• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen Vol. 5 No. 1 Januari 2017 (Halaman 82-86)

Tinggi

E. PEMBAHASAN

V. PENUTUP

1094 Kewarganegaraan dengan Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan program kurikuler di sekolah yang terdiri dari PKn sebagai mata pelajaran di dalam kelas (intrakurikuler) dan PKn dalam kegiatan di luar kelas (ekstrakurikuler).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sekolah memiliki peranan untuk mengembangkan nilai cinta damai untuk mencegah bullying yang salah satunya melalui mata pelajaran PKn di dalam kelas. Pelajaran yang bisa didapat siswa melalui pengalaman belajar mata pelajaran PKn di dalam kelas dalam mengembangkan nilai cinta damai contohnya antara lain adalah perilaku kemerdekaan mengemukakan pendapat dengan tidak anarki, berbuat baik kepada sesama, serta memecahkan masalah dengan jalan bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan lain-lain, sehingga dalam hubungan interaksinya siswa mampu untuk hidup berdampingan dan menyelesaikan masalah dengan cara damai dan anti kekerasan. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa siswa tahu nilai moral yang didapat dari mata pelajaran PKn sehingga sadar dan melaksanakan nilai- nilai tersebut dalam keseharian.

Sehingga dapat dikatakan bahwa PKn memiliki kaitan atau hubungan dengan upaya pengembangan nilai cinta damai untuk mencegah bullying di sekolah dalam rangka membentuk karakter kewaranegaraan, yaitu sebagai mata pelajaran di dalam kelas yang memiliki dampak instruksional karena PKn berisi materi-materi yang potensial untuk membentuk karakter kewarganegaraan siswa yang cinta damai dan anti kekerasan.

Dampak tersebut akan terus berlangsung di luar kegiatan belajar mengajar yang biasa disebut dengan dampak pengiring yang bisa dilihat dari keseharian siswa baik itu dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun kegiatan pembiasaan lainnya.

Selain di dalam kelas, PKn juga

memiliki kaitan erat dengan kegiatan di luar kelas seperti kegiatan ekstrakurikuler.

Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno yang mengatakan bahwa Pendidikan kewarganegaraan memiliki kaitan erat dengan kegiatan ekstrakurikuler sebab keduanya memiliki tugas mengembangkan karakter warga negara muda... . Disamping itu kegiatan ekstrakurikuler dapat dimanfaatkan untuk memperkaya bidang pendidikan kewarganegaraan yang mencakup program kurikuler, gerakan sosial kultural dan kajian ilmiah” (2009:

25).

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler memiliki kaitan yang erat dengan PKn yaitu dalam upaya mengembangkan karakter warga negara.

Melaui kegiatan ekstrakurikuler, siswa akan memperoleh pengajaran nilai melalui pengalaman langsung berupa kegiatan- kegiatan yang mendukung pengembangan nilai. Sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dan PKn yang diadakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan prestasi akademik siswa. Melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa akan terbiasa untuk bekerjasama, bantu- membantu, peduli sosial, kekeluargaan, menjaga keselamatan diri dan orang lain, mengutamakan kepentingan bersama, musyawarah yang akhirnya akan mendukung pembentukan karakter cinta damai selama tidak mengandung misalnya hukuman berupa kekerasan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler pula siswa akan dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih positif dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang merugikan seperti merokok, nongkrong, bahkan tawuran.

1095 telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik suatu kesimpulan guna menjawab perumusan masalah. Adapun kesimpulan peneliti adalah sebagai berikut :

1. Upaya pengembangan nilai cinta damai untuk mencegah bullying di SD Negeri Begalon II Surakarta.

Pelaksanaan pengembangan nilai cinta damai untuk mencegah bullying di SD Negeri Begalon II Surakarta dilakukan melalui:

a. Kegiatan pembelajaran di dalam kelas.

Pengembangan nilai cinta damai di dalam kelas dilakukan dengan mencantumkan nilai cinta damai tersebut di dalam perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) seperti pada mata pelajaran PKn.

Sedangkan pada mata pelajaran lain seperti fisika nilai cinta damai tidak masuk dalam perangkat pembelajaran, namun dengan tidak dimasukkannya nilai cinta damai dalam perangkat pembelajaran,

guru tetap berusaha

mengembangkan nilai cinta damai tersebut dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menyenangkan yang membuat siswa merasa nyaman, selain itu guru juga memberikan teladan yang baik melalui tutur kata, sikap dan perilaku yang cinta damai.

b. Kegiatan di luar kelas.

Dalam hal ini siswa akan memperoleh pengajaran nilai melalui pengalaman konkrit berupa kegiatan-kegiatan yang mendukung pengembangan nilai.

Kegiatan-kegiatan di luar kegiatan belajar mengajar tersebut antara lain adalah kegiatan pengembangan diri seperti BK, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan upacara, sholat berjamaah, dan

kegiatan kajian rutin keagamaan.

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut siswa dapat memperoleh beberapa manfaat antara lain adalah meningkatkan rasa solidaritas atau kebersamaan, kerjasama, minat dan bakat siswa tersalurkan, memperoleh banyak teman, meningkatkan rasa kepedulian, semangat gotong royong, dan lain sebagainya.

c. Budaya sekolah

Budaya sekolah dilaksanakan dalam kegiatan interaksi antar warga sekolah baik saat proses belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas termasuk di luar sekolah. Untuk mengatur interaksi antar warga sekolah, sekolah memiliki seperangkat aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang menjadi budaya sekolah. Budaya sekolah yang berkembang untuk mengembangkan nilai cinta damai dan mencegah bullying atau kekerasan di SD Negeri Begalon II Surakarta yang tertulis dan juga dilaksanakan antara lain adalah budaya malu, budaya 5S dan budaya 7K.

Adapun cara yang dilakukan untuk mengembangkan nilai cinta damai untuk mencegah bullying dalam rangka membentuk karakter kewarganegaraan antara lain yaitu dengan keteladanan guru, pengkondisian dengan cara menegakan tata tertib/ peraturan, kegiatan spontan dengan menegur siswa yang salah, pembiasaan, terintegrasi ke semua mata pelajaran dan internalisasi dalam setiap kegiatan.

2. Faktor pendukung dan penghambat pengembangan nilai cinta damai untuk mencegah bullying di sekolah.

1096 Faktor pendukung pelaksanaan pengembangan nilai cinta damai di SD Negeri Begalon II Surakarta antara lain adalah:

a. kesadaran warga sekolah untuk menerapkan nilai-nilai positif dalam berbagai kesempatan dan kegiatan baik di kelas maupun di luar kelas.

b. berkembangnya nilai-nilai positif yang menjadi budaya sekolah dalam setiap kegiatan

c. peran guru dalam membimbing dan mengawasi siswa untuk menjaga kerukunan dan kedamaian,

d. materi pelajaran yang mendukung dan kaya akan nilai,

e. tata tertib dan penegakkan kedisiplinan yang melarang tindakan kekerasan,

f. kedekatan dan komunikasi yang efektif antara guru dengan guru maupun guru dengan siswa, dan g. kerjasama antar warga sekolah

maupun masyarakat.

Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan pengembangan nilai cinta untuk mencegah bullying di sekolah damai antara lain adalah:

a. Kondisi siswa yang masih labil dan memiliki kontrol diri yang lemah.

b. Guru yang kurang inovatif dalam mengembangkan pembuatan silabus dan RPP.

c. Faktor lingkungan yaitu lingkungan keluarga yang tidak harmonis dan pergaulan yang kurang baik

d. Kurangnya pengawasan dari orang tua dan guru mengenai pergaulan siswa jika berada di rumah atau di luar sekolah.

e. Pengaruh negatif teknologi, seperti tayangan sinetron yang kurang

mendidik.

f. Masih minimnya pengetahuan tentang bullying atau kekerasan.

DAFTAR PUSTAKA

Assegar, Abd. Rahman. (2004).

Pendidikan Tanpa Kekerasan Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Astuti, P. R. (2008). Meredam Bullying: 3 Cara Efektiff Mengatasi Kekerasan Pada Anak. Jakarta:

PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Budimansyah, Dasim. (2010). Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

Djaali. (2009). Psikologi Pendidikan.

Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. 2002.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak. Jakarta:

Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:

Depdiknas.

Goleman, Daniel. (2002). Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Hadjam, Noor Rochman M., dan Wahyu Widhiarso. (2003). Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace and Anti Violance). Jakarta:

Direktorat Jenderal.

Hajaroh, Mami, L. Andriani, Purwastuti, Rukiyati, dan Ariefa Efianingrum. (2011).

Pelatihan Respect Education (In-House Training) Untuk Mencegah Bullying di Sekolah

1097 Dasar Kawasan Beresiko.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Herimanto dan Winarno. (2010). Ilmu Sosial & Budaya Dasar.

Jakarta: Bumi Aksara.

Moleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muchlis, Masnur. (2011). Pendidikan

Karakter: Menjawab

Tantangan Krisis

Multidimensional. Jakarta:

Bumi Aksara.

Mulyana, Rohmat. (2004).

Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND.

Bandung: Alfabeta.

Sutopo, H.B. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Surakarta: UNS Press.

Tim Yayasan Semai Jiwa Amini SEJIWA.

(2008). Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak.

Jakarta: PT Grasindo.

Wijianto, Winarno. (2010). Ilmu Kewarganegaraan Dalam

Konteks Pendidikan

Kewarganegaraan (Ikn-Pkn).

Surakarta: UNS Press.

Winarno, Budi. (2007). Kebijakan Publik:

Teori dan Proses. Yogyakarta:

Med Press.

Winarno, dkk. (2009). Teknik Evaluasi Multimedia Pembelajaran.

Yogyakarta: Genius Prima Media.

1098

MENGANGKAT KEMBALI EKSISTENSI KARANG TARUNA

Dalam dokumen Vol. 5 No. 1 Januari 2017 (Halaman 82-86)