• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data dan Analisis Data

BAB IV Penyajian Data dan Analisis Data

B. Penyajian Data dan Analisis Data

3 Meja Baik 1

4 Peta Desa Gugut Baik 1

5 Sound Baik 2

d. Kartu pemimjaman perpustakaan desa gugut Gambar 2.2

Kartu peminjaman perpustakaan desa Gugut

peralihan data dengan berbagai metode yang dipakai mulai data yang umum hingga data yang khusus. Pada akhirnya sampai pada pembuktian data, karena data yang diperoleh sudah dianggap representatif dan telah sampai pada kejenuhan data.

Secara berurutan akan disajikan data-data hasil penelitian yang ditemukan di lapangan yang mengacu pada fokus masalah yang telah disampaikan pada bagian fokus masalah. Berikut pemaparan dari hasil penelitian selama kurang lebih 30 hari:

1. Tujuan mewujudkan masyarakat gemar membaca melalui pengadaan perpustakaan desa di Desa Gugut

Dalam setiap pelaksanaan suatu kegiatan yang dilakukan, tentunya terdapat tujuan yang hendak dicapai. Tujuan merupakan bagian dari perencaan sutau kegiatan. Tujuan merupakan sesuatu yang hendak dicapai dan diraih dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Dengan adanya tujuan yang jelas maka pelaksanaan kegiatan akan sesuai dengan rencana yang telah disusun.

Sama halnya dengan Desa Gugut yang memiliki tujuan.

Tujuan tersebut yakni menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Masyarakat yang memiliki minat baca yang tinggi yang mampu memberikan kontribusi yang lebih bagi Desa Gugut melalui hasil membaca.

Mengenai hal yang berkaitan dengan mewujudkan masyarakat gemar membaca, maka penulis berusaha untuk mendapatkan data secara langsung dan sumber data yang ada di Desa Gugut Rambipuji Jember.

Sumber data tersebut meliputi data hasil wawancara dengan Kepala Desa, Sekertaris Desa sekaligus sebagai penanngung jawab perpustakaan desa, dan masyarakat Desa Gugut. Wawancara yang dilakukan besifat santai, tanpa mengganggu aktifitas subyek. Selain data dari hasil wawancara, peneliti juga menggunakan data dari hasil observasi dan dokumentasi, baik dokumentasi dari pihak balai desa maupun dokumentai yang diperoleh sendiri oleh peneliti pada saat proses pengumpulan data.

Mewujudkan masyarakat gemar membaca sangat penting untuk dilakukan untuk menunjang Desa yang menjadi lebih baik.

Dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik maka masyarakat mampu memberikan sumbangsih yang lebih besar dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi desanya. Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Nurul Mustofa selaku penanggung jawab perpustakaan desa dan sekarang menjabat sebagai Sekertaris Desa yang menyatakan bahwa:

“Yang jelas, tujuannya yang pertama untuk mengajarkan kepada masyarakat untuk membiasakan membaca. Dengan membiasakan membaca maka SDM (Sumber Daya Manusia) juga meningkat dan berkembang, baik masalah umum maupun agamanya, terlebih disini itu ada buku yang menyangkut tentang sholat, puasa. Kalau mengenai usia, disini segala usia mulai dari anak-anak, pelajar sampai yang dewasa. Kan disini

koleksinya beragama, ada koleksi buat anak-anak juga disini.

Iptek juga ada, bisnis juga ada. Jadi segaala usia lah.”66

Mengenai daftar buku-buku yang ada di perpustakaan desa yang ada di Desa Gugut baik dalam bidang ilmu keagamaan maupun dalam bidang ilmu pengetahuan umum ataupun sains dapat dilihat pada lampiran 8.

Lebih lanjut bapak Nursalim selaku Kepala Desa Gugut menambahkan bahwa:

“Kalau tujuannya sebenernya itu untuk mengajak masyarakat belajar membaca dan membiasakan membaca. Dari membiasakan membaca itu, masyarakat itu bertambah lagi pengetahuannya. Terlebih lagi inginnya itu agar masyarakat seneng membaca biar nanti dapat meningkatkan pendapatannya dan bisa membangun desanya ini. Disini kan banyak buku tentang masalah agama juga ada, peternakan, perikanan juga ada. Ya mungkin, masyarakat itu belajarnya melalui membaca buku-buku itu. Sehingga nantinya masyarakat juga lebih cerdas dan pintar lagi dalam mengolah informasi. Bisa dikatakan biar cinta sama buku. Disini itu, masyarakat lebih banyak membaca itu tentang usaha-usaha dan bisnis.”67

Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah direcanakan dan diinginkan, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk turut mensukseskan kegiatan tersebut, khususnya dari pihak masyarakat.

Terlebih lagi perpustakaan desa ini dapat dikatakan baru bagi kalangan masyarakat desa.

66 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

67 Nursalim, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

Berikut ini pemaparan dari Eko Wahyudi sebagi salah satu masyarakat Desa Gugut tentang keberadaan perpustakaan desa yang menyatakan bahwa:

“Ya, kalau saya responsnya positif sekali mbk. Malah bagus sekali untuk masyarakat mbk. Soalnya kan dengan adanya perpustakaan desa, saya dan masyarakat tidak perlu bingung lagi kalau mau baca buku. Jadi hanya tinggal pergi ke balai desa saja. Kalau tujuan yang sebenernya saya sich kurang tau mbk. Soalnya kan bukan petugas balai desa. Akan tetapi sebgai masyarakat. Menurut saya, tujuannya ya agar masyarakat desa gugut itu lebih cerdas lagi dalam menata hidup kedepannya dengan cara membaca buku. Ea terutama dengan buku yang menyangkut tentang keagamaan. Kita tau sendiri lah bagaimana dunia sekarang. Zamanya sudah modern. Beda dengan waktu saya masih kecil yang tidak tau tentang hp. Kalau sekarang mah, anak SD aja sudah pada pegang hp. Ea kita tau, kalau hp itu banyak sekali hal-hal negatif. Kalau tidak pintar-pintar memilah informasi, tentu pasti akan berbahanya. Maka dari itu, sangatlah penting untuk rajin-rajin membaca, terutama buku tentang keagamaan. Jadi nantinya masyarakat itu jadi lebih cerdas dalah memilih informasi dan dapat meningkatkan kualitas dirinya serta mampu menjadi benteng bagi dirinya agar tidak mudah terpengaruh. Apalagi sekarang banyak berita yang hoax”68

Selain respons positif, terdapat pula respons yang kurang berkenang dari masyarakat mengenai perpustakaan desa. Salah satunya yakni para remaja yang tidaka melanjutkan sekolah ke jenjang yag lebih tinggi, yang lebih mementingkan bekerja dan menikah di usia muda.

Berikut pemaparan salah satu contoh remaja yang menikah setelah lulus Sekolah Dasar:

“Kalau saya mah, udah tidak mikirin ke perpustakaan mbak, saya sudah mikirin anak saya. Gimana mau mikirin ke sana, lawong saya sudah punya anak begini mbk, apalagi saya sudah

68 Eko Wahyudi, wawancara, Rumah Warga Desa Gugut, 23 Maret 2018.

nggak ada kepentingan buat kesana. Sekarang yang saya pikirin itu, cuma masalah uang belanja, uang jajan anak. Gitu mbak”69

Berdasarkan pemaparan para narasumber, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan dari mewujudkan masyarakat gemar membaca melalui pengadaan perpustakaan desa di Desa Gugut yakni lebih mengarah kepada tujuan untuk meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) baik secara umum maupun agama, kesenangan, memperbaharui pengetahuannya, dan untuk mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui.

2. Pelaksanaan dalam mewujudkan masyarakat gemar membaca melalui pengadaan perpustakaan desa di Desa Gugut

Pelaksanaan merupakan kegiatan inti dalam tahap suatu kegiatan. Pelaksanaan yang baik akan memudahkan untuk lebih cepat mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Sebagai suatu kegiatan yang dikembangkan dan dilakukan oleh pihak balai desa, perpustakaan desa memiliki waktu-waktu pelayanan bagi masyarakat yang akan membaca di perpustakaan tersebut. Pelayanan ini dilakukan agar tidak menggangu aktifitas kegiatan lain yang dilakukan oleh pihak balai desa. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Misran selaku staf yang ada di balai menyatakan bahwa:

“Kalau perpurtakaan ini dhuk, buka itu setiap hari mulai dari Senin sampai Jum’at, kecuali ya hari Sabtu dan Minggu. Jam kantor gitu dhuk. Tapi kalau tanggal merah, perpustakaannya juga tutup. Kan mengikuti dari jadwal kerjanya orang balai.

69 Anisa Yuliana, wawancara, Rumah Warga Desa Gugut, 30 Juni 2018.

Nah kalau masalah jam itu ya seperti jam kantor, dimulai dari jam 08.00 sampai dengan jam pulang sekitar 13.00.”70

Lebih lanjut bapak Sun Hariyanto selaku Bapak Kasun pada wilayah Jereng Barat menambahkan bahwa:

“Kalau masalah perpustakaan itu bukannya jam berapa, jam jelas itu sama jam kantor di balai desa dhuk. Kan yang pegang kuncinya itu pak Sekdes, jadi nanti dia yang buka dhuk. Ya sukur-sukur nanti ada pak Kepala Desa, nanti bisa ditemenin.

Walaupun pak Kepala Desa masih belum dateng atau ada urusan lain, ya tetep nanti sama pak Sekdes tetep dibuka.

Kalau jam pulang itu, biasannya jam pulang kantor itu, kalau wes sudah waktunya pulang, maka secara otomatis perpustakaannya juga tutup dhuk. Kan sudah tidak ada orang disini. Nanti ea dhuk, kalau ada masyarakat yang ke perpustakaan desa, kayak smean ini. Nanti sama pak sekdesnya ditemenin dhuk, jadi dibantu apa yang dicari itu.”71

Selain jam buka perpustakaan, yang tidak kalah penting yakni dalam akses pemimjaman buku yang di lakukan oleh pustaka ke pihak balai desa. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Nurul Mustofa selaku penanggung jawab perpustakaan desa dan sekarang menjabat sebagai Siketaris Desa mengenai cara peminjaman, yang menyatakan bahwa:

“Pelaksanaannya dalam meminjam buku itu mula-mulanya dicatat, mulai tanggal-tanggal pemimjam, terus identitas peminjam, terus nanti kalau sudah dikembalikan kesini dicatat juga. Entah itu tentang masalah ternak lele, atau ternak apapun.

Jadi buku yang dipinjam tidak hilang, kalau tidak di register gimana, bisa-bisa tidak dikembalikan lagi bukunya. Kalau tidk dikembalikan nanti hanya tinggal raknya saja. Kalau disini struktur kepengurusan perpustakaan desa itu masih belum ada soalnya juga kan itu, kurang tenanganya. Jadi kalau memang ada masyarakat yang ada ke perpustakaan desa, nanti dilayani sama orang-orang yang ada di balai desa.”72

70 Misra, wawancara, Balai Desa Gugut, 21 Maret 2018.

71 Sunhariyanto, wawancara, Balai Desa Gugut, 23 Maret 2018

72 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

Hal yang kalah penting, dalam pelaksanaan suatu kegiatan yakni pada bagian mengelola perpustakaan itu sendiri. Jadi bukan hanya operasionalnya saja, melainkan lebih kepada manajemen pengelolaan yang dilakukan oleh pihak penanggung jawab kegiatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Berikut pemaparan Bapak Nurul Mustofa selaku penanggung jawab perpustakaan desa dan sekarang menjabat sebagai Siketaris Desa mengenai pengelolaan koleksi buku yang ada di perpustakaan desa Gugut, yang menyatakan bahwa:

“Di perpustakaan desa Gugut ini, yang mengelola perpustakaan itu, yang jelas semua pihak balai desa ini. Tapi kalau yang lebih di berikan tanggung jawab penuh untuk mengelola perpustakaan ini saya. Yang menata buku-buku yang ada disini itu, ya saya, tapi saya juga dibantu sama pegawai balai desa yang lain untuk menata bukunya. Jadi kalau semisal ada yang mengembalikan buku yang telah dipinjam itu, kalau tidak ada saya, nanti bukunya ditaruh dia tas meja saya, nanti saya yang taruh kembali di raknya yang sesuai sama kode bukunya. Kalau masalah kode buku itu, kodenya sudah ada lansung di bukunya sejak buku itu di berikan ke perpustakaan desa ini. Jadi kami pihak balai desa Gugut, hanya tinggal menerima saja. Dulu itu, pas waktu ada bantuan dari pihak perpustakaan provinsi tahun 2016, kami semua yang ada di sini itu, hanya tinggal menerima bukunya itu lengkap dengan kodenya, trus rak buku itu sama itu daftar tentang buku-bukunya itu. Tapi dulu itu daftar bukunya, hanya pake kertas dan belum sempat disalin, jadi sekarang hilang sudah daftarnya.”73

Selain pengelolaan koleksi buku yang ada di perpustakaan desa Gugut, Bapak Nurul Mustofa juga menambahkan mengenai pelayanan yang dilakukan oleh pihak balai desa kepada masyarakat yang hendak mengunjungi perputakaan desa Gugut, baik itu hanya untuk membaca

73 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 07 Juli 2018.

ditempat ataupun ingin meminjam buku. Berikut pemaparan Bapak Nurul Mustofa yang menyatakan bahwa:

“Kalau tentang pelayanaannya, kami disini pihak balai desa saling bahu membahu untuk melayani masyarakat yang ingin membaca maupun meminjam buku disini. Jadi tidak melulu saya yang melayani, kalu saya tidak ada di tempat, maka pegawai lain yang ada disini yang melayani masyarakat. Jam pelayananya sesuai dengan jam buku perpustakaan.

Pelayanannya ya, kami pihak balai desa kalau ada masyarakat yang kesini, kami memberitahukan macem-macem koleksi yang ada disini itu apa saja, terus kami juga membantu masyarakat, mereka inginnya membaca buku apa. Nah nanti, kami bantu memncari letak bukunya itu dimana”74

Hal penting lainnya, yang tidak kalah penting dalam pengelolan perpustakaan, selain pengelolaan buku koleksi dan layanan, yakni pada bagian adaministrasi. Berikut pemaparan Bapak Nurul Mustofa yang menyatakan bahwa:

“Kalau masalah administrasi, seperti data-data tentang buku yang dipinjam, daftar hadir, itu memang tidak ada. Di sini masyarakat, mau membaca silahkan, tinggal baca saja tanpa perlu mengisi apapun disini. Tapi kalau mau meminjam, itu yang memerlukan KTP. Kami disini sudah sangat bersyukur ada masyarakat yang mau membaca disini, nanti kalu masih disuruh ngisi ini itu, malah kabur semua yang mau membaca disini. Kan orang-orang disini enggak mau ribet. Sebetulnya disini itu, belum ada struktur yang jelas mengenai kepengurusan perpustakaan desa Gugut ini. Akan tetapi walaupun begitu, kami saling bahu-membahu untuk mengajak masyarakat desa Gugut untuk selalu mengunjungi perpustakaan desa ini, agar nantinya tujuan awal yakni untuk meembuat dan membiasakan masyarakat agar senang membaca dapat terwujud”75

Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di perpustakaan desa Gugut ditemukan bahwa:

74 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 07 Juli 2018.

75 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 07 Juli 2018.

“Memang di perpustakaan desa Gugut ini, buka dari jam 08.00 sampai 13.00 dari hari Senin sampai Jum’at. Lalu pemimjaman bukunya melalui KTP (Kartu Tanda Penduduk). Akan tetapi, saat proses pemimjaman dan kehadiran para pembaca tidak dibukukan secara resmi oleh pihak balai desa. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa pihak balai desa yang menjadi penanggung jawab dari perpustakaan desa hanya menggunakan secarik kertas untuk mendata para pembaca yang berkeinginan untuk membaca, setelah pembaca mengembalikan bukunya, maka secarik kertas tersebut langsung dibuat begitu saja, tanpa perlu diansipkan secara khusus untuk dijadikan data pihak petugas balai desa tentang kehadiran dan pemimjaman buku di perpustakan desa Gugut”76

Untuk menunjang tercapainya tujuan yang diinginkan, maka suatu kegiatan harus memiliki daya tarik tersendiri atau faktor-faktor yang mendukung dalam menunjang keberhasilan suatu kegiatan. Faktor- faktor pendukung inilah yang nantinya bisa menjadi jalan untuk mewujudkan tujuan yang telah direncanakan. Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Nurul Mustofa selaku penanggung jawab perpustakaan desa dan sekarang menjabat sebagai Siketaris Desa yang menyatakan bahwa:

“Kalau faktor pendukungnya itu ya kemudahan pelayanannya itu, kan bisa dibawa pulang misalnya sungkan kalau mau membaca disini bisa dibawa pulang dalam jangka waktu kurang lebih satu minggu.”77

Selain ada faktor yang mendukung. Dalam pelaksanaan suatu kegiatan, tidak akan terlepas dari hambatan yang nantinya dapat dapat menjadi rintangan bagi terwujudnya tujuan yang telah direncanakan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Nurul Mustofa selaku

76 Observasi, Balai Desa Gugut, 22 Maret 2018

77 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

penanggung jawab perpustakaan desa dan sekarang menjabat sebagai Sekertaris Desa yang menyatakan bahwa:

“Hambatannya kalau dari sisi balai desa itu karena keterbatasan gedung, jadi untuk membaca itu tidak memadai.

Kalau dari masyarakat sendiri malah sangat antusias sekali, malah banyak peningkatan dalam hal SDM (Sumber Daya Manusia). Tapi ya gitu, masyarakat itu sedikit banyak yang sungkan kalau membaca disini karena kan perpustakaannya menjadi satu dengan ruangnnya Pak Kades. Jadi banyak yang dibawa pulang.”78

Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukanlah harapan yang nantinya dapat mengatasi hambatan yang ada. Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Nursalim selaku Kepala Desa di Desa Gugut yang memberikan harapan untuk dilakukan kedepannya. Berikut hasil wawancaranya yang menyatakan bahwa:

“Rencana desa itu ya masih nunggu anggaran data dulu tahun ini, untuk membangun bagunan perpustakaan desa sendiri, tapi kan masih menunggu datanya. Mulai dari fasilitas seperti meja, kursi dan tempat membaca. Kan itu membangun seperti itu kan banyak dananya, apalagi khusus untuk ruang perpustakaan desa. Jadi butuh bantuan dari anggaran dari pemerintah, tidak mungkin dari swadaya masyarakat. Hitungannya ada yang membaca kesini saja sudah sangat untung sekali. Jadi sangat tidak mungkin kalu hasil dari swadaya masyarakat.”79

Hal serupa juga disampaikan oleh salah satu masyarakat Desa Gugut mengenai harapan kedepan yang mengenai perpustakaan desa yang ada di desanya. Berikut pemaparan dari Jimmy Kevin selaku salah satu masyarakat Desa Gugut yang menyatakan bahwa:

“Harapannya saya untuk kedepannya itu ya dhek, itu perpustaakaan kalau bisa berdiri di satu ruangan khusus gitu,

78 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

79 Nursalim, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

jangan dijadikan satu sama ruangannya pak Kepala Desa. Kan tidak enak dek, ada perasaan gimana gitu ya kalau pas satu ruangan. Trus itu lagi dek, apa ya penataan buku-bukunya itu lagi lebih dibuat rapi lagi sama kalau bisa koleksi bukunya itu di tambahkan lagi, jadi biar banyak variasinya gitu dek.”80 3. Strategi untuk mewujudkan masyarakat gemar membaca melalui

pengadaan perpustakaan desa di Desa Gugut

Dalam pelaksanaan suatu kegiatan, pasti di dalamnya terdapat strategi yang dilakukan untuk mencapi tujuan yang diinginkan. Strategi yang digunakan untuk lebih menarik masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan desa untuk membaca. Berikut ini adalah strategi-strategi yang dilakukan oleh pihak balai desa untuk menarik masyarakat untuk membaca di perpustakaan desa:

a. Sosialisasi secara langsung kepada masyarakat

Sosialisasi secara langsung kepada masyarakat merupakan langkah awal yang dilakukan oleh pihak balai desa untuk menarik masyarakat Desa Gugut untuk datang membaca di perpustakaan desa. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Nurul Mustofa selaku penanggung jawab perpustakaan desa dan sekarang menjabat sebagai Sekertaris Desa menyatakan bahwa:

“Strateginya yang terutama dilakukan itu yakni dengan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat. Kalau di balai desa itu ada perpustakaan desa. Jadi begini para Kasun di tiap kampung itu memberi tahu kepada masyarakat, kalau masyarakat butuh buku apa-apa apapun coba dicari dulu di perpustakaan desa. Jadi tidak perlu perlu pergi dan mencari keluar ataupun kemana-mana. Kan di perpustakaan desa ini, bukunya bisa dipenjem. Kadang kalau ada anak-anak yang

80 Jimmy Kevin, wawancara, Rumah Warga, 26 Maret 2018.

membaca kesini, kalau kebetulan ada Pak Kades, maka sama Pak Kades dibelikan minuman gitu”81

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh salah satu masyarakat desa Gugut yang diajak untuk berkunjung secara langsung oleh pihak balai desa ke perpustakaan desa yakni Eko Wahyudi yang menyatakan bahwa:

“Oh, kalau promosi itu sepengetahuannya saya, masih belum ya mbak. Tapi, setiap ada penyuluhan tentang sispenduk atau masalah kependudukan itu mbk. Kayak itu, untuk meminta KK. Nah disana, kan yang meminta itu, paka kasun yang dibantu RT ke rumah warga. Nah pada waktu itu mbak, pak kasun itu bilang mengenai perpustakaan desa. Jadi jangan cari buku kemana-mana dulu. Kalau ada apa-apa coba cari dulu ke perpustakaan desa. Mungkin ada. Gitu katanya mbk. Jadi hanya sekedar sosialisasi aja ke masyarakat mbk. Tidak ada promosi.

Cuma sosialisasi aja. Mungkin untuk kedepannya bisa dengan cara yang lain.”82

Dari pemaparan dari Seketaris Desa dan salah satu masyarakat Desa Gugut, sudah sangat jelas bahwa strategi dengan sosialisasi secara langsung yang dilakukan pihak balai desa kepada masyarakat cukup efektif untuk mengajak masyarakat Desa Gugut ikut berpartisipasi di dalam perpustakaan desa. Berpartisipasi untuk datang dan membaca koleksi buku yang telah disediakan.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti ketika sedang wawancara kepada salah satu warga Desa Gugut, secara tidak disengaja dengan pihak Pak Kasun di Dusun Jereng Barat yang sedang meminta Kartu Keluarga:

81 Nurul Mustofa, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

82 Eko Wahyudi, wawancara, Rumah Warga Desa Gugut, 23 Maret 2018.

“Ketika itu bapak Kasun dari Dusun Jereng Barat meminta surat KK untuk menyeleksi tentang data calon pemilihan pada yang akan datang. Kemudian setelah selesai mencapai, bapak Kasun tersebut menyampaikan bahwa di balai desa itu ada perpustakaan. Bisa dilihat disana, terlebih lagi kalau anak-anakmu ada PR bisa di ajak kesana buat cari buku.

Mungkin ada. Jadi jangan cari keluar dulu. Nanti sampaikan juga ke tetangga yang lain. Seperti itulah sedikit penuturan dari bapak Kasun tersebut.”83

b. Pengajian dan neon books

Langkah berikutnya yang dilakukan oleh pihak balai desa yakni dengan mengumumkan kepada masyarakat melalui pengajian dan neon books. Pengajian dijadikan sebagai salah satu strategi untuk menyampaikan kepada masyarakat akan perpustakaan desa yang ada di balai desa. Selain itu dengan adanya neon books yang memudahkan masyarakat untuk membaca bahawa di balai desa ada perpustakaan. Berikut hasil wawancara dengan bapak Nursalim selaku Kepala Desa di Desa Gugut yang menyatakan bahwa:

“Ya, lewat pengajian. Jadi setiap ada kegiatan bagi masyarakat ya nanti kita selingi untuk memberitahukan keberadaan perpustakaan yang ada dibalai desa ini. Selain itu juga pake neon books. Jadi kalau orang-oarang lewat disini, kan bisa tahu kalau dibalai desa ini memiliki perpustakaan. Kalau seperti sayembara membaca buku, promosi itu masih belum. Kalau dulu itu, pas waktu ada anak-anak KKN itu ada agenda belajar sore. Jadi secara otomatis banyak anank-anak yang belajar disini, akan tetapi bukunya tidak boleh dibawa pulang dan harus dibaca disini.

Nah dari situ kan banyak anak-anak yang saling ngajak temen-temennya yang lain untuk membaca disini.”84

83 Observasi, Rumah Warga di Desa Gugut, 23 Maret 2018.

84 Nursalim, wawancara, Balai Desa Gugut, 15 Maret 2018.

Dokumen terkait