KSEI
BAB 5 Strategi
5.1. Penyelidikan dan Penyidikan
Penyelidikan adalah tahapan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga tindak pidana. Sementara itu, penyidikan merupakan tahap lanjutan dari penyelidikan ketika penyelidik sudah menemukan peristiwa pidana berdasarkan dua alat bukti yang cukup. Perbedaan paling mencolok adalah, fase penyelidikan ditujukan untuk mencari dan menemukan Tindak Pidana Asal dan orang yang diduga melakukan tindak pidana tersebut. Untuk KPK, sesuai dengan Pasal 44 UU KPK, penyelidik harus menemukan bukti permulaan yang cukup (dua alat bukti).
Sedangkan fase penyidikan ditujukan untuk mencari dan menemukan bukti serta tersangka (Pasal 1 angka 2 KUHAP).
Dalam tahap penyelidikan, pengumpulan bukti yang dilakukan oleh penyelidik sudah harus diarahkan seolah-olah Tindak Pidana Asal tersebut dapat diikuti dengan TPPU, termasuk dalam melakukan penelusuran aset tindak pidana. Hal tersebut akan mempermudah tahap selanjutnya jika terbukti adanya TPPU.
Dengan karakteristik tindak pidana pencucian uang, fase penyelidikan dan penyidikan juga ditujukan untu kmencari, menemukan, dan mengidentifikasi aset, pemilik, serta penguasaannya.
Dalam pengungkapan perkara tindak pidana pencucian uang, penyelidik dan penyidik menggunakan kombinasi pendekatan follow the suspect dan follow the money:
1. Follow the suspect
Pengungkapannya dimulai dengan cara mengejar pelakunya terlebih dahulu, kemudian baru asetnya. Kemudian dari pengungkapan tindak pidana asal tersebut dikembangkan untuk mengungkap tindak pidana turunannya. Pengungkapan kasusnya dari hulu ke hilir (top down).
2. Follow the money
Pengungkapan dimulai dengan cara mengejar aset (aliran dana/ transaksi keuangan) terlebih dahulu, selanjutnya baru mengungkap tindak pidana dan pelakunya. Pengungkapan ini dilakukan dari hilir ke hulu (bottom up).
Keunggulan pendekatan follow the money:
• Jangkauan lebih luas dan lebih adil karena tidak hanya menjangkau pelaku lapangan, tetapi juga menjangkau pelaku intelektual, pelaku penggerak (uitlokker), pelaku pelindung (backing), dan pelaku penyokong dana (backer in finance).
• Mengurangi motivasi manusia sebagai homo economicus untuk melakukan tindak pidana.
• Menghilangkan/memutus akumulasihasil kejahatan yang membuat pelaku menjadi lebih kuat dan dapat mengulangi perbuatannya.
• Resistensi pelaku lebih kecil karena penelusuran aset bersifat tertutup.
Berikut adalah kewenangan yang dimiliki penyelidik dan penyidik dalam penanganan kasus/perkara tindak pidana pencucian uang (Tabel 5.1).
Hubungan Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Asal dengan Penyidikan TPPU
Gambar 5.1. Hubungan Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Asal dengan Penyidikan TPPU
No.Kewe- nanganDasar HukumKewenangan PenyidikKewenangan Penyelidik 1.Penundaan TransaksiPasal 70 UU Pemberantasan Pencucian Uang
1.Surat Perintah penundaan transaksi diterbitkan dengan informasi yang mencakup sekurang- kurangnya: a.Nama dan jabatan yang meminta penundaan transaksi; b.Identitas setiap orang yang transaksinya akan dilakukan penundaan; c.Alasan penundaan transaksi; dan d.Tempat harta kekayaan berada. 2.Penundaan transaksi dapat dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. Khusus KPK tidak ada batasan waktu terkait dengan kewenangan penundaan transaksi. 3.Penyidik memberikan Surat Perintah Penundaan Transaksi kepada lembaga Penyedia Jasa Keuangan terkait. 4.Penundaan transaksi harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari hilangnya aset. • Penyedia jasa keuangan wajib melaporkan penundaan transaksi kepada PPATK dengan melampirkan berita acara penundaan transaksi dalam waktu paling lama 24 (dua puluh empat) jam terhitung sejak waktu penundaan transaksi dilakukan. • Setelah menerima laporan penundaan transaksi, PPATK wajib memastikan pelaksanaan penundaan transaksi dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. • Dalam hal penundaan transaksi telah dilakukan sampai dengan hari kerja kelima, Penyedia Jasa Keuangan harus memutuskan akan melaksanakan transaksi atau menolak transaksi tersebut. Khusus KPK tidak ada batasan waktu terkait dengan kewenangan penundaan transaksi.
Kewenangan menunda suatu transaksi yang diatur pada Pasal 70 UU TPPU. Perlu diperhatikan Pasal 70 UU TPPU menyebutkan penyidik yang dapat memerintahkan penundaan transaksi. Dengan demikian, penyelidik dapat meminta penyidik tindak pidana asal untuk melakukan penundaan transaksi ini.
Tabel 5.1. Kewenangan Penyelidik dan Penyidik
No.Kewe- nanganDasar HukumKewenangan PenyidikKewenangan Penyelidik 2.Memblokir rekeningPasal 71 UU Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pemblokiran dilakukan oleh penyidik dengan mengirimkan surat perintah kepada lembaga penyedia jasa keuangan. Dalam kasus TPPU di pasar modal LJK yang berwenang adalah KSEI. 2.Surat perintah itu memuat secara rinci nama pemilik rekening efek, nomor rekening efek, jenis efek dan jumlahnya serta kronologi singkat dugaan tindak pidana. 3.Pemblokiran sebagaimana dimaksud dilakukan paling lama 30 hari kerja. 4.Pemblokiran hanya dilakukan untuk rekening yang diduga berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. 5.Pemblokiran tidak memerlukan izin OJK ataupun institusi lainnya. (Pasal 71 UU TPPU dan surat edaran OJK 2012). 6.Akibat dari adanya pemblokiran efek, maka tidak dapat dilakukan pemindahan. 7.Efek yang ada lebih baik disimpan di bank kustodian kemudian dibuatkan berita acara penyitaan/penitipan pada bank/perusahaan efek. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan investor lain dan menjaga keadaan pasar serta supaya tidak disalahgunakan oleh oknum lain. Jika tetap ditempat maka akan lebih mudah untuk dikendalikan. 8.Kewajiban Membayar ke KSEI sebagai uang penyimpanan di bank kustodian dibebankan kepada negara.
Kewenangan melakukan pemblokiran sebagaimana disebut dalam Pasal 71 UU TPPU. Hal ini juga disebut dalam Pasal 12 ayat (1) huruf d UU KPK. Dalam Pasal 71 UU TPPU, pemblokiran dapat dilakukan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja. Sementara itu, dalam UU KPK tidak terdapat batas waktu dalam pelaksanaan kewenangan ini. Kewenangan pemblokiran hanya dapat dilakukan atas perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim.
No.Kewe- nanganDasar HukumKewenangan PenyidikKewenangan Penyelidik 3.Meminta keterangan mengenai harta kekayaan seseorang
Pasal 72 UU Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pelaksanaan kewenangan ini tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur rahasia bank dan kerahasiaan transaksi keuangan lain. 2.Permintaan keterangan yang diajukan penyidik harus menyebutkan secara jelas mengenai: a.Nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b.Identitas orang yang terindikasi dari hasil analisis atau pemeriksaan PPATK, tersangka, atau terdakwa; c.Uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan tempat harta kekayaan berada.
Pasal 72 ayat (1) UU TPPU memberi kewenangan kepada penyelidik tindak pidana asal meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa. Kewenangan ini juga diatur dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c UU KPK. Terkait kewenangan meminta keterangan ini, ketentuan kerahasiaan tidak berlaku. Pengecualian ketentuan kerahasiaan bank ini diatur pada Pasal 72 ayat (2) UU TPPU.
No.Kewe- nanganDasar HukumKewenangan PenyidikKewenangan Penyelidik 4.Melakukan penyitaanPasal 39 ayat (1) KUHAP1.Penyidik menghentikan sementara terhadap transaksi yang diduga merupakan aliran dana pencucian uang. 2.Pemilahan aset yang disita apakah berhubungan dengan tindak pidana pencucian uang atau tidak. 3.Mencatat jumlah lembar saham yang dituangkan dalam berita acara penyitaan. 4.Berita acara penyitaan minimal berisi informasi: Nama; Tempat/tanggal lahir; Agama; Jenis kelamin; Pekerjaan; Kewarganegaraan; Alamat. 5.Khusus KPK, penyitaan dapat dilakukan tanpa izin ketua pengadilan negeri berkaitan dengan tugas penyidikannya. 6.Segala pembiayaan dalam proses penyitaan dibebankan kepada negara dengan menghitung keseluruhan nilai jual aset yang disita.
Pasal 72 ayat (1) UU TPPU memberi kewenangan kepada penyelidik tindak pidana asal meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa. Kewenangan ini juga diatur dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c UU KPK. Terkait kewenangan meminta keterangan ini, ketentuan kerahasiaan tidak berlaku. Pengecualian ketentuan kerahasiaan bank ini diatur pada Pasal 72 ayat (2) UU TPPU.
Mengingat TPPU di pasar modal merupakan gabungan antara TPA dan TPPU, maka penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta pelaksanaan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap menggunakan hukum acara yang ada dalam berbagai peraturan. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan seperti yang diatur dalam Pasal 68 UU TPPU.