A. Tujuan Pembelajaran
5. Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional
Unsur-unsur penyelenggaraan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meliputi :
a. Regulator yang meliputi berbagai kementerian/lembaga terkait antara lain kementerian koordinator kesejahteraan rakyat, kementerian kesehatan, kementerian keuangan, kementerian sosial, kementerian tenaga kerja dan transmigrasi, kementerian dalam negeri dan dewan jaminan sosial nasional (DJSN)
b. Peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Peserta program ini adalah seluruh penduduk Indonesia, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di Indonesia yang telah membayar iuran
156 c. Pemberi pelayanan kesehatan
Pemberi pelayanan kesehatan adalah seluruh fasilitas layanan kesehatan primer (fasilitas kesehatan tingkat pertama) dan rujukan (fasilitas kesejatan rujukan tingkat pertama) yang bekerjasma dengan BPJS Kesehatan
d. Badan penyelengara
Badan penyelenggara adalah badan hukum publik yang menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional sebagaimana telah diatur oleh Undang-Undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
1) Kepesertaan
Dalam kepesertaan JKN terdapat istilah yang harus dipahami yaitu sebagai berikut :
- Peserta, adalah setiap orang termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di Indonesia yang telah membayar iuran - Pekerja, adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima
gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain
- Pemberi kerja, adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum atau badan lainya yang mempekerjakan orang lain/tenaga kerja atau yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah atau imbalan dalam bentuk lainya.
Didalam Jaminan kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, terdapat dua jenis peserta yaitu peserta penerima bantuan iuran (PBI) kesehatan dan bukan PBI kesehatan dengan rincian sebagai berikut:
a) Peserta PBI jaminan kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu
b) Peserta bukan PBI yang terdiri atas :
1) Pekerja penerimah upah dan anggota keluarganya yaitu PNS, TNI, POLRI, Pejabat negara, pegawai pemerintah non pegawai negeri, pegawai swasta
2) Pekerja bukan penerimah upah dan anggotanya yaitu 1) pekerja diluar hubungan kerja atau pekerja mandiri, 2) pekerja yang tidak termasuk angka 1) yang bukan
penerimah upah
3) pekerja sebagaimana dimaksud angka 1 dan 2, termasuk warga asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 bulan
3) bukan pekerja dan angoota keluarganya yang terdiri dari investor, pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan dan bukan pekerja lainya yang mampu membayar iuran
157
4) penerima pensiun terdiri atas :
1) PNS yang berhenti dengan hak pensiun
2) Angota TNI dan Polri yang berhenti dengan hak pensiun
3) Pejabat negara yang berhenti dengan hak pensiun 4) Penerima pensiun selain poin 1, 2 dan 3
5) Janda, duda atau anak yatim dari penerima pensiun sebagaimana dimaksud pada poin 1 sampai dengan poin 4 yang mendapat hak pensiun.
Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi : a) Istri atau suami yang sah dari peserta
b) Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari peserta, dengan kriteria :
1) Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri
2) Belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal.
Sedangkan peserta bukan PBI JKN dapat juga mengikutsertakan anggota keluarga yang lain.
Prosedur kepesertaan JKN dilakukan dengan sebagai berikut : a) Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai peserta kepada
BPJS Kesehatan
b) Pemberi kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat mendaftarkan diri sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan c) Bukan pekerja dan peserta lainya wajib mendaftarakan diri dan
keluarganya sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan.
Masa berlaku kepesertaan :
a) Kepesertaan JKN berlaku selama yang bersangkutan membayar iuran sesuai dengan kelompok peserta
b) Status kepesertaan akan hilang bila peserta tidak membayar iuran atau meninggal dunia
c) Ketentuan lainya dapat diakses pada peraturan BPJS.
2) Pembiayaan
Iuran jaminan kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur oleh peserta, pemberi kerja dan/atau pemerintah untuk program jaminan kesehatan. Hal ini tertuang pada pasal 16, Perpres Nomor 12 tahun 2013 tentang jaminan kesehatan.
Dalam pembiayaan jaminan kesehatan, pembayaran iuran dapat dikelompokan sebagai berikut :
- Bagi peserta PBI, iuran dibayar oleh pemerintah
- Bagi peserta pekerja penerima upah, iuranya dibayar oleh pemberi kerja dan pekerja
158
- Bagi peserta bukan penerima upah dan peserta bukan pekerja, iuranya dibayar oleh peserta yang bersangkutan
- Besarnya iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan melalui Perpres dan dapat ditinjau secara berkala yang disesuiakan dengan perkembangan sosial, ekonomi dan kebutuhan dasar hidup yang layak.
Mekanisme dalam pembayaran iuran dijelaskan bahwa setiap peserta iuran wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan presentase dari upah (untuk pekerja penerimah upah) atau sejumlah nominal tertentu (bukan penerimah upah dan PBI). Pemberi kerja wajib memungut iuran kepada pekerjanya, hal ini berarti menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada penyelenggara yaitu BPJS kesehatan secara berkala yang penetapan tanggalnya yaitu setiap tanggal 10 setiap bulanya.
Kalau kemudian bertepatan dengan tanggal merah atau hari libur maka pembayaran dilakukan pada hari berikutnya. Apabila ada keterlambatan dalam pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif sebesar 2% perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh pemberi kerja. Sedangkan bagi peserta pekerja bukan penerimah upah dan peserta bukan pekerja, wajib membayar iuran pada setiap bulanya sampai tanggal 10 setiap bulanya dan dapat dilakukan pembayaran sebelum tanggal 10 tersebut. Bila terjadi kelebihan atau kekuranagn dalam pembayaran iuran tersebut maka diperhitungkan dengan pembayaran iuran bulan berikutnya.
Ketentuan pembayaran iuran tersebut pada prinsipnya dapat saja ditambah apabila paserta atau klien ingin naik jenjang perawatan yang lebih tinggi. Dalam JKN, peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang bersifat non medis berupa akomodasi, misalnya peserta yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi daripada haknya sebelumnya, maka dapat dinaikan dari hak sebelumnya tersebut dengan mengikuti asurasi kesehatan tambahan atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan. Hal ini disebut sebagai iuran biaya. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI.
3) Pelayanan
a) Jenis pelayanan
Pelayanan yang dapat diterima oleh peserta JKN dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu pelayanan kesehatan (manfaat medis) dan pelayanan akomodasi dan ambulans (manfaat non medis). Untuk ambulans hanya
159
diberikan untuk pasien rujukan dari fasilitas kesehatan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.
b) Prosedur pelayanan
Dalam prsoes untuk mendaptakan pelayanan kesehatan, maka peserta pertama-tama harus mendapatkan pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama. Apabila peserta ingin memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan, maka prsoes rujukan menjadi syarat yang tidak boleh dilewatkan, akan tetapi bila kondisi dalam keadaan kegawatdarurtan medis maka pada umunya rujukan tidak diperlukan.
c) Kompensasi pelayanan
Bila suatu daerah belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah peserta, BPJS kesehatan wajib memberikan kompensasi yang dapat berupa penggantian uang tunai, pengiriman tenaga kesehatan atau penyediaan fasilitas kesehatan tertentu.
Penggantian uang tuai hanya digunakan untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi
d) Penyelenggara pelayanan kesehatan
Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua fasilitas kesehatan yang menjalin kerjasama dengan BPJS kesehatan baik fasilitas kesehatan milik pemerintah, pemerintah daerah dan swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan rekredensialing.
6. Faktor Yang Mempengaruhi Keikutsertaan Masyarakat dalam