BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Peran Da’I Dalam Mengatasi Problematika Anak Jalanan
Kabupaten Gowa.
16Sanituti. S & Bagong Suyantodkk.Masalah dan upaya penanganannya , ( Surabaya:Airlangga Universitas Press) h.105-110
17M. Arifin, Psikologi Dakwah ( Jakarta: Bumi Aksar, 2000) h.6
1. Pengertian Da’i dan Mad’u
Dai adalah orang yang melaksanakan dakwah baik secara lisan maupun tulisan ataupun perbuatan dan baik secara individu, kelompok, atau bentuk organisasi atau lembaga. Pada dasarnya, semua pribadi muslim berperan secara otomatis sebagai juru dakwah, artinya orang yang harus menyampaikan atau dikenal sebagai komunikator dakwah itu dapat dikelompokkan menjadi:
a. Secara umum adalah setiap muslim atau muslimat yang mukallaf [dewasa] di mana bagi mereka kewajiban dakwah merupakan suatu yang melekat, tidak terpisahkan dari misinya sebagai penganut islam, sesuai dengan perinath: “sampaikan walau satu ayat”.
b. Secara khusus adalah mereka yang mengambil keahlian khusus [mutakhasis] dalam bidang agama islam, yang dikenal dengan panggilan ulama.
Keefektifan komunikasi dakwah tidak saja ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi, tetapi juga oleh diri komunikator. Fungsi komunikator [dai] dalam pengutaraan pikiran dan perasaannya dalam bentuk pesan untuk membuat komunikan menjadi tahu dan berubah sikap, pendapat, dan perilakunya. Komunikan yang akan mengkaji siapa komunikator yang akan menyampaikan pesan tersebut. Jika ternyata informasi yang diutarakan tidak sesuai dengan diri komunikator betapapun
tingginya teknik komunikasi yang digunakan- maka hasilnya tidak akan sesuai yang diharapakan.18
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat- sifat komunikator. Dalam definisi ini terdapat dua hal: (1) kredibilitas adalah persepsi komunikatejadi tidak inheren dalam diri komunikator; (2) kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator, yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen-komponen kredibilitas. Kebanyakan penelitian kredibilitas berkenaan dengan prior ethos.Karena hasil peneltian lebih cenderung kepada komunikator [da’i] yang memiliki kredibilitas tinggi yang mampu merubah sikap komunikan [mad’u].
Dua hal terpenting dalam kredibilitas (prior ethos) atau komponen- komponen kredibilitas yaitu, keahlian dan kepercayaan. Keahlian adalah, kesan yang diberikan komunikate tentang kemampuan komunikator dalam hubungannnya dengan topik yang dibicarakan. Komunikator [da’i] yang dinilai tinggi pada keahlian dianggap sebagai cerdas, mampu, ahli, tahu banyak, berpengalaman, dan terlatih.
Sedangkan Mad’u adalah manusia yang menjadi mitra dakwah atau menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik secara individu, kelompok, baik yang beragama islam maupun tidak, dengan kata lain manusia secara keseluruhan. Muhammad Abdulah membagi mad’u mejadi tiga golongan yaitu:19
18 M. Arifin, Psikologi Dakwah ( Jakarta: Bumi Aksar, 2000) h.6-10
19M. Arifin, M.Ed. Psikologi Dakwah ( Jakarta: Bumi Aksar, 2000) h.10-21
a. Golongan cerdik cemdekiawan yang cinta kebenaran dan dapat berfikir secara kritis, cepat menangkap persoalan.
b. Golongan awam, yaitu kebanyakan orang yang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian- pengertian yang tinggi.
c. Golongan yang berbeda dengan golongan diatas adalah mereka yang senang membahas sesuatu, tetapi hanya dalam batas tertentu, tak sanggup mendalami benar.
2. Pengertian dakwah
Secara etimologi Dakwah berasal dari bahasa Arab yang -اعد وعديmenjadi bentuk masdarةوعد yang berarti Seruan, Ajakan, atau Panggilan. Seruan yang digunakan dalam Dakwah bertujuan untuk mengajak seseorang baik dalam melakukan sesuatu kegiatan atau dalam merubah pola serta kebiasaan hidup. Dari kata Seruan, dakwah memiliki banyak arti yang bisa digunakan secara luas tidak hanya dalam Agama, dimana kata Dakwah sering digunakan namun Seruan yang diberikan bisa dimaknai dalam hal positif maupun negatif.
Dakwah mengandung pengertian sebagai suatu ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan ,tingkah laku dan sebagainya yang di lakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agara timbul dalam dirinya suatu pengertian sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits:
1. Ayat-ayat Dakwah;
Berikut adalah ayat-ayat tentang keutamaan dalam berdakwah sebagai berikut QS Ali imran 3:104:
ِرَكنُمْلا ِنَع َنْوَهْ نَ يَو ِفوُرْعَمْلِبِ َنوُرُمَْيََو ِْيَْْلْا َلَِإ َنوُعْدَي ٌةَّمُأ ْمُكنِِّم نُكَتْلَو َنوُحِلْفُمْلا ُمُه َكِئ َلْوُأَو
Terjemahan:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.
ْ نَ تَو ِفوُرْعَمْلِبِ َنوُرُمَْتَ ِساَّنلِل ْتَجِرْخُأ ٍةَّمُأ َْيَْخ ْمُتنُك ِرَكنُمْلا ِنَع َنْوَه
َُّلَ ًاْيَْخ َناَكَل ِباَتِكْلا ُلْهَأ َنَمآ ْوَلَو ِِّللَِّبِ َنوُنِمْؤُ تَو َنوُنِمْؤُمْلا ُمُهْ نِِّم م
نوُقِساَفْلا ُمُهُرَ ثْكَأَو
Terjemahan :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS Ali Imran 110)
َلَِو َكِِّبَر َلَِإ ُعْداَو َكْيَلِإ ْتَلِزنُأ ْذِإ َدْعَ ب َِّللَّا ِتَيَآ ْنَع َكَّنُّدُصَي َلَِو ْشُمْلا َنِم َّنَنوُكَت
ِكِر = َني
Terjemahan :
“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”(QS.Al- Qashash 28: 87)20
Oleh karena itu sukarela dalam menerima pesan dakwah merupakan cirri khas kejiwaan, maka kegiatan dakwah yang didasarkan atas
20Depertemen Agama RI , AL-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 1987) h.63
pandangan psikologi mengandung sifat persuasif. Sifat demikian merupakan intinya dakwah yang di kembangkan dalam sistem.
Termizi Taher menambahkan bahwa pengertian dakwah yang lebih luas yaitu bahwa:
a. Dakwah adalah upaya untuk mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar memeluk dan mengamalkan ajaran islam ke dalam kehidupan sehari-hari.
b. Dakwah juga bias berarti menyebar luaskan rahmat Allah SWT, sesuai misi islam sebagai agama rahmatan li al-‘alamin.
c. Dakwah merupakan proses untuk mengubah kehidupan yang tidak islami menuju suatu kehidupan yang islami.
d. Dakwah itu bukanlah dari mulut ke telinga, akan tetapi dakwah itu dari hati kehati.
e. Dakwah haruslah di lakukan secara moderat dan di turunkan pada konteks.
3. Hadits-hadits Dakwah
Adapun hadits-hadits yang mewajibkan untuk berdakwan sebagai berikut:
a. Kewajiban Berdakwah
ْنَم َْلَ ْنِإَف ِهِناَسِلِبَف ْعِطَتْسَي َْلَ ْنِإَف ِهِدَيِب ُهِِّْيَْغُ يْلَ ف اًرَكْنُم ْمُكْنِم ىَأَر
.ِناَيمِْلْا ُفَعْضَأ َكِلَذَو ِهِبْلَقِبَف ْعِطَتْسَي
Artinya:
Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum
bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman”
Dari hadits di atas mengandung kata perinta dalam mencegah kemungkaran akan tetapi dapat di sesuaikan dengan batas kemampuan seseorng yang harus di sesuaikan karena itulah selemah-lemahnya iman.
b. Hukum Berdakwah
ِمَلاْسِلْا َلَِإ ْمُهُعْدُا َُّثُ ْمِهِتَحاَسِب َلِزْنَ ت َّتََّح َكِلُسَر ىَلَع ْذِفْنَا ْيَلَع ُبَِيَ اَمِ ب ْمُهِْبِْخَأَو َيِدْهَ ي ْنَِلِ ِاللهَوَ ف ِهْيِف ِالله ِِّقَح ْنِم ْمِه
ُالله
َكَل َنْوُكَي ْنَأ ْنِم َكَل ٌْيَْخ ًادِحاَو ًلاُجَر َكِب َعَّ نلا ُرُْحُ
ِم
Artinya:
“Ajaklah mereka memeluk Islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak Allah di dalamnya. Demi Allah, Allah memberi petunjuk kepada seseorang lantaran engkau, adalah lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah”21
Hadits ini mengandung maknah bahwasanya dalam setiap diri seseorang terdapat hak Allah pada dirinya untuk menyampaikan kebenaran dan petunjuk bagi orang lain yang sudah menjadi kewajibannya untuk menyampaikannya.
c. Metode Dakwah Rasulullah
لوسر نأ ٌقْيِفَر َالله َّنِإ :ةشئاع يَ لاق ملس و هيلع الله ىلص الله
َلِ َامَو ِفْنُعلا ىَلَع يِطْعُ ي َلِ َام ِقْفِِّرلا ىَلَع يِطْعُ يَو َقْفِِّرلا ُّبُِيُ
اَم ىَلَع يِطْعُ ي .ُهاَوِس
Artinya:
21Al-Din, imam Taqi , kifayah al-Akhyar, Beirut: Dar al-Kutub al-illmiayah
“Sesungguhnya Allah Maha lembut, mencintai kelembutan, dia memberikan kepada yang lembut apa yang tidak diberikan kepada yang kasar”22
ُهَناَش َّلِِإ ٍءيَش ْنِم ُعَزْ نُ ي َلَِو ُهَناَز َّلِِإ ٍءْيَش ِفي ُنْوُكَي َلِ َقْفِِّرلا َّنِإ
Artinya:
“Sesungguhnya, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah (kelembutan) itu tercabut dari sesuatu, kecuali akan memburukkannya”
Hadits di atas Dapat di artikan barahwa cara dalam menyampaikan dakwah seharusnya dengan slemah lembut sehingga mudah di terima oleh orang lain, sebagaiman cara Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya.
3. Urgensi dakwah dalam menangani masalah social
Sebagai seorang Muslim, hendaklah kita selalu berdakwah menyebarkan firman Allah.Sudah seharusnya dakwah menjadi tujuan hidup manusia di dunia. Sebagaimana firman Allah SWT QS Fushshilat:33:
نَِِّّمّ ًلِْوَ ق ُنَسْحَأ ْنَمَو َيِمِلْسُمْلٱَنِمىِنَّنَِلْاَقَواًحِلََٰصَلِمَعَوِهَّللٱىَلِإٓاَعَد
Terjemahan:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” 23
22Al-ja’fi, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Ibnu Ibrahim bin Mghirah bin Bardazibah al- Bukhari,Shahih al-Bukhari, (Bairut ,-Lebonan: Darul kitab al-‘Ilmiyah), Jus I, 1992
23Depertemen Agama RI , AL-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 1987) h.63
Dalam Al-qur’an banyak kisah yang mengandung nilai-nilai sejarah yang dapat menjadi pelajaran bagi manusia. keutamaan dalam berdakwah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Meneladani para rasul
Ketika sekolah, kita sering diperintahkan untuk menghapal nama-nama nabi dan rasul dan membaca kisah teladan Nabi Muhammad.Masih ingatkah Anda dengan tugas para rasul? Para rasul adalah orang yang diutus oleh Allah swt untuk melakukan dakwah kepada Allah.Sebagai umat Rasulullah SAW, kita mendapatkan keutamaan dalam berdakwah, meneladani para rasul dalam menjalankan tugas mulianya juga sebagai bukti keutamaan cinta kepada Rasulullah.
2. Amal yang terbaik
Dakwah merupakan amal yang terbaik karena meneruskan tugas mulia para nabi dan rasul dalam menyebarkan agama Allah. Sayyid Quthb rahimahullah berkata dalam Fi Zhilal Al-Quran: “Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan.
Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i disikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi.
Rasulullah Shallallahu‘alaihiwasallam bersabda,“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat mencukupi.”
Meneruskan tugas mulia para nabi tentunya mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang didapatkan si pendakwah bukan hanya sampai di dakwah saja, bahkan ketika orang yang mendengar dakwah menyampaikan isi dakwah kepada orang lain, maka pahalanya pun akan mengalir juga untuk si pendakwah, begitulah seterusnya berulang-ulang hingga akhir dunia dan menjadi amal jariyah.24
Sebagaimana sabda Rasul: “Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.
2. Amalan menuju khairuummah
24Samsul Munir Amin, M.A. Sejarah Dakwah, (Jakarta: Imprin Bumi Aksar 2014), h.11
Khairuummah adalah umat terbaik yang pernah ada, seperti yang telah disebutkan dalam QS Ali Imran 3:110
َخ ْمُتنُك ِنَع َنْوَهْ نَ تَو ِفوُرْعَمْلٱِب َنوُرُمَْتَ ِساَّنلِل ْتَجِرْخُأ ٍةَّمُأ َْيْ
َِّللَّٱِب َنوُنِمْؤُ تَو ِرَكنُمْلٱ مَُّلَاًْيََْنَاَكَلِبََٰتِكْلٱُلْهَأَنَماَءْوَلَو ۗ َنوُقِسََٰفْلٱُُهُُرَ ثْكَأَوَ نوُنِمْؤُمْلٱُمُهْ نِِّم ۗ
Terjemahnya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang- orang yang fasik.25
4. Menyampaikan Dakwah yang Baik dalam Islam Berikut adalah beberapa cara berdakwah yang baik dalam Islam : a. Menyampaikannya dengan cara santun
Ketika menyampaikan dakwah atau nasihat kepada orang lain, sudah seharusnya kita dapat menyampaikannya dakwah tersebut dengan santun.
Saat berdakwah kita pun wajib memperhatikan objek yang akan kita beri dakwah misalnya tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan jamaah yang akan mendengarkan dakwah haruslah menjadi pertimbangan kita saat menyampaikan dakwah. Dalam hal ini, bukan berarti seorang pendakwah mau membeda-bedakan tingkat pendidikan setiap orang, namun
25Depertemen Agama RI , AL-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 1987) h.64
pendakwah hanya berusaha bagaimana agar dakwah mereka bisa diterima dan dihargai oleh objek dakwah.
b. Bahasa yang digunakan harus sesuai
Selain objek yang harus diperhatikan, bahasa yang kita gunakan harus dapat dipahami sesuai dengan tingkat keintelektualan objek dakwah.Bahasa yang digunakan saat berdakwah dihadapan masyarakat awam harus berbeda dengan bahasa yang digunakan saat berdakwah di hadapan masyarakata terpelajar.
Misalnya saja ketika seorang da’iberdakwah dihadapan masyarakat awam namun menggunakan bahasa intelektual atau ilmiah yang tinggai, tentu saja masyarakat yang mendengarnya akanmejadi bingung dan susah memahaminya. Untuk itu, gunakan bahasa sesuai dengan orang yang akan kita beri dakwah.
c. Perhatikan pula budanya
Sikap selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang pendakwah adalah memperhatikan budaya daerah setempat. Menghargai budaya tidak berarti akanmengahpus seluruh kesesatan yang ada di masyarakat tersebut, tetapi bagaimana cara kita untuk berdakwah secara cerdas dengan melakukan pendekatan sesuai dengabn budaya yang ada di daerah tersebut.
Perihal mengubah kebudayaan yang mengandung keburukan,tugas seorang da’i adalah mengubahnya, namun dengan cara yang harus santun. Apabila seorang pendakwah tidak memperhatikan hal ini, maka
akan sulit dihargai, bahkan mungkin saja mereka bisa melarang da’i tersebut untuk kembali memberi dakwah di daerahnya.26
d. Perhatikan usianya
Dalam urusan dakwah, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda juga merupakan hal yang sangat penting. Setiap orang memiliki kemampuan sama dalam memberikan nasihat, namun cara kita dalam memberikan nasihat kepada orang tua tidaklah sama saat kita memberi nasihat kepada teman atau orang yang lebih muda. Bisa saja ada orang tua yang merasa tersinggung dengan cara kita menasehati sehingga dia sulit menerima dakwah kita.
e. Menyampaikan dakwah dengan yakin
Kemudian, hal yang harus dilakukan oleh seorang pendakwah adalah menyampaikan dakwah dengan yakin. Yakin berarti seorang da’i percaya bahwa apa yang disampaikan merupan sesuatu yang bersumber dari Al-Quran. Kemudian optimis bahwa apapun kebenaran yang disampaikan dapat dipakai seterusnya untuk menegakkan kebenaran dan meruntuhkan kebatilan.
5. Tujuan dakwah Islamiyah
Adapun tujuan program kegiatan dakwah dan penerangan agama tidak lain adalah untuk menumbuhkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengalaman ajaran agama yang di bawakan oleh aparat
26Rahayu Pawitri, Parenting Islami: pesan Rasulullah tentang tata cara Mendidik Anak-Anak(https://www.google.co.id/amp/s/id.theasianparent.com/pesan-rasulullah- tentang-tata-cara-mendidik-anak/amp)
dakwah atau penerang agama, sebagaimana firman Allah Surat An-nahl 125
َّنِإ ُنَسْحَأ َيِه ِْتَِّلِبِ ْمُْلَِداَجَو ِةَنَسَْلْا ِةَظِعْوَمْلاَو ِةَمْكِْلِْبِ َكِِّبَر ِلْيِبَس َلَِإ ُعْدُا ُمَلْعَأ َوُهَو ِهِلْيِبَس ْنَع َّلَض ْنَِبِ ُمَلْعَأ َوُه َكَّبَر ْلِبِ
َنْيِدَتْهُم
Terjemahnya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”27
Oleh karena itu ruang lingkup dakwah dan penerangan agama adalah menyangkut masalah pembentukan sikap mental dan perkembangan motivasi yang bersifat positif dalam segala lapangan hidup manusia.
Usaha demikian tidak bias terlepas dari studi psikologi dakwah, sedangkan psikologi dakwah itu sendiri adalah merupakan ilmu pengatahuan tentang segala sesuatu yang menyangkut jiwa dari pada da’i serta sasaran sarandakwahbaik secara individual maupun kelompok sosisal, merupakan pengetahuan yang lebih bersifat praktis daripada teoritis. Sifat demikian membawa kepada fleksibilitas yang luas dengan memperhatikan faktor-fakto situasi dan kondisi sasaran studi yang di hadapi, justru oleh karena itu manusia adalah mahkluk yang hidup menurut waktu dan tempat.
27Depertemen Agama RI , AL-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 1987) h.281
Titik tujuan dakwah Islam adalah member pengertian kepda ummat islam agar mengambil segala ajaran Allah SWT yang terkandung dalam kitab al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai pedoman jalan hidupnya.
Menurut Termizi Taher, ajaran Allah SWT itu diintisarikan dalam surah Al- fatihah yang terdiri dari pedoman aqidahdansyari’ah atau dengan istila yang lain bias di sebut iman dan amal shaleh. Jadi hakekat tujuan dakwah adalah mempertemukan kembali fitroh manusia dengan agama atau menyadarkan manusia supaya mengkui kebenaran Islam dan mau mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi orang baik. Menjadikan orang baik itu berarti menyelamatkan orang itu dari kesesatan, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.28
Al-Qur’an menempilkan ajaran akidah (iman) dan syari’at (amalshaleh) dalm berbagai bentukan bermacam cara. Adakalanya dengan dan berita pahala, atau dengan peringatan dan berita siksa;
adakalanya dengan pernyataan yang positif dan perbandingan- perbandingan yang mengandung ibarat; adakalanya di suruh aktif berdo’a dan meminta; adakalanya dengan pemaparan sejarah manusia dan peristiwa masa lalu dan hubungannya dengan pembinaan politik, ekonomi, dan social.
Berdasarkan ajaran aqidah dan syari’ahsepertiitu, maka tugas seseorang muslim bagi umat manusia lain nya adalah melakukan seruan dan ajakan menuju nilai-nilai keagamaan yang universal dengan strategi
28 . Arifin, M.Ed. Psikologi Dakwah ( Jakarta: Bumi Aksar, 2000) h.10
dan metode dakwah yang senangtiasa diperbaharui. Dengan begitu, upaya perwujudan kerukunan ummat beragama, harmoni islam dan barat, penciptaan perdamayandunia, serta pemberdayaan masyarakat akan lekas tampak membenteng di depan mata.
Kematangan sikap beragama dan kerukunan antara umat beragama akan ikut mewarnai krisis dan konflik tanah air. Umat beragama hendaknya tidak keracunan sikap beragama dari luar yang emosional dari umat akan merugikan umat beragama dan bangsa. Krisis akan terus berlanjut tanpa melibatkan umat beragama dan tokoh umat. Dalam dunia yang semakin ‘’big village’’ ini, dapat di katakan tidak aka nada damai di dunia tanpa damai antar umat beragama. Sudah masanya pula menghargai satu sama lain antar umat beragama kita tumbuhkan dan kembangkan. Sudah bukan masnya lagi dalam eraglobalisasi, dakwah agama di arahkan kepada keserakahan memperbesar jumlah umat, tetapi yang lebih penting adalah kualitas umat. Keserakahan adalah kata kunci malapetaka dalam polotik, ekonomi, dan dakwah agama. Hanya penekanan dakwah pada kualitas umat yang akan membawa kepadaperdamayan dunia dan jauh dari konflik dan kekerasan.29
Oleh karena itu, para da’I dan agamawan perlu mengembangkan pola keberagaman yang harmonis dan inklusif. Pola keberagaman ini menganjurkan dan melopori terciptanya sebuah pola keberagaman yang mengakui kebenaran agama lain
29Nurul Badruttamam, S.Ag., M.A. Dakwah Kolaboratif TarmiziTaher (Jakarta selatan: Grafindo Khazanah Ilmu, 2005), h.98-100
38