BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pandangan Dan Sikap Masyarakat Makassar Terhadap Tindak Pidana
Penulis melakukan penelitian di masyarakat Kota Makassar Untuk mengetahui pandangan dan sikap masyarakat Makassar terhadap tindak pidana Pengedaran Obat daftar G tanpa izin dengan membagikan kuesioner/angket sebanyak 50 Lembar penduduk Kota Makassar.
D. Daftar Tabel
Tabel 4.1
Pengetahuan Responden terhadap adanya peredaran Obat daftar G No Jawaban Responden Frekuensi %
1 Ya 39 orang 78%
2 Tidak 11 orang 22%
Jumlah 50 orang 100%
Sumber : Angket yang diolah 2022
Berdasarkan menunjukkan tabel diatas bahwa dari hasil tabel 50 Responden.
39 orang atau 78% yang menjawab mengetahui peredaran Obat daftar G dan 11 orang atau 22% yang menjawab tidak mengetahui peredaran obat daftar G.
Berdasarkan analisis penulis, data diatas menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sadar terhadap adanya peredaran obat daftar G. Adapun masyarakat yang belum mengetahui adanya peredaran obat daftar G, menjadi tugas bagi semua pihak yang memiliki kepentingan untuk memberikan edukasi yang lebih massif dibanding sebelumnya.
Berikut ini, akan disajikan pendapat reponden mengenai untuk membeli obat daftar G memerlukan Resep atau izin Dokter
Tabel 4.2
Pengetahuan Responden terhadap pengetahuan masyarakat membeli Obat daftar G memerlukan Resep atau izin Dokter
No Jawaban Responden Frekuensi %
1 Ya 38 orang 76%
2 Tidak 12 orang 24%
Jumlah 50 orang 100%
Sumber: Angket yang diolah 22
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 50 Responden, 38 orang atau 76% yang menjawab mengetahui untuk membeli Obat daftar G memerlukan Resep atau izin dokter dan 12 orang atau 24% yang menjawab tidak mengetahui untuk membeli Obat daftar G memerlukan Resep atau Izin Dokter.
Berdasarkan analisis penulis, data diatas menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sudah teredukasi mengenai aturan-aturan dalam membeli obat daftar G yang memerlukan resep atau izin dokter. Hal ini terjadi karena sosialisasi- sosialisasi aturan mengenai obat daftar G telah tersampaikan kepada masyarakat meskipun masih ada sebagian kecil masyarakat yang tidak mengetahui mengenai aturan-aturan tersebut.
Berikut ini, akan disajikan pendapat responden mengenai Untuk menjual atau mengedarkan Obat daftar G Apotik memerlukan izin untuk mengedarkannya.
Tabel 4.3
Pengetahuan Responden terhadap pengetahuan masyarakat memerlukan Izin untuk mengedarkan Obat daftar G.
No Jawaban Responden Frekuensi %
1 Ya 39 orang 78%
2 Tidak 11 orang 22%
Jumlah 50 orang 100%
Sumber: Angket yang diolah 22
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 50 Responden 39 orang atau 78% yang menjawab mengetahui untuk mengedarkan obat daftar G memerlukan izin dan 11 orang atau 22% yang menjawab tidak mengetahui untuk mengedarkan obat daftar G memerlukan izin.
Berdasarkan hasil analisis penulis, data diatas yang menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang memiliki pengetahuan bahwa masyarakat memerlukan izin untuk mengedarkan obat daftar G adalah hal yang sangat baik.
Kesadaran masyarakat bahwa untuk mengedarkan obat daftar G memerlukan izin menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran atas dampak yang bisa ditimbulkan oleh obat daftar G jika tidak di sertai dengan resep dokter.
Berikut ini akan disajikan pendapat responden mengenai boleh tidaknya Obat daftar G dikonsumsi tanpa resep dari dokter.
Tabel 4.4
Pengetahuan Responden Terhadap Mengenai Boleh Tidaknya Obat daftar G Jika Dikonsumsi Tanpa Resep Dari Dokter
No Jawaban Responden Frekuensi %
1 Ya 2orang 4%
2 Tidak 48orang 96%
Jumlah 50 orang 100%
Sumber: Angket yang diolah 22
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden 2orang atau 4% setuju dengan Obat daftar G dikonsumsi tanpa Resep dokter dan 48 orang atau 96% tidak setuju dengan Obat daftar G dikonsumsi tanpa resep dari dokter.
Sejalan dengan data yang ditampilkan pada tabel 1.3, bahwa masyarakat memiliki kesadaran tentang efek yang dapat timbulkan oleh obat daftar G. Hal ini
dibuktikan dengan hampir semua responden tidak setuju jika obat daftar G tanpa resep atau izin dari dokter.
Berikut ini akan disajikan Data mengenai pernah tidaknya Responden mengkonsumsi beberapa jenis dari obat daftar G.
Tabel 4.5
Data Mengenai Pernah Tidaknya Responden Mengkonsumsi Beberapa Jenis Dari Obat Daftar G
No Jawaban Responden Frekuensi %
1 Ya 31 orang 62%
2 Tidak 19 orang 38%
Jumlah 50 orang 100%
Sumber: Angket yang diolah 22
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 50 Responden 31 orang atau 62% pernah mengkonsumsi beberapa jenis dari obat daftar G dan 19 orang atau 38% tidak pernah mengkonsumsi beberapa jenis dari obat daftar G.
Berdasarkan hasil analisis penulis, dengan banyaknya responden yang pernah mengkonsumsi obat daftar G sesuai pada tabel 1.5, dan jika di hubungkan dengan data-data di tabel sebelumnya yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah banyak yang mengetahui tentang obat daftar G yang memerlukan izin dokter, hal ini bisa di artikan bahwa masyarakat yang pernah mengkonsumsi obat daftar G tersebut, memiliki resep atau izin dokter sebelum mengkonsumsi obat daftar G.
Berikut ini akan disajikan tentang pengetahuan Responden tentang dampak dari obat daftar G di konsumsi tanpa resep dokter.
Tabel 4.6
Pengetahuan Responden Terhadap Pengetahuan Masyarakat Tentang Dampak Dari Obat Daftar G Jika Di Konsumsi Tanpa Resep Dokter.
No Jawaban Responden Frekuensi %
1 Ya 28 orang 56%
2 Tidak 22 orang 44%
Jumlah 50 orang 100%
Sumber: Angket yang diolah 22
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden 28 orang atau 56% mengetahui dampak dari obat daftar G jika dikonsumsi tanpa resep dokter dan 22 orang atau 44% tidak mengetahui dampak dari obat daftar G jika di konsumsi tanpa resep dokter.
Berdasarkan analisis Penulis, data pada tabel 1.6 menunjukkan bahwa meskipun masyarakat sudah banyak yang mengetahui bahwa penggunaan obat daftar G memerlukan izin atau resep dokter, namun jumlah responden yang mengetahui dampak dari obat daftar G jika di konsumsi tanpa resep dokter, hanya sedikit lebih banyak dari orang yang tidak mengetahui. Hal ini menjadi tugas bagi semua pihak untuk memberikan sosialisasi terhadap dampak-dampak yang dapat ditimbulkan oleh obat daftar G baik disertai resep dokter maupun tidak disertai resep dokter.
Dari semua responden, semua berpendapat bahwa penyalah gunaan Obat daftar G yang dilakukan oleh oknum adalah tindakan tidak terpuji. Karena dampak dari obat daftar G ini jika di konsumsi jangka Panjang sangat akan membahayakan para kalangan anak muda, apalagi jika sudah kecanduan dari obat obatan jenis daftar G karena dapat merusak tubuh, alangkah baiknya Pihak-pihak
yang berwenang seperti Pemerintah dan Kepolisian memberikan penyuluhan tentang bahaya dari penggunaan Obat daftar G jika dikonsumsi tanpa resep Dokter Dari hampir semua responden berpendapat bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim dalam putusan No.1097/Pid.Sus/2020/PN.Mks masih belum menunjukkan rasa keadilan dan belum optimal, seharusnya vonis hukuman bisa lebih berat karena agar dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku agar tidak mengulangi perbuatan yang sama, dan bagi orang orang yang berfikir untuk melakukan tindak pidana yang sama bisa mengurungkan niat untuk melakukan hal tersebut. Selain itu hukuman diberikan belum maksimal karena peredaran obat G tanpa izin dapat menimbulkan efek yang buruk bagi masyarakat dengan mudahnya obat obatan tersebut diperoleh tanpa resep dokter.
61 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan
1. Dalam putusan Nomor 1097/Pid.Sus/2020/PN.Mks, hakim menjatuhkan vonis penjara selama 1 Tahun 6 Bulan dan denda sebesar Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti denga penjara selama 1 (Satu) bulan, atas perbuatan terdakwa yang mengedarkan obat daftar G secara illegal. Dalam keterangan yang diberikan oleh hakim yang memeriksa perkara tersebut, hakim mengatakan bahwasannya putusan yang telah di jatuhkan sudah seadil-adilnya dalam menjatuhkan putusan tersebut kepada Terdakwa.
Dalam penjatuhan tuntutan kepada terdakwa Majelis Hakim tidak mengalami kesulitan dalam penjatuhan pidana tersebut.
2. Berdasarkan pandangan dan sikap Masyarakat Makassar terhadap tindak pidana mengedarkan obat daftar G tanpa izin menyebutkan bahwa, mayoritas Masyarakat mengetahui adanya peredaran obat daftar G dan mengetahui bahwa obat-obatan tersebut memerlukan resep atau izin Dokter. Data yang diperoleh juga menyebutkan bahwa dari 50 Responden mayoritas pernah mengkonsumsi beberapa jenis Obat daftar G namun disamping itu juga mengetahui dampak buruk dari Obat daftar G tanpa resep dokter. Semua responden berpendapat bahwa penyalahgunaan daftar G adalah tindakan tidak terpuji. Hampir semua responden berpendapat
bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim dalam Putusan No.1097/Pid.Sus/2020/PN.Mks masih belum maksimal jika ditinjau dari efek yang ditimbulkan dari perbuatan pelaku.
B. Saran
1. Sebaiknya Pihak-pihak yang berwenang lebih bisa memberi penyuluhan yang lebih Masif agar peredaran obat daftar G secara illegal tidak terjadi atau setidaknya bisa diminimalisir.
2. Sebaiknya Hakim dalam menjatuhkan vonis putusan lebih mempertimbangkan dampak yang lebih besar yang dapat ditimbulkan oleh pelaku sehingga menyebabkan efek jera bagi pelaku dan masyarakat pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA BUKU
Adam Chazawi, 2007, Malpraktik Kedokteran (Tinjauan Norma & Doktrin Hukum) Penerbit Bayumedia Publishing Malang.
Amir Ilyas, 2012, Asas-Asas Hukum Pidana, Rengkang Education Yogyakarta dan Pukap Indonesia, Yogyakarta.
Erdianto Effendi, 2011, Hukum Pidana Indonesia, Bandung.
Ismu gunadi,dkk, 2014, Cepat dan Mudah Memahami Hukum Pidana Jakarta : Prenadamedia Group.
Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, “Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan”
(Jakarta : Buku Kedokteran EGC, 1999)
Moeljatno 2008, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.
Muhammad SyukriAlbani Nasution, 2017, Hukum dalam Pendekatan Filsafat, Ctk. Kedua, Kencana, Jakarta,
Mardani, Etika Profesi Hukum, Rajawali Pers, Depok, 2017, Hal 47
P.A.F. Lamintang, 1984 Hukum Penitensier di Indonesia. Bandung : Armico, hal.
147.
Rahman Syamsuddin, “Kode Etik dan Hukum Kesehatan” (Makassar: Alauddin University Press,2012)
Rasyidin Abdullah, “Hukum Kesehatan”( Makassar : Alauddin University Press, 2012)
Ruslan Renggong, 2016, Hukum Pidana Khusus, PrenadaMedia Group, Jakarta Sasangka Hari, 2008, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana Untuk
Mahasiswa dan Praktisi Serta Penyuluhan Masalah Narkoba. Mandar Maju, Bandung .
Syamsuni, 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.
Perundang-Undangan
Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1010/Menkes /Per/XI/2008 Tentang Registrasi Obat
Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 114
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 1 Ayat (8) Jurnal
(https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/429/SIARAN-PERS --BPOM-RI- SITA-15-MILIARRUPIAH-OBAT-TRADISIONAL-ILEGAL-DI-
JAKARTA.html), di unduh tanggal 18 Maret 2021
Badan POM RI, 2018, siaran Pers BPOM RI Sita 15,7 Milayr Rupiah Obat Tradisional, 1
Damayanti Linda, Penggolongan Obat Menurut UU Farmasi, http://damayantili nda.blogspot.com/2011/12/penggolongan-obat-menurut-uu-
farmasi_08.html
Mas, M., & Oner, B. (2020). Penyidikan Tindak Pidana Praktek Kedokteran (Malapraktik Kedokteran) Di Polda Sulawesi Selatan: Investigation Of Criminal Action Of Medical Practice (Medical Malapractic) In The Police Of The South Sulawesi Region. Clavia: Journal of Law, 18(1), 57-66.
Blog
https://core.ac.uk/download/pdf/77624475.pdf Diakses pada tanggal 19 Maret 2021 pukul 17.59 WITA.
http://pendapathukum.blogspot.co.id/2014/01 diakses pada tanggal 19 Maret pukul 22.00 WITA
https://www.suduthukum.com/2016/09/pengertian-dan-bentuk-bentuk- sanksi.html/ diakses 27 Maret 21.26 WITA
http://id.wikipedia.org/wiki/Farmasi (27 maret 22:13WITA)
http://irwaaan.blogspot.co.id/2013/11/metodologi-penelitian-hukum.html, dikases pada tanggal 17 Agustus 2021, pukul 22.39 WITA .
https://id.scribd.com/document/39558763/Jenis-Jenis-Hukuman-Menurut-KUHP www.legalitas.org, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), hlm. 12.
L A M
P
I
R
A
N
1. Lampiran Surat keterangan Telah Melaksanakan penelitian
Lampiran 2. Dokumentasi Wawancara Bersama Hakim