• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data dan Analisis

66

bantuan untuk tetap optimis dalam menjalankan hari-harinya untuk meningkatkan permasalahan ekonomi yang dihadapinya sebagai kepala keluarga untuk anak pertamanya dan dia tidak ingin membebani kedua orang tuanya lagi.

Akibat perilaku suaminya yang melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kehidupan pernikahannya menjadi berubah, sering terjadi pertengkaran dan berimbas kepada anaknya, bahkan sampai saat ini, anaknya belum mengetahui jika kedua orang tuanya sudah berpisah. Saat suami konseli marah, dia langsung menjatuhkan talak 3 kepada konseli. Semenjak saat itu, konseli memutuskan untuk merawat anak pertamanya dan tinggal bersama kedua orang tuanya, namun, masalah pendidikan anaknya masih menjadi tanggung jawab suaminya. Walaupun, beban ekonomi untuk pendidikan anaknya sudah ditanggung oleh suaminya, namun konseli juga memiliki tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan harus dapat berdaptasi dengan keadaan konseli saat ini.68

1. Pelaksanaan proses konseling feminis dengan teknik assertive training untuk pemberdayaan perempuan kepala keluarga dalam meningkatkan ekonomi keluarga di Desa Wringinrejo Kabupaten Banyuwangi.

Konseling feminis suatu bantuan yang dilakukan untuk pemberdayaan, menghargai perbedaan, berusaha melakukan perubahan (dari pada hanya sekedar penyesuaian), kesetaraan, menyeimbangkan independensi, perubahan sosial, serta self nurturance (penyesuaian diri). Pada level individual, konselor feminis bekerja untuk membantu para perempuan dan pria agar mengenali, menuntut, serta mendapatkan power personal mereka. Pemberdayaan konseli adalah inti dari konseling ini, yang artinya tujuan jangka panjang konseling. Dengan diberdayakan, konseli akan mampu membebaskan dirinya sendiri dari ikatan-ikatan peran gender serta dapat menantang tekanan-tekanan institusional atas dirinya. Dalam penelitian ini, meneliti proses konseling feminis dengan menggunakan teknik assertive training yaitu penerapan latihan tingkah laku sasaran membantu individu pada mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.

Menurut Ibu Sururin Nafi’ah S.Pd.I selaku penyuluh agama Kecamatan Gambiran atau sebagai konselor dalam penelitian ini mengatakan bahwa:

“Dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi konseli ini, konseling feminis dengan teknik assertive training memang paling tepat digunakan karena fokusnya adalah mempraktekkan melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperolah sehingga individu- individu diharapkan mampu mengatasi ketidak memadaiannya dan belajar mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih

68

terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi- reaksi yang terbuka itu. Apalagi dalam penelitian ini konselor membantu konseli dalam meningkatkan ekonomi melalui latihan assertif tersebut”.69

Setelah melihat bentuk-bentuk perilaku yang ditujukan konseling dari beberapa wawancara dan proses konseling yang telah dilakukan, konselor memberikan konseling kepada konseli sesuai masalah-masalah yang dihadapi konseli tersebut. Maka, langkah konselor dalam proses konseling keluarga dengan teknik assertive training adalah sebagai berikut :

a. Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil wawancara dengan konselor, maka langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui masalah konseli (yang mencakup kejadian, pikiran, perasaan yang dialami konseli) serta faktor-faktor yang melatar belakangi persoalan, dan tanda-tanda yang tampak serta akibat yang dihadapi oleh konseli. Dalam menggali persoalan konseli tersebut, konseli melakukan kunjungan rumah konseli (home visit) untuk mengetahui perihal aktivitas atau kegiatan konseli saat berada di rumah. Serta melakukan wawancara serta observasi pada konseli, ibu konseli, ayah konseli, anak konseli dan tetangga konseli.

Dari situlah akan tampak gejala apa saja yang menjadi data penting untuk konseli dan peneliti untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi konseli. Adapun langkah-langkah yang dilakukan konselor supaya dapat memperoleh data mengenai konseli dilakukan dalam beberapa waktu.

Berikut artinya hasil dari identifikasi masalah :

69 Sururin.Nafi’ah, wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

1) Wawancara dan Observasi dengan Konseli Pertama

Siang itu, Konselor dan peneliti datang ke rumah konseli untuk melakukan proses konseling. Pada saat itu, konseli sedang berada di rumah bersama ibunya dan anaknya. Ketika konselor datang, konseli dan ibunya baru saja pulang dari sawah, ayahnya msih berada di sawah dan anaknya main di depan rumah dengan teman-temannya. Melihat kedatangan konselor dan peneliti, konseli pun segera mempersilahkan masuk dan duduk. Kemudian konselor dan peneliti mulai menanyakan keadaan konseli, saat itu konseli terlihat capek dan kurang bersemangat karena baru saja pulang dari sawah.

Menurut Hirmatul Khamiyah sebagai konseli, mengungkapkan bahwa :

“Saya sangat cemas dengan keadaan saya setelah 1 tahun bercerai dengan suami. Alasan saya berceraipun karena hubungan suami saya dengan orang tua saya tidak pernah baik dan sering bertengkar. Akhirnya saya memutuskan untuk bercerai dan mendapat hak asuh anak pertama yang berumur 9 tahun, sedangkan suami saya mendapatkan hak asuh anak kedua yang masih berumur 3 tahun”.70

Setelah satu tahun bercerai konseli semakin cemas dengan keadaan ekonomi keluarganya yang semakin hari semakin bertambah pengeluarannya dan berkurang pendapatnnya, sedangkan konseli sekarang sudah menjadi kepala keluarga untuk anaknya.

Saat itu, konselor mencoba merespon dengan memberi masukan bahwa konselor memahami perasaan konseli. Dan menasehati agar

70 Hirmatul.Khamiyah, Wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

70

tidak merasa cemas lagi dan memeberi masukan agar konseli berusaha membantu meningkatkan ekonomi keluarganya.

a) Wawancara dengan ibu konseli

Sore itu, setelah konselor melakukan wawancara dengan konseli, konselor dan peneliti mendatangi ibu konseli untuk menanyakan keadaan konseli. Saat itu, ibu konseli terlihat baru saja selesai melaksanakan sholat ashar.

Menurut pengungkapan Ibu Siti Juariyah yaitu ibu konseli, mengungkapkan bahwa :

“Masalah yang dihadapi anak saya dengan suaminya dulu, suaminya tidak bertanggung jawab sepenuhnya terhadap ekonomi keluarganya, ia masih bergantung dengan saya dan bapaknya Hirma (konseli), sehingga hubungan suaminya tidak baik-baik saja dengan saya dan ayahnya Hirma. Hingga pada tahun 2019 Hirma menggugat cerai suaminya dan diresmikan oleh negara pada tahun 2020”.71

Hingga saat ini, setelah bercerai dengan suaminya ekonomi konseli masih bergantung orang tuanya. Konseli beberapa kali merasa sungkan dan mengeluh kepada orang tuanya, konseli ingin meningkatkan ekonominya dan dapat mencukupi kebutuhannya dengan anaknya yang semakin hari semakin meningkat dan konseli tidak ingin membebani orang tuanya lagi.

b) Wawancara dengan Ayah Konseli

Saat sore hari sekitar jam 16.00 WIB, konselor mengunjungi konseli untuk melakukan proses konseling lebih lanjut. Saat itu,

71 Siti.Juariyah, wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

konseli sedang berada di luar rumah menanam tanaman untuk bisnis barunya dengan ibu konseli. Saat itu, kebetulan ayah konseli sedang berada di rumah, konseli dan peneliti langsung ingin mewawancarai ayah konseli di dalam rumah saat konseli sedang menanam tanaman.

Ayahnya memang tidak berbicara banyak tentang masalah yang dihadapi anaknya, karena ayahnya juga sedang sakit. Konselor dan penelitipun langsung mendekati ayah konseli. Mulyono selaku ayah konseli menjelaskan bahwa :

“Saya sangat menyayangi anak satu-satunya saya. Saya tidak tega jika harus melihat anak saya tidak bahagia dengan suaminya dulu, apalagi hubungan saya dengan suaminya tidak pernah baik.

saya juga tidak tega anak saya harus merawat dan membesarkan anaknya sendirian disaat ekonomi keluarganya sedang menurun.

Apalagi ia anak perempuan satu-satunya saya yang sangat butuh dukungan”.72

c) Wawancara dengan Anak Konseli

Konseli menemui anak konseli saat ia sedang belajar di ruang tamu. Fajar sebagai anak konseli mengungkapkan bahwa:

“Saya sangat kesulitan belajar saat harus sekolah dan belajar secara daring. Yang saya rasakan saat ini hanya kehilangan sosok ayah, tapi saya bersyukur masih ada kakek”. 73

Itu sebabnya konselor juga melayani konselor dalam hal meningkatkan kemampuannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu anaknya belajar secara daring di rumah di masa pandemi ini. Anaknya yang masih berumur 9 tahun kurang mengetahui masalah kedua orang tuanya, yang dia rasakan saat ini ia

72 Mulyono, wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

73 Fajar, wawancara, Banyuwangi, 5 agustus 2021.

72

hanya cemas karena kehilangan sosok ayahnya tapi ia bersyukur masih memiliki kakeh (ayah konseli) yang sayang sama dia.

d) Wawancara dengan Tetangga Konseli

Konselor dan peneliti menemui tetangga konselor. Pada saat itu, tetangga konseli sedang melayani pembeli karena ia memiliki toko. Konselor menanyakan beberapa hal kepada tetangga konseli tentang perilaku konseli selama ini. Tetangga konselor mengungkapkan bahwa :

“Semenjak Hirma bercerai dengan suaminya ia jadi pendiam dan jarang keluar rumah, tapi ia sangat baik dengan tetangganya.

Akhir-akhir ini, konseli juga rajin merawat tanamannya untuk melanjutkan bisnisnya untuk meningkatkan ekonomi keluarganya”.74

Sesuai dari beberapa sumber data di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa masalah yang terjadi pada konseli adalah masalah dalam pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan ekonomi yang digambarkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.4

Deskripsi Konseli Sebelum Pelaksanaan Konseling No Kondisi Konseli Dampak Perilaku Sering Kadang-

kadang

Tidak pernah

1 Kurang

memahami tanggung jawab

sebagai kepala keluarga perempuan

Tidak terlalu berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarga,

hanya bergantung pada orang tuanya

2 Menutup diri dan kurang

sosialisai

Tidak memiliki daya untuk berperan dalam masyarakat dan hubungan

74 Qomariyah, Wawancara, Banyuwangi, 5 agustus 2021.

dengan tetangganya menjadi kurang baik 3 Trauma akibat

masa lalu

Stress berlebihan dan takut kejadian di masa lalu

akan terulang kembali

4 Kurang percaya diri

Memilih mengurung diri di rumah dan jarang

bergaul dengan tetangganya

5 Tidak memiliki sikap asertif

Kurang terbuka dan tidak berani mengungkapkan

apa yang dirasakannya dan mengakibatkan cemas

berlebihan

6 Cemas

berlebihan karena keadaan

ekonomi keluarganya

Kegiatan sehari-harinya menjadi terganggu, kekurangan biaya untuk

kehidupan keluarganya

2) Wawancara dan Observasi dengan Konseli Kedua

Siang itu, Konselor dan peneliti datang ke rumah konseli untuk melakukan proses konseling. Pada saat itu, konseli sedang berada di rumah bersama ibunya dan anaknya. Ketika konselor datang, konseli sedang mengerjakan rapot MI, ibunya sedang melayani pembeli dan anaknya sedang bermain hp di ruang keluarga. Melihat kedatangan konselor dan peneliti, konseli pun segera mempersilahkan masuk dan duduk. Kemudian konselor dan peneliti mulai menanyakan keadaan konseli, saat itu konseli terlihat capek dan kurang bersemangat karena sedang mengerjakan rapot.

Menurut Lailatul Mubarokah sebagai konseli, mengungkapkan bahwa:

74

“Saya merasa cemas dengan keadaan saya setelah bercerai dengan suami saya. Alasan saya berceraipun karena dia berselingkuh. Itu mengakibatkan saya trauma bertemu dengan laki-laki yang baru. Setelah masalah itu, saya memutuskan untuk bercerai dan mendapat hak asuh anak dan saat ini tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga perempuan sangat di uji apalagi setelah ayah saya meninggal. Jadi, di sini saya adalah satu-satunya harapan ibu saya untuk terus bersemangat dalam meningkatkan ekonomi dalam keluarga saya”.75

Setelah bercerai konseli semakin cemas dengan keadaan ekonomi keluarganya yang semakin hari semakin bertambah pengeluarannya dan berkurang pendapatnnya, sedangkan konseli sekarang sudah menjadi kepala keluarga untuk anaknya.

Saat itu, konselor mencoba merespon dengan memberi masukan bahwa konselor memahami perasaan konseli. Dan menasehati agar tidak merasa cemas lagi dan memeberi masukan agar konseli berusaha membantu meningkatkan ekonomi keluarganya.

e) Wawancara dengan ibu konseli

Sore itu, setelah konselor melakukan wawancara dengan konseli, konselor dan peneliti mendatangi ibu konseli untuk menanyakan keadaan konseli. Saat itu, ibu konseli terlihat baru saja melayani pembeli.

Menurut pengungkapan Ibu Siti Juariyah yaitu ibu konseli, mengungkapkan bahwa :

“Masalah yang dihadapi anak saya dengan suaminya dulu membuat dia sangat trauma. Apalagi suaminya ketahuan berselingkuh. Saya merasa kasihan dengan dia, sekarang harus

75 Hirmatul.Khamiyah, Wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

menjadi kepala keluarga perempuan yang harus berusaha keras demi anaknya sendirian”.76

Hingga saat ini, setelah bercerai dengan suaminya ekonomi konseli masih tergolong ekonomi rendah. Konseli beberapa kali merasa sungkan dan mengeluh kepada orang tuanya, konseli ingin meningkatkan ekonominya dan dapat mencukupi kebutuhannya dengan anaknya yang semakin hari semakin meningkat.

f) Wawancara dengan Anak Konseli

Konseli menemui anak konseli saat dia sedang bermain hp di ruang keluarga. Sebagai anak konseli mengungkapkan bahwa:

“Dulu awal-awal saya tau kalau ayah dan ibu saya berpisah, saya sedih karena saya sering malu dikatain sama teman-teman kalau saya tidak memiliki ayah. Tapi sekarang saya sudah terbiasa dengan hal itu. Saya sekarang sadar kalau saya sebagai laki-laki harus mampu menjaga ibu saya juga, karena ibu saya, saya sampai sekarang bisa manjadi laki-laki yang kuat dan saya juga harus rajin belajar sampai menjadi orang yang sukses nantinya”. 77

Anaknya kurang mengetahui lebih dalam tentang masalah kedua orang tuanya. Tapi dia sudah cukup sadar bahwa tanggung jawabnya sebagai anak sangat di uji untuk terus semangat dalam belajar agar bisa membuktikan kepada semua orang kalau dia bisa menjadi anak kebanggaan ibunya.

g) Wawancara dengan Tetangga Konseli

Konselor dan peneliti menemui tetangga konselor. Pada saat itu, tetangga konseli sedang duduk di depan rumah. Konselor

76 Siti.Juariyah, wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

77 Fajar, wawancara, Banyuwangi, 5 agustus 2021.

76

menanyakan beberapa hal kepada tetangga konseli tentang perilaku konseli selama ini. Tetangga konselor mengungkapkan bahwa :

“ela adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan tetangganya apalagi dia kan adalah seorang guru di MI. Setelah bercerai dia lebih menutup dirinya ”.78

Sesuai dari beberapa sumber data di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa masalah yang terjadi pada konseli adalah masalah dalam pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan ekonomi yang digambarkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.5

Deskripsi Konseli Sebelum Pelaksanaan Konseling No Kondisi Konseli Dampak Perilaku Sering Kadang-

kadang

Tidak pernah

1 Kurang

memahami tanggung jawab

sebagai kepala keluarga perempuan

Tidak terlalu berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarga,

hanya bergantung pada orang tuanya

2 Menutup diri dan kurang

sosialisai

Tidak memiliki daya untuk berperan dalam masyarakat dan hubungan

dengan tetangganya menjadi kurang baik

3 Trauma akibat masa lalu

Stress berlebihan dan takut kejadian di masa lalu

akan terulang kembali

4 Kurang percaya diri

Memilih mengurung diri di rumah dan jarang

bergaul dengan tetangganya

5 Tidak memiliki sikap asertif

Kurang terbuka dan tidak berani mengungkapkan

apa yang dirasakannya dan mengakibatkan cemas

berlebihan

78 Qomariyah, Wawancara, Banyuwangi, 5 agustus 2021.

6 Cemas berlebihan karena keadaan

ekonomi keluarganya

Kegiatan sehari-harinya menjadi terganggu, kekurangan biaya untuk

kehidupan keluarganya

3) Wawancara dan Observasi dengan Konseli Ketiga

Konselor dan peneliti datang ke rumah konseli untuk melakukan proses konseling. Pada saat itu, konseli sedang berada di rumah bersama anaknya. Ketika konselor datang, konseli buru-buru akan keluar rumah. Melihat kedatangan konselor dan peneliti, konseli pun segera mempersilahkan masuk dan duduk. Kemudian konselor dan peneliti mulai menanyakan keadaan konseli.

Menurut Lia Lutfiana sebagai konseli, mengungkapkan bahwa :

“Saya baru satu tahun bercerai dengan suami saya, saya merasa kehidupan saya seketika berubah. Tapi walaupun saya sudah bercerai dengan suami saya, saya berusaha membuat anak saya tidak kehilangan sosok ayahnya, ayahnya tetap mengunjungi rumah satu minggu sekali walaupun ayahnya sudah akan menikah lagi. Sebennya keinginan untuk bercerai tidak ada diantara saya dan suami, tapi saat suami saya marah, dia langsung melontarkan kata talak, dan saat itu kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Suami saya adalah orang yang kasar, saya juga mendapatkan kekerasan dan rumah tangga dan ada bekas lebam di tubuh saya”.79

Setelah 1 tahun bercerai konseli semakin cemas dengan keadaan ekonomi keluarganya yang semakin hari semakin bertambah pengeluarannya dan berkurang pendapatnnya, sedangkan konseli sekarang sudah menjadi kepala keluarga untuk anaknya. Namun untuk

79 Hirmatul.Khamiyah, Wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

78

masalah pendidikan anaknya, konseli tidak khawatir lagi, karena masih menjadi tanggung jawab ayahnya.

Saat itu, konselor mencoba merespon dengan memberi masukan bahwa konselor memahami perasaan konseli. Dan menasehati agar tidak merasa cemas lagi dan memeberi masukan agar konseli berusaha membantu meningkatkan ekonomi keluarganya.

h) Wawancara dengan ibu konseli

Setelah konselor melakukan wawancara dengan konseli, konselor dan peneliti mendatangi ibu konseli untuk menanyakan keadaan konseli. Saat itu, ibu konseli terlihat ada di dapur.

Menurut pengungkapan Ibu Siti Juariyah yaitu ibu konseli, mengungkapkan bahwa :

“keadaan dalam rumah tangga anak saya kemarin sangat miris. Suaminya sangat kasar terhadap anak saya, tapi untungnya keadaan itu tidak diketahui anaknya dan sampai saat ini anaknya belum mengetahui kalau ayah dan ibunya sudah bercerai. Saya sangat menyayangi anak satu-satunya saya. Saya tidak tega jika harus melihat anak saya tidak bahagia dengan suaminya dulu, apalagi suaminya sangat kasar terhadapnya. Saya juga tidak tega anak saya harus merawat dan membesarkan anaknya sendirian disaat ekonomi keluarganya sedang menurun. Apalagi ia anak perempuan satu-satunya saya yang sangat butuh dukungan” ”.80

Hingga saat ini, setelah bercerai dengan suaminya ekonomi konseli masih bergantung orang tuanya walaupun konseli juga sudah menjadi guru TK. Konseli beberapa kali merasa sungkan dan mengeluh kepada orang tuanya, konseli ingin meningkatkan ekonominya dan dapat mencukupi kebutuhannya dengan anaknya

80 Siti.Juariyah, wawancara, Banyuwangi, 11 juni 2021.

yang semakin hari semakin meningkat dan konseli tidak ingin membebani orang tuanya lagi.

i) Wawancara dengan Anak Konseli

Konseli menemui anak konseli saat ia sedang bermain hp di runag keluarga. Sebagai anak konseli mengungkapkan bahwa:

“Saya tidak tahu kenapa tetangga selalu bilang kalau saya akan memiliki ayah baru, padahal saya hanya mau mempunyai satu ayah, yaitu ayah saya. Yang saya tau, ayah saya sedang bekerja di luar kota dan memang jarang kerumah.”. 81

Anaknya yang masih kurang mengetahui masalah kedua orang tuanya, yang dia rasakan saat ini ia hanya cemas karena kehilangan sosok ayahnya tapi ia bersyukur masih memiliki kakeh (ayah konseli) yang sayang sama dia.

j) Wawancara dengan Tetangga Konseli

Konselor dan peneliti menemui tetangga konselor. Pada saat itu, tetangga konseli sedang duduk di depan rumah. Konselor menanyakan beberapa hal kepada tetangga konseli tentang perilaku konseli selama ini. Tetangga konselor mengungkapkan bahwa :

“Konseli sekarang semakin kurang bergaul dengan tetangga sekitar, dia lebih banyak keluar rumah tapi untuk komunikasi dengan tetangganya sudah jarang”.82

Sesuai dari beberapa sumber data di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa masalah yang terjadi pada konseli adalah masalah

81 Fajar, wawancara, Banyuwangi, 5 agustus 2021.

82 Qomariyah, Wawancara, Banyuwangi, 5 agustus 2021.

80

dalam pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan ekonomi yang digambarkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.6

Deskripsi Konseli Sebelum Pelaksanaan Konseling No Kondisi Konseli Dampak Perilaku Sering Kadang-

kadang

Tidak pernah

1 Kurang

memahami tanggung jawab

sebagai kepala keluarga perempuan

Tidak terlalu berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarga,

hanya bergantung pada orang tuanya

2 Menutup diri dan kurang

sosialisai

Tidak memiliki daya untuk berperan dalam masyarakat dan hubungan

dengan tetangganya menjadi kurang baik

3 Trauma akibat masa lalu

Stress berlebihan dan takut kejadian di masa lalu

akan terulang kembali

4 Kurang percaya diri

Memilih mengurung diri di rumah dan jarang

bergaul dengan tetangganya

5 Tidak memiliki sikap asertif

Kurang terbuka dan tidak berani mengungkapkan

apa yang dirasakannya dan mengakibatkan cemas

berlebihan

6 Cemas

berlebihan karena keadaan

ekonomi keluarganya

Kegiatan sehari-harinya menjadi terganggu, kekurangan biaya untuk

kehidupan keluarganya

b. Diagnosis

Setelah identifikasi masalah konseli, langkah yang diambil oleh konselor ialah diagnosis, yaitu langkah yang digunakan untuk menetapkan

masalah yang dihadapi konseli. Pada hal ini konselor menetapkan persoalan konseli setelah mencari data-data dari sumber terpercaya.

Hasil identifikasi masalah yang didapat melalui ketiga konseli, konselor mendiagnosis beberapa permasalahan yang dialami oleh konseli.

Permasalahan utamanya ialah masalah ekonomi, tetapi masalah itu sebagai bercabang. Berikut ialah diagnosis dari konselor :

1) Kurang memahami tanggung jawab ia sebagai perempuan kepala keluarga

Konseli kurang berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarganya dan hanya bergantung pada kedua orang tuanya. Padahal ia seharusnya sadar apa yang ia jalani saat ini harus menjadi pembelajaran agar ia bisa terbiasa mandiri dan menjadi orang tua yang baik untuk anaknya.

2) Menutup diri dan kurang bersosialisasi

Akibat pikiran-pikiran negatifnya, ia menjadi sangat murung dan pendiam jarang bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan ia keluar rumah jika perlu saja dan tidak memiliki daya untuk berperan dalam masyarakat dan hubungan dengan tetangganya menjadi kurang baik.

3) Konseli trauma terhadap kejadian dahulu

Trauma yang dialami oleh konseli adalah ingatan yang selalu membayangi konseli terhadap kejadian di masa lalu. Masa lalu yang pernah ia alami, yaitu perceraian diusia pernikahannya yang masih muda dan membuatnya harus menjadi perempuan kepala keluarga

82

diusia mudanya. Sampai saat ini ia masih takut hal itu akan menimpanya kembali.

4) Konseli tidak memiliki sikap asertif

Konseli sangat menerima apa saja yang menimpa dirinya saat ini. Ia selalu menjawab “Tidak apa-apa”, “saya sudah menerima keadaan ini”. perasaan yang ia keluarkan ini contoh bahwah konsel itidak dapat bersikap asertif. Karena ia tidak bisa bersikap jujur pada diri sendiri, padahal dalam dirinya ia sangat tertekan.

5) Konseli sering mengalami cemas

Kecemasan yang dialami konseli terjadi karena beberapa hal.

Diantaranya adalah, ketika melihat anaknya yang masih kecil harus kehilangan kasih sayang dari ayah kandungnya sedangkan anak keduanya yang ikut dengan ayahnya harus kehilangan ibunya, Ia cemas tidak dapat menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Ia juga cemas karena telah mengecewakan kedua orang tuanya dan selalu merepotkan kedua orang tuanya, apalagi sekarang ia menjadi kepala keluarga perempuan untuk anaknya dan ia harus memenuhi ekonominya sendiri walaupun memang masih dapat bantuan dari kedua orang tuanya.

6) Konseli Kurang Percaya Diri

Menurut tetangga konseli, semenjak konseli bercerai dengan suaminya ia jadi jarang bergaul dengan tetangganya lagi, bahkan ia keluar rumah hanya di depan rumah, di sawah dan saat mengantarkan

Dokumen terkait