata Pengaturan tersebut meliputi :
Penetapan rencana prioritas penggunaan air dan/atau sumber air;
Penetapan urutan prioritas penggunaan air dan/atau sumber air dalam rencana perlindungan, pengembangan dan penggunaan sumber air tersebut;
Pengaturan penggunaan air dan/atau sumber air;
• :1\cbijakpn 'l'engcl(,faan5umticr 'Dll!Jtl :lir
Pengaturan cara pembuangan air limbah beserta bahan-bahan limbah lainnya;
Pengaturan pembangunan bangunan pengairan maupun bangunan lain pada sumber air;
Pengaturan terhadap masalah-masalah lain yang mungkin timbul.
Disamping itu termasuk pula pengurusan muara, pantai dan laut, yang pada saat ini banyak melibatkan instansi pusat dan daerah (Propinsi, Kabupaten/Kota).
Mengingat pengelolaan terpadu DPS memerlukan pendekatan ekosistem, sedangkan pendekatan ekosistem sendiri sangat kompleks karena melibatkan multi-sumber daya (alam dan buatan), multi-kelembagaan, multi-Stakeholders dan bersifat lintas batas (administrative dan ekosistem), maka di Indonesia pola pengelolaan terpadu DPS akan diterapkan dengan bertumpu pada mekanisme koordinasi dan kooperasi. Oleh karenanya, koordinasi dalam pengelolaan terpadu DPS menjadi elemen penting untuk terlaksananya pengelolaan terpadu DPS yang optimal.
Berdasarkan KEPPRES No.9 Th. 1999 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Kebijakan Pendayagunaan Sungai dan Pemeliharaan Kelestarian DAS ditentukan bahwa Ketua Tim Koordinasi adalah Menteri PU (sekarang Kimpraswil) dan wakil ketua dijabat oleh Menteri Kehutanan. Sedangkan anggotanya adalah Meneg.
Lingkungan Hidup, Meneg. Agraria/Kepala BPN, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian, Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun sejak bulan Oktober 1999, tim ini tidak aktif lagi karena ada perubahan kabinet.
Berdasarkan ketentuan tata perundang-undangan tersebut jelas bahwa : Koordinasi pengaturan air permukaan diserahkan kepada Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah.
Administrasi air bawah tanah dilaksanakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Koordinasi pengendalian pencemaran air oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Diperlukan pengaktifan kembali Tim Koordinasi Keppres 9/1999 dengan Keppres baru.
• 'l(f6ijaf::._an Pengefofaan Sum6er '])aya Jlir
34
2.3. Landasan Konsepsional
Mengingat fungsi air sebagai unsur dasar hidup dan kehidupan, maka landasan konsepsi penanganannya perlu memperhatikan prinsip-prinsip pokok kelestarian dan kemanfaatan.
Prinsip kelestarian mengisyaratkan bahwa pemanfaatan sumber daya air haruslah berpedoman pada pendayagunaan yang berkelanjutan.
Sedangkan prinsip kemanfaatan bersama akan menuntut pemenuhan secara lebih efisien, adil dan merata.
Bertitik tolak dari prinsip tersebut maka pengertian pengelolaan DPS berupa pemanfaatan, pengembangan, konservasi (perlindungan), dan pengendalian (daya rusak) sumber daya air serta pemberdayaan masyarakat. Prinsip-prinsip lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah keterpaduan, keadilan, kemandirian (untuk pengelolaan yang layak diusahakan) dan akuntabilitas. Selanjutnya diperlukan pemahaman kesatuan sistem sumber daya air yang bersifat sektoral, spatial, temporal dan institusional, sehingga kegiatannya harus dilaksanakan secara terpadu (secara multi-sektor), seimbang (kemanfaatan dan kelestarian) serta berwawasan lingkungan.
• 'l<j:6ijaksm Pengefofizan Sumber '.Daya Jl.ir
2.4. Landasan Operasional
Dengan memperhatikan landasan hukum, institusi dan konsepsi maka dapat ditentukan landasan operasional antara lain :
Prinsip one river (satu sungai), one integrated plan (satu rencana yang terpadu) and one integrated management (satu sistem pengelolaan yang terkoordinasikan), dengan memperhatikan sistem pemerintahan desentralistik sesuai jiwa otonomi daerah secara luas, nyata, dan bertanggung jawab. Lebih jauh prinsip-prinsip tersebut dijabarkan sbb :
Satu sungai (dalam arti DPS) merupakan Kesatuan Wilayah hidrologis yang dapat mencakup beberapa wilayah administrative yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pengelolaan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Dalam satu sungai hanya berlaku Satu Rencana Kerja yang terpadu (program dan tujuan/sasaran multi-sektor), menyeluruh (comprehensive), berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.
Dalam satu sungai diterapkan Satu Sistem Pengelolaan yang terkoordinasikan yang dapat menjamin keterpaduan kebijakan, strategi perencanaan serta operasionalisasi kegiatan dari hulu sampai dengan hilir dari suatu DPS.
Pengelolaan DPS dilakukan secara holistic, terencana, dan berkelanjutan guna menopang kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta menjaga kelestarian lingkungan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pengelolaan DPS dilaksanakan berdasarkan prinsip partisipatif dan konsultatif pada setiap tingkatan pengelolaan untuk mendorong tumbuhnya komitmen bersama antar pihak berkepentingan (stakeholders).
Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DPS, baik secara langsung atau tak langsung, wajib menanggung biaya pengelolaan secara proporsional (prinsip insentif-disinsentif).
Penanganan pengelolaan melibatkan masyarakat dan dunia usaha secara optiomal untuk meningkatkan hasil guna dan dayagunanya.
Pemanfaatan pengusahaan air mengikuti kaidah ekonomi tanpa meninggalkan fungsi sosialnya.
• 'l(e!Jijaf@n Pengewfaan Sumber 'Daya 5l.ir
36
Sasaran wilayah pengelolaan DPS adalah wilayah DPS secara utuh sebagai satu kesatuan ekosistem. Penentuan sasaran DPS secara utuh ini dimaksudkan agar upaya penanganan kegiatan yang direncanakan dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu berdasarkan satu kesatuan perencanaan yang komprehensif, sekaligus sebagai acuan untuk kegiatan monitoring dan evaluasi DPS ditinjau dari aspek tata air, penggunaan lahan, sosial, dan ekonomi serta lingkungan.
Dalam penerapan berbagai kegiatan pengelolaan tetap mengikuti sistem administrasi pemerintahan yang ada, baik pemerintah Pusat, Daerah (Propinsi, Kabupaten/Kota) maupun desa sesuai kewenangannya.
2.5. Ruang Lingkup Pengelolaan Terpadu DPS
Komponen-komponen pengelolaan DPS mencakup : 1. Daerah Tangkapan Air (Catchment area)
Untuk dapat menjamin kelestarian DPS, pelaksanaan pengelolaan DPS harus mengikuti prinsip-prinsip dasar hidrologi. Dalam sistem ekologi DPS, komponen masukan utama terdiri atas curah hujan sedang kom- ponen keluaran terdiri atas debit aliran dan muatan sedimen, termasuk unsur hara dan bahan pencemar di dalamnya. DPS terdiri atas komponen-komponen vegetasi, tanah, topographi, air sungai, dan manusia yang berfungsi prosesor. Untuk itu perlu dijaga agar masing-masing kom- ponen berfungsi dengan optimal.
Rencana induk konservasi Daerah Tangkapan Air (DTA) mencakup i) pengendalian tata guna lahan untuk menjaga fungsi DTA sebagai resapan air melalui pengaturan tata ruang dengan
• 'X!6Ual(an Pengefo[aan5um6er 'Daya >'lir
mengalokasikan daerah terbuka untuk resapan baik secara alamiah atau buatan (sumur resapan), ii) pelaksanaan konservasi air dan tanah dengan kegiatan rehabilitasi lahan, penghutanan, dsb-nya, dan iii) kegiatan monitoring dan evaluasi DTA atas pelaksanaan rencana induk konservasi.